เข้าสู่ระบบPunya suami sempurna itu berarti tidak akan terhindar dari godaan. Bukan hanya godaan untuk Leo, tapi juga untuk Elisa. Bagaimana Elisa bisa tetap waras saat melihat suaminya digoda. Bahkan baru hari pertama Elisa mulai bekerja lagi secara resmi, ia harus menahan dirinya melihat pemandangan yang tidak ia suka. Setelah wawancara resmi selesai tadi, seorang wartawan wanita tampak berlari kecil menghampiri Leo. Wanita itu memakai kemeja ketat seksi yang membuat dadanya yang sebesar bola basket itu bergoyang dribble. "Selamat siang, Pak Leo, maaf apa Anda punya waktu sebentar?" Leo yang saat itu baru saja selesai bicara dengan salah satu rekannya pun langsung menoleh dan mengangguk. "Silakan!" sahut Leo singkat. Wanita itu menatap Leo dengan tatapan yang berbinar-binar sambil memasukkan rambut ke belakang telinganya, sebelum ia tersenyum manis. "Aku ingin bertanya tentang rencana ke depannya. Setelah menyatukan Hartono Group dan Wijaya Group, apa Anda akan memperluas jaringan lagi
"Leo, kau tahu kalau aku kembali bekerja, waktuku dengan Alden akan berkurang kan? Apa kau tidak keberatan dengan itu?" Sejak tanda tangan kepemilikan baru, Elisa mulai sibuk mempelajari banyak hal. Dan hatinya mulai terusik oleh satu hal. Elisa memang ingin bekerja kembali, itu passionnya. Ia selalu merasa hebat saat berhadapan dengan laptop, presentasi, proyek, dan semuanya. Tapi ia sadar ia adalah seorang ibu yang harus membagi waktu dengan anaknya. Karena itu, Elisa belum pernah mengatakan pada Leo tentang keinginannya untuk kembali bekerja. Lalu tiba-tiba Leo memberikan Wijaya Group padanya. Leo yang mendengar ucapan istrinya hanya tersenyum. "Menjaga anak tidak seharusnya membuatmu melepaskan mimpimu, Sayang. Aku tahu kau sudah rindu bekerja lagi. Jangan lupa aku juga sudah pernah melihat bagaimana hebatnya kau bekerja di perusahaan." "Selain itu, Alden punya banyak orang yang sayang padanya dan menjaganya. Bukan berarti kita lepas tangan dari Alden, tidak. Aku yakin sebag
"P-pemilik baru? Apa maksudnya, Pak?" "Silakan dibaca dulu, Bu." Elisa kembali menatap Leo dengan tatapan goyah, sebelum ia mulai membaca dokumennya. Matanya bergerak dengan cepat membaca semuanya dan air matanya mendadak menggenang di pelupuk matanya. "Leo, apa maksudnya ini? Mengapa kau mempertahankan nama Wijaya Group dan mengapa bisa aku yang menjadi pemiliknya? Aku ...." "Aku hanya mempertahankan apa yang berarti untuk istriku. Itu namamu, Sayang. Jadi nama itu akan selalu ada." "Tapi ...." "Jangan tanya lagi, Bu Bos. Cepat tanda tangan!" goda Leo. "Leo, aku serius! Aku benar-benar tidak membutuhkan perusahaan itu, aku sudah bahagia dengan melepas semua masa lalu itu."Leo mengusap air mata di pipi Elisa. "Aku juga tidak mau mengembalikan masa lalu, Sayang." Ia menatap mata Elisa dalam-dalam. "Aku hanya ingin memberimu kesempatan untuk memiliki sesuatu yang baru.”Elisa menutup mulutnya, tangisnya makin pecah. Leo menariknya ke dalam pelukan."Wijaya Group yang dulu sudah
"Sudah bicara dengan ayahmu, Sayang?"Leo menitipkan Alden kepada Bik Imah dan menghampiri istrinya begitu Elisa kembali ke taman. Elisa mengangguk, lalu tanpa ragu langsung memeluk suaminya."Ada apa memelukku begitu manja?""Terima kasih banyak, Leo."Leo mengernyit. "Ada apa, Sayang? Terima kasih untuk apa lagi?""Ayahku bilang, sampaikan rasa terima kasih darinya karena kau sudah meratukan aku."Leo semakin mengernyit. "Benarkah dia bilang begitu?"Elisa mengangguk lagi. "Dia terharu sekali sampai tidak berhenti menangis saat aku membawanya melihat rumah kita. Entah apa jadinya kalau bukan kau suamiku. Aku benar-benar tidak mau yang lain lagi, Leo."Leo tergelak. "Seperti ada yang lain saja. Sekali kau bersamaku, jangan harap bisa pergi.""Hmm, aku juga tidak mau pergi."Elisa terus mendongak menatapnya dengan ekspresi manja yang membuat Leo tersenyum."Berhenti menatapku seperti itu atau aku akan menggendongmu ke kamar sekarang, Sayang.""Bisa-bisanya mengancam seperti itu. Tamu
Dua hari berlalu dan hari itu, mereka mengadakan open house sekaligus syukuran rumah baru dan perayaan tiga bulanan Alden.Sebelum mereka resmi tinggal di sana sebenarnya mereka sudah melakukan doa bersama dengan lebih formal, tapi kali ini mereka ingin berbagi kebahagiaan dengan lebih banyak orang. Leo pun mengudang beberapa kerabat dekat, teman, tetangga, dan beberapa karyawan kantor. Sejak pagi, rumah pun sudah dipenuhi tawa. Mereka menyulap taman belakang sebagai tempat pesta dan begitu banyak makanan yang disajikan di sana. Para pelayan bekerja dengan wajah bahagia. Mereka sesekali bercanda sambil menyelesaikan pekerjaan, sesuatu yang tidak bisa mereka lakukan saat bekerja di rumah keluarga Wijaya dulu karena suasananya selalu formal dan menegangkan. "Bu Elisa, kue Alden sudah siap." Elisa menghampiri. "Cantik sekali."Di atas kue kecil itu tertulis "Happy 3 Months, Alden." Elisa tersenyum lebar. "Terima kasih sudah bekerja keras membuat kue-kue ini."Salah satu pelayan ter
Pagi pertama di rumah baru mereka terasa jauh lebih hangat daripada yang Elisa bayangkan.Biasanya, pindah ke rumah baru membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Mencari letak barang, membiasakan diri dengan ruangan yang berbeda, bahkan terkadang membutuhkan waktu untuk benar-benar merasa bahwa tempat itu adalah rumah sendiri.Namun tidak bagi Elisa. Begitu membuka pintu kamar pagi itu, ia langsung mendengar suara-suara yang sudah begitu akrab."Bu Nila, kopinya tolong letakkan di meja makan saja." "Sudah, Bik. Sarapannya juga sebentar lagi siap.""Gary! Jangan makan dulu sebelum yang lain!""Bik Imah, aku hanya mencicipi sedikit." "Kalau mencicipi lima kali namanya sarapan!" Elisa spontan tertawa. Ia menatap suasana rumah yang sejak pagi sudah begitu hidup. Beberapa pelayan terlihat mondar mandir membawa makanan. Yang lain sedang membuka tirai dan merapikan ruang keluarga.Dari arah dapur tercium aroma masakan. Di halaman terdengar suara orang yang sedang merawat taman.Bahkan suara
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







