LOGIN"Kau yakin tidak apa sendirian di rumah ini, Elisa?" tanya Leo sekali lagi sebelum ia pulang. "Aku yakin, Leo. Aku mulai makin percaya diri sekarang, apalagi setelah mengetahui kalau musuhku dan musuh Grandpa sama, yaitu Susan dan Tante Hilda." Leo terdiam sejenak mendengar kata musuh. Elisa tenang karena musuh mereka sama. Lalu bagaimana Elisa bisa tenang bersama Leo saat musuh mereka berbeda? Namun, Leo menepis pikirannya dan mengangguk. "Baiklah kalau begitu, telepon aku kapan pun kau butuh, Elisa. Sekarang tidak ada Eddy. Ada pun juga tidak berguna. Tapi ada aku, aku harus tahu apa pun tentangmu, jadi beritahu aku semuanya. Biarkan aku menjadi orang pertama yang tahu semua tentangmu." Elisa kembali tersenyum tersipu, sebelum ia mengangguk. Bahkan kualitas Leo lebih mirip seperti suami dibanding Eddy. "Baiklah, Leo. Pulanglah, aku baik-baik saja." Leo akhirnya berpamitan pulang dan Elisa pun masuk ke dalam rumah. Malam itu, suasana ruang makan di rumah keluarga Wijaya begitu
"Elisa, Sayang, tolong aku, Sayang! Tolong aku!" Eddy diijinkan menelepon sore itu setelah serangkaian proses di kantor polisi yang menguras energinya. Kepala Eddy berdenyut dan ia mau muntah beberapa kali saking paniknya. Eddy yang biasanya berusaha tenang dan berwibawa mendadak menjadi sangat berbeda karena serangan yang tidak pernah ia sangka. Eddy sangat marah, bukan hanya pada Leo yang mengkhianatinya, tapi pada Darmawan yang mempermalukannya di depan umum. Namun, ia tahu, harapannya ada di Elisa, istrinya yang pernah sangat mencintainya sepenuh hati. Eddy masih berpikir bisa meluluhkan hati wanita yang masih berstatus istrinya itu. Elisa sendiri masih di luar gerbang bersama Leo saat ponselnya berbunyi. Mereka baru saja selesai berciuman. Dan melihat nama Eddy, Elisa langsung mengangkat teleponnya sambil menyalakan speakernya. "Sayang, aku bersalah padamu tentang Susan, aku minta maaf, Sayang. Aku berjanji akan menerima apa pun hukuman yang nantinya akan kau berikan, tapi t
"Leo, apa yang kau katakan? Bisa-bisanya kau bilang akan mengundurkan diri?" omel Elisa saat mereka sudah keluar dari ruangan Darmawan. Elisa cemas sekali memikirkan Leo yang akan kehilangan pekerjaan, tapi Leo tetap tenang. "Berarti kau meragukan aku?" "Apa maksudmu?" "Aku kan bilang kalau aku salah, aku siap mengundurkan diri. Tapi aku tidak mungkin salah, Sayang." Elisa mengerjapkan matanya. Hatinya menghangat mendengar Leo memanggilnya sayang, tapi juga berdebar mendengar bahwa pria itu tidak mungkin salah. Elisa membenci Hilda dan Susan, tapi lagi-lagi membayangkan mereka melakukan kecurangan besar membuatnya berdebar. Sungguh, Elisa hanya wanita polos dibanding orang-orang di sekelilingnya."Jadi itu benar? Jadi benar Tante Hilda dan Susan juga bermain di perusahaan ini, Leo?" lirih Elisa. "Mereka bersikap sok bijak, sok hebat, merendahkan aku, padahal apa yang mereka lakukan lebih rendah!" geram Elisa lagi. Leo mengangguk. "Ya, dan kita akan membongkar semuanya. Kita a
"Sekarang jelaskan semuanya dan ceritakan apa saja yang kau tahu tentang semua ini, Leo!" Suara Darmawan terdengar begitu tegas dan penuh emosi. Tatapannya pun tajam menatap Leo. Setelah napasnya lebih lega, Darmawan memanggil Leo dan Elisa ke ruangannya. Tidak ada Wira di sana karena Wira masih mengurus Eddy dan Fabian di kantor polisi, tapi ada Arman di sana. Berdua mereka menatap Leo penuh tanya tanpa curiga apa pun. "Ayah, Grandpa, sudah jelas Eddy melakukan penggelapan dana, apa lagi yang mau dijelaskan?" sahut Elisa duluan. Dalam sekejap, Elisa kembali melow. "Bukan hanya berselingkuh dariku, tapi dia juga mengkhianati kita semua. Entah dosa apa yang sudah kulakukan di kehidupan sebelumnya sampai aku bisa menikah dengan pria seperti itu!" "Itu kebodohanmu sendiri yang begitu tergila-gila pada pria tidak berguna seperti itu!" sahut Arman kesal. "Sejak awal, Ayah tidak pernah menyukainya karena dia tidak setara dengan kita! Otaknya tidak berjalan, hanya gayanya yang tinggi! S
Pintu ruang rapat tertutup setelah Eddy dan Fabian diseret keluar.Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang bicara. Suasana yang tadi begitu panas mendadak berubah menjadi sunyi.Elisa duduk diam dengan tangan yang masih gemetar. Walaupun ia ingin lepas dari Eddy setelah diselingkuhi dan dimanfaatkan, Elisa tidak pernah menyangka Eddy bisa melakukan hal sebesar ini. Selama dua tahun memanipulasi semuanya dan menggelapkan dana perusahaan itu bukan kejahatan biasa. Bahkan Elisa ingin sekali menampar Eddy tadi, tapi tubuhnya kaku. Peserta rapat lain juga diam dan saling melirik, tidak ada yang berani bicara sama sekali. Sementara Darmawan masih berdiri dengan wajah yang merah padam karena amarahnya. Napasnya mulai tersengal. Satu tangannya memegang dadanya sambil mengentakkan tongkatnya keras ke lantai. "Memalukan! Benar-benar memalukan!"Tidak ada yang berani menyahut."Ayah ...," panggil Arman pelan. "Tidak usah bicara!" Darmawan memotongnya, sebelum dadanya makin berdenyu
"Bukan! Bukan!" Eddy langsung berteriak keras. "Semuanya bohong!" "Itu benar!" sahut salah seorang manager yang membuka laporannya. "Di laporan ini memang tertulis nama rekening perantara itu atas nama CV Chandra Perkasa. Nama pemilik CV itu adalah Yuliana Chandra, persis seperti yang Leo katakan!" Semua tatapan mengarah pada Leo dan Eddy sekarang. Sedangkan Arman tidak bisa menahan amarahnya dan menggebrak mejanya. Brak!Semua orang tersentak kaget mendengarnya. "Apa maksudnya ini, Eddy? Yuliana Chandra itu benar sepupumu, hah? Kau mencuri dari perusahaanmu sendiri?" "Itu bohong, Ayah! Itu bohong! Leo merekayasa semuanya! Aku bersumpah, Ayah! Aku ...." "Ada orang IT di sini," sela Wira sambil melirik Eddy tajam. "Kita bisa langsung meminta mereka memeriksa mana yang asli dan mana yang palsu." Eddy makin tegang, sedangkan orang IT langsung memeriksa laporan milik Leo dan Eddy. "Ayah, ini tidak seperti yang Leo katakan! Ini tidak ada hubungannya dengan aku maupun Fabian!" "Leb
Arman langsung menegang melihat lukisan mendiang istri pertamanya di sana. Lukisan yang sudah lama menghilang dan ia tidak tahu bahwa lukisan itu akan ikut dilelang. Sementara Hilda langsung mencibir sambil tertawa kesal. "Itu si tukang selingkuh kan? Sial!" "Apa itu benar Tante Monella? Di luki
"Ibu tidak menyangka suami Elisa itu punya nyali juga membeli perhiasan seharga dua setengah milyar." Hilda melirik sinis begitu Eddy berhasil mendapatkan kalungnya, tapi Susan terus memuji kakak iparnya itu. "Itu namanya keren, Ibu!" "Apa dia akan memberikan kalungnya untuk Elisa?" "Tentu tidak
"Enam ratus juta!"Suara seorang wanita di sisi kanan terdengar. Ia menaikkan penawaran dan membuat tatapan Elisa teralih. MC langsung tersenyum lebar. "Wow, enam ratus juta! Apa ada yang lebih tinggi?"Eddy mendecih pelan lalu kembali mengangkat papan nomornya tanpa ragu. "Tujuh ratus lima puluh j
Susan langsung tersenyum sumringah saat melihat kakak iparnya menghampirinya. Walaupun lampu sudah mulai redup, tapi Susan masih bisa melihat betapa gagah Eddy dengan jas dan tuxedonya, pria yang tidak pernah gagal membuatnya berhasrat. Apalagi malam ini, Eddy akan menunjukkan cintanya dengan membel







