Mag-log inMalam telah meluruhkan sisa-sisa cahaya senja ketika aku melangkahkan kaki memasuki lobi hotel bintang lima itu. Map plastik hitam dari Derren sudah kusimpan rapat di dalam tas kerja, namun seluruh isinya telah kuhafal luar kepala. Pikiranku berkecamuk membayangkan bagaimana liarnya malam pertama yang akan kulalui sebagai seorang pria sewaan demi pundi-pundi uang tunai. Langkah kakiku terasa sedikit berat saat menyusuri lorong berkarpet tebal menuju kamar nomor seratus dua belas yang terletak di ujung koridor. Jantungku berdegup kencang, memikirkan apakah aku sanggup melayani nafsu menggebu-gebu dari wanita kaya kesepian yang fotonya kulihat tadi pagi.Aku menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu kayu yang kokoh itu dengan kunci hotel yang kubawa. Tidak butuh waktu lama hingga daun pintu perlahan terbuka, di dalam sudah menunggu sosok wanita bernama Tarina yang tersenyum sangat manis. Ia mengenakan gaun tidur sutra panjang berwarna pastel yang terlihat sangat anggun menutupi lek
Petugas kebersihan baru saja melangkah keluar dari pintu apartemenku setelah menyelesaikan pemeriksaan pipa saluran air. Aku mengembuskan napas lega yang panjang sembari menyandarkan punggungku pada daun pintu yang tertutup rapat. Keheningan mendadak kembali menguasai ruang tengah yang beberapa menit lalu hampir menjadi saksi bisu perbuatan dosaku. Belum sempat aku melangkah menuju kamar mandi tempat Bianca bersembunyi, ponsel di saku celanaku bergetar dengan sangat lembut. Layar kaca ponsel itu berkedip-kedip menampilkan nama Derren, sahabat terbaik yang selalu tahu kapan aku sedang membutuhkannya.Aku segera menggeser tombol hijau pada layar ponsel untuk mengangkat panggilan dari pria yang sudah kuanggap saudara sendiri. Suara bariton Derren menyapa telingaku dengan nada yang tenang namun penuh kehangatan khas dirinya."Julian, kamu sedang sibuk di atas? Kalau senggang, temui aku di parkiran basemen," ujar Derren di sana."Ada apa, Ren? Kebetulan aku baru saja menyelesaikan satu ur
Aku menghempaskan tubuhku ke atas sofa ruang tengah dengan perasaan campur aduk setelah pulang dari kelab malam misterius itu. Kemeja putihku yang sempat kotor terkena tumpahan alkohol semalam sudah kulemparkan ke dalam mesin cuci agar tidak memancing kecurigaan. Beruntung, Karina tidak terlalu mempermasalahkan jam kepulanganku karena dia sendiri tenggelam dalam tumpukan berkas kantor hingga larut malam. Pagi ini, apartemen kembali terasa sepi karena istriku itu sudah berangkat menuju kantor pusat sejak fajar menyingsing. Aku mendesah panjang mencoba mengurai ketegangan yang terus-menerus mengikat isi kepalaku akhir-akhir ini.Keheningan di dalam ruang tengah mendadak pecah ketika pintu kamar tamu perlahan terbuka menampilkan sosok yang sangat kukenal. Bianca keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna abu-abu muda yang membungkus rapi lekuk tubuhnya. Ia membawa sebuah gelas kaca besar berisi cairan sirup melon berwarna hijau pekat di tangan kanannya. Tat
Aku mengemudikan mobil membelah kemacetan jalanan malam setelah mengantar Elena kembali ke apartemen pasca-insiden ruang ganti butik. Jantungku masih berdegup agak kencang akibat ketegangan fisik dan adrenalin yang sempat memuncak di dalam ruangan sempit tadi. Keberuntungan tampaknya masih berpihak padaku karena kami tidak sampai melangkah terlalu jauh hingga tertangkap basah oleh pelayan mal. Pikiranku yang sempat kacau mendadak teralihkan ketika ponsel pintarku di atas dasbor bergetar nyaring memecah keheningan kabin mobil.Saat pulang dari butik itu, Derren menghubungiku melalui panggilan suara terenkripsi dengan nada bicara yang sangat serius. Sahabatku itu rupanya tidak main-main dengan janjinya untuk membantuku mengupas tuntas misteri selingkuhan istriku. Ia mengabarkan bahwa target utama kami sedang terlihat berada di lokasi yang sama seperti beberapa malam yang lalu. Informasi segar ini seketika membakar kembali api amarah di dalam dadaku yang sempat meredup oleh urusan wani
Siang hari setelah ketegangan meja makan bersama Karina mereda, suasana apartemen kembali sunyi. Aku mencoba memfokuskan pikiran pada kelanjutan rencana besar yang sudah kubangun bersama Derren. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama karena kehadiran Elena kembali mengacaukan konsentrasiku. Teman sepupu iparku itu mendadak muncul di depan kamarku dengan pakaian kasual yang sangat modis.Elena memaksaku menemaninya ke sebuah butik olahraga di pusat perbelanjaan mewah. Alasan yang ia gunakan adalah untuk memilih pakaian pilates baru yang sesuai dengan bentuk tubuhnya. Aku sempat menolak karena memikirkan risiko jika ada kerabat Karina yang melihat kami jalan berdua. Namun, Elena terus merengek dan mengancam akan membocorkan rahasia kedatangannya ke ruang kerjaku semalam.Terpaksa aku menuruti kemauannya pada keesokan sore harinya demi menjaga rahasia besar itu tetap aman. Kami berkendara membelah jalanan kota menuju sebuah mal elite di kawasan Jakarta Selatan. Sepanjang perjalanan,
Keesokan paginya, suasana di dalam apartemen terasa begitu sunyi dan mencekam. Aroma kopi hitam yang baru kuseduh menguar di udara, namun tidak mampu mencairkan kebekuan di antara kami. Sisa-sisa ketegangan akibat insiden pipa bocor dan pelarian darurat Bianca semalam masih membekas jelas di benakku. Aku mencoba menata hati sembari melangkah menuju meja makan kayu yang terletak di dekat dapur bersih.Karina sudah duduk sarapan pagi bersamaku di sana dengan penampilan yang sangat rapi. Ia mengenakan pakaian kerja formal berwarna hitam legam yang membuatnya tampak semakin berjarak. Wajahnya terlihat begitu dingin tanpa ada gurat kemesraan sedikit pun terpancar dari sepasang matanya. Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan tindakan layaknya sepasang suami istri yang sah dan saling mencintai.Aku mendudukkan diri di kursi yang berada tepat di hadapannya dengan perasaan yang bercampur aduk. Kilasan bayangan uang 10 juta rupiah di dalam rekeningku semalam mendadak memicu gelombang keperca







