Share

Bab 5

Author: Silentia
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-02 17:57:09

Vania tiba di kantornya tepat waktu. Napasnya masih menderu dan jantungnya berdegup kencang akibat ulah Tara tadi. Bagaimana tidak histeris, selama di dalam mobil tadi, sang berondong kampret itu mengemudikan kendaraannya bagaikan pembalap liar yang sedang dikejar polisi.

Mobilnya meliuk-liuk lincah, menyalip kendaraan lain di celah-celah sempit jalanan ibu kota. Kendati demikian, Vania patut bersyukur karena ia berhasil sampai di tempat kerja dengan selamat—meskipun penampilannya sedikit berantakan dan ia harus mengalami senam jantung sepagi ini.

Begitu melangkah memasuki lobi kantor, matanya menangkap sosok yang tidak asing.

"Lu?" Vania tersenyum lebar mendapati Morgan berdiri di dekat area resepsionis.

"Lu kerja di sini, Van?" tanya Morgan balik dengan senyuman ramah.

"Iya, gue kerja di departemen pemasaran. Terus, lu sendiri ngapain di sini?" tanya Vania penasaran.

"Gue—" Belum sempat Morgan merampungkan kalimatnya, sebuah suara dingin yang sangat familier memotong udara di antara mereka.

"Gue gaji lu bukan buat ngobrol di jam kerja, Vania!" ketus Mario yang tiba-tiba muncul dari balik lift eksekutif dengan wajah kaku.

"S-sorry, Bos," jawab Vania kikuk, lalu buru-buru menunduk dan melangkah cepat meninggalkan lobi menuju ruang kerjanya.

Morgan hanya tertawa kecil melihat kepanikan Vania, sementara Mario menatap Morgan dengan sorot mata dingin penuh ketidaksukaan.

"Bagaimana kalau kita bersaing secara sehat untuk mendapatkan Vania?" tantang Morgan tiba-tiba tanpa basa-basi.

Mario menyipitkan mata, menatap tajam pria di hadapannya. "Apa maksud lu?" tanya Mario dingin.

"Kita pria dewasa. Sepertinya lu udah paham betul maksud gue," jawab Morgan santai sebelum melangkah pergi dan meninggalkan Mario yang mengepalkan tangan menahan geram.

"Brengsek!" umpat Mario kasar di tengah lobi.

Umpatan keras itu sontak membuat beberapa pegawai yang lewat terkesiap dan menoleh ngeri ke arah sang bos besar.

Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Mario langsung melemparkan tatapan membunuh ke sekeliling, membuat para pegawai itu secara otomatis kocar-kacir membubarkan diri demi menyelamatkan nyawa masing-masing.

Sementara itu di tempat berbeda, Tara memang terlambat sampai di sekolah, tetapi wajahnya justru berseri-seri tanpa beban sepanjang koridor.

"Lu kesurupan apa, Ta? Senyum-senyum sendiri kayak orang ilang," tanya Aldo ngeri saat melihat sahabatnya itu masuk kelas.

"Kesurupan bidadari galak," jawab Tara terkikik geli, teringat kembali ekspresi panik Vania saat di dalam mobil tadi pagi.

"Lu bener-bener perlu dimandiin kembang tujuh rupa nih. Udah nggak beres otak lu," komentar Aldo bergidik.

Belum sempat Tara membalas ucapan sahabatnya, Pak Burhan—guru piket yang terkenal galak—sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah masam.

"Kalian berdua tuh yang harusnya dimandiin kembang tujuh rupa!" sela Pak Burhan tajam, sudah kehabisan kesabaran dengan ulah dua murid berandal ini.

"Yaelah, Pak. Kalau bapak mau mandi kembang sana aja, kita mah ogah!" balas Aldo santai tanpa rasa berdosa.

"Kalian ini ya, bandel banget! Susah banget dikasih tahu!" geram Pak Burhan, urat lehernya sampai menonjol keluar.

"Gak perlu, Pak. Kita kan udah wangi dari lahir, nggak usah mandi kembang segala," celetuk Tara dengan cengiran lebar.

"Tara! Aldo! Kalian lari keliling lapangan SE-KARANG!" teriak Pak Burhan menggelegar hingga seisi koridor bergetar.

Tanpa buang waktu lagi, Tara dan Aldo langsung kabur terbirit-birit menuju lapangan basket sebelum mereka benar-benar ditelan hidup-hidup oleh sang guru killer.

"Taraaaa...!"

"Aldoooo...!"

Teriakan histeris sekumpulan siswi menggema dari pinggir lapangan saat melihat dua most wanted sekolah itu berlari di bawah terik matahari.

Alih-alih malu, Tara dan Aldo justru melambaikan tangan ke arah penonton seolah-olah mereka sedang berjalan di atas red carpet festival film internasional.

"Mau taruhan nggak, Ta?" tawar Aldo di tengah napasnya yang memburu saat mereka melintasi putaran ketiga lapangan.

"Taruhan apaan?" tanya Tara melirik sekilas.

"Dapetin Selena, anak kelas sebelah," tantang Aldo.

"Wah, berani juga lu. Terus, apa hadiahnya kalau gue menang?" tanya Tara tertantang.

"Motor sport gue. Tapi kalau lu yang kalah, motor lu jadi milik gue," jawab Aldo sambil memasang senyum penuh Muslihat.

Tara menimbang-nimbang tawaran itu sejenak di dalam kepalanya. "Baiklah, deal!" jawabnya sepakat.

Aldo dan Tara langsung menghentikan lari mereka sejenak untuk berjabat tangan, menandai dimulainya persaingan panas di antara mereka.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 25

    Suasana di dalam mobil sedan hitam yang melaju kencang membelah malam kota Jakarta terasa mencekam. Di kursi belakang, Vania berbaring dalam kondisi yang semakin menyedihkan. Efek obat bius dan perangsang itu telah sepenuhnya melumpuhkan kesadaran dan pertahanan tubuhnya. Napas wanita itu terengah-engah, dada bidangnya naik turun dengan liar, dan rintihan tertahan lolos dari bibirnya yang memerah akibat terbakar panas tubuh yang tidak wajar.Mario duduk di sampingnya, menatap wajah Vania dengan senyuman penuh nafsu dan kemenangan. Tangannya mulai berani meraba bahu mulus Vania yang terekspos gaun halter-neck."Sebentar lagi kita sampai, Van. Kamu bakal jadi milik aku seutuhnya malam ini, dan nggak bakal bisa lepas lagi," bisik Mario serak, mendekatkan wajahnya hendak mencium leher wanita itu.Namun, di tempat lain, kepanikan luar biasa sedang melanda area VIP kelab.Citra terduduk lemas di sudut sofa beludru, menangis sesenggukan sambil mendekap kepalanya sendiri. Rasa bersalah mengha

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 24

    Di salah satu sudut sofa beludru VIP klub yang agak tersembunyi, Vania sedang menyesap cosmopolitan-nya dengan santai. Mengenakan gaun malam halter-neck berwarna hitam elegan yang membalut tubuh idealnya, Vania benar-benar menikmati status barunya sebagai perempuan bebas. Tidak ada lagi bayang-bayang kantor yang melelahkan, tidak ada lagi omelan Mario, dan yang terpenting, ia bisa menikmati malam tanpa beban kerjaan."Beb, lu yakin nggak mau pesen yang lain? Ini udah gelas ketiga loh," tegur Citra dari sebelah Vania, suaranya terdengar sedikit bergetar dan tidak biasa.Vania menoleh, tertawa kecil sambil melambaikan tangan. "Santai kali, Cit. Mumpung gue lagi bebas dari tekanan batin. Lu tahu sendiri kan gimana stresnya gue gara-gara si Mario?"Mendengar nama Mario disebut, raut wajah Citra mendadak pucat pasi. Ia menunduk, meremat jemarinya sendiri di atas pangkuan. Tangannya yang memegang gelas champagne tampak bergetar hebat. Matanya terus melirik ke sana kemari dengan tatapan penu

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 23

    Tara merebahkan diri di atas tempat tidur dengan posisi telungkup, memeluk guling erat-erat, matanya sama sekali tidak mau diajak kompromi. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Vania yang memerah, napas hangat wanita itu yang menerpa kulitnya, serta insiden ciuman tak sengaja di teras rumah tadi berputar ulang di kepalanya bagaikan kaset rusak. Bibirnya seolah masih bisa merasakan sentuhan lembut yang mendadak membuat sekujur tubuhnya merinding aneh."Gila, bener-bener gila tu cewek," gumam Tara pelan ke dalam bantal, mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi tingkat dewa. "Bukannya minta maaf, malah digampar omongan. Tapi manis juga ya?"Setelah berjam-jam berguling gelisah melawan pikiran-pikiran absurd di kepalanya, Tara akhirnya terlelap menjelang pukul tiga pagi. Dan di sanalah petaka atau lebih tepatnya surga dunia versi remaja tujuh belas tahun dimulai. Dalam mimpinya, Vania tidak lagi berwajah garang, melainkan datang dengan senyuman manis, berbisik manja, da

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 22

    Grdoran pintu terdengar nyaring. Vania kesal, ia pikir Citra kembali lagi karena ada barang miliknya yang tertinggal. Dengan langkah menghentak dan wajah tertekuk kesal, Vania berjalan cepat menuju pintu utama. Ia membuka kunci dengan kasar untuk melabrak siapapun yang berani merusak ketenangannya. "Lu bisa nggak sih nggak ngetok pintu kayak mau maling—" Ucapan Vania terpotong seketika karena orang yang berdiri di balik pintu bukanlah Citra, melainkan Tara. Dan sialnya, pemuda itu sedang mengayunkan tangan kanannya untuk kembali menggedor pintu tepat saat pintu terbuka. Akibatnya fatal. Kepalan tangan Tara meleset dari pintu dan mendarat telak menghantam kening Vania cukup keras. Vania langsung meringis sambil memegang jidatnya yang berdenyut nyeri, matanya berair karena kaget sekaligus kesal luar biasa. "Aduh! Sialan lu, ya!" maki Vania histeris, melotot tajam ke arah Tara. Tara yang tadinya cengar-cengir langsung terperanjat kaget, menarik tangannya buru-buru. "Eh, astaga,

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 21

    Langkah kaki Vania terasa jauh lebih ringan begitu ia menjejakkan kaki kembali di kawasan perumahan elitnya sore itu. Kotak kardus berisi barang-barang kantornya ia dekap erat di dada, menjadi simbol resmi bahwa statusnya sebagai wanita karir yang stres telah resmi tanggal. Namun, kedatangannya di depan rumah tidak disambut oleh kesunyian yang tenang. Dari arah halaman rumah sebrang, suara musik bertalu-talu bercampur suara gitar sumbang terdengar mengganggu ketenteraman sore. Vania menoleh, dan matanya langsung menyipit tajam melihat Tara, si pemuda berandal tengah duduk di atas pagar pembatas sambil memetik gitar akustik dengan gaya sok musikus jalanan. Pemuda itu mengenakan celana pendek di bawah lutut dan kaos oblong putih belel, lengkap dengan topi snapback yang dipakai terbalik. "Selamat datang kembali di dunia rakyat jelata, Mbak Bidadari!" seru Tara dengan suara lantang sengaja dibuat-buat, menghentikan petikan gitarnya begitu melihat Vania berdiri di depan gerbang rumah.

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 20

    Vania duduk di tepi ranjang, merentangkan tangan sejenak lalu menarik napas dalam-dalam. Hari ini adalah hari pertamanya resmi melepaskan status sebagai wanita karier yang hidupnya disetir oleh tuntutan pekerjaan dan bayang-bayang tentang Mario. Langkah pertamanya pagi ini sangat jelas. Surat pengunduran diri formal harus segera dikirimkan ke HRD, sekaligus membereskan sisa barang pribadinya yang masih tertinggal di laci meja kantor.Setengah jam kemudian, Vania sudah berdiri di lobi gedung perkantoran megah tempat ia menghabiskan tiga tahun terakhir hidupnya. Dengan balutan blazer hitam dan kacamata hitam yang membingkai wajah tegasnya, Vania melangkah masuk menembus pintu kaca otomatis dengan kepala tegak. Tidak ada lagi sisa-sisa air mata atau isak tangis seperti kemarin. Yang tersisa hanyalah aura dingin seorang wanita yang siap menutup babak lama dalam hidupnya.Begitu lift eksekutif berdenting di lantai tujuannya, Vania langsung berjalan menuju ruang kerjanya. Beberapa rekan se

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status