ログインVelia mematung mendengar pengakuan Susan. Untuk sesaat, suasana hening, sebelum Velia yang duluan berbicara. "Apa, Susan? Apa yang kau bilang?" "Maafkan aku, Velia! Maafkan aku ...." Napas Velia perlahan mulai tersengal dan ia tertawa nanar. "Aku menceritakan padamu karena aku percaya padamu, kau sahabatku, tapi kau ...." "Maafkan aku, Velia! Aku salah! Aku tahu aku sudah mengkhianati kepercayaanmu, tapi waktu itu, aku tidak sanggup menyimpan semuanya sendiri. Aku sudah memberitahumu untuk berhenti melakukannya kan? Dipenjara seperti aku tidak enak, Velia. Tapi kau tetap melakukannya." "Aku ...." Susan terdiam dengan air mata yang mengalir. "Maafkan aku. Aku tidak punya pembelaan lagi. Aku salah! Aku mengkhianatimu. Kau boleh marah, kau boleh menamparku, kau boleh membenciku. Aku terima semuanya, Velia. Aku terima ...." Tatapan Velia juga goyah dan ia terus menggeleng. Air matanya juga ikut mengalir, tapi ia terus menatap Susan. "Susan ...." "Maafkan aku, Velia ...." Hanya kat
"Kau baik-baik saja, Leo?" Elisa terus menatap Leo dalam perjalanan pulang dari penjara. Tapi Leo mengangguk sambil tersenyum. "Aku baik-baik saja, memangnya kenapa, Sayang?" Ekspresi Leo tampak biasa saja, padahal Elisa tahu Leo sempat marah saat mendengar rahasia kecil dari Wira tadi. "Itu ... masalah Om Wira yang disuruh Grandpa ...." "Itu sudah berlalu, Sayang," sela Leo. "Aku akui aku marah mendengarnya tadi. Bahkan setelah membunuh kedua orang tuaku, dia masih belum puas dan ingin menyingkirkan aku. Tapi mungkin takdir belum menginginkan aku mati karena bahkan iblis sekejam Wira saja memilih melepaskanku dan berbohong pada bosnya." Elisa mengembuskan napas panjangnya. "Ini menyakitkan, saat Grandpa sudah meninggal, ternyata orang masih membicarakan kejahatannya. Maafkan dia, Leo! Maafkan keluarga kami!" Elisa sedih lagi, tapi Leo meliriknya dan membelai wajah istrinya itu. "Berhenti minta maaf, Elisa. Kita tidak pernah tahu ke mana hidup akan membawa kita. Justru dengan
"Ayah tidak mau, Elisa! Jangan paksa Ayah!" Arman masih terus menolak saat Elisa memintanya bicara dengan Susan. Bahkan sampai panggilan video call itu sudah tersambung, Arman tetap menolaknya. "Tapi panggilannya sudah tersambung, Ayah. Waktu kunjungan tidak banyak." "Karena itu, untuk apa ditelepon? Ayah sudah bilang tidak mau," sahut Arman kukuh. Elisa terdiam sejenak, sebelum akhirnya ia mengembuskan napas panjangnya. "Apa Ayah bohong padaku?" "Apa maksudmu?" "Waktu Ayah minta maaf, Ayah bilang akan melakukan apa saja untuk membuatku bahagia, untuk menebus kesalahan Ayah. Apa waktu itu Ayah berbohong padaku?" Arman melotot tidak terima. "Ayah tidak pernah berbohong, Elisa! Ayah benar-benar akan melakukannya." "Kalau begitu, bicaralah dengan Susan, terima dia kembali, berdamailah dengannya." "Tapi itu ...." Arman ikut terdiam menatap anaknya itu, sebelum akhirnya Arman juga mengembuskan napas panjangnya dan menyerah. Ia memegangi ponsel itu dan menunjukkan dirinya pada Sus
"Ibu sudah melakukan hal yang benar. Terima kasih, Ibu." Susan tersenyum menatap ibunya setelah ia kembali ke sel. Tapi Hilda hanya mengernyit. "Apanya yang sudah melakukan hal yang benar? Baru disogok makanan saja sudah luluh! Oh, tapi anak itu ada gunanya juga." Hilda tampak tidak mau membahas tentang Elisa lagi, tapi Hilda terus mengagumi semua yang Elisa berikan. Lagi-lagi Susan tersenyum dan ia ingin menangis melihat ibunya yang pelan-pelan akhirnya luluh itu. Di sisi lain, Elisa sama senangnya, bahkan ia tidak berhenti tersenyum di dalam mobil. "Akhirnya semua berakhir damai, Leo. Aku senang dan terharu. Kau lihat bagaimana Tante Hilda memakan semua makanan yang kita bawa kan?" Leo mengangguk dan melirik istrinya. "Ya, Sayang, aku melihatnya. Sepertinya dia masih gengsi, tapi aku bisa melihat perasaannya padamu juga sudah berubah, bukan lagi kebencian seperti dulu." "Kau benar! Aku senang sekali, Leo! Aku ingin memberitahu semuanya pada Ayah, dia pasti juga akan senang."
Susan membeku sejenak mendengar ucapan Elisa, tapi saat ia sadar, ia segera menarik tangannya."Elisa, apa yang kau katakan? Aku bukan melakukan ini untuk meminta timbal balik seperti itu! Aku tidak butuh bantuanmu setelah aku keluar dari sini, aku bisa menjalani hidupku sendiri bagaimanapun itu." Tatapan Susan terarah ke Leo. "Kau juga jangan salah sangka, Leo! Itu sama sekali bukan maksudku. Aku bukan lagi orang yang seperti itu!" Nada Susan begitu tegas sampai Leo mengangguk. Ekspresi Susan, ucapan Susan, cukup membuktikan bagaimana dirinya yang sekarang. "Tidak, Susan!" sahut Elisa. "Kau yang jangan salah paham. Bukan maksud kami membalas jasamu seperti itu. Tidak." "Kau tahu seberapa sering aku memikirkanmu selama kau dipenjara? Berapa kali aku berpikir ingin mengunjungimu ke penjara, tapi aku takut dan ragu, takut kau masih belum bisa menerimaku, takut kau masih membenciku. Hingga akhirnya aku tidak pernah datang kemari, padahal aku rutin mengunjungi Ayah." "Hingga saat tel
"Jadi apa saja yang kau bawa, Sayang? Itu banyak sekali!" Leo menatap barang bawaan yang sudah Elisa siapkan siang itu untuk ke penjara. Ia membawa makan siang dan banyak barang lain, obat-obatan, beberapa pakaian ganti yang sesuai dengan aturan penjara, handuk baru, perlengkapan mandi, sandal, pelembap kulit, lip balm, serta beberapa kebutuhan pribadi yang nantinya akan diperiksa petugas dulu sebelum dibawa masuk. Ia juga membawa sebuah buku bacaan ringan dan buku catatan kecil lengkap dengan beberapa pulpen.Elisa tahu kehidupan di dalam penjara tidak mudah. Ia berharap barang-barang sederhana itu bisa membuat hari-hari Susan terasa sedikit lebih nyaman.Sementara untuk Hilda, Elisa menyiapkan handuk baru, perlengkapan mandi, kacamata baca dengan model yang pernah dilihatnya dipakai Hilda dahulu, serta selendang lembut yang cukup hangat.Ada pula beberapa camilan kemasan yang sesuai dengan aturan tempat tersebut dan beberapa barang lain untuk teman-teman Susan dan Hilda di penjara
"Ini pria yang akan membuatmu hamil, Elisa." Elisa membelalak lebar saat melihat Eddy, suaminya membawa seorang pria ke kamar mereka. Pria itu Leo, asisten suaminya yang baru bekerja beberapa bulan ini. Pria berkacamata yang pendiam dan penurut, dengan rambut klimis yang membuat Elisa selalu meng
Leo bahkan tidak memberi Elisa waktu untuk bersiap ketika bibir pria itu tiba-tiba menyentuh bibirnya.Bukan hanya menempel, tapi pria itu memagut bibir Elisa sampai Elisa tersentak kaget dan marah. "Beraninya kau menciumku!" Elisa refleks bangkit berdiri dan mendorong dada Leo.Plak!Satu tampar
Eddy sontak berdiri dari kursinya begitu mendengar ucapan Elisa. "Sayang, apa yang kau katakan? Duduklah dulu, Sayang!" Eddy menghampiri Elisa dan memintanya duduk, tapi Elisa menolak. "Aku sudah memikirkannya dan aku ...." Elisa terdiam sejenak sambil melirik Leo lagi. "Aku mau ... melakukannya
"Apa yang kau lakukan di sini, Leo?" Elisa menarik tangannya kembali dan ia langsung melotot marah. Jantungnya memacu kencang dan ia tidak menyangka ada orang yang memergokinya seperti ini. Leo sendiri terdiam sejenak tidak bisa berkata-kata. Ia bukan pria polos yang tidak tahu apa yang Elisa lak







