เข้าสู่ระบบ"Bukan hanya Elisa yang ditahan bersamanya, kemungkinan besar Hilda, Susan, Pak Rahmat dan istrinya juga!" geram Handi. "Ini sudah kejahatan besar, Bos! Pak Handi, tolong minta personil polisi tambahan untuk membantu, jangan sampai ada korban lagi!" seru Gary. "Jangan gegabah, Gary! Aku tidak mau rencana kalian membuat Darmawan kalap dan menyakiti semua orang," seru Leo geram. "Kita harus benar-benar menyusun rencana karena Darmawan adalah orang yang sangat kejam." Sementara itu, Rahmat tidak berhenti berteriak di ruangan tempat ia disekap. Mereka tidak diberi makan dan minum sampai Nila lemas dan sesak napas. "Lepaskan kami! Kalian brengsek! Lepaskan kami! Istriku sakit! Brengsek!" Mereka memang tidak disiksa atau dipukul, tapi dikurung dengan tangan dan kaki terikat saja sudah cukup membuat mereka menderita. "Kalian yang di luar, lepaskan kami!" teriak Rahmat lagi. "Rahmat ... air ... aku mau air ...," lirih Nila yang napasnya sudah ngos-ngosan. Setiap hari Nila harus minum
"Brengsek, kau mengancamku, Darmawan? Sialan!" "Aku tidak mengancam, aku hanya memperingatkanmu. Jadi sampai bertemu nanti malam!" Blep!Darmawan menutup teleponnya sampai Leo menggenggam ponsel itu penuh amarah. Leo sudah menyalakan speakernya tadi dan Gary bisa mendengar semuanya. "Brengsek! Elisa ada bersama Darmawan!" geram Leo. "Ini pasti jebakan, Bos! Aku tidak tahu apa yang Darmawan inginkan, tapi jangan ke sana, Bos!""Elisa ada di sana, bagaimana aku bisa tidak ke sana, Gary?" "Tapi kita tidak punya bukti kalau Bu Elisa ada di sana kan? Sial! Otakku isinya pikiran buruk terus, Bos! Aku takut mereka akan menyakitimu, Bos! Kita lapor polisi saja!" Gary terus berbicara, sedangkan Leo sudah diam sambil berpikir keras. Debar jantungnya sudah memacu kencang dan ia takut Darmawan menyakiti cucunya sendiri. "Ternyata benar dia di sana. Walau tidak ada tempat lain yang bisa dia datangi, tapi aku masih yakin Elisa tidak mungkin ke sana atas kemauannya sendiri. Entah bagaimana El
Wira melangkah masuk meninggalkan Leo begitu saja, berusaha keras tidak terpengaruh pada ucapan Leo, tapi tidak dapat dipungkiri, dirinya sendiri pernah memikirkan hal yang sama, apalagi akhir-akhir ini, tidak ada pekerjaannya yang beres. Wira pun hanya mengepalkan tangannya geram tanpa mengatakan apa pun lagi dan akhirnya masuk ke ruang keluarga, tempat Darmawan sudah menunggunya. "Bagaimana? Apa yang dia katakan, Wira?" "Dia mencari Elisa, Pak." "Lalu apa yang kau katakan?" "Aku bilang Elisa tidak ada di sini." "Dan bagaimana dia? Dia mengatakan sesuatu lagi?" Wira sempat terdiam sejenak. Tentu saja Leo berusaha membuka matanya tentang Darmawan, tapi Wira tidak akan memberitahunya. "Tidak ada, dia pergi dengan kesal," dusta Wira. "Bagus! Seperti yang kuduga, Elisa sangat penting baginya. Kita tidak salah langkah, Wira. Sekarang tugasmu adalah siapkan semua suratnya! Kita akan memaksa pria brengsek itu untuk mengembalikan semua milikku!" Darmawan menyeringai. Lagi-lagi Wir
"Tidak! Jangan sentuh aku! Tidak!" Elisa memberontak saat akhirnya dua anak buah memegangi lengannya dan langsung menyeretnya keluar. Ia sempat melihat Wira di sana. "Om Wira! Om Wira, tolong aku!" Namun, percuma. Wira hanya melihatnya tanpa bicara. "Tidak! Tolong! Lepaskan aku! Tolong! Jangan kasar padaku!" teriak Elisa lagi yang tidak ada gunanya. Bahkan beberapa pelayan yang melihatnya hanya bisa menatap tanpa membantu dan bicara, sampai akhirnya Elisa dibawa ke gudang kecil di dalam rumah, bukan kamar mewah, tidak ada ranjang, tidak ada kursi, tidak ada penerangan. Ia benar-benar sudah tidak dianggap sebagai keluarga lagi, padahal sejak ia tahu masalah yang menimpa keluarganya, sudah begitu banyak waktu yang ia habiskan untuk memikirkan mereka. Di sisi lain, Leo dan Gary sudah mulai mencari Elisa yang pergi entah ke mana. Bahkan menelepon Elisa juga tidak diangkat. "Bagaimana, Gary? Kau sudah menemukan mobilnya?" Leo memang sudah memeriksa CCTV apartemen, mereka sudah men
"Aku melihat Bu Elisa, Pak."Wira sedang menelepon anak buahnya yang bertugas mengikuti Leo hari itu. Anak buahnya memberi info bahwa Leo baru saja pulang. Entah apa yang dilakukan di apartemen, tapi tidak lama kemudian, Elisa keluar membawa kopernya. "Apa yang Elisa lakukan?" "Dia membawa koper." Tatapan Wira berkilat mendengarnya dan ia langsung memerintahkan anak buahnya untuk membawa Elisa dengan cara yang sama seperti mereka membawa Rahmat. Tentu saja cara halus lebih aman dibanding cara kasar. Dan setelah berhasil dengan Rahmat, akhirnya mereka berhasil juga membawa Elisa. Elisa sendiri masih berdebar karena ia naik mobil yang salah, tapi ia tidak mau membuat kepanikan makin berlebihan. Elisa pun segera menutup teleponnya dan berusaha tetap tenang. "Permisi, Pak, tolong turunkan aku di pinggir sana saja!" Pria itu melirik kaca spion. Alih-alih menjawab, pria itu malah melajukan mobilnya makin kencang sampai Elisa makin berdebar. "Pak, aku bilang tolong turunkan aku di pi
Elisa melangkah pergi, menyeret kopernya keluar dari apartemen tanpa menoleh lagi. Ia masih sempat mendengar suara Bik Imah memanggilnya. "Elisa, jangan pergi, Nak! Elisa ...." Namun, Bik Imah tidak pernah mengejarnya. Mungkin Leo melarangnya atau apa pun itu, Elisa tidak tahu dan tidak mau tahu. Elisa hanya terus menyeret kopernya sampai masuk ke lift. Bahkan ia tetap diam di dalam lift. Sampai saat ia sudah keluar dari lift, ia melangkah ke toilet yang masih sepi dan ia baru meledak di sana. Elisa melemparkan kopernya begitu saja dan ia jatuh berjongkok di lantai saking sedihnya. Air matanya mengucur deras sampai dadanya sesak. "Akhh! Maafkan aku, Leo! Maafkan aku! Ya Tuhan! Maafkan aku! Apa yang sudah aku katakan? Apa yang sudah aku katakan?" pekik Elisa histeris. Semua rasa yang ditahannya sejak tadi akhirnya tumpah juga. Ia tidak bisa menjelaskan perasaan ini, tapi semuanya kacau. Perutnya bergejolak, ia mau muntah, kepalanya ikut berputar, dan matanya perih. Seluruh anggo
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak
Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s
"Aku tidak bisa! Nyalakan lampunya!" Elisa memekik keras sambil bangkit duduk di ranjangnya. Ia merinding. Ia tidak bisa melakukan ini. "Kubilang nyalakan lampunya, Leo!" bentak Elisa lagi. Sedetik kemudian, lampu pun dinyalakan dan Elisa kembali menoleh. Leo belum memakai kemejanya dan tubuh pr
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng







