แชร์

Bab 78 Berjuang

ผู้เขียน: Sheila
last update วันที่เผยแพร่: 2026-11-01 01:18:47

Arga memutuskan kembali ke kantor. Langkahnya terasa berat, terutama hatinya.

“Masa takdirku harus patah hati terus?” keluh Arga.

Damar yang baru saja turun ke loby melihat Arga, sahabatnya itu nampak seperti cuaca mendung. Damar menghampiri Arga dan menepuk pelan pundaknya.

“Suram amat, kenapa bro?” tanya Damar.

Arga menoleh, lalu membuang napasnya. Enggan menjawab Damar, pria berkacamata itu hanya tertunduk lesu.

Damar me
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 79 Dua Wanita dan Dua Lelaki

    Rosa menatap Kenanga dengan tatapan tajam. Rasa benci pada gadis itu kian memenuhi rongga dadanya, ia merasa Kenanga tak pantas mendapatkan apa yang seharusnya jadi miliknya.“Apa yang istimewa dari gadis itu? Kenapa dia selalu mendapatkan apa yang ku inginkan?” gumam Rosa.Kenanga … nama itu selalu membuat Rosa merasa muak. Rasanya, apa yang Rosa usahakan, selalu berhasil didapatkan oleh Kenanga dengan mudahnya. Sedangkan ia harus berjuang mati-matian, namun apa yang ia dapatkan tak pernah sepadan.Dari mulai nilai di masa SMA, Rosa selalu kalah dari Kenanga. Sehingga ia tak pernah sekali pun mendapatkan perhatian dari Anton.Dan Kenanga selalu menjadi anak kecil bagi Gani. Gadis itu selalu diperhatikan oleh Gani, ayahnya. Sementara Rosa? Tak pernah sekalipun dianggap berarti oleh Anton. Anton selalu menuntutnya sempurna, sebab Rosa adalah satu-satunya penerus keluarga Dhinakara.“Aku … tak akan tinggal diam.” Rosa mengepalkan tangannya.

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 78 Berjuang

    Arga memutuskan kembali ke kantor. Langkahnya terasa berat, terutama hatinya.“Masa takdirku harus patah hati terus?” keluh Arga.Damar yang baru saja turun ke loby melihat Arga, sahabatnya itu nampak seperti cuaca mendung. Damar menghampiri Arga dan menepuk pelan pundaknya.“Suram amat, kenapa bro?” tanya Damar.Arga menoleh, lalu membuang napasnya. Enggan menjawab Damar, pria berkacamata itu hanya tertunduk lesu.Damar mengernyitkan keningnya. Ia menyamakan langkahnya dengan Arga.“Ar? Are you okay?” tanya Damar sekali lagi.“Sudahlah, Dam. Lagi patah hati aku,” jawab Arga.“Patah hati? Sama siapa? Kenanga?” tanya Damar.“Ayolah, Dam. Aku udah move on ya dari Kenanga, yang aku maksud itu Sania,” jawab Arga.“Kamu suka sama Sania, Ar?” tanya Kenanga yang tiba-tiba berada di belakang Arga dan Damar.Damar dan Arga menghentikan lang

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 77 Tentang Masa Lalu dan Gejolak Hati

    Dengan langkah hati-hati, Arga mengikuti Sania dan Yoga. Hatinya semakin terusik, disaat ia melihat Sania masih memegang tangan Yoga. “Aku harus tau, siapa sebenarnya lelaki bernama Yoga itu,” gumam Arga pelan. Sania dan Yoga masuk ke dalam sebuah kafe yang berada di seberang jalan. Mereka duduk di sudut, di tempat yang tak banyak orang. Arga menyusul beberapa saat kemudian. Ia tidak langsung menghampiri meja yang ditempati Sania dan Yoga. Sebaliknya, ia berjalan menuju meja kosong di sisi lain ruangan, sedikit menyamping dari posisi mereka. Meja itu tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak terlalu jauh. Sebuah tanaman hias berukuran cukup besar berdiri di antara beberapa meja, membuat keberadaan Arga tidak begitu mencolok dari sudut pandang Sania dan Yoga. Arga menarik kursi, lalu duduk dengan santai. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan berpura-pura sibuk membaca sesuatu di layar, ia bahkan menutupi wajahnya dengan daftar menu dan sesekali melirik ke arah Sania dan Yoga mel

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 76 Dua Hati, Dua Pertarungan

    Sania melangkahkan kakinya keluar dari lift, Arga pun tak tinggal diam. Ia mengikuti Sania dan berhenti di samping Sania, ketika gadis itu menghentikan langkahnya.“Yoga, ini Arga. Rekan kerjaku, dan Arga, ini Yoga. Teman lamaku,” Sania memperkenalkan keduanya.Arga dan Yoga saling bersalaman. Yoga tersenyum tengil dan mengangkat alisnya sebelah, sementara Arga hanya tersenyum tipis, namun tatapannya cukup tajam di saat ia melihat Yoga.Yoga menyisir sebelah rambutnya dengan tangannya dan merangkul Sania. Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah Sania.“Long time no see. I Miss you,” ucap Yoga.Arga membeku. Api cemburu kian membara, pria berkacamata itu mengepalkan tangannya pelan dan membuang napas kasar.“Apa sih, Yog. Ada apa kamu tiba-tiba ke kantorku?” Sania melepaskan rangkulan Yoga.“Ada hal yang harus aku sampaikan, dan hal ini yang kamu tunggu sejak lama,” jawab Yoga.Sania terdiam sesaat. Ia menegang, mu

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 75 Dua Tangan yang Menggenggam

    Sania masih memikirkan ucapan Arga. Apa pria berkacamata itu memang sedang mendekatinya? Sania menggeleng pelan.“Masa sih?” gumam Sania pelan.Tangannya perlahan naik, menopang dagu dengan ibu jari sementara jemari lainnya bersandar di sepanjang lekuk pipinya yang tirus. Matanya menatap kosong ke arah jendela kantor, isi kepalanya mulai riuh tentang sosok Arga.“Sadar, Sania.” Sania menepuk kedua pipinya dengan telapak tangan.Sejak dulu, Sania selalu menyukai Arga dalam diam, bahkan sampai sekarang perasaan itu masih ada menghiasi hatinya. Hanya saja, Arga baru-baru ini telah menyerah pada Kenanga, hingga akhirnya sikap pria itu padanya mulai berbeda. Sania hanya khawatir, jika apa yang Arga lakukan hanya untuk melampiaskan rasa patah hatinya.Gadis itu bersandar pada kursinya. Ia mengusap wajahnya pelan, dan terkejut ketika tiba-tiba Arga ada di hadapannya sembari tersenyum dan mata yang berbinar.“Eh, Ar. Ada apa?” tanya Sani

  • Atasan Dingin Itu Cinta Pertamaku    Bab 74 More Than Best Friend?

    Damar melangkah mendekati Kenanga. Namun, gadis itu segera mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk mengusap sisa air mata di pipinya.“Keke, lihat aku sebentar,” pinta Damar. “Untuk apa?” jawab Kenanga lirih.Damar terdiam sesaat. Ia tidak menyangka Kenanga akan menyambutnya dengan sikap sedingin itu.“Boleh kutanya ada apa? Kamu menangis?” tanya Damar.Kenanga menggeleng, enggan menjawab Damar. Rasanya, nyeri di hatinya masih terus menerus menusuk.“Aku sibuk, permisi.” Kenanga berdiri dan hendak pergi.“Jawab dulu aku.” Damar menahan tangan Kenanga.“Aku sudah melihatnya sendiri.” Kenanga menggigit bibir, berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar. “Aku melihat Rosa memelukmu.”“Justru karena kamu enggak tahu apa yang terjadi, aku ingin menjelaskannya.” Damar mengembuskan napas pelan. “Apa yang terjadi, tidak seperti apa yang kamu pikirkan.”

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status