Se connecter“Halo ….” Kenanga mengangkat ponselnya yang berdering.
“Kamu masih di dekat kantor?” tanya suara di seberang sana. Kenanga berpikir sejenak, tidak biasanya ketua timnya itu menelponnya di malam hari. Apa ada hal mendesak sampai-sampai Damar menghubunginya. “Masih, ada apa, Pak?” tanya Kenanga. “Ke kantor sekarang. File perizinan yang sudah kamu revisi belum kutinjau ulang,” papar Damar. Kenanga memiringkan kepalanya ke salah satu sisi, ekspres“Dam, kamu … kenapa ambil HPku?” tanya Kenanga.“Jangan hubungi Arga,” ucapnya.“Kenapa?” Kenanga menatap Damar.Hening. Hanya ada tatapan antara Kenanga dan Damar yang dalam dan saling menyiratkan sesuatu. Damar masih menahan tubuh Kenanga yang hampir terjatuh.“Kenapa?” tanya Kenanga sekali lagi.Damar melepaskan Kenanga dan mengalihkan pandangannya. Ia menghela napasnya dan kembali menoleh ke arah Kenanga.“Kalau kamu menghubungi Arga, perjalanan kita akan semakin tertunda. Lagi pula, kita harus melanjutkan perjalanan ini.” Damar melangkah menuju parkiran, tempat kendaraannya berada.Ucapannya kembali dingin, namun satu debar di hatinya kembali hadir. Damar menggeleng pelan, ia nyaris tak percaya pada apa yang ia lakukan tadi. Kenapa rasanya ia seperti kehilangan kendali atas dirinya sendiri?Sesaat, Kenanga mematung. Ia memegang kedua pipinya yang terasa hangat. Bayangan ketika Damar secara refleks menangkap
“Dam, boleh kita … eh, maksudku, Pak Damar, boleh kita istirahat dulu di taman kota?” tanya Kenanga.Damar melirik ke arah Kenanga dan terdiam beberapa saat. Perlahan, ia membelokkan kemudinya dan memarkirkan kendaraannya di parkiran samping taman kota.“Baik juga,” gumam Kenanga pelan.“Apa kamu bilang?” tanya Damar datar.“Aku gak bilang apa-apa.” Kenanga menggelengkan kepalanya.Kenanga menghela napas panjang dan tersenyum lebar. Ia merenggangkan tubuhnya seraya memejamkan kedua matanya. Udara Kota Bandung yang sejuk, ternyata cukup ia rindukan.Sementara Damar hanya terdiam dan memperhatikan Kenanga sekilas. Di matanya, Kenanga masih sama seperti yang dulu.“Sebentar lagi, pasti beli telur gulung,” batin Damar.Kenanga berlari ke arah pedagang kaki lima yang berjejer dengan rapi. Aroma jajanan khas begitu menggugah seleranya. Tak salah lagi, tujuannya adalah telur gulung favoritnya.“Benar saja duga
Damar semakin kehilangan kendalinya. Napasnya kian tercekat dan pandangannya semakin kabur dan ia menginjak pedal rem sekaligus.Ckiiiiiiit. Mobil hitam Damar berhenti seketika, Damar dan Kenanga terantuk, dengan panik Damar mencari obat penenang yang ia simpan di laci dashboard mobil.“Dam, kamu kenapa? Jangan buat aku takut,” ucap Kenanga panik.“O … obat,” gumam Damar pelan.Kenanga tak bisa mendengar ucapan Damar dengan jelas, sedangkan Damar semakin kesulitan untuk bernapas. Keringat dingin semakin mengalir di kening Damar, wajahnya kian pucat.“O … bat … ku,” gumam Damar sekali lagi.“Obat?” tanya Kenanga memastikan.“Ya,” jawab Damar semakin parau.Kenanga mencari obat di dalam laci dashboard, ia menemukan satu botol putih yang ia yakini obat milik Damar. Ia baca sekilas obat itu.“Sejak kapan Damdam mengkonsumsi obat penenang?” batin Kenanga.Meski diliputi berbagai pertanyaan yang meng
Kenanga menoleh ke arah Damar. Tak ada kata yang terucap, melainkan hanya keheningan yang hadir di antara mereka.Damar menatap layar ponselnya sesaat, sebelum akhirnya ia meletakkan ponsel tersebut di sisi kursi. Namun, benda itu justru jatuh dan tergelincir.Kenanga yang melihatnya refleks membungkukkan badannya dan mencoba meraih ponsel milik Damar, dan di saat yang sama, Damar juga mengulurkan tangannya. Tangan keduanya bertemu, mereka terdiam ketika jemari mereka secara tak sengaja saling bersentuhan.“Mau sampai kapan kamu memegang tanganku?” tanya Damar kemudian. Wajahnya datar, tak ada ekspresi apa pun, namun tidak dengan hatinya.“Hah?” ucap Kenanga.“Tanganku.” Damar mengangkat tangannya, di mana jemari Kenanga tengah bertaut di tangan Damar.Kenanga yang baru saja menyadarinya segera menarik tangannya dan menatap ke arah lain. Tetapi, ada hal yang mulai menelusup secara diam-diam dalam hatinya. Hal yang selalu ia sangk
Kenangan itu telah berlalu bertahun-tahun lamanya, namun kebencian Rosa terhadap Kenanga tidak pernah berlalu sedetikpun. Dan kini, masa lalu itu kembali membawa mereka ke satu tempat yang menyimpan berbagai cerita.Bandung, bagi sebagian orang, itu hanyalah nama kota, atau mungkin sebuah tujuan perjalanan untuk singgah sebentar dan menikmati hari libur. Tapi tidak bagi Damar, Arga dan Kenanga. Bandung bukan hanya sebuah nama kota, bukan pula daftar kota tujuan untuk berlibur. Kota itu menyimpan berbagai kenangan, kisah manis dan juga cerita yang ditangisi. Satu hal yang tak akan bisa dilupakan begitu saja.“Kenanga, kamu gapapa kan?” tanya Sania memastikan kondisi Kenanga.“It’s okay, aman kok,” jawab Kenanga.“Hari ini kita kembali ke Bandung.” Arga tersenyum sembari membetulkan kacamatanya.“Iya, Ar. Udah lama banget aku menghindari Bandung. Sejak hari itu, Kota Bandung tak sama lagi, tapi sekarang, aku sudah jauh lebih baik.” Kenanga
Rosa memperhatikan Kenanga dengan keluarga kecilnya. Keadaan Kenanga dengannya jauh berbeda, gadis itu tak dilimpahi kemewahan sepertinya, tetapi Kenanga mendapatkan kasih sayang yang hangat oleh keluarganya. Tak ada rasa canggung untuk tertawa bersama sembari menonton televisi dan makan camilan.Ponsel Rosa berdering, sopir pribadinya menghubungi. Rosa terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.“Non dimana, saya di depan sekolah,” tanya Badri.“Aku di rumah teman. Aku kirimkan alamatnya ya, Pak.” Rosa mematikan teleponnya dan mengirimkan alamat Kenanga.Tak lama, Badri menjemputnya. Ada rasa berat ketika ia meninggalkan rumah Kenanga, di rumah itu, untuk pertama kalinya Rosa bisa bernapas dengan lega dan merasakan apa itu kebebasan.Ketika Rosa sampai di rumahnya. Anton menunggunya dengan wajah masam, jangankan pelukan hangat, bahkan satu simpul senyuman pun tak ada untuk menyambutnya.“Dari mana kamu?” tan







