Share

Bab 3

Author: Silentia
last update publish date: 2026-08-02 17:27:19

Suasana sore di kompleks perumahan tampak tenang. Tara berjalan santai sambil menenteng kantong plastik berisi titipan mamanya dari minimarket terdekat. Di depan mulut gang, langkahnya mendadak melambat saat melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di tepi jalan.

Seorang pria berjas rapi keluar dari balik kemudi, membukakan pintu, dan tersenyum ramah kepada seorang wanita yang turun dari kursi penumpang. Keduanya tampak berpamitan dengan cipika-cipika singkat sebelum mobil itu melaju pergi.

"Bye-bye, honey," ucap wanita itu melambaikan tangan, yang tak lain adalah Vania, tetangga sebelah rumahnya.

Baru saja Tara hendak melangkah melewati Vania yang berdiri di trotoar, suara serak seseorang berhasil menghentikan niatnya.

"Lu hantu, ya? Datang nggak ada suaranya," gerutu Vania kaget seraya mengusap dadanya yang berdetak kencang, mendapati Tara sudah berdiri tepat di sampingnya.

"Pacar baru lu, ya, Mbak? Mewah banget," selidik Tara dengan mata menyipit penuh rasa penasaran.

"Emang kenapa kalau iya? Kenapa juga kalau bukan?" jawab Vania acuh tak acuh, lalu berjalan mendahului Tara.

"Yaelah, kepo dikit doang. Soalnya ganteng banget, sih," puji Tara sambil mempercepat langkahnya agar bisa berjalan berdampingan.

"Tentu saja," balas Vania singkat, enggan membahas lebih jauh urusan pribadinya. Merasa risi terus diberondong pertanyaan usil, Vania lantas mempercepat langkahnya, masuk ke dalam rumah, dan langsung mengunci pintu rapat-rapat.

Tara hanya bisa mendengus pelan sambil menggelengkan kepala. "Ihh, si Mbak malah kabur. Emang muka gue seseram, ya?" gumamnya sebelum melanjutkan langkah menuju rumahnya sendiri.

***

Malam harinya, Vania sudah bertransformasi menjadi pusat perhatian. Ia memilih mengenakan dress ketat model slim-fit berwarna hitam yang membalut lekuk tubuhnya dengan sempurna. Penampilannya malam ini benar-benar memukau, memancarkan aura seksi yang elegan. Ia berdiri di depan cermin panjang, berputar sekali untuk memastikan semuanya sudah tampak oke sebelum mengambil tas kecil di atas meja rias.

Tin... tin...!

Suara klakson mobil dari luar menghentikan kegiatannya. Vania segera melangkah keluar rumah menemui Mario, pria mapan yang mengajaknya berkencan malam ini.

Mario tampak berdiri bersandar di pintu mobil, menunggu dengan tenang.

"I'm sorry, honey," sapa Vania sambil mengecup sekilas pipi Mario.

"It's ok, come on!" balas Mario ramah sambil membukakan pintu mobil untuk wanita di hadapannya.

"Thanks, honey," ujar Vania sebelum masuk ke dalam kabin yang ber-AC dingin.

Mario mengangguk pelan, lantas memutar badan dan mulai mengemudikan kendaraannya membelah jalanan kota.

Tanpa mereka sadari, dari balik celah gorden jendela rumah seberang, sepasang mata milik Tara tengah mengawasi gerak-gerik mereka dengan tajam.

"Yah, si Mbak seksi beneran udah punya cowok," gumam Tara pelan, ada secercah rasa kecewa di balik nada bicaranya.

"Terus, kalau belum punya cowok, emang kenapa?" Suara Mira—mamanya—mendadak muncul di belakang Tara yang akhir-akhir ini memang hobi mengintip.

"Ya gue pacarinlah," jawab Tara spontan tanpa menoleh ke belakang.

"Emang si Mbak mau sama berondong sepertimu?" cibir Mira, mulai gemas dan ingin menoyor kepala anaknya itu.

"Harusnya sih mau, gue kan ganteng begini." Tara mengernyit heran sejenak, baru sadar ia sedang berbicara dengan siapa. Perlahan ia menoleh, mendapati mamanya sudah berkacak pinggang sambil menggelengkan kepala. Tara langsung nyengir lebar, salah tingkah.

"Enak ya? Liatin paha dan dada mulus tetangga setiap hari?" sindir Mira tajam.

"Ihh, Mamah jorok banget kalau ngomong," elak Tara dengan wajah tanpa dosanya.

"Anak nakal!" Mira yang sudah gemas langsung menjewer telinga Tara dengan mantap.

"Ampun, Mah... sakit!" Tara meringis kesakitan, berusaha melepaskan tangan sang mama.

"Jangan suka ngintip anak gadis orang lagi. Ingat itu...!" tegas Mira galak.

"Iya, iya, ampun!" jawab Tara cepat agar hukumannya segera usai. Benar saja, Mira langsung melepaskan jewerannya.

"Awas kalau diulangi!" ancam Mira sebelum berlalu meninggalkan kamar.

Begitu mamanya pergi, Tara mengusap telinganya yang memerah sambil terkikik pelan. "Gak janji, Mah. Habisnya paha sama dada si Mbak menggoda banget minta ditoel," bisiknya pelan.

"Kamu ngomong apa barusan?" Suara Mira terdengar kembali dari luar kamar.

"Enggak, Mah! Tara nggak ngomong apa-apa!" balas Tara panik, lalu mengambil langkah seribu alias kabur dari kamarnya.

"Tara!! " Teriakan Mira menggema di seluruh rumah, sementara Tara tertawa terbahak-bahak di ruang keluarga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 8

    Vania langsung masuk rumah begitu mobil Citra pergi. Kepalanya terasa pusing akibat seharian bergulat dengan tumpukan dokumen kantor dan drama hubungannya dengan Mario yang semakin tidak jelas. Ia melepas sepatu hak tingginya secara asal, melempar tas kerja ke atas sofa, lalu berniat langsung membersihkan diri di kamar mandi.Namun, langkahnya mendadak terhenti di ambang pintu kamar tidur.Bukannya mendapati kamarnya kosong, Vania justru menemukan sesosok pemuda berseragam putih abu-abu sedang duduk dengan sangat santai di tepi kasurnya. Dasi sekolahnya sudah terlepas separuh, kancing atas kemejanya terbuka, dan kakinya disilangkan dengan gaya songong yang sukses membuat urat di pelipis Vania berdenyut menahan amarah."Siapa yang suruh lu masuk ke kamar gue, hah?!" maki Vania galak, kedua tangannya langsung berkacak pinggang. "Pintu depan memang nggak dikunci, tapi bukan berarti lu bebas nyelonong masuk kayak maling jemuran!"Alih-alih merasa takut atau langsung kabur, Tara justru men

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 7

    Tara pagi ini mendadak ceria luar biasa. Pikirannya masih melayang-layang, terbayang-bayang pemandangan celana dalam merah muda milik Vania yang tak sengaja terekspos kemarin sore."Ta, itu makanan di piring dimakan, bukan malah diajak senyum-senyum," tegur Mira sambil meletakkan segelas susu di meja makan.Namun, Tara tetap saja asyik senyam-senyum sendiri sambil menatap kosong piring yang berisi telur ceplok."Taraaa...!" seru Mira gemas."Ihh, Mamah ini norak kayak tinggal di hutan aja, teriak-teriak berisik," balas Tara santai."Ya makanya makanannya disantap, Nak!""Astaga, sabar banget ya punya anak ganteng," gumam Mira mengelus dadanya, mencoba melapangkan dada menghadapi anak bujangnya itu."Iya, Mah, slow aja," jawab Tara. Ia langsung menyuap sarapannya dengan kilat karena sudah tidak sabar ingin segera keluar rumah demi menguntit sang tetangga."Pelan-pelan dong, Ta! Butuh stok kesabaran ekstra kalau ngadepin kamu," gerutu Mira."Ber-ang-kat du-lu, Mah!" ucap Tara tidak jela

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 6

    Sore harinya di kompleks perumahan, Vania berjalan keluar rumah berniat mencari makan siang karena perutnya sudah keroncongan hebat. Peristiwa sial di kantor gara-gara Mario tadi siang membuatnya melewatkan jam istirahat ke kantin. Di tengah jalan setapak kompleks, langkahnya berpapasan dengan sosok yang paling ingin dihindarinya hari itu."Vania!" panggil Mario dengan suara baritonnya.Vania mendengus pelan sebelum menghentikan langkah. "Iya, Bos?" jawabnya malas.Tanpa aba-aba, Mario menarik lengan Vania dan mendorong tubuh wanita itu pelan hingga punggungnya membentur tembok pagar rumah warga."Ini area publik, Mario. Apa-apaan sih!" protes Vania, berusaha mendorong dada bidang pria itu."Gue cuma pengin kasih lu peringatan terakhir," bisik Mario tajam. Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Vania cukup kuat hingga membuat wanita cantik itu meringis pelan."Lepasin, sakit!""Jauhi Morgan," tekan Mario dingin sebelum akhirnya melepaskan cengirannya begitu saja dan melangkah pergi

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 5

    Vania tiba di kantornya tepat waktu. Napasnya masih menderu dan jantungnya berdegup kencang akibat ulah Tara tadi. Bagaimana tidak histeris, selama di dalam mobil tadi, sang berondong kampret itu mengemudikan kendaraannya bagaikan pembalap liar yang sedang dikejar polisi. Mobilnya meliuk-liuk lincah, menyalip kendaraan lain di celah-celah sempit jalanan ibu kota. Kendati demikian, Vania patut bersyukur karena ia berhasil sampai di tempat kerja dengan selamat—meskipun penampilannya sedikit berantakan dan ia harus mengalami senam jantung sepagi ini.Begitu melangkah memasuki lobi kantor, matanya menangkap sosok yang tidak asing."Lu?" Vania tersenyum lebar mendapati Morgan berdiri di dekat area resepsionis."Lu kerja di sini, Van?" tanya Morgan balik dengan senyuman ramah."Iya, gue kerja di departemen pemasaran. Terus, lu sendiri ngapain di sini?" tanya Vania penasaran."Gue—" Belum sempat Morgan merampungkan kalimatnya, sebuah suara dingin yang sangat familier memotong udara di antar

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 4

    Sementara itu, Vania dan Mario tiba di sebuah restoran mewah berkonsep privat di pusat kota. Suasana tempat itu sangat tenang, diiringi alunan musik klasik yang lembut. Namun, di balik kemewahan tempat itu, Vania justru merasa mati gaya.Sejak tadi, tatapan mata Mario sesekali melirik ke arah dada Vania yang terekspos cukup rendah akibat potongan gaunnya. Vania sangat menyadari hal itu, tetapi ia sengaja pura-pura tidak tahu. Sebenarnya, malam ini ia sengaja berdandan memukau untuk menguji karakter Mario, pria yang selama ini dikenal sangat dingin, kaku, dan hampir tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun.Apakah dia pria terhormat, atau justru... ah, tidak mungkin, batin Vania menggelengkan kepala pelan, merasa ngeri sendiri jika pria setampan dan sekaya Mario ternyata seorang penyuka sesama jenis.Masalahnya, Mario adalah tipe pria yang sangat irit bicara. Suasana di meja makan itu terasa begitu senyap, membuat Vania merasa seperti sedang makan di kuburan. Sepi dan membosa

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 3

    Suasana sore di kompleks perumahan tampak tenang. Tara berjalan santai sambil menenteng kantong plastik berisi titipan mamanya dari minimarket terdekat. Di depan mulut gang, langkahnya mendadak melambat saat melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di tepi jalan.Seorang pria berjas rapi keluar dari balik kemudi, membukakan pintu, dan tersenyum ramah kepada seorang wanita yang turun dari kursi penumpang. Keduanya tampak berpamitan dengan cipika-cipika singkat sebelum mobil itu melaju pergi."Bye-bye, honey," ucap wanita itu melambaikan tangan, yang tak lain adalah Vania, tetangga sebelah rumahnya.Baru saja Tara hendak melangkah melewati Vania yang berdiri di trotoar, suara serak seseorang berhasil menghentikan niatnya."Lu hantu, ya? Datang nggak ada suaranya," gerutu Vania kaget seraya mengusap dadanya yang berdetak kencang, mendapati Tara sudah berdiri tepat di sampingnya."Pacar baru lu, ya, Mbak? Mewah banget," selidik Tara dengan mata menyipit penuh rasa pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status