LOGIN“Ini … bukan yang aku kerjakan, data pada lembar ini berbeda,” ucap Kenanga.
“Waktu kita sudah mepet, lusa kita akan survey. Kenapa kamu bisa ceroboh seperti ini?” cecar Damar. Kenanga terdiam, apa ia memang melakukan kesalahan ketika proses pembuatan dokumen tersebut? Tapi ia sudah teliti dan merevisinya berulang kali sesuai arahan Damar. Tapi kenapa kali ini kesalahan itu kembali? “Saya, izin memeriksa file di komputer, Pak,” pinta Kenanga.<Tentang luka, Damar selalu menyimpan semuanya sendiri, memilih menelan perih yang bahkan mungkin menyiksanya. Dihadapkan pada keadaan sang ibu yang menderita penyakit kanker, ia yang harus pindah hingga membuatnya terpisah dari Kenanga, serta kematian ibunya yang meninggalkan luka besar di dasar hatinya.Damar tak pernah menceritakan hal yang menyakitkan, dibalik tawanya, ia menyimpan duri yang menancap dalam hatinya. Tapi ia selalu merasa lukanya perlahan pulih hanya karena satu senyuman dari seseorang. Kenanga.“Dam, selama pergi, apa saja yang telah kamu lalui? Singapura dan Indonesia indah mana?” celoteh Kenanga.“Banyak. Masih indah Indonesia,” jawab Damar.Damar melirik ke arah Kenanga, di lubuk hatinya yang terdalam, ia selalu bersyukur karena hubungannya dengan Kenanga membaik. Hal yang ia inginkan sejak bertemu kembali, namun ia memilih memendamnya hanya karena sebuah kesalahpahaman.Ia memperhatikan Kenanga. Wajah gadis itu kian
“Ingat apa?” tanya Kenanga.Damar terdiam. Memorinya kembali ke masa silam, masa dimana Agatha masih memeluknya penuh kehangatan. Di sepanjang perkebunan yang terhampar luas bak permadani hijau, kenangan tentangnya dan sang ibu masih tersimpan penuh kasih.Flashback Damar berlari dengan tawa riang, kakinya kecil, namun langkahnya sangat cepat. Saat itu, ia berumur 8 tahun. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar, di belakangnya, Dirga tengah mengejarnya seraya tertawa.“Mama!” teriak Damar.Agatha menoleh pada putra kecilnya, ia ikut merentangkan tangan dan menangkap sosok Damar dalam pelukannya. Damar tergelak, detak jantung Agatha seperti melodi yang menenangkan hatinya.“Pangeran kecil Mama.” Agatha memeluk Damar dengan erat.“Damar, gantian dong, Papa juga mau dipeluk Mama,” gerutu Dirga.“Gak boleh! Mama punyaku!” Damar menjulurkan lidahnya ke arah Dirga.Agatha yang melihat hal itu tertawa. Mengapa
Rosa tersenyum sinis. Ternyata untuk mengalahkan Kenanga, ia harus menghadapi dulu Sania. Sejak awal, Sania memang sudah terlihat berbeda dari yang lainnya, jika orang lain bisa dengan mudahnya ia bohongi, tetapi Sania berbeda.Sejak awal, Rosa menyadari ada yang berbeda dari tatapan Sania terhadapnya, ya, tatapan curiga dan penuh observatif. Tetapi Rosa memilih untuk membiarkan hal itu terjadi, ia tahu bahwa Sania mengawasinya diam-diam. Rosa tak menyangkalnya hal itu.“Aku tak akan mudah kalah, terutama oleh kalian,” batin Rosa.Rosa pergi dan mulai menyusun rencana. Ia hendak menemui Parman dan Sudarma secara sembunyi-sembunyi. Dengan langkah hati-hati ia memastikan semuanya aman terkendali.“Mbak, Rosa, ada apa mencari kami?” tanya Parman dan Sudarma.“Ada tugas lain untuk kalian, aku tak bisa membicarakannya di telepon, jadi aku diam-diam menemui kalian,” ujar Rosa.Parman dan Sudarma saling pandang. Entah apa lagi yang diin
Rosa terdiam beberapa saat. Ia memiliki sebuah rencana untuk Kenanga, tapi bukan sekarang, ia menunggu waktu yang tepat. Waktu dimana semua orang lengah, terutama Sania. Gadis itu terlalu cermat, bahkan sepertinya Sania mulai menaruh curiga padanya.“Nanti akan ku kabari lagi.” Rosa mematikan teleponnya dan pergi berlalu.Dengan hati-hati Sania kembali mengintip, Rosa sudah tak ada di sana. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada Arga yang berada tepat di sampingnya, ketika ia menyadari bahwa ia masih merangkul dan menutup mulut Arga dengan tangannya, ia melepaskannya.“Sorry, Ar,” ucap Sania.Tetapi Arga masih terdiam, tatapannya kosong, seolah pikirannya tertinggal pada kejadian beberapa saat lalu. Bukan pada percakapan Rosa yang baru saja mereka dengar, melainkan pada sesuatu yang jauh lebih sederhana. Yaitu saat tangan Sania yang tadi menutup mulutnya. Entah kenapa, sentuhan singkat itu justru membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Sania dan Arga memilih duduk di salah satu sudut teras vila yang cukup jauh dari anggota tim lainnya. Suasana pagi itu masih tenang, tetapi pikiran keduanya justru dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum menemukan jawaban.Sania menatap Arga dengan serius. Sejak kejadian hilangnya dokumen hingga pertemuan dengan pihak pengelola pagi tadi, semakin banyak hal yang terasa tidak biasa.“Rencanamu sekarang apa, San?” tanya Arga.“Kita datangi rumah Pak Parman terlebih dahulu, aku yakin, kita akan menemukan sesuatu di sana.” Sania menatap Arga dengan serius.Arga dan Sania berdiri dan mulai berjalan. Berbekal informasi dari orang sekitar, akhirnya mereka menemukan sebuah rumah sederhana yang terletak tak jauh dari vila. Keadaan rumah itu sepi, tak terlihat siapa pun.“Neng, cari Pak Parman ya? Pak Parman jam segini sama istrinya lagi ke kebun,” ucap seorang wanita paruh baya.“Oh iya, terima kasih Bu.” Sania tersenyum ramah.“
Pagi itu, suasana perkebunan teh tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa anggota tim Damar telah bersiap dengan perlengkapan yang mereka butuhkan untuk melakukan pertemuan dengan pihak pengelola perkebunan.Kenanga memeriksa kembali catatan yang telah ia siapkan. Sesekali matanya berpindah dari satu halaman ke halaman lainnya, memastikan tidak ada lagi yang terlewat setelah kejadian semalam.“Sudah siap?” tanya Damar.“Sudah.” Kenanga mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil.Tak jauh dari mereka, Rosa diam-diam memperhatikan Kenanga. Ia sudah bertekad untuk mencari cara lain agar hubungan Kenanga dan Damar kembali menjauh, namun pagi ini, yang ia lihat adalah kedekatan antara Damar dan Kenanga, serta perhatian-perhatian kecil dari pria itu yang membuat kemarahannya semakin bertambah.Namun, ada hal yang tidak diketahui oleh Rosa. Bahwa setiap geraknya, tengah diawasi oleh Sania. Sania tersenyum tipis setiap kali menangkap ekspresi tert







