LOGIN“Hmm … sepertinya, tidak ada orang,” gumam Rosa.
Rosa kembali menemui Parman dan Sudarma. Ia meminta mereka untuk lebih berhati-hati.“Ingat, berhati-hatilah, kalau ada yang mengetahui hal ini, jangan sekali-kali membawa namaku, paham?” ucap Rosa.Parman dan Sudarma mengangguk. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Rosa.Sementara itu, Sania dan Arga masih bersembunyi. Pelukan yang tak lepas, serta tatapan yang terkunci di antara keduanya, membuat irama janMalam itu semuanya berkumpul di vila. Damar mengadakan pesta barbekyu, Sudarma dan Parman pun hadir.“Bagaimana Pak Sudarma, ada kabar dari pemilik perkebunan teh?” tanya Damar.“Oh, masih belum, Pak. Jika sudah ada kabar, saya pasti hubungi Pak Damar,” jawab Sudarma, sekilas pria itu melirik ke arah Rosa, dan hal tersebut di sadari oleh Damar.“Pak Parman, saya ingin bertanya tentang kejadian hari ini, Pak Parman kenapa tiba-tiba menghilang? Bukannya sejak awal mendampingi Kenanga, Arga dan Sania ya?” Damar menatap Parman.Parman yang tengah menikmati makanannya tiba-tiba tersedak. Ia mulai gelisah ketika mendengar pertanyaannya Damar.“Mmm anu Pak, saya kebelet buang air kecil. Waktu saya kembali, semuanya sudah tidak ada di tempat semula,” jawab Parman.“Oh ya? Kenapa gak bilang?” sahut Arga.Parman terdiam beberapa saat, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Mencoba berpikir untuk menemukan jawaban yang tepat.
“Untuk sekarang, kita kembali ke villa, kita bicarakan semuanya dengan Damar dan Kenanga, tapi jangan sampai Rosa tau. Aku masih curiga pada Rosa, tapi belum punya bukti yang kuat,” ujar Sania.“Oke.” Arga tersenyum kecil, pandangannya kembali terkunci pada gadis yang ada di hadapannya.“Ada apa? Kok ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Sania dengan canggung.“Enggak.” Arga menggeleng kecil.“Kalau gitu … kita balik ke vila sekarang,” ajak Sania.Sementara itu, Damar beberapa kali mondar mandir di depan kamar Kenanga. Beberapa kali ia hendak mengetuk pintu, namun kembali ia urungkan.“Duh, ganggu gak ya.” Damar mengusap tengkuknya.Damar menghela napas panjang, mencoba mengetuk pintu itu kembali. Akan tetapi, ketika ia hendak mengetuk, pintu itu terbuka.Kenanga mengernyit melihat Damar tengah berdiri dengan sebelah tangannya yang mengepal itu terangkat. Matanya bergerak bergantian, melirik tangan dan wajah pria itu
“Hmm … sepertinya, tidak ada orang,” gumam Rosa.Rosa kembali menemui Parman dan Sudarma. Ia meminta mereka untuk lebih berhati-hati.“Ingat, berhati-hatilah, kalau ada yang mengetahui hal ini, jangan sekali-kali membawa namaku, paham?” ucap Rosa.Parman dan Sudarma mengangguk. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Rosa.Sementara itu, Sania dan Arga masih bersembunyi. Pelukan yang tak lepas, serta tatapan yang terkunci di antara keduanya, membuat irama jantung mereka berpacu lebih cepat.“Gawat, perasaanku ….,” ucap Sania dalam batin.“Aku … kenapa, jantungku ….,” Arga menelan ludah.Langkah seseorang kembali terdengar. Arga dan Sania terkesiap, pelukan Arga kian erat, hingga setelah beberapa saat, keadaan mulai terasa aman. Arga melihat keadaan sekitar dengan hati-hati, tak ada siapa pun di dapur.“Sudah aman,” ucap Arga.“Syukurlah.” Sania bernapas lega, tanpa sadar ia menyandarkan kepalanya ke dada
Perlahan, hubungan ketiganya kembali seperti semula. Hangat dan saling menguatkan.Di sisi lain, Rosa memperhatikan Arga, Kenanga dan Damar dengan ekspresi kesal. Tangannya mengepal pelan, dan ia membuang muka seolah tak ingin melihat tiga sahabat itu kembali dekat.Sania menyilangkan tangannya, ia tersenyum miring ketika melihat Rosa dari kejauhan. Ada satu benang merah yang ia temukan.“Sepertinya ada yang merasa kesal,” gumam Sania.“Sekarang, kita kembali ke villa, dan bersiap untuk pulang, ada pekerjaan yang menunggu kita,” ucap Damar.Setelah mendengar ucapan Damar, mereka mulai berjalan meninggalkan danau. Kenanga berjalan beriringan dengan Arga dan Sania, sementara Damar berjalan di depan mereka. Sesekali Damar menoleh untuk memastikan Kenanga baik-baik saja. Setiap kali pandangan mereka bertemu, Kenanga tersenyum kecil. Damar pun membalasnya.“Senyum terus, gak kering tuh gigi?” Arga terkekeh sembari merangkul Damar.
Tanpa pikir panjang Damar melompat ke danau untuk menolong Kenanga. Rasa bersalah menumpuk di hatinya, ia sendiri tidak bermaksud berbuat buruk pada Kenanga, namun mengapa akhirnya harus seperti ini?Damar meraih Kenanga dan membawanya ke pinggir danau. Kenanga masih sadarkan diri, gadis itu memuntahkan air yang tertelan.Sementara itu, Arga mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, amarah nampak jelas di matanya, dengan kasar ia menarik kerah Damar.“Kamu kenapa sih! Hubungan kita bertiga baru saja mereda. Tapi kenapa sikapmu kembali acuh? Lihat Kenanga, dia nyaris tenggelam karenamu!”Damar terdiam. Napasnya mulai sesak, melihat keadaan Kenanga yang terbaring lemah, ketakutan dalam dirinya kembali hadir, pikirannya tak karuan. Bagaimana jika Kenanga tak selamat? Haruskah ia kembali mengalami hal menyakitkan lagi?“Damar! Jawab! Apa yang membuatmu kembali menjaga jarak dari Kenanga? Sejak tadi aku memperhatikanmu terus-menerus menjauhi
Arga dan Kenanga masih bersembunyi di balik pohon besar. Arga merasakan perih di tangannya, ia tak sadar, ketika mencoba melawan pria bertopeng tadi, tangannya sempat tergores. Darah segar menetes di lengannya.Kenanga menoleh dan melihat wajah pucat Arga. Matanya beralih pada tangan Arga yang terluka, Kenanga terbelalak.“Ya ampun, Ar. Tanganmu!” seru Kenanga. “Gapapa, aman kok,” ucap Arga menahan perih.Arga memejamkan matanya, enggan melihat tangannya yang terluka. Arga memiliki ketakutan ketika melihat darah, saat melihat darah, ia akan teringat tentang traumanya, dan Kenanga tahu hal itu.Kenanga mengeluarkan kotak p3k di dalam tasnya, dengan telaten ia membersihkan luka di tangan Arga dengan cairan NaCl dan membalutnya dengan kasa steril. Kenanga memperhatikan Arga, pria di hadapannya ini terlalu rapuh, dibalik sifatnya yang dewasa, Arga menyimpan kerapuhan.“Sudah ku obati, Ar,” ucap Kenanga.“Than







