Home / Romansa Pria / Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau! / Bab 48: Bom Waktu Pernikahan 

Share

Bab 48: Bom Waktu Pernikahan 

last update publish date: 2026-10-23 22:43:33

Langkah kakiku terasa sangat berat dan gemetar saat melintasi koridor menuju pintu masuk apartemen kami. Sisa ketegangan berahi dari dalam mobil Tiara tadi mendadak menguap tanpa bekas digantikan rasa cemas yang teramat pekat. Aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungku yang berpacu liar tak terkendali seperti dikejar setan. Tanganku perlahan memutar gagang pintu kayu tebal itu dengan perasaan yang dipenuhi oleh berbagai firasat buruk.

Aku tiba di apartemen dan mendapati Kar
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 78: Video Ketiga dari Anonim

    Aku menginjak pedal gas mobilku dengan emosi yang bergejolak tidak menentu sepanjang perjalanan pulang dari penthouse Nyonya Raline. Kegagalan keintiman malam tadi akibat alarm kebakaran ternyata menyisakan rasa sesak dan ketegangan yang belum tuntas di dalam benakku. Aku melirik tas kerja di kursi penumpang yang masih menyimpan amplop cokelat berisi uang dua puluh juta rupiah dari Derren. Jam di dasbor mobil sudah menunjukkan pukul tiga pagi ketika aku akhirnya memarkirkan kendaraan di basemen apartemenku sendiri. Suasana malam yang sunyi seolah ikut menertawakan nasibku yang terus menerus didera kepanikan dan rahasia besar yang terselubung.Aku melangkah masuk ke dalam unit apartemen dengan sangat berhati-hati agar tidak menimbulkan suara kegaduhan sedikit pun. Keadaan ruang tengah tampak gelap gulita dan senyap laksana tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah kami. Aku mengembuskan napas lega karena Karina tampaknya sudah tertidur sangat lelap di dalam kamar tidur utama. Semb

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 77: Sang Nyonya yang Semakin Agresif

    Aku melangkah keluar dari mobil sedan Derren setelah menerima amplop cokelat berisi komisi dua puluh juta rupiah pertamaku. Sembari mendekap erat amplop berharga itu di dalam tas, aku berjalan menuju lift basemen dengan senyuman yang terus mengembang di bibir. Angan-anganku sudah terbang jauh membayangkan bagaimana cara membelanjakan uang ini untuk keperluan mewah apartemen agar Karina menyadari kemampuanku. Namun, baru saja aku menapakkan kaki di lobi lift dan ingin bernapas lega menikmati keberhasilan perdanaku, ponsel di saku jinsku kembali bergetar dengan sangat intens.Layar kaca ponsel itu menampilkan nama Nyonya Raline, dan sebuah pesan singkat masuk memanggilku untuk segera datang ke penthouse-nya larut malam itu juga. Alasan yang ditulisnya terdengar sangat darurat, yaitu berkas dokumen proyek resor yang sedang kami kerjakan mendadak mengalami kendala teknis yang serius. Rasa lelah yang sempat menggelayuti tubuhku seketika menguap begitu saja digantikan oleh debaran jantung

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 76: Pundi-Pundi Pertama dari Derren

    Aku melangkah keluar dari lobi hotel dengan perasaan yang masih dipenuhi keheranan atas apa yang baru saja terjadi. Tugas pertamaku mendampingi Tarina ternyata sama sekali tidak melibatkan peluh ataupun pergulatan panas di atas ranjang. Bayangan liar tentang kepuasan biologis yang sempat berkecamuk di kepalaku menguap begitu saja sepanjang dua jam pertemuan kami. Alih-alih mendapatkan orgasme, aku justru pulang dengan kepala yang penuh dengan cerita keluh kesah dari seorang wanita kaya yang kesepian. Meski begitu, getaran di saku celanaku langsung membuyarkan lamunan saat sebuah pesan singkat dari Derren masuk ke ponselku.Sahabat setiaku itu memintaku untuk langsung menemuinya di tempat yang sama seperti tadi pagi, yaitu parkiran basemen apartemenku. Aku segera memacu mobilku membelah jalanan kota Jakarta yang mulai lengang oleh kendaraan malam. Sesampainya di basemen, sorot lampu sedan hitam milik Derren langsung menyambut kedatanganku. Aku memarkirkan mobil tepat di sebelahnya la

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 75: Melayani Wanita Kaya Kesepian

    Malam telah meluruhkan sisa-sisa cahaya senja ketika aku melangkahkan kaki memasuki lobi hotel bintang lima itu. Map plastik hitam dari Derren sudah kusimpan rapat di dalam tas kerja, namun seluruh isinya telah kuhafal luar kepala. Pikiranku berkecamuk membayangkan bagaimana liarnya malam pertama yang akan kulalui sebagai seorang pria sewaan demi pundi-pundi uang tunai. Langkah kakiku terasa sedikit berat saat menyusuri lorong berkarpet tebal menuju kamar nomor seratus dua belas yang terletak di ujung koridor. Jantungku berdegup kencang, memikirkan apakah aku sanggup melayani nafsu menggebu-gebu dari wanita kaya kesepian yang fotonya kulihat tadi pagi.Aku menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu kayu yang kokoh itu dengan kunci hotel yang kubawa. Tidak butuh waktu lama hingga daun pintu perlahan terbuka, di dalam sudah menunggu sosok wanita bernama Tarina yang tersenyum sangat manis. Ia mengenakan gaun tidur sutra panjang berwarna pastel yang terlihat sangat anggun menutupi lek

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 74: Penawaran Perdana Derren

    Petugas kebersihan baru saja melangkah keluar dari pintu apartemenku setelah menyelesaikan pemeriksaan pipa saluran air. Aku mengembuskan napas lega yang panjang sembari menyandarkan punggungku pada daun pintu yang tertutup rapat. Keheningan mendadak kembali menguasai ruang tengah yang beberapa menit lalu hampir menjadi saksi bisu perbuatan dosaku. Belum sempat aku melangkah menuju kamar mandi tempat Bianca bersembunyi, ponsel di saku celanaku bergetar dengan sangat lembut. Layar kaca ponsel itu berkedip-kedip menampilkan nama Derren, sahabat terbaik yang selalu tahu kapan aku sedang membutuhkannya.Aku segera menggeser tombol hijau pada layar ponsel untuk mengangkat panggilan dari pria yang sudah kuanggap saudara sendiri. Suara bariton Derren menyapa telingaku dengan nada yang tenang namun penuh kehangatan khas dirinya."Julian, kamu sedang sibuk di atas? Kalau senggang, temui aku di parkiran basemen," ujar Derren di sana."Ada apa, Ren? Kebetulan aku baru saja menyelesaikan satu ur

  • Awalnya Ragu, Tapi Lama-Lama Mau!   Bab 73: Siasat Sofa Ruang Tengah

    Aku menghempaskan tubuhku ke atas sofa ruang tengah dengan perasaan campur aduk setelah pulang dari kelab malam misterius itu. Kemeja putihku yang sempat kotor terkena tumpahan alkohol semalam sudah kulemparkan ke dalam mesin cuci agar tidak memancing kecurigaan. Beruntung, Karina tidak terlalu mempermasalahkan jam kepulanganku karena dia sendiri tenggelam dalam tumpukan berkas kantor hingga larut malam. Pagi ini, apartemen kembali terasa sepi karena istriku itu sudah berangkat menuju kantor pusat sejak fajar menyingsing. Aku mendesah panjang mencoba mengurai ketegangan yang terus-menerus mengikat isi kepalaku akhir-akhir ini.Keheningan di dalam ruang tengah mendadak pecah ketika pintu kamar tamu perlahan terbuka menampilkan sosok yang sangat kukenal. Bianca keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna abu-abu muda yang membungkus rapi lekuk tubuhnya. Ia membawa sebuah gelas kaca besar berisi cairan sirup melon berwarna hijau pekat di tangan kanannya. Tata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status