تسجيل الدخولQueen tersenyum menatap ponselnya, tidak menyangka bisa mengenal seorang pria yang mencintainya dengan tulus. Dulu, ia berpikir akan selalu merasa kesepian, makanya mati ataupun hidup sama saja karena ia tidak akan pernah merasakan kebahagian. "Sayang? Hm, nggak buruk juga," ujar Queen saat panggilan telpon dari kekasihnya sudah berakhir, Queen kembali ke kelas karena hari ini ujian sudah di mulai. KBM kembali berlanjut, dengan santai Queen mengerjakan soal-soal ujian dengan mudah karena di kehidupan pertamanya ia sudah lulus berbeda dengan murid-murid lainnya yang terlihat kesusahan. Satu jam berlalu sudah ada yang mengumpulkan kertas ulangan, Queen memberikan kertas ulangannya. sebenarnya ia sudah selesai sedari tadi hanya saja ia tidak ingin menjadi pusat perhatian di kelasnya. Queen berjalan di parkiran seorang diri, saat ia akan menaiki mobil ada tangan yang menghentikan dirinya masuk. Ia melihat siapa yang berani menghentikannya, dan ternyata Anjani. "Tunggu, Queen. Aku mau
Pov Ala. Seperti yang kekasihnya bilang kalo ia kembali ke Spanyol untuk menyelesaikan permasalahan yang dialaminya, dirinya akan membuat perhitungan kepada Ricard yang saat ini masih berbaring dirumah sakit ulah dirinya. Ia bukan mencari untung dari kakeknya yang sakit, hanya saja ini rencananya dari dulu sebelum Ricard sakit karena racun yang ia berikan. "Kak, apa semuanya sudah sesuai rencana kita?" tanya Atarik serius, di sampingnya sudah ada Anne yang sedang memegang pistol. "Ya, kita tidak boleh menunda waktu lagi. Ata, saya tugaskan kamu untuk menghancurkan semua markas Ricard, jika perlu ledakan semuanya," titah Ala serius tapi dengan wajah tenangnya. ''Siap kak, saya akan melakukannya." Keduanya akan serius jika menyangkut hal yang selama ini keduanya tunggu-tunggu, "Bagaimana dengan saya, apa yang harus saya lakukan, Master?" tanya Anne yang sedang membidik pistol ke segala arah. "Hancurkan semua bisnis Ricard." "Siap, Master," ucap Anne tegas. "Tapi ingat! Jangan
Ala terdiam memikirkan sesuatu, lalu tatapannya melihat kekasihnya yang juga sedang menatapnya polos. 'Apakah sayangnya aku yang melakukannya? Jika iya, maka gadisku sangat menyeramkan' batin Ala. "Apa?" Queen yakin Ala sudah tahu siapa yang meledakkan markasnya Ricard. Ya, ia yang melakukan itu. "Nggak perlu memikirkan itu, jika memang Ricard memiliki musuh itu jauh lebih bagus. Satu hal yang harus kamu lakukan Anne, lindungi orang yang meledakkan bom itu," sahut Ala dengan tatapan mata mengarah ke arah gadisnya, membuat Queen memalingkan wajah. Berbeda dengan Anne yang kebingungan. "Master, saya saja nggak tahu siapa orangnya. Bagaimana saya bisa melindunginya?" "Ck, lo kan kerja sama kakak gue, masa gitu aja nggak tahu," sahut Atarik. Anne menatap suaminya tajam, membuat Atarik menelan ludahnya gugup. Baru pertama kali sang istri berani menatap dia dengan tatapan seperti itu, dan membuat dia merasa tidak nyaman dan tidak suka juga. "Lo juga orang terdekatnya, apa lo juga tahu
Queen menelan ludahnya sendiri karena tatapan wanita paruh baya di depannya seperti sedang menilainya, entah kenapa ia lebih suka mengerjakan misi yang diberikan Daddy kandungnya daripada berada di situasi seperti ini. Ia grogi dan canggung guys!! Saat wanita paruh baya mengangkat tangannya spontan Queen memundurkan kepalanya sambil memejamkan mata karena berpikir ia akan ditampar, Queen tidak merasakan apapun di pipinya dan yang ia rasakan adalah elusan di kepalanya. Queen membuka mata, dan sedikit terkejut karena wanita itu tersenyum padanya, hatinya sedikit lega. "Cantik. Kamu tenang saja, Nak. Tante tidak memakan orang," ujar Ainsley lembut sedangkan wajah Queen merona ketahuan grogi. Hahahaha Ala yang memang duduk di samping kekasihnya tidak kuat menahan tawa melihat Queen yang berubah menjadi gadis kalem di depan ibunya, biasanya gadisnya berwajah dingin kepada orang baru. Tapi lihatlah sekarang, apa-apaan wajah merahnya itu, membuat Ala menggigit bibirnya merasa gemas deng
Queen menatap Ala sinis, keduanya berada di jet pribadi milik Ala entah mau kemana Queen tidak tahu. "Sayang," panggil Ala, tapi Queen sama sekali tidak melihatnya. Ia lebih memilih melihat jendela yang memperlihatkan langit yang gelap gulita. Ala kira keduanya sudah baikan karena tadi pelukan, taunya kekasihnya masih merajuk padanya. "Sayang, aku minta maaf," ujar Ala lagi dengan suara manja, lagi-lagi Queen tidak memperdulikannya. Ala yang tahu kekasihnya marah mendekatinya, bahkan tangannya menarik-narik baju bagian bawah Queen seperti anak kecil, Queen memejamkan mata berusaha tidak peduli dengan sifat manja Ala padanya. "Sayang, aku sungguh minta maaf. Tolong jangan diamkan aku, aku akan jelaskan semuanya sama kamu. Oke?" lirih Ala. Bukannya merespon, Queen berdiri menuju kamar. Jet pribadi milik Ala memang sangat lengkap dan juga mewah, Ala yang tahu kekasihnya masih marah mengikuti Queen seperti anak kecil mengikuti ibunya. "Sayang, jangan diamkan aku. Aku nggak bisa kamu g
Setelah kepergian keduanya, lampu menyala kembali dan Ricard terkejut melihat Ala yang tidak berada di sampingnya. "Alaric, di mana kamu?" tanya Ricard tetap tenang, tapi wajahnya tidak enak dipandang. Orang-orang yang datang di sana berteriak heboh mengetahui prianya kabur, tapi melihat tuan rumah yang terlihat marah membuat mereka semua terdiam. "ALARIC!" teriak Ricard dengan mata menatap tajam ke sekelilingnya guna mencari Ala yang Ricard yakini tidak akan kabur karena Atarik masih berada di genggamannya. Ricard melepaskan topeng ibunya Ala dan juga Anne, tapi ternyata bukan mereka berdua membuat Ricard marah dan tangannya mengepal erat. Tiba-tiba ada satu bodyguard yang datang membisikkan sesuatu kepada Ricard membuat wajahnya semakin tidak enak dipandang. "Tuan besar, Tuan Muda sudah melarikan diri." Itulah yang bodyguard bisikan, saat Ricard ingin pergi bunyi ponselnya berdering dan dia mengangkat panggilan itu.
Sepanjang jalan menuju kelas, Queen termenung memikirkan pria yang katanya bernama Ala. Setelah mengatakan namanya, pria itu lagi-lagi meninggalkannya. Saat melewati lapangan ternyata di sana masih ada Zayn dkk, tapi tidak ada Anjani dan juga Atarik. Melihat sekeliling lapangan, ia tidak menemuka
Queen berjalan cepat menuju kelas 12A. Di belakangnya, Jenni mengikuti sahabatnya sambil ngos-ngosan karena Queen terlalu cepat berjalan. "Queen, tungguin!" seru Jenni, lagian sahabatnya itu mau kemana sih. "Queen, lo mau kemana sih!" Queen tidak mengg
Malam harinya, Queen dan Frederick sedang makan malam. Hanya berdua saja karena Frederick tidak mempunyai anak lagi selain Queen. "Gimana sekolahnya, princess?" tanya Frederick. Queen terkejut mendapatkan pertanyaan saat sedang makan. Di dunianya dulu, i
"Mau pesen apa, Queen?" tanya Jenni. "Batagor aja," sahut Queen santai. Jenni mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Batagor itu apa Queen, apa sejenis makanan yang terbuat dari bata?" tanya Jenni polos tapi minta di tampol, sekarang Queen yang melihat Jenni aneh. "Kalo pun iya, lo mau makan?" t







