Share

Mendengar Kebusukannya

Penulis: Mommykai22
last update Tanggal publikasi: 2026-04-25 22:15:37

"Anda baik-baik saja, Bu?"

Leo akhirnya mengikuti Elisa sampai ke arah lift. Sambil menunggu pintu lift terbuka, Leo pun menatap cemas pada wanita itu.

"Untung kau datang, Leo! Aku muak sekali melihat wajahnya dan untuk apa juga dia harus ke sini?"

"Mungkin dia masih penasaran karena Anda mendadak hilang dalam kondisi mabuk. Tapi berikan ponsel Anda, Bu."

Leo membuka tangannya sampai Elisa mengernyit. "Apa? Untuk apa kau meminta ponselku?"

"Sebentar saja, berikan ponsel Anda."

Elisa masih
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Dhimas Dhany
dari awal udah curiga sih sama edi
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Kita Putus Saja

    "Astaga, Elisa, apa yang terjadi? Mengapa kau membawa koper?" Bik Imah akhirnya pulang setelah pertemuan di sekolah Rara selesai. Rara lanjut sekolah, sedangkan Bik Imah pulang sendiri dan langsung kaget melihat koper kecil Elisa. Elisa memang tidak berniat kabur, Elisa ingin pergi dan berpamitan dengan baik pada semua orang. Tentu saja Elisa tahu akan jauh lebih mudah kalau ia menghilang dibanding berpamitan. Tapi Elisa ingin berpamitan. "Aku ... sudah memutuskan untuk pergi, Bik." Bik Imah sampai mematung sejenak mendengarnya. "Apa? Apa maksudmu, Elisa? Jangan aneh-aneh! Coba Bibik lihat apa kau masih demam? Kau mau pergi ke mana membawa koper, hah? Berikan kopernya pada Bibik! Berikan, Elisa!" Bik Imah berusaha merebut koper Elisa, tapi Elisa menahannya. "Bik Imah ...."Tangisan Bik Imah langsung meledak sendiri. Sebagai seorang wanita, Bik Imah paham perasaan Elisa. Dan melihat sikap Elisa yang makin aneh dari hari ke hari, Bik Imah sudah punya feeling hal seperti ini akan t

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Mau Bicara

    Leo memeluk Elisa tidur malam itu. Elisa sangat lemas sampai tidak nafsu makan. Setelah mereka berciuman begitu mesra, Elisa tertidur begitu saja. Leo hanya meninggalkannya untuk mandi lalu kembali ke kamar hanya untuk menatap wajah cantik yang sedang tertidur pulas itu. "Aku mencintaimu, Elisa. Entah bagaimana cara mengatakannya agar kau percaya padaku. Aku mencintaimu dan aku tidak akan menukarnya dengan apa pun juga, sekalipun itu dendamku pada keluargamu." Leo mengusap kening Elisa yang berkerut. "Jangan mengingat yang lalu! Jangan merasa bersalah karena semuanya bukan salahmu. Kau tidak ada hubungannya dengan ini, Sayang. Kau tidak ada hubungannya." "Tapi maafkan aku kalau aku tidak bisa berhenti membalaskan dendam ini pada keluargamu sampai mereka mendapatkan balasan yang setimpal." Leo menatap wajah itu lekat-lekat, sebelum ia mencium kening Elisa, dan kembali menatapnya sepanjang malam. Keesokan harinya, Elisa bangun lebih dulu dengan tubuh yang terasa pegal semua. Ia sa

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Ciuman Terakhir

    Anton mengerang. Kalau mengikuti amarahnya, ia pasti sudah meninggalkan Elisa dan menggendong Lily bersamanya, tapi Anton memilih mengikuti hatinya. Lily benar. Tubuh dewasa mungkin masih lebih kuat menahannya, tapi tubuh kecil Elisa tidak bisa, apalagi Anton melihat bagaimana Elisa terkena luka bakar. Celana anak itu meleleh karena api yang sudah menjilat kulitnya dengan menyakitkan. "Lily ...." "Selamatkan dia, Anton! Dia belum tahu apa pun. Selamatkan dia ...." "Tunggu aku, Lily! Aku akan kembali dan membawamu keluar dari sini," sahut Anton akhirnya dengan hati yang begitu berat. Sementara Elisa kecil terus menangis. Rasa sakit itu terlalu sakit sampai tidak bisa diungkapkan dengan hal lain selain tangisan dan jeritan, disertai background teriakan yang lain juga. Rasa panas dan rasa sakit membuat Elisa akhirnya perlahan kehilangan kesadarannya. Namun, sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya, ia masih bisa merasakan tubuhnya terangkat, aman di dalam pelukan kokoh, hingga sa

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Malam Itu

    Elisa menahan napas sejenak mendengarnya. Tatapannya goyah dan jantungnya seolah jatuh ke lantai. "Grandpa, itu ...." "Grandpa tebak dia belum tahu kan? Lalu kapan kau akan memberitahunya? Grandpa ingin tahu apa dia masih bisa membelamu kalau dia tahu kejadian yang sesungguhnya!" "Berhenti, Grandpa! Tolong jangan membahasnya lagi ...." "Itu kenyataan yang tidak diketahui banyak orang. Grandpa sudah berusaha menyembunyikannya agar kau tidak disalahkan banyak orang, tapi sekarang kau tidak membalas budi Grandpa? Kau malah tetap diam seolah kau tidak bersalah?" "Berhenti kubilang, Grandpa! Berhenti!" teriak Elisa. "Kalau Leo mau balas dendam, seharusnya itu padamu, bukan pada Grandpa, apalagi keluarga Wijaya! Semua karenamu, Elisa! Karenamu!" "Cukup! Aku tidak mau dengar lagi! Aku tidak mau, Grandpa!" Blep!Elisa menutup teleponnya tanpa peduli apa pun lagi. Bahkan ia tidak berpamitan pada Darmawan. Ia menutup teleponnya dan membuang ponselnya asal ke ranjang. "Tidak! Tidak!" pe

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Tekanan

    "Apa sudah ada kabar tentang Pak Rahmat, Gary?" tanya Leo saat mereka sudah ada di mobil dalam perjalanan pulang kembali ke apartemen. "Belum ada, Bos. Anak buah kita sudah mengawasi sejak tadi, tapi sampai malam, Pak Rahmat belum juga muncul." "Belum muncul atau sudah muncul tapi pergi lagi?" "Ah, aku tidak tahu yang itu, Bos! Besok aku akan meminta orang memeriksa CCTV di kafe." Leo mengangguk. "Periksa semuanya, Gary. Mendadak rasanya aneh. Pak Rahmat seharusnya bukan tipe orang yang akan mengerjai orang lain. Kalau dia berhalangan, dia juga seharusnya memberitahu, bukan menghilang seperti ini." "Benar juga, Bos. Ponselnya juga sudah tidak aktif lagi." Gary meraih ponselnya dan mengecek pesannya yang sejak tadi tidak terkirim, tapi mendadak malam ini sudah terbaca. "Eh, aku mengirim pesan wa padanya, tapi ponselnya tidak aktif, tapi sekarang sudah dibaca, Bos." "Lalu apa yang di balas?" "Eh, dia tidak membalas, hanya membaca saja." Leo mengernyit. "Coba telepon dia lagi!"

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Menyerang Balik

    Rahmat membeku mendengar kata gudang lama. Bahkan dalam mimpinya saja, Rahmat tidak pernah membayangkan ia akan kembali ke gudang ini, gudang di mana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri teman-temannya terpanggang hidup-hidup. Bahkan kebakaran itu masih sering menghantui tidurnya. Ia melihat dan mendengar teman-temannya berteriak, tapi ia tidak bisa menyelamatkannya dan memilih menyelamatkan diri sendiri. Rahmat bersumpah setelah ia keluar, ia tidak langsung kabur, tapi ia mencari bantuan di luar, memanggil satu persatu orang, memohon pada Wira juga untuk meredamkan apinya, menyelamatkan teman-temannya. Namun, dengan bengisnya Wira mengabaikan dan malah mengejar Rahmat untuk dikembalikan ke dalam gudang. Rahmat akhirnya kabur sungguhan, tapi nama teman-temannya yang meninggal di sana membuat penyesalan itu melekat dalam dirinya, ke dalam organ terdalam di tubuhnya yang tidak akan pernah bisa dihilangkan dengan cara apa pun. "Gudang ... gudang lama? Gudang yang terbakar dulu, N

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Milikku Besar

    Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Aku Akan Memulainya

    Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Harus Segera Hamil

    "Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak

  • Asisten Suamiku yang Perkasa   Memuaskan Diri Sendiri

    Elisa membeku saat merasakan pelukan yang menahannya. Buru-buru ia mendongak dan jantungnya makin bergemuruh melihat siapa pria itu. Itu Leo. Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, satu tangan masih melingkar di pinggangnya agar ia tidak terjatuh.Kemarin mungkin Elisa tidak merasakan apa-apa s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status