LOGINLeo masih memeluk Elisa dari belakang. Hangat tubuh pria itu membuat Elisa perlahan rileks, sementara suara ombak terus terdengar memecah malam. "Jadi apa yang kau minta barusan?" tanya Leo santai, seolah mereka adalah sepasang kekasih yang sudah biasa berpelukan seperti ini. "Aku hanya minta diberi kekuatan dan kebahagiaan ke depannya. Kurasa mengharap hidup berubah itu terlalu muluk, karena itu, aku hanya minta diberi kekuatan. Itu lebih masuk akal." Elisa tersenyum sambil bersandar nyaman pada Leo. "Mengapa kau pikir hidupmu tidak bisa berubah, Elisa?" Elisa mengangkat bahunya. "Entahlah, hanya sudah melaluinya selama bertahun-tahun, jadi kurasa tahun ke depannya juga akan sama saja. Aku hanya ingin diberi kekuatan untuk menghadapinya." Leo mengangguk, memejamkan mata sejenak merasakan pipinya menempel dengan pipi Elisa. "Tidak ada yang tahu ke depannya bagaimana. Mungkin sekarang kau sudah mengalaminya bertahun-tahun, tapi bisa jadi ... sesuatu yang besar akan datang seperti
Elisa tahu ia pasti sudah gila saat meminta Leo menjadi kekasih semalamnya, tapi ia menginginkannya, sangat menginginkannya. "Tapi biarkan ini menjadi rahasia kita, hanya malam ini saja. Hanya sampai ulang tahunku berakhir saja," imbuh Elisa meyakinkan rahasia mereka tetap aman. Leo masih terdiam, tidak menyangka Elisa akan meminta hal seperti ini, tapi Leo sama sekali tidak keberatan, bahkan ia menginginkan yang sama, bisa bersama Elisa tanpa batasan. Tanpa menjawab apa pun lagi, Leo langsung meraih tangan Elisa dan menggenggamnya erat, membuat Elisa tersentak sejenak, tapi menatap takjub pada gandengan tangan itu, hangat, seolah ada seseorang yang tidak akan melepasnya. "Leo ...." "Kau belum meniup lilin kan hari ini? Ayo kita membelinya sebelum semua toko kue tutup." Leo mengajaknya bangkit dari kursi dan berlari ke mobil. Untung Elisa sudah mengganti bajunya sebelum ia pergi ke taman tadi, karena Leo mengajaknya ke tengah kota membeli kue saat toko kue itu hampir tutup. "Ak
"Aku jadi penasaran bagaimana reaksinya saat diberi lukisan itu di hari spesialnya, Bos. Aku benar-benar tidak tahu kalau kau semanis ini, Bos." Gary terus melirik Leo saat ia melajukan mobilnya ke rumah Elisa. Pick up yang mengangkut lukisan jalan duluan dan mereka menyusul. Leo tidak menjawab dan hanya tetap diam, padahal di otaknya, ia sudah membayangkan bagaimana wajah cantik itu tersenyum sambil menangis haru. Gary pun kembali melirik Leo yang tidak menyahut dan ia hanya terus menggelengkan kepala, tidak menyangka seorang Leo Hartono akhirnya bisa menjadi bucin pada wanita. Tidak lama kemudian, mobil mereka pun tiba di dekat rumah Elisa dan dengan cepat mereka bisa melihat Elisa yang masih terkejut dengan hadiahnya. Elisa tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa terus mengusap air matanya. "Jadi kami harus letakkan di mana lukisannya, Bu?" tanya sang sopir lagi. "Itu ... hmm, letakkan di sini saja." Elisa menunjuk ke halaman rumah, ia masih tidak yakin dengan apa pun.
Tatapan Elisa masih goyah, ia menelan salivanya menatap kalung di hadapannya, tapi ia tidak tahu apa ia harus bertanya tentang kalung lelang itu. "Sayang?" Suara Eddy memanggilnya. "Ah, iya?" Elisa tersentak. "Kau melamun, Sayang." "Oh, benarkah? Maafkan aku, aku hanya terharu, Eddy," jawab Elisa yang akhirnya memutuskan untuk tidak bertanya apa pun. Eddy tersenyum dan kembali memeluk istrinya itu. Elisa tidak balas memeluk, hanya membiarkan kepalanya bersandar di dada Eddy dengan air mata yang masih menetes juga. "Ini hari bahagiamu, jangan menangis. Tapi maafkan aku, Sayang, aku sudah ada janji nanti malam dan aku tidak bisa menemanimu merayakan ulang tahun, aku diberi tugas oleh Grandpa untuk bertemu klien, kau tahu aku tidak mungkin menolak Grandpa kan?" Eddy melepaskan pelukannya dan Elisa hanya mengangguk. Tentu saja ia kecewa, tapi entah mengapa, kecewa itu sudah menjadi kebiasaan. "Tidak apa, Eddy. Aku tahu perintah Grandpa lebih penting. Lagipula aku tidak mau merayak
"Leo! Astaga, ini bukan dari Eddy, tapi dari Leo?" Buru-buru Elisa menelepon Leo sampai Leo tersenyum sendiri melihat nama Elisa yang akhirnya meneleponnya. "Halo, selamat pagi, Bu Elisa." "Leo, kau yang meletakkan bunga dan coklat di meja kerjaku?" "Semoga Anda menyukainya. Selamat ulang tahun, Bu Elisa." Elisa kembali terdiam, sejenak tidak tahu harus marah atau berterima kasih, tapi ia tidak punya alasan untuk marah hanya karena asisten suaminya memberinya ucapan selamat ulang tahun duluan dibanding suaminya. "Jadi itu benar kan? Hadiahnya darimu?" "Ya, aku meletakkannya pagi-pagi sekali sebelum Ririn datang. Coklatnya bisa membuat hari Anda menjadi lebih baik, Bu Elisa.""Ah, baiklah, terima kasih." "Sama-sama. Tapi kebetulan sekali aku baru mau menelepon Anda, Bu." Elisa mengernyit. "Ada apa?" "Aku punya hadiah lain.""Hadiah apa?""Maukah bertemu seseorang denganku pada jam makan siang nanti?" Elisa mengernyit makin dalam. "Bertemu siapa, Leo?" "Seorang klien. Yang p
Lagi-lagi pertanyaan Leo mengejutkan. Sejenak bayangan mereka bersama di ranjang membuat Elisa merinding sampai ia buru-buru mendorong dada Leo lagi. "M-membuat anak? Tidak ada lagi! Tidak ada lagi jadwalnya! Aku ... aku akan menunggu saja, semoga aku tidak haid dan langsung hamil saja!" Leo terdiam, mendadak membayangkan sesuatu yang lebih absurd dibanding proses membuat anak, yaitu saat Elisa akhirnya hamil anaknya. Leo tidak pernah berencana membiarkan Elisa hamil anaknya, tapi kalau Elisa hamil sungguhan bagaimana?Pikirannya sendiri membuat Leo terdiam sampai pelukannya akhirnya longgar dan Elisa berhasil lepas. "Hmm, ini sudah malam, ayo pulang dulu, aku tidak mau nanti Eddy pulang dan tidak menemukan aku di rumah," seru Elisa yang cepat-cepat berlari ke arah pintu keluar pantai. Leo kecewa karena mereka pulang begitu cepat, tapi akhirnya ia tetap mengantar Elisa pulang, hanya untuk mendapati Eddy belum pulang juga. Elisa sendirian di rumah malam itu, menikmati tidurnya da







