Share

Bab 6

Author: Silentia
last update publish date: 2026-08-02 17:57:49

Sore harinya di kompleks perumahan, Vania berjalan keluar rumah berniat mencari makan siang karena perutnya sudah keroncongan hebat. Peristiwa sial di kantor gara-gara Mario tadi siang membuatnya melewatkan jam istirahat ke kantin.

Di tengah jalan setapak kompleks, langkahnya berpapasan dengan sosok yang paling ingin dihindarinya hari itu.

"Vania!" panggil Mario dengan suara baritonnya.

Vania mendengus pelan sebelum menghentikan langkah. "Iya, Bos?" jawabnya malas.

Tanpa aba-aba, Mario menarik lengan Vania dan mendorong tubuh wanita itu pelan hingga punggungnya membentur tembok pagar rumah warga.

"Ini area publik, Mario. Apa-apaan sih!" protes Vania, berusaha mendorong dada bidang pria itu.

"Gue cuma pengin kasih lu peringatan terakhir," bisik Mario tajam. Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Vania cukup kuat hingga membuat wanita cantik itu meringis pelan.

"Lepasin, sakit!"

"Jauhi Morgan," tekan Mario dingin sebelum akhirnya melepaskan cengirannya begitu saja dan melangkah pergi meninggalkannya.

"Dasar cowok psikopat gila!" maki Vania kesal setengah mati. Sadar ia mengucapkannya agak keras, ia langsung menutup mulutnya dengan tangan, lalu bergegas kabur pulang ke rumah karena takut Mario mendengar makiannya.

Sejatinya, Vania sama sekali tidak memiliki perasaan istimewa pada Mario, ia hanya menyukai dompet tebal dan fasilitas mewah yang melekat pada pria itu. Mana mungkin ia sudi menjalin kasih dengan pria sedingin dan se-arogan batu es seperti Mario? Terlebih lagi untuk menuruti perintah konyol menjauhi Morgan—pria itu adalah sahabat masa kecilnya yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.

Setibanya di rumah, Vania merebahkan diri sejenak di sofa. Namun perutnya kembali bergemuruh karena lapar. Ia memutuskan keluar rumah lagi untuk membeli makanan di warung ujung jalan.

"Mbak!"

Vania menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara, tetapi ia tidak melihat siapa pun di sekitar pekarangannya. Bulu kuduknya mendadak merinding seketika.

"Mbak," panggil suara itu lagi dari atas.

"Ampun hantu gentayangan, jangan ganggu gue!" teriak Vania panik sambil memejamkan mata rapat-rapat.

Brukkk...!

Awwww...!

Vania sontak melotot lebar saat mendengar suara ringisan kesakitan. Sesosok tubuh remaja jatuh terjungkal dari atas pohon mangga di tepi jalan dan mendarat dengan tidak elitnya tepat di hadapan Vania, menciptakan kehebohan yang sukses membuat jantung Vania berdisko ria.

"Hai, Mbak. Mau ke mana?" sapa Tara cengangas-cengenges sambil menepuk-nepuk celananya yang kotor akibat pendaratan darurat yang gagal total.

"Lu stres ya?! Mau bunuh diri atau gimana? Gimana kalau gue jantungan terus mati berdiri gara-gara kaget?!" cerocos Vania emosi.

"Mana mungkin Mbak mati, apa saking terkejutnya karena terpesona liat pangeran tampan jatuh dari pohon, kan?" balas Tara dengan mata berbinar-binar penuh percaya diri.

"Pangeran kata lu? Ngaca dulu sana ke comberan!" sinis Vania tajam.

"Yaelah, kata orang-orang di sekolah gue ganteng kok, Mbak," bela Tara tak mau kalah.

"Berarti orang-orang di sekolah lu pada rabun massal!" geram Vania, lalu berbalik meninggalkan si berondong kampret itu.

"Mbak, tungguin!" seru Tara sambil bangkit dan membuntuti langkah Vania.

"Apa lagi sih, nggak usah ikutan!" Vania menghentikan langkahnya secara mendadak.

Karena tidak bisa mengerem tepat waktu, Tara menabrak punggung Vania dari belakang. Tabrakan itu membuat Vania kehilangan keseimbangan. Ia jatuh terduduk di atas paving block dengan posisi yang sangat tidak elegan, rok span kerjanya tersingkap cukup tinggi hingga mengekspos celana dalam berenda berwarna merah muda terang yang melekat di tubuhnya.

Tara yang berdiri tepat di hadapannya otomatis langsung melongo, kehilangan fokus seketika.

"Dasar berondong kampret sialan!" maki Vania penuh amarah. Ia buru-buru merapikan roknya yang tersingkap, bangkit dengan wajah memerah karena malu, lalu berlari masuk ke dalam rumah dan membanting pintu kayu itu keras-keras.

Mood makannya benar-benar hancur lebur seketika.

Di sisi lain jalan, Tara masih berdiri terpaku di tempatnya dengan mata menerawang ke pintu rumah sebelah. Ia lalu terkikik geli sendiri. "Rejeki anak soleh, rejeki nomplok sore-sore," gumamnya masih senyum-senyum salah tingkah sebelum bergegas masuk ke halaman rumahnya.

"Ta, kamu kenapa senyam-senyum sendiri kayak orang kesurupan?" Tanya Mira yang berlari panik menghampiri anaknya di ruang tamu lalu menempelkan telapak tangannya ke kening Tara.

"Mamah apaan sih, dateng-dateng megang kepala orang," protes Tara mengerutkan kening.

"Kamu sehat kan, Nak? Nggak bentur kepala pas manjat pohon, kan?" tanya Mira cemas bukan kepalang.

"Sehat walafiat, Mah. Ganteng begini dibilang sakit," jawab Tara santai.

"Terus kalau sehat, kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri kayak kerang wudhu?" Mira memicingkan mata curiga.

"Habis dapet rejeki nomplok, Mah."

"Rejeki nomplok apaan sore-sore begini?" desak Mira semakin penasaran.

"Liat celana dalam warna pink si Mbak sebelah," ceplos Tara tanpa filter.

Tanpa menunggu reaksi amukan mamanya, Tara langsung ngibrit lari masuk ke dalam kamar, membanting pintu, dan menguncinya dari dalam sambil tertawa terbahak-bahak.

"Taraaaaa...!"

Mira memegangi kepalanya sendiri yang mendadak berdenyut nyeri luar biasa menghadapi kelakuan anak perjaka tunggalnya yang kian hari kian absurd di luar nalar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 8

    Vania langsung masuk rumah begitu mobil Citra pergi. Kepalanya terasa pusing akibat seharian bergulat dengan tumpukan dokumen kantor dan drama hubungannya dengan Mario yang semakin tidak jelas. Ia melepas sepatu hak tingginya secara asal, melempar tas kerja ke atas sofa, lalu berniat langsung membersihkan diri di kamar mandi.Namun, langkahnya mendadak terhenti di ambang pintu kamar tidur.Bukannya mendapati kamarnya kosong, Vania justru menemukan sesosok pemuda berseragam putih abu-abu sedang duduk dengan sangat santai di tepi kasurnya. Dasi sekolahnya sudah terlepas separuh, kancing atas kemejanya terbuka, dan kakinya disilangkan dengan gaya songong yang sukses membuat urat di pelipis Vania berdenyut menahan amarah."Siapa yang suruh lu masuk ke kamar gue, hah?!" maki Vania galak, kedua tangannya langsung berkacak pinggang. "Pintu depan memang nggak dikunci, tapi bukan berarti lu bebas nyelonong masuk kayak maling jemuran!"Alih-alih merasa takut atau langsung kabur, Tara justru men

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 7

    Tara pagi ini mendadak ceria luar biasa. Pikirannya masih melayang-layang, terbayang-bayang pemandangan celana dalam merah muda milik Vania yang tak sengaja terekspos kemarin sore."Ta, itu makanan di piring dimakan, bukan malah diajak senyum-senyum," tegur Mira sambil meletakkan segelas susu di meja makan.Namun, Tara tetap saja asyik senyam-senyum sendiri sambil menatap kosong piring yang berisi telur ceplok."Taraaa...!" seru Mira gemas."Ihh, Mamah ini norak kayak tinggal di hutan aja, teriak-teriak berisik," balas Tara santai."Ya makanya makanannya disantap, Nak!""Astaga, sabar banget ya punya anak ganteng," gumam Mira mengelus dadanya, mencoba melapangkan dada menghadapi anak bujangnya itu."Iya, Mah, slow aja," jawab Tara. Ia langsung menyuap sarapannya dengan kilat karena sudah tidak sabar ingin segera keluar rumah demi menguntit sang tetangga."Pelan-pelan dong, Ta! Butuh stok kesabaran ekstra kalau ngadepin kamu," gerutu Mira."Ber-ang-kat du-lu, Mah!" ucap Tara tidak jela

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 6

    Sore harinya di kompleks perumahan, Vania berjalan keluar rumah berniat mencari makan siang karena perutnya sudah keroncongan hebat. Peristiwa sial di kantor gara-gara Mario tadi siang membuatnya melewatkan jam istirahat ke kantin. Di tengah jalan setapak kompleks, langkahnya berpapasan dengan sosok yang paling ingin dihindarinya hari itu."Vania!" panggil Mario dengan suara baritonnya.Vania mendengus pelan sebelum menghentikan langkah. "Iya, Bos?" jawabnya malas.Tanpa aba-aba, Mario menarik lengan Vania dan mendorong tubuh wanita itu pelan hingga punggungnya membentur tembok pagar rumah warga."Ini area publik, Mario. Apa-apaan sih!" protes Vania, berusaha mendorong dada bidang pria itu."Gue cuma pengin kasih lu peringatan terakhir," bisik Mario tajam. Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Vania cukup kuat hingga membuat wanita cantik itu meringis pelan."Lepasin, sakit!""Jauhi Morgan," tekan Mario dingin sebelum akhirnya melepaskan cengirannya begitu saja dan melangkah pergi

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 5

    Vania tiba di kantornya tepat waktu. Napasnya masih menderu dan jantungnya berdegup kencang akibat ulah Tara tadi. Bagaimana tidak histeris, selama di dalam mobil tadi, sang berondong kampret itu mengemudikan kendaraannya bagaikan pembalap liar yang sedang dikejar polisi. Mobilnya meliuk-liuk lincah, menyalip kendaraan lain di celah-celah sempit jalanan ibu kota. Kendati demikian, Vania patut bersyukur karena ia berhasil sampai di tempat kerja dengan selamat—meskipun penampilannya sedikit berantakan dan ia harus mengalami senam jantung sepagi ini.Begitu melangkah memasuki lobi kantor, matanya menangkap sosok yang tidak asing."Lu?" Vania tersenyum lebar mendapati Morgan berdiri di dekat area resepsionis."Lu kerja di sini, Van?" tanya Morgan balik dengan senyuman ramah."Iya, gue kerja di departemen pemasaran. Terus, lu sendiri ngapain di sini?" tanya Vania penasaran."Gue—" Belum sempat Morgan merampungkan kalimatnya, sebuah suara dingin yang sangat familier memotong udara di antar

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 4

    Sementara itu, Vania dan Mario tiba di sebuah restoran mewah berkonsep privat di pusat kota. Suasana tempat itu sangat tenang, diiringi alunan musik klasik yang lembut. Namun, di balik kemewahan tempat itu, Vania justru merasa mati gaya.Sejak tadi, tatapan mata Mario sesekali melirik ke arah dada Vania yang terekspos cukup rendah akibat potongan gaunnya. Vania sangat menyadari hal itu, tetapi ia sengaja pura-pura tidak tahu. Sebenarnya, malam ini ia sengaja berdandan memukau untuk menguji karakter Mario, pria yang selama ini dikenal sangat dingin, kaku, dan hampir tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun.Apakah dia pria terhormat, atau justru... ah, tidak mungkin, batin Vania menggelengkan kepala pelan, merasa ngeri sendiri jika pria setampan dan sekaya Mario ternyata seorang penyuka sesama jenis.Masalahnya, Mario adalah tipe pria yang sangat irit bicara. Suasana di meja makan itu terasa begitu senyap, membuat Vania merasa seperti sedang makan di kuburan. Sepi dan membosa

  • Awas, Ada Berondong!    Bab 3

    Suasana sore di kompleks perumahan tampak tenang. Tara berjalan santai sambil menenteng kantong plastik berisi titipan mamanya dari minimarket terdekat. Di depan mulut gang, langkahnya mendadak melambat saat melihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di tepi jalan.Seorang pria berjas rapi keluar dari balik kemudi, membukakan pintu, dan tersenyum ramah kepada seorang wanita yang turun dari kursi penumpang. Keduanya tampak berpamitan dengan cipika-cipika singkat sebelum mobil itu melaju pergi."Bye-bye, honey," ucap wanita itu melambaikan tangan, yang tak lain adalah Vania, tetangga sebelah rumahnya.Baru saja Tara hendak melangkah melewati Vania yang berdiri di trotoar, suara serak seseorang berhasil menghentikan niatnya."Lu hantu, ya? Datang nggak ada suaranya," gerutu Vania kaget seraya mengusap dadanya yang berdetak kencang, mendapati Tara sudah berdiri tepat di sampingnya."Pacar baru lu, ya, Mbak? Mewah banget," selidik Tara dengan mata menyipit penuh rasa pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status