LOGIN"Elisa pergi ke mana? Mengapa dia buru-buru sekali?" Begitu Elisa pergi, Eddy langsung ikut bangkit dari kursinya dan menghampiri Leo yang berdiri di belakang. "Aku melihatnya keluar, Pak. Mungkin ke toilet?" "Ya sudah, biarkan saja! Tapi kau lihat pria yang di sini tadi kan? Hartono Group!" Leo mengangguk. "Aku melihatnya, Pak." "Sial, apa itu Hartono Group yang sama?""Kudengar memang Hartono Group yang sama. Kantor pusatnya di Singapore dan mereka mulai ekspansi ke sini. Mereka juga yang merebut proyek Amerta dari kita!" Rahang Eddy mengeras. "Ini pertama kali aku mendengar nama perusahaan itu, tapi aku merasa mereka begitu dekat. Setelah berhasil merebut proyek, sekarang malah bertemu di sini. Kebetulan yang menyebalkan. Tapi ke mana pria itu? Aku yakin dia bukan bosnya kan? Lalu di mana bosnya? Apa dia ikut ke sini? Biarkan aku bertemu dengannya!" Tanpa menunggu jawaban Leo, Eddy keluar duluan dari ballroom dan Leo hanya bisa mengikutinya. Sebuah senyuman tipis sempat terb
Leo melirik tajam begitu melihat bagaimana Susan mengangkat papannya dan menawar. Wanita itu terus menoleh ke arah Elisa dengan senyuman sinisnya. Begitu juga Elisa yang terus melirik Susan dengan tatapan goyah. Ada ketakutan di dalam tatapan itu dan Leo bisa menangkap semuanya dari posisinya berdiri. Leo mengepalkan tangannya. Melihat bagaimana Eddy dan Elisa berdebat, melihat bagaimana Elisa ragu tapi terus menaikkan tawaran, Leo tahu bahwa Elisa sangat menginginkan lukisan itu. Hingga saat tawaran mencapai dua setengah milyar dan Susan begitu percaya diri mendapatkan lukisan itu. Elisa sendiri terlihat sudah menyerah dan pasrah, berpikir sudah tidak ada harapan lagi. Namun, ia tidak tahu kalau masih ada Leo di sana. Satu anggukan kepala dari Leo membuat Gary mengangkat papannya dengan tawaran yang tidak akan bisa dilampaui siapa pun malam itu. "Lima milyar!" Sontak semua tatapan melayang ke belakang, ke arah miliarder yang tidak biasanya bersembunyi di barisan paling belakan
Arman langsung menegang melihat lukisan mendiang istri pertamanya di sana. Lukisan yang sudah lama menghilang dan ia tidak tahu bahwa lukisan itu akan ikut dilelang. Sementara Hilda langsung mencibir sambil tertawa kesal. "Itu si tukang selingkuh kan? Sial!" "Apa itu benar Tante Monella? Di lukisan dia terlihat jauh lebih cantik, Ibu." Hilda melotot tidak suka. "Bisa-bisanya kau bilang dia cantik, Susan!" Susan mengerjapkan mata. "Maksudku di lukisan itu, Ibu, padahal aslinya sama sekali tidak. Dia tidak bisa dibandingkan dengan ibuku yang paling cantik." Hilda tersenyum miring. "Tentu saja Ibu lebih cantik dan lebih pantas berada di keluarga ini dibanding dia. Sudah bagus dia pantasnya di alam baka saja! Tapi siapa penyelenggara yang memasukkan lukisan ini? Ibu tidak suka sekali melihatnya!" "Pelukisnya cukup terkenal, Ibu. Bukan lukisannya yang dilihat, tapi pelukisnya," sahut Susan. Tepat saat itu, ia melirik Elisa yang sudah bersiap mengangkat papannya. Tatapan Elisa berk
"Ibu tidak menyangka suami Elisa itu punya nyali juga membeli perhiasan seharga dua setengah milyar." Hilda melirik sinis begitu Eddy berhasil mendapatkan kalungnya, tapi Susan terus memuji kakak iparnya itu. "Itu namanya keren, Ibu!" "Apa dia akan memberikan kalungnya untuk Elisa?" "Tentu tidak, Ibu. Ada banyak orang spesial yang lebih berhak mendapatkan kalung itu selain istrinya yang mandul itu. Tapi aku ke toilet dulu, Ibu!" Susan bangkit dari kursinya dan melangkah dengan anggun pergi dari sana. Di saat yang sama, Eddy sendiri juga perlu menenangkan dirinya karena baru saja membuat keputusan yang sangat gila. Uang segitu terlalu berharga kalau hanya dihabiskan untuk perhiasan. Sial! Kepala Eddy berdenyut hebat sekarang. Elisa sendiri masih bernapas tidak percaya, tapi ia tidak tahu harus berkata apa lagi. "Eddy ...." "Aku ke toilet dulu, Elisa!" Tanpa menunggu jawaban Elisa, Eddy bangkit berdiri dari kursinya dan melangkah keluar. Bahkan saat melewati Leo, Eddy sama se
"Enam ratus juta!"Suara seorang wanita di sisi kanan terdengar. Ia menaikkan penawaran dan membuat tatapan Elisa teralih. MC langsung tersenyum lebar. "Wow, enam ratus juta! Apa ada yang lebih tinggi?"Eddy mendecih pelan lalu kembali mengangkat papan nomornya tanpa ragu. "Tujuh ratus lima puluh juta."Ruangan langsung sedikit riuh. Elisa kembali menoleh ke arah suaminya dengan debaran jantung yang makin kencang. Eddy kukuh sekali membeli kalung itu. Tatapan Elisa goyah. "Eddy, apa kau benar-benar menyukai kalung itu?" Eddy yang pikirannya penuh Susan hanya menyahut singkat tanpa menoleh."Hmm."Jawaban pendek itu malah membuat Elisa makin penasaran. "Lalu ... untuk apa kau membelinya? Untuk investasi? Atau kau mau memberikannya untuk seseorang?" "Aku sudah punya rencana, Elisa." Dan jawaban Eddy membuat Elisa makin halu. Diam-diam senyumannya terbit. Eddy sudah punya rencana, pasti rencana kejutan untuknya kan?Siapa lagi yang akan mendapatkan kalung itu dari Eddy kalau bukan
Susan langsung tersenyum sumringah saat melihat kakak iparnya menghampirinya. Walaupun lampu sudah mulai redup, tapi Susan masih bisa melihat betapa gagah Eddy dengan jas dan tuxedonya, pria yang tidak pernah gagal membuatnya berhasrat. Apalagi malam ini, Eddy akan menunjukkan cintanya dengan membelikan Susan Blue Diamond Necklace. Susan melirik Elisa sejenak di sana, sebelum ia tersenyum sinis, ia tidak akan lupa bagaimana ekspresi Elisa begitu selesai presentasi waktu itu, seolah menunjukkan kalau dirinya menang. Namun, Susan tidak akan membiarkan Elisa menang terus. "Ayah, Ibu, Susan," sapa Eddy saat akhirnya ia menghampiri semua orang. "Eddy, kau gagah sekali," puji Hilda. Namun, Arman hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun dan memilih pergi dari sana. Lagi-lagi Eddy mendengus kesal dibuatnya. "Ibu menyusul ayahmu dulu!" seru Hilda yang langsung menyusul Arman, meninggalkan Eddy dan Susan berdua saja. "Kau tampan sekali, Kak." "Dan kau juga cantik seperti biasanya." Tata







