LOGINSore harinya di kompleks perumahan, Vania berjalan keluar rumah berniat mencari makan siang karena perutnya sudah keroncongan hebat. Peristiwa sial di kantor gara-gara Mario tadi siang membuatnya melewatkan jam istirahat ke kantin.
Di tengah jalan setapak kompleks, langkahnya berpapasan dengan sosok yang paling ingin dihindarinya hari itu. "Vania!" panggil Mario dengan suara baritonnya. Vania mendengus pelan sebelum menghentikan langkah. "Iya, Bos?" jawabnya malas. Tanpa aba-aba, Mario menarik lengan Vania dan mendorong tubuh wanita itu pelan hingga punggungnya membentur tembok pagar rumah warga. "Ini area publik, Mario. Apa-apaan sih!" protes Vania, berusaha mendorong dada bidang pria itu. "Gue cuma pengin kasih lu peringatan terakhir," bisik Mario tajam. Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Vania cukup kuat hingga membuat wanita cantik itu meringis pelan. "Lepasin, sakit!" "Jauhi Morgan," tekan Mario dingin sebelum akhirnya melepaskan cengirannya begitu saja dan melangkah pergi meninggalkannya. "Dasar cowok psikopat gila!" maki Vania kesal setengah mati. Sadar ia mengucapkannya agak keras, ia langsung menutup mulutnya dengan tangan, lalu bergegas kabur pulang ke rumah karena takut Mario mendengar makiannya. Sejatinya, Vania sama sekali tidak memiliki perasaan istimewa pada Mario, ia hanya menyukai dompet tebal dan fasilitas mewah yang melekat pada pria itu. Mana mungkin ia sudi menjalin kasih dengan pria sedingin dan se-arogan batu es seperti Mario? Terlebih lagi untuk menuruti perintah konyol menjauhi Morgan—pria itu adalah sahabat masa kecilnya yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri. Setibanya di rumah, Vania merebahkan diri sejenak di sofa. Namun perutnya kembali bergemuruh karena lapar. Ia memutuskan keluar rumah lagi untuk membeli makanan di warung ujung jalan. "Mbak!" Vania menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara, tetapi ia tidak melihat siapa pun di sekitar pekarangannya. Bulu kuduknya mendadak merinding seketika. "Mbak," panggil suara itu lagi dari atas. "Ampun hantu gentayangan, jangan ganggu gue!" teriak Vania panik sambil memejamkan mata rapat-rapat. Brukkk...! Awwww...! Vania sontak melotot lebar saat mendengar suara ringisan kesakitan. Sesosok tubuh remaja jatuh terjungkal dari atas pohon mangga di tepi jalan dan mendarat dengan tidak elitnya tepat di hadapan Vania, menciptakan kehebohan yang sukses membuat jantung Vania berdisko ria. "Hai, Mbak. Mau ke mana?" sapa Tara cengangas-cengenges sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor akibat pendaratan darurat yang gagal total. "Lu stres ya?! Mau bunuh diri atau gimana? Gimana kalau gue jantungan terus mati berdiri gara-gara kaget?!" cerocos Vania emosi. "Mana mungkin Mbak mati, apa saking terkejutnya karena terpesona liat pangeran tampan jatuh dari pohon, kan?" balas Tara dengan mata berbinar-binar penuh percaya diri. "Pangeran kata lu? Ngaca dulu sana ke comberan!" sinis Vania tajam. "Yaelah, kata orang-orang di sekolah gue ganteng kok, Mbak," bela Tara tak mau kalah. "Berarti orang-orang di sekolah lu pada rabun massal!" geram Vania, lalu berbalik meninggalkan si berondong kampret itu. "Mbak, tungguin!" seru Tara sambil bangkit dan membuntuti langkah Vania. "Apa lagi sih, nggak usah ikutan!" Vania menghentikan langkahnya secara mendadak. Karena tidak bisa mengerem tepat waktu, Tara menabrak punggung Vania dari belakang. Tabrakan itu membuat Vania kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terduduk di atas paving block dengan posisi yang sangat tidak elegan, rok span kerjanya tersingkap cukup tinggi hingga mengekspos celana dalam berenda berwarna merah muda terang yang melekat di tubuhnya. Tara yang berdiri tepat di hadapannya otomatis langsung melongo, kehilangan fokus seketika. "Dasar berondong kampret sialan!" maki Vania penuh amarah. Ia buru-buru merapikan roknya yang tersingkap, bangkit dengan wajah memerah karena malu, lalu berlari masuk ke dalam rumah dan membanting pintu kayu itu keras-keras. Mood makannya benar-benar hancur lebur seketika. Di sisi lain jalan, Tara masih berdiri terpaku di tempatnya dengan mata menerawang ke pintu rumah sebelah. Ia lalu terkikik geli sendiri. "Rejeki anak soleh, rejeki nomplok sore-sore," gumamnya masih senyum-senyum salah tingkah sebelum bergegas masuk ke halaman rumahnya. "Ta, kamu kenapa senyam-senyum sendiri kayak orang kesurupan?" Tanya Mira yang berlari panik menghampiri anaknya di ruang tamu lalu menempelkan telapak tangannya ke kening Tara. "Mamah apaan sih, dateng-dateng megang kepala orang," protes Tara mengerutkan kening. "Kamu sehat kan, Nak? Nggak bentur kepala pas manjat pohon, kan?" tanya Mira cemas bukan kepalang. "Sehat walafiat, Mah. Ganteng begini dibilang sakit," jawab Tara santai. "Terus kalau sehat, kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri kayak kerang wudhu?" Mira memicingkan mata curiga. "Habis dapet rejeki nomplok, Mah." "Rejeki nomplok apaan sore-sore begini?" desak Mira semakin penasaran. "Liat celana dalam warna pink si Mbak sebelah," ceplos Tara tanpa filter. Tanpa menunggu reaksi amukan mamanya, Tara langsung ngibrit lari masuk ke dalam kamar, membanting pintu, dan menguncinya dari dalam sambil tertawa terbahak-bahak. "Taraaaaa...!" Mira memegangi kepalanya sendiri yang mendadak berdenyut nyeri luar biasa menghadapi kelakuan anak perjaka tunggalnya yang kian hari kian absurd di luar nalar.Suasana di dalam mobil sedan hitam yang melaju kencang membelah malam kota Jakarta terasa mencekam. Di kursi belakang, Vania berbaring dalam kondisi yang semakin menyedihkan. Efek obat bius dan perangsang itu telah sepenuhnya melumpuhkan kesadaran dan pertahanan tubuhnya. Napas wanita itu terengah-engah, dada bidangnya naik turun dengan liar, dan rintihan tertahan lolos dari bibirnya yang memerah akibat terbakar panas tubuh yang tidak wajar.Mario duduk di sampingnya, menatap wajah Vania dengan senyuman penuh nafsu dan kemenangan. Tangannya mulai berani meraba bahu mulus Vania yang terekspos gaun halter-neck."Sebentar lagi kita sampai, Van. Kamu bakal jadi milik aku seutuhnya malam ini, dan nggak bakal bisa lepas lagi," bisik Mario serak, mendekatkan wajahnya hendak mencium leher wanita itu.Namun, di tempat lain, kepanikan luar biasa sedang melanda area VIP kelab.Citra terduduk lemas di sudut sofa beludru, menangis sesenggukan sambil mendekap kepalanya sendiri. Rasa bersalah mengha
Di salah satu sudut sofa beludru VIP klub yang agak tersembunyi, Vania sedang menyesap cosmopolitan-nya dengan santai. Mengenakan gaun malam halter-neck berwarna hitam elegan yang membalut tubuh idealnya, Vania benar-benar menikmati status barunya sebagai perempuan bebas. Tidak ada lagi bayang-bayang kantor yang melelahkan, tidak ada lagi omelan Mario, dan yang terpenting, ia bisa menikmati malam tanpa beban kerjaan."Beb, lu yakin nggak mau pesen yang lain? Ini udah gelas ketiga loh," tegur Citra dari sebelah Vania, suaranya terdengar sedikit bergetar dan tidak biasa.Vania menoleh, tertawa kecil sambil melambaikan tangan. "Santai kali, Cit. Mumpung gue lagi bebas dari tekanan batin. Lu tahu sendiri kan gimana stresnya gue gara-gara si Mario?"Mendengar nama Mario disebut, raut wajah Citra mendadak pucat pasi. Ia menunduk, meremat jemarinya sendiri di atas pangkuan. Tangannya yang memegang gelas champagne tampak bergetar hebat. Matanya terus melirik ke sana kemari dengan tatapan penu
Tara merebahkan diri di atas tempat tidur dengan posisi telungkup, memeluk guling erat-erat, matanya sama sekali tidak mau diajak kompromi. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah Vania yang memerah, napas hangat wanita itu yang menerpa kulitnya, serta insiden ciuman tak sengaja di teras rumah tadi berputar ulang di kepalanya bagaikan kaset rusak. Bibirnya seolah masih bisa merasakan sentuhan lembut yang mendadak membuat sekujur tubuhnya merinding aneh."Gila, bener-bener gila tu cewek," gumam Tara pelan ke dalam bantal, mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi tingkat dewa. "Bukannya minta maaf, malah digampar omongan. Tapi manis juga ya?"Setelah berjam-jam berguling gelisah melawan pikiran-pikiran absurd di kepalanya, Tara akhirnya terlelap menjelang pukul tiga pagi. Dan di sanalah petaka atau lebih tepatnya surga dunia versi remaja tujuh belas tahun dimulai. Dalam mimpinya, Vania tidak lagi berwajah garang, melainkan datang dengan senyuman manis, berbisik manja, da
Grdoran pintu terdengar nyaring. Vania kesal, ia pikir Citra kembali lagi karena ada barang miliknya yang tertinggal. Dengan langkah menghentak dan wajah tertekuk kesal, Vania berjalan cepat menuju pintu utama. Ia membuka kunci dengan kasar untuk melabrak siapapun yang berani merusak ketenangannya. "Lu bisa nggak sih nggak ngetok pintu kayak mau maling—" Ucapan Vania terpotong seketika karena orang yang berdiri di balik pintu bukanlah Citra, melainkan Tara. Dan sialnya, pemuda itu sedang mengayunkan tangan kanannya untuk kembali menggedor pintu tepat saat pintu terbuka. Akibatnya fatal. Kepalan tangan Tara meleset dari pintu dan mendarat telak menghantam kening Vania cukup keras. Vania langsung meringis sambil memegang jidatnya yang berdenyut nyeri, matanya berair karena kaget sekaligus kesal luar biasa. "Aduh! Sialan lu, ya!" maki Vania histeris, melotot tajam ke arah Tara. Tara yang tadinya cengar-cengir langsung terperanjat kaget, menarik tangannya buru-buru. "Eh, astaga,
Langkah kaki Vania terasa jauh lebih ringan begitu ia menjejakkan kaki kembali di kawasan perumahan elitnya sore itu. Kotak kardus berisi barang-barang kantornya ia dekap erat di dada, menjadi simbol resmi bahwa statusnya sebagai wanita karir yang stres telah resmi tanggal. Namun, kedatangannya di depan rumah tidak disambut oleh kesunyian yang tenang. Dari arah halaman rumah sebrang, suara musik bertalu-talu bercampur suara gitar sumbang terdengar mengganggu ketenteraman sore. Vania menoleh, dan matanya langsung menyipit tajam melihat Tara, si pemuda berandal tengah duduk di atas pagar pembatas sambil memetik gitar akustik dengan gaya sok musikus jalanan. Pemuda itu mengenakan celana pendek di bawah lutut dan kaos oblong putih belel, lengkap dengan topi snapback yang dipakai terbalik. "Selamat datang kembali di dunia rakyat jelata, Mbak Bidadari!" seru Tara dengan suara lantang sengaja dibuat-buat, menghentikan petikan gitarnya begitu melihat Vania berdiri di depan gerbang rumah.
Vania duduk di tepi ranjang, merentangkan tangan sejenak lalu menarik napas dalam-dalam. Hari ini adalah hari pertamanya resmi melepaskan status sebagai wanita karier yang hidupnya disetir oleh tuntutan pekerjaan dan bayang-bayang tentang Mario. Langkah pertamanya pagi ini sangat jelas. Surat pengunduran diri formal harus segera dikirimkan ke HRD, sekaligus membereskan sisa barang pribadinya yang masih tertinggal di laci meja kantor.Setengah jam kemudian, Vania sudah berdiri di lobi gedung perkantoran megah tempat ia menghabiskan tiga tahun terakhir hidupnya. Dengan balutan blazer hitam dan kacamata hitam yang membingkai wajah tegasnya, Vania melangkah masuk menembus pintu kaca otomatis dengan kepala tegak. Tidak ada lagi sisa-sisa air mata atau isak tangis seperti kemarin. Yang tersisa hanyalah aura dingin seorang wanita yang siap menutup babak lama dalam hidupnya.Begitu lift eksekutif berdenting di lantai tujuannya, Vania langsung berjalan menuju ruang kerjanya. Beberapa rekan se







