LOGINVania tiba di kantornya tepat waktu. Napasnya masih menderu dan jantungnya berdegup kencang akibat ulah Tara tadi. Bagaimana tidak histeris, selama di dalam mobil tadi, sang berondong kampret itu mengemudikan kendaraannya bagaikan pembalap liar yang sedang dikejar polisi.
Mobilnya meliuk-liuk lincah, menyalip kendaraan lain di celah-celah sempit jalanan ibu kota. Kendati demikian, Vania patut bersyukur karena ia berhasil sampai di tempat kerja dengan selamat—meskipun penampilannya sedikit berantakan dan ia harus mengalami senam jantung sepagi ini. Begitu melangkah memasuki lobi kantor, matanya menangkap sosok yang tidak asing. "Lu?" Vania tersenyum lebar mendapati Morgan berdiri di dekat area resepsionis. "Lu kerja di sini, Van?" tanya Morgan balik dengan senyuman ramah. "Iya, gue kerja di departemen pemasaran. Terus, lu sendiri ngapain di sini?" tanya Vania penasaran. "Gue—" Belum sempat Morgan merampungkan kalimatnya, sebuah suara dingin yang sangat familier memotong udara di antara mereka. "Gue gaji lu bukan buat ngobrol di jam kerja, Vania!" ketus Mario yang tiba-tiba muncul dari balik lift eksekutif dengan wajah kaku. "S-sorry, Bos," jawab Vania kikuk, lalu buru-buru menunduk dan melangkah cepat meninggalkan lobi menuju ruang kerjanya. Morgan hanya tertawa kecil melihat kepanikan Vania, sementara Mario menatap Morgan dengan sorot mata dingin penuh ketidaksukaan. "Bagaimana kalau kita bersaing secara sehat untuk mendapatkan Vania?" tantang Morgan tiba-tiba tanpa basa-basi. Mario menyipitkan mata, menatap tajam pria di hadapannya. "Apa maksud lu?" tanya Mario dingin. "Kita pria dewasa. Sepertinya lu udah paham betul maksud gue," jawab Morgan santai sebelum melangkah pergi dan meninggalkan Mario yang mengepalkan tangan menahan geram. "Brengsek!" umpat Mario kasar di tengah lobi. Umpatan keras itu sontak membuat beberapa pegawai yang lewat terkesiap dan menoleh ngeri ke arah sang bos besar. Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, Mario langsung melemparkan tatapan membunuh ke sekeliling, membuat para pegawai itu secara otomatis kocar-kacir membubarkan diri demi menyelamatkan nyawa masing-masing. Sementara itu di tempat berbeda, Tara memang terlambat sampai di sekolah, tetapi wajahnya justru berseri-seri tanpa beban sepanjang koridor. "Lu kesurupan apa, Ta? Senyum-senyum sendiri kayak orang ilang," tanya Aldo ngeri saat melihat sahabatnya itu masuk kelas. "Kesurupan bidadari galak," jawab Tara terkikik geli, teringat kembali ekspresi panik Vania saat di dalam mobil tadi pagi. "Lu bener-bener perlu dimandiin kembang tujuh rupa nih. Udah nggak beres otak lu," komentar Aldo bergidik. Belum sempat Tara membalas ucapan sahabatnya, Pak Burhan—guru piket yang terkenal galak—sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah masam. "Kalian berdua tuh yang harusnya dimandiin kembang tujuh rupa!" sela Pak Burhan tajam, sudah kehabisan kesabaran dengan ulah dua murid berandal ini. "Yaelah, Pak. Kalau bapak mau mandi kembang sana aja, kita mah ogah!" balas Aldo santai tanpa rasa berdosa. "Kalian ini ya, bandel banget! Susah banget dikasih tahu!" geram Pak Burhan, urat lehernya sampai menonjol keluar. "Gak perlu, Pak. Kita kan udah wangi dari lahir, nggak usah mandi kembang segala," celetuk Tara dengan cengiran lebar. "Tara! Aldo! Kalian lari keliling lapangan SE-KARANG!" teriak Pak Burhan menggelegar hingga seisi koridor bergetar. Tanpa buang waktu lagi, Tara dan Aldo langsung kabur terbirit-birit menuju lapangan basket sebelum mereka benar-benar ditelan hidup-hidup oleh sang guru killer. "Taraaaa...!" "Aldoooo...!" Teriakan histeris sekumpulan siswi menggema dari pinggir lapangan saat melihat dua most wanted sekolah itu berlari di bawah terik matahari. Alih-alih malu, Tara dan Aldo justru melambaikan tangan ke arah penonton seolah-olah mereka sedang berjalan di atas red carpet festival film internasional. "Mau taruhan nggak, Ta?" tawar Aldo di tengah napasnya yang memburu saat mereka melintasi putaran ketiga lapangan. "Taruhan apaan?" tanya Tara melirik sekilas. "Dapetin Selena, anak kelas sebelah," tantang Aldo. "Wah, berani juga lu. Terus, apa hadiahnya kalau gue menang?" tanya Tara tertantang. "Motor sport gue. Tapi kalau lu yang kalah, motor lu jadi milik gue," jawab Aldo sambil memasang senyum penuh Muslihat. Tara menimbang-nimbang tawaran itu sejenak di dalam kepalanya. "Baiklah, deal!" jawabnya sepakat. Aldo dan Tara langsung menghentikan lari mereka sejenak untuk berjabat tangan, menandai dimulainya persaingan panas di antara mereka.Vania langsung masuk rumah begitu mobil Citra pergi. Kepalanya terasa pusing akibat seharian bergulat dengan tumpukan dokumen kantor dan drama hubungannya dengan Mario yang semakin tidak jelas. Ia melepas sepatu hak tingginya secara asal, melempar tas kerja ke atas sofa, lalu berniat langsung membersihkan diri di kamar mandi.Namun, langkahnya mendadak terhenti di ambang pintu kamar tidur.Bukannya mendapati kamarnya kosong, Vania justru menemukan sesosok pemuda berseragam putih abu-abu sedang duduk dengan sangat santai di tepi kasurnya. Dasi sekolahnya sudah terlepas separuh, kancing atas kemejanya terbuka, dan kakinya disilangkan dengan gaya songong yang sukses membuat urat di pelipis Vania berdenyut menahan amarah."Siapa yang suruh lu masuk ke kamar gue, hah?!" maki Vania galak, kedua tangannya langsung berkacak pinggang. "Pintu depan memang nggak dikunci, tapi bukan berarti lu bebas nyelonong masuk kayak maling jemuran!"Alih-alih merasa takut atau langsung kabur, Tara justru men
Tara pagi ini mendadak ceria luar biasa. Pikirannya masih melayang-layang, terbayang-bayang pemandangan celana dalam merah muda milik Vania yang tak sengaja terekspos kemarin sore."Ta, itu makanan di piring dimakan, bukan malah diajak senyum-senyum," tegur Mira sambil meletakkan segelas susu di meja makan.Namun, Tara tetap saja asyik senyam-senyum sendiri sambil menatap kosong piring yang berisi telur ceplok."Taraaa...!" seru Mira gemas."Ihh, Mamah ini norak kayak tinggal di hutan aja, teriak-teriak berisik," balas Tara santai."Ya makanya makanannya disantap, Nak!""Astaga, sabar banget ya punya anak ganteng," gumam Mira mengelus dadanya, mencoba melapangkan dada menghadapi anak bujangnya itu."Iya, Mah, slow aja," jawab Tara. Ia langsung menyuap sarapannya dengan kilat karena sudah tidak sabar ingin segera keluar rumah demi menguntit sang tetangga."Pelan-pelan dong, Ta! Butuh stok kesabaran ekstra kalau ngadepin kamu," gerutu Mira."Ber-ang-kat du-lu, Mah!" ucap Tara tidak jela
Sore harinya di kompleks perumahan, Vania berjalan keluar rumah berniat mencari makan siang karena perutnya sudah keroncongan hebat. Peristiwa sial di kantor gara-gara Mario tadi siang membuatnya melewatkan jam istirahat ke kantin. Di tengah jalan setapak kompleks, langkahnya berpapasan dengan sosok yang paling ingin dihindarinya hari itu."Vania!" panggil Mario dengan suara baritonnya.Vania mendengus pelan sebelum menghentikan langkah. "Iya, Bos?" jawabnya malas.Tanpa aba-aba, Mario menarik lengan Vania dan mendorong tubuh wanita itu pelan hingga punggungnya membentur tembok pagar rumah warga."Ini area publik, Mario. Apa-apaan sih!" protes Vania, berusaha mendorong dada bidang pria itu."Gue cuma pengin kasih lu peringatan terakhir," bisik Mario tajam. Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Vania cukup kuat hingga membuat wanita cantik itu meringis pelan."Lepasin, sakit!""Jauhi Morgan," tekan Mario dingin sebelum akhirnya melepaskan cengirannya begitu saja dan melangkah pergi
Vania tiba di kantornya tepat waktu. Napasnya masih menderu dan jantungnya berdegup kencang akibat ulah Tara tadi. Bagaimana tidak histeris, selama di dalam mobil tadi, sang berondong kampret itu mengemudikan kendaraannya bagaikan pembalap liar yang sedang dikejar polisi. Mobilnya meliuk-liuk lincah, menyalip kendaraan lain di celah-celah sempit jalanan ibu kota. Kendati demikian, Vania patut bersyukur karena ia berhasil sampai di tempat kerja dengan selamat—meskipun penampilannya sedikit berantakan dan ia harus mengalami senam jantung sepagi ini.Begitu melangkah memasuki lobi kantor, matanya menangkap sosok yang tidak asing."Lu?" Vania tersenyum lebar mendapati Morgan berdiri di dekat area resepsionis."Lu kerja di sini, Van?" tanya Morgan balik dengan senyuman ramah."Iya, gue kerja di departemen pemasaran. Terus, lu sendiri ngapain di sini?" tanya Vania penasaran."Gue—" Belum sempat Morgan merampungkan kalimatnya, sebuah suara dingin yang sangat familier memotong udara di antar
Sementara itu, Vania dan Mario tiba di sebuah restoran mewah berkonsep privat di pusat kota. Suasana tempat itu sangat tenang, diiringi alunan musik klasik yang lembut. Namun, di balik kemewahan tempat itu, Vania justru merasa mati gaya.Sejak tadi, tatapan mata Mario sesekali melirik ke arah dada Vania yang terekspos cukup rendah akibat potongan gaunnya. Vania sangat menyadari hal itu, tetapi ia sengaja pura-pura tidak tahu. Sebenarnya, malam ini ia sengaja berdandan memukau untuk menguji karakter Mario, pria yang selama ini dikenal sangat dingin, kaku, dan hampir tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun.Apakah dia pria terhormat, atau justru... ah, tidak mungkin, batin Vania menggelengkan kepala pelan, merasa ngeri sendiri jika pria setampan dan sekaya Mario ternyata seorang penyuka sesama jenis.Masalahnya, Mario adalah tipe pria yang sangat irit bicara. Suasana di meja makan itu terasa begitu senyap, membuat Vania merasa seperti sedang makan di kuburan. Sepi dan membosa
Suasana sore di kompleks perumahan tampak tenang. Tara berjalan santai sambil menenteng kantong plastik berisi titipan mamanya dari minimarket terdekat. Di depan mulut gang, langkahnya mendadak melambat saat melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di tepi jalan.Seorang pria berjas rapi keluar dari balik kemudi, membukakan pintu, dan tersenyum ramah kepada seorang wanita yang turun dari kursi penumpang. Keduanya tampak berpamitan dengan cipika-cipika singkat sebelum mobil itu melaju pergi."Bye-bye, honey," ucap wanita itu melambaikan tangan, yang tak lain adalah Vania, tetangga sebelah rumahnya.Baru saja Tara hendak melangkah melewati Vania yang berdiri di trotoar, suara serak seseorang berhasil menghentikan niatnya."Lu hantu, ya? Datang nggak ada suaranya," gerutu Vania kaget seraya mengusap dadanya yang berdetak kencang, mendapati Tara sudah berdiri tepat di sampingnya."Pacar baru lu, ya, Mbak? Mewah banget," selidik Tara dengan mata menyipit penuh rasa pe







