FAZER LOGINElisa menahan napas sejenak mendengarnya. Tatapannya goyah dan jantungnya seolah jatuh ke lantai. "Grandpa, itu ...." "Grandpa tebak dia belum tahu kan? Lalu kapan kau akan memberitahunya? Grandpa ingin tahu apa dia masih bisa membelamu kalau dia tahu kejadian yang sesungguhnya!" "Berhenti, Grandpa! Tolong jangan membahasnya lagi ...." "Itu kenyataan yang tidak diketahui banyak orang. Grandpa sudah berusaha menyembunyikannya agar kau tidak disalahkan banyak orang, tapi sekarang kau tidak membalas budi Grandpa? Kau malah tetap diam seolah kau tidak bersalah?" "Berhenti kubilang, Grandpa! Berhenti!" teriak Elisa. "Kalau Leo mau balas dendam, seharusnya itu padamu, bukan pada Grandpa, apalagi keluarga Wijaya! Semua karenamu, Elisa! Karenamu!" "Cukup! Aku tidak mau dengar lagi! Aku tidak mau, Grandpa!" Blep!Elisa menutup teleponnya tanpa peduli apa pun lagi. Bahkan ia tidak berpamitan pada Darmawan. Ia menutup teleponnya dan membuang ponselnya asal ke ranjang. "Tidak! Tidak!" pe
"Apa sudah ada kabar tentang Pak Rahmat, Gary?" tanya Leo saat mereka sudah ada di mobil dalam perjalanan pulang kembali ke apartemen. "Belum ada, Bos. Anak buah kita sudah mengawasi sejak tadi, tapi sampai malam, Pak Rahmat belum juga muncul." "Belum muncul atau sudah muncul tapi pergi lagi?" "Ah, aku tidak tahu yang itu, Bos! Besok aku akan meminta orang memeriksa CCTV di kafe." Leo mengangguk. "Periksa semuanya, Gary. Mendadak rasanya aneh. Pak Rahmat seharusnya bukan tipe orang yang akan mengerjai orang lain. Kalau dia berhalangan, dia juga seharusnya memberitahu, bukan menghilang seperti ini." "Benar juga, Bos. Ponselnya juga sudah tidak aktif lagi." Gary meraih ponselnya dan mengecek pesannya yang sejak tadi tidak terkirim, tapi mendadak malam ini sudah terbaca. "Eh, aku mengirim pesan wa padanya, tapi ponselnya tidak aktif, tapi sekarang sudah dibaca, Bos." "Lalu apa yang di balas?" "Eh, dia tidak membalas, hanya membaca saja." Leo mengernyit. "Coba telepon dia lagi!"
Rahmat membeku mendengar kata gudang lama. Bahkan dalam mimpinya saja, Rahmat tidak pernah membayangkan ia akan kembali ke gudang ini, gudang di mana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri teman-temannya terpanggang hidup-hidup. Bahkan kebakaran itu masih sering menghantui tidurnya. Ia melihat dan mendengar teman-temannya berteriak, tapi ia tidak bisa menyelamatkannya dan memilih menyelamatkan diri sendiri. Rahmat bersumpah setelah ia keluar, ia tidak langsung kabur, tapi ia mencari bantuan di luar, memanggil satu persatu orang, memohon pada Wira juga untuk meredamkan apinya, menyelamatkan teman-temannya. Namun, dengan bengisnya Wira mengabaikan dan malah mengejar Rahmat untuk dikembalikan ke dalam gudang. Rahmat akhirnya kabur sungguhan, tapi nama teman-temannya yang meninggal di sana membuat penyesalan itu melekat dalam dirinya, ke dalam organ terdalam di tubuhnya yang tidak akan pernah bisa dihilangkan dengan cara apa pun. "Gudang ... gudang lama? Gudang yang terbakar dulu, N
"Tidak diangkat juga, Bos!" Gary mencoba menelepon Rahmat beberapa kali, tapi Rahmat tidak pernah mengangkat teleponnya. Leo pun mengernyit. "Apa kau yakin yang meneleponmu itu benar-benar Rahmat?" "Dia bilang begitu, dia bisa menyebutkan kejadian dulu dengan jelas, jadi siapa lagi kalau bukan Rahmat?" Leo mengangguk. "Kalau begitu, coba telepon lagi!" Gary mencoba, menelepon beberapa kali, tapi tidak diangkat juga, bahkan akhirnya ponsel Rahmat tidak aktif lagi. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain menunggu telepon balik dari Rahmat, sambil meminta anak buah mengawasi kafe, siapa tahu mereka melihat kedatangan Rahmat. Namun, sampai sore menjelang, tidak ada berita dari Rahmat juga. "Dia tidak bisa dihubungi lagi, Bos," lapor Gary. "Mungkin dia berubah pikiran lagi, Gary. Tunggu saja dulu! Lebih baik kita ke Wijaya Group dulu untuk melihat perkembangan di sana." Gary dan Leo pun pergi ke Wijaya Group, tapi begitu turun dari mobil, Leo langsung diserbu para wartawan yang
"Berikan obatku, Wira! Berikan sini!" Darmawan sudah duduk di meja makan siang itu dengan sakit kepala yang begitu berat. Ia meminta obat sakit kepalanya, tapi ternyata minum satu tidak mempan. "Tidak mempan! Sialan! Berikan semua!" Darmawan meraih botol obat dari tangan Wira dan meminumnya lagi beberapa biji. "Pak, Anda bisa overdosis kalau meminum sebanyak itu," seru Wira. "Tidak minum obat pun aku bisa mati lebih cepat kalau begini caranya, Wira! Kau tahu apa yang dilakukan Leo sialan itu di kantor kan? Per pagi ini, dia sudah menghentikan semua manager di bawah kita, dia benar-benar ingin mengganti semua managemen. Tapi bukannya dibiarkan keluar, semua manager lama malah diinterogasi dan ditahan seolah kita semua penjahat!" "Dia memang sudah keterlaluan, Ayah!" sahut Arman. "Leo brengsek itu sudah keterlaluan! Begitu juga para polisi sialan yang beraninya menggeledah rumah kita!" "Itu penghinaan untuk kita, Arman! Tapi dalangnya tetap Leo! Ayah masih tidak percaya anak itu
Pagi itu, Rahmat bersiap ke kota. Ia dan Nila membawa tas berisi baju-baju yang lebih banyak karena mereka akan tinggal lama di kota. "Aku berdebar, Rahmat," seru Nila. "Aku juga, tapi kita sudah melakukan hal yang benar kali ini." "Tapi entah mengapa perasaanku tidak enak, Rahmat!" Nila memegangi dadanya yang terasa berat. Rahmat yang mendengarnya langsung menghela napas panjang. "Sekarang apa lagi, Nila? Saat aku diam, kau terus mengomel dan minta aku bicara. Sekarang aku sudah mau bicara, kau malah bilang perasaanmu tidak enak dan membuatku kembali galau. Jadi apa yang kau mau, hah?" omel Rahmat yang saking berdebar sampai menjadi sewot. "Aku hanya mengatakan apa adanya." "Aku juga mengatakan apa adanya. Aku sudah menelepon Pak Gary kemarin dan kita tidak bisa mundur lagi, jadi naiklah ke sepeda motor dan kita akan berangkat sekarang." Nila mengangguk patuh dan naik sepeda motor dibonceng suaminya. Sepanjang jalan, Nila terus memeluk pinggang suaminya, menyandarkan kepala ke
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s







