Share

Bab 4

Author: Silentia
last update publish date: 2026-08-02 17:28:33

Sementara itu, Vania dan Mario tiba di sebuah restoran mewah berkonsep privat di pusat kota. Suasana tempat itu sangat tenang, diiringi alunan musik klasik yang lembut. Namun, di balik kemewahan tempat itu, Vania justru merasa mati gaya.

Sejak tadi, tatapan mata Mario sesekali melirik ke arah dada Vania yang terekspos cukup rendah akibat potongan gaunnya. Vania sangat menyadari hal itu, tetapi ia sengaja pura-pura tidak tahu. Sebenarnya, malam ini ia sengaja berdandan memukau untuk menguji karakter Mario, pria yang selama ini dikenal sangat dingin, kaku, dan hampir tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun.

Apakah dia pria terhormat, atau justru... ah, tidak mungkin, batin Vania menggelengkan kepala pelan, merasa ngeri sendiri jika pria setampan dan sekaya Mario ternyata seorang penyuka sesama jenis.

Masalahnya, Mario adalah tipe pria yang sangat irit bicara. Suasana di meja makan itu terasa begitu senyap, membuat Vania merasa seperti sedang makan di kuburan. Sepi dan membosankan. Berkali-kali ia menghela napas kasar dengan wajah tertekuk.

"Van!" panggil Mario datar.

Sebelum Vania sempat merespons, sebuah suara familiar mendadak memotong udara di dekat meja mereka.

"I miss you, Vania," sapa seorang pria tampan sambil tanpa ragu mencium pipi kanan dan kiri Vania.

Vania mengerjap kaget. "Morgan?" tebaknya setelah mengenali wajah di hadapannya.

"Yes, it's me!" jawab Morgan tersenyum manis, memancarkan pesona yang membuat siapa pun luluh.

"Aduh... I miss you too!" tanpa sadar Vania langsung bangkit dari kursi dan memeluk erat sahabat sekaligus mantan rekan kerjanya itu.

"You still look the same like before," puji Morgan sambil mencubit pipi Vania gemas.

"Sakit, ih!" protes Vania manja, sementara Morgan hanya tersenyum hangat.

Ekhm...!

Sebuah deheman berat dengan nada rendah langsung mengalihkan perhatian keduanya. Vania tersadar dan buru-buru melepaskan pelukannya, tersenyum tidak enak kepada Mario yang wajahnya sudah mengeras bagaikan es batu.

"Kenalkan, nama gue Morgan," sapa Morgan ramah sambil mengulurkan tangan ke arah Mario.

Mario menatap uluran tangan itu sekilas dengan sorot mata dingin. "Gue udah denger tadi. Gue Mario," jawabnya tandas, sama sekali tidak berniat menyambut uluran tangan Morgan.

Morgan sempat terpaku menatap tangannya yang menggantung di udara, sebelum akhirnya ia menariknya pelan dan memasukkannya ke dalam saku celana dengan senyum simpul yang masih menghiasi bibirnya.

Vania yang melihat interaksi itu mendadak merasa salah tingkah dan kikuk luar biasa.

"Ayo, Van, kita pulang. Gue udah kenyang," ujar Mario tiba-tiba, langsung beranjak dari tempat duduknya tanpa menunggu persetujuan Vania.

Vania hanya bisa mengangguk pasrah dan mengikuti langkah Mario meninggalkan meja. Saat berjalan di belakang Mario, Vania sempat menoleh ke arah Morgan dan mengucapkan kata sorry tanpa suara.

Morgan meresponsnya dengan anggukan kepala dan senyuman maklum.

Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil, atmosfer di kabin terasa sangat mencekam. Wajah Mario kaku tak bergeming, dan tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya. Vania yang berjiwa bebas tentu saja merasa tersiksa berada di dalam situasi sekaku itu.

Begitu mobil berhenti di depan rumahnya, Vania langsung membuka pintu dan turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan perasaan kesal.

Hebatnya lagi, begitu Vania turun, Mario langsung menancap gas begitu saja tanpa mencegatnya atau sekadar berpamitan.

"Dasar cowok, punya hati apa batu sih!" umpat Vania kesal sambil melemparkan tas kecilnya secara asal ke atas sofa.

Namun, beberapa detik kemudian, kemarahannya mendadak menguap saat ingatannya kembali melayang pada ketampanan Morgan di restoran tadi. Senyum kecil pun tersungging di bibirnya.

"Oh, shittt..." gumam Vania sadar diri, lalu bergegas bangkit untuk membersihkan badan dan beristirahat.

***

Keesokan paginya, Vania terbangun dengan kepalanya yang berdenyut ringan. Ia segera meraih ponsel di nakas untuk memeriksa pesan masuk, berharap Citra bisa menjemputnya ke kantor. Namun, harapannya pupus saat melihat balasan chat dari Citra yang mengabarkan bahwa dia masih harus cuti hari ini.

Vania langsung membelalakkan mata begitu melihat jam dinding kamarnya. Angka di sana tampak begitu horor bagi seorang wanita karier yang hampir telat.

Tanpa buang waktu, ia berlari terburu-buru keluar rumah mengenakan sepatu hak tinggi berukuran sepuluh sentimeter, tinggi yang luar biasa untuk ukuran lari. Ia melangkah cepat menyusuri area trotoar kompleks perumahan untuk mencari tumpangan atau ojek online.

Nahas, baru beberapa langkah berjalan terburu-buru di atas trotoar, tumit sepatunya tiba-tiba bergeser akibat permukaan paving block yang sedikit tidak rata.

Aarrgh...!

Vania refleks memejamkan mata, bersiap merasakan sakitnya membentur permukaan jalan. Namun, detik demi detik berlalu, ia tidak merasakan benturan apa pun. Perlahan, ia membuka matanya dan mendapati dirinya sudah berada dalam dekapan seseorang di tepi trotoar.

Sosok pertama yang ia lihat adalah Tara, si berondong tetangga sebelah yang terkenal usil dan menyebalkan.

"Gak apa-apa, Mbak?" tanya Tara sigap, membantu Vania berdiri tegak dengan posisi seimbang di atas trotoar.

Vania mengerjap, lalu menepis tangan Tara galak. "Lu rabun, ya? Jelas-jelas gue hampir jatuh tadi!"

"Gue tahu, Mbak. Maksud gue, sekarang lu baik-baik aja kan? Ada yang sakit nggak?" cerocos Tara tanpa merasa bersalah, justru memerhatikan penampilan Vania dari atas sampai bawah.

"Gue baik-baik aja," jawab Vania ketus. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu menjerit.

Reaksi panik itu sukses membuat Tara terkaget-kaget sambil mengusap dadanya sendiri. "Ada apa lagi, Mbak? Jangan teriak-teriak, jantung gue hampir copot."

"Gue telat banget ini!" seru Vania panik bukan kepalang.

"Gue anter."

"Terus sekolah lu gimana?" tanya Vania menatap tajam pemuda berseragam putih abu-abu di hadapannya.

"Santai aja, Mbak. Slow," jawab Tara dengan cengiran mautnya.

Tanpa pikir panjang lagi karena ojek online pesanannya tak kunjung ada yang menerima, Vania langsung nyelonong masuk ke dalam mobil Tara begitu saja tanpa menunggu dipersilakan.

Tara hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan wanita di sampingnya itu. "Dasar tetangga galak," gumamnya sebelum menyalakan mesin mobil.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 8

    Vania langsung masuk rumah begitu mobil Citra pergi. Kepalanya terasa pusing akibat seharian bergulat dengan tumpukan dokumen kantor dan drama hubungannya dengan Mario yang semakin tidak jelas. Ia melepas sepatu hak tingginya secara asal, melempar tas kerja ke atas sofa, lalu berniat langsung membersihkan diri di kamar mandi.Namun, langkahnya mendadak terhenti di ambang pintu kamar tidur.Bukannya mendapati kamarnya kosong, Vania justru menemukan sesosok pemuda berseragam putih abu-abu sedang duduk dengan sangat santai di tepi kasurnya. Dasi sekolahnya sudah terlepas separuh, kancing atas kemejanya terbuka, dan kakinya disilangkan dengan gaya songong yang sukses membuat urat di pelipis Vania berdenyut menahan amarah."Siapa yang suruh lu masuk ke kamar gue, hah?!" maki Vania galak, kedua tangannya langsung berkacak pinggang. "Pintu depan memang nggak dikunci, tapi bukan berarti lu bebas nyelonong masuk kayak maling jemuran!"Alih-alih merasa takut atau langsung kabur, Tara justru men

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 7

    Tara pagi ini mendadak ceria luar biasa. Pikirannya masih melayang-layang, terbayang-bayang pemandangan celana dalam merah muda milik Vania yang tak sengaja terekspos kemarin sore."Ta, itu makanan di piring dimakan, bukan malah diajak senyum-senyum," tegur Mira sambil meletakkan segelas susu di meja makan.Namun, Tara tetap saja asyik senyam-senyum sendiri sambil menatap kosong piring yang berisi telur ceplok."Taraaa...!" seru Mira gemas."Ihh, Mamah ini norak kayak tinggal di hutan aja, teriak-teriak berisik," balas Tara santai."Ya makanya makanannya disantap, Nak!""Astaga, sabar banget ya punya anak ganteng," gumam Mira mengelus dadanya, mencoba melapangkan dada menghadapi anak bujangnya itu."Iya, Mah, slow aja," jawab Tara. Ia langsung menyuap sarapannya dengan kilat karena sudah tidak sabar ingin segera keluar rumah demi menguntit sang tetangga."Pelan-pelan dong, Ta! Butuh stok kesabaran ekstra kalau ngadepin kamu," gerutu Mira."Ber-ang-kat du-lu, Mah!" ucap Tara tidak jela

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 6

    Sore harinya di kompleks perumahan, Vania berjalan keluar rumah berniat mencari makan siang karena perutnya sudah keroncongan hebat. Peristiwa sial di kantor gara-gara Mario tadi siang membuatnya melewatkan jam istirahat ke kantin. Di tengah jalan setapak kompleks, langkahnya berpapasan dengan sosok yang paling ingin dihindarinya hari itu."Vania!" panggil Mario dengan suara baritonnya.Vania mendengus pelan sebelum menghentikan langkah. "Iya, Bos?" jawabnya malas.Tanpa aba-aba, Mario menarik lengan Vania dan mendorong tubuh wanita itu pelan hingga punggungnya membentur tembok pagar rumah warga."Ini area publik, Mario. Apa-apaan sih!" protes Vania, berusaha mendorong dada bidang pria itu."Gue cuma pengin kasih lu peringatan terakhir," bisik Mario tajam. Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Vania cukup kuat hingga membuat wanita cantik itu meringis pelan."Lepasin, sakit!""Jauhi Morgan," tekan Mario dingin sebelum akhirnya melepaskan cengirannya begitu saja dan melangkah pergi

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 5

    Vania tiba di kantornya tepat waktu. Napasnya masih menderu dan jantungnya berdegup kencang akibat ulah Tara tadi. Bagaimana tidak histeris, selama di dalam mobil tadi, sang berondong kampret itu mengemudikan kendaraannya bagaikan pembalap liar yang sedang dikejar polisi. Mobilnya meliuk-liuk lincah, menyalip kendaraan lain di celah-celah sempit jalanan ibu kota. Kendati demikian, Vania patut bersyukur karena ia berhasil sampai di tempat kerja dengan selamat—meskipun penampilannya sedikit berantakan dan ia harus mengalami senam jantung sepagi ini.Begitu melangkah memasuki lobi kantor, matanya menangkap sosok yang tidak asing."Lu?" Vania tersenyum lebar mendapati Morgan berdiri di dekat area resepsionis."Lu kerja di sini, Van?" tanya Morgan balik dengan senyuman ramah."Iya, gue kerja di departemen pemasaran. Terus, lu sendiri ngapain di sini?" tanya Vania penasaran."Gue—" Belum sempat Morgan merampungkan kalimatnya, sebuah suara dingin yang sangat familier memotong udara di antar

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 4

    Sementara itu, Vania dan Mario tiba di sebuah restoran mewah berkonsep privat di pusat kota. Suasana tempat itu sangat tenang, diiringi alunan musik klasik yang lembut. Namun, di balik kemewahan tempat itu, Vania justru merasa mati gaya.Sejak tadi, tatapan mata Mario sesekali melirik ke arah dada Vania yang terekspos cukup rendah akibat potongan gaunnya. Vania sangat menyadari hal itu, tetapi ia sengaja pura-pura tidak tahu. Sebenarnya, malam ini ia sengaja berdandan memukau untuk menguji karakter Mario, pria yang selama ini dikenal sangat dingin, kaku, dan hampir tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun.Apakah dia pria terhormat, atau justru... ah, tidak mungkin, batin Vania menggelengkan kepala pelan, merasa ngeri sendiri jika pria setampan dan sekaya Mario ternyata seorang penyuka sesama jenis.Masalahnya, Mario adalah tipe pria yang sangat irit bicara. Suasana di meja makan itu terasa begitu senyap, membuat Vania merasa seperti sedang makan di kuburan. Sepi dan membosa

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 3

    Suasana sore di kompleks perumahan tampak tenang. Tara berjalan santai sambil menenteng kantong plastik berisi titipan mamanya dari minimarket terdekat. Di depan mulut gang, langkahnya mendadak melambat saat melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di tepi jalan.Seorang pria berjas rapi keluar dari balik kemudi, membukakan pintu, dan tersenyum ramah kepada seorang wanita yang turun dari kursi penumpang. Keduanya tampak berpamitan dengan cipika-cipika singkat sebelum mobil itu melaju pergi."Bye-bye, honey," ucap wanita itu melambaikan tangan, yang tak lain adalah Vania, tetangga sebelah rumahnya.Baru saja Tara hendak melangkah melewati Vania yang berdiri di trotoar, suara serak seseorang berhasil menghentikan niatnya."Lu hantu, ya? Datang nggak ada suaranya," gerutu Vania kaget seraya mengusap dadanya yang berdetak kencang, mendapati Tara sudah berdiri tepat di sampingnya."Pacar baru lu, ya, Mbak? Mewah banget," selidik Tara dengan mata menyipit penuh rasa pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status