LOGIN"Kau sering datang ke sini?""Iya," jawab Sebastien, meniup uap panas teh yang mengepul liar sebelum meminumnya sedikit demi sedikit.Vivienne mencuri pandang ke arah Sebastien. "Tadi, aku melihat pekerja menurunkan beberapa karung gandum dan bahan pangan lainnya dari kereta kedua yang kau bawa...." Kemudian memalingkan wajah ke arah semburat putih kebiruan yang jatuh di atas lantai kayu yang telah usang dimakan usia."Apa kau yakin tidak akan mendapat masalah? Secara tindakanmu bisa di anggap sebagai pemberontakan oleh para petinggi kekaisaran."Sebastien tidak segera menanggapi. Jemarinya tetap melingkari gagang cangkir, sementara tatapannya mengamati buih-buih tipis yang mengapung di atas permukaan teh, seakan sengaja memberi tempat bagi kata-kata yang belum sempat lahir dari bibir wanita itu."Kau baru sah menjadi Kaisar secara adat, bukan hukum dan politik. Tentu mereka tidak akan senang akan hal itu. Apalagi yang berani menantang mereka adalah boneka sepertimu."Bukan pertanyaan
Pada akhirnya, saat ini Vivienne berakhir di rumah singgah di pinggiran desa Drancy bersama dengan Sebastien. Dia datang ke tempat ini bukan dari keputusan yang tidak dipertimbangkan berulang kali. Bukan pula karena tiba-tiba berubah pikiran—menerima perjanjian yang tidak berdasar dan berat sebelah itu.Hanya saja, dia tidak ingin membuang tenaga untuk melawan sesuatu yang dia tahu pasti akan kalah. Jadi dia memilih mengalah sebelum memulai, mengikuti alur hari ini akan di bawa kemana—kesengsaraan atau kemalangan. Tapi sepertinya dia akan mendapat dua-duanya."Tien datang! Sebastien datang!"Baru saja melangkah melewati gerbang, seruan demi seruan mengudara menyambut mereka, bersama langkah-langkah kecil yang berhamburan dari taman bermain di samping bangunan utama.Vivienne menoleh, dan terkejut mengetahui Sebastien tahu-tahu sudah berjongkok dengan tangan merentang lebar, Seakan-akan siap menerima semua kehangatan yang datang dari wajah-wajah muda yang dipenuhi oleh kegembiraan. Lal
"Tidak, biar aku saja."Di bawah mentari yang menumpahkan kehangatannya pada lantai marmer, Sebastien berdiri di depan cermin di sudut kamar. Menyelipkan tangan ke dalam rompi hitam, dia menarik bagian depannya agar jatuh rapi mengikuti postur badannya."Sudahlah, Sebastien. Saat ini sebaiknya kamu fokus pada istrimu yang melarikan diri itu, biar aku dan Barnie yang mewakilimu datang ke Drancy."Sejenak membiarkan dentang jam dinding menguasai ruangan, Sebastien mengambil cravat putih dari baki yang di bawa Claude, lalu melilitkannya di leher."Rakyat tidak peduli apakah istriku meninggalkanku demi pria lain atau tidak." Nadanya tegas dan berat. "Mereka hanya tahu bahwa mereka membutuhkan pemimpinnya untuk bertahan hidup di kondisi seperti ini."Untuk beberapa saat, Claude hanya menatap Sebastien yang tengah memasang bros bermata biru di perpotongan lehernya, untuk melihat apakah serasi dengan warna pakaiannya.Kemudian, matanya menyipit. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Pria di had
Di sela cahaya lampu jalan yang berkedip pelan, menorehkan bayang-bayang patah di wajahnya. Sorot mata Vivienne mengeras, dan tangannya meremas ujung lengan bajunya sendiri hingga kusut.Di balik lengkungan samar di bibir Natan yang tidak ramah sama sekali, dia sadar bahwa pria itu telah menyiapkan sebuah permainan jauh sebelum pertemuan ini terjadi."Bagaimana? Perlu aku beritahu kekasihmu?"Rahang Vivienne mengeras, mendengar suara Natan menggema di dalam benaknya."Aku yakin dia akan sangat bahagia, mengetahui bahwa dia akan menjadi seorang ayah..."Vivienne menahan napas, melihat pria itu memiringkan kepalanya dengan senyum meremehkan yang tampak semakin menyebalkan.Sesaat, hening menggantung di antara mereka. Sampai Natan membuka mulut, memanggil teman lamanya."Benjamin—""Apa kamu sudah makan? Sepertinya aku lapar lagi," potong Vivienne, melingkarkan tangannya di lengan Benjamin.Pernyataan itu lahir bukan dari rasa takut rahasianya akan terbongkar, tetapi dari keraguan akan d
Satu jawaban sederhana, namun cukup untuk membuat cahaya yang telah lama mati di dalam diri Benjamin, perlahan kembali menemukan napasnya.Dia membungkukkan badan, sejalan mengulurkan tangan. Tidak ada tuntutan yang berarti, hanya sebuah isyarat sederhana—telapak tangan terbuka, mengunggu untuk diterima.Tanpa sepatah kata, Vivienne menyambut uluran tangan Benjamin. Jari-jemari mereka bertaut bila Benjamin dengan lembut menggiringnya memasuki lantai dansa yang telah di isi oleh beberapa pasangan."Keanggunan Anda sungguh lancang, berani mencuri seluruh perhatian saya tanpa menyisakan sedikit pun bagi yang lain," ucap Benjamin, menggenggam tangan yang jauh lebih kecil—mengangkatnya setinggi bahu—lalu meletakkan tangannya yang lain di punggung wanita itu.Senyum yang menghangatkan pipi lahir mewarnai wajah Vivienne sebelum dia sempat menahannya. Dia membuka mulut, berniat melepaskan ribuan kata yang berputar di benaknya, namun pada akhirnya tidak satu pun terasa cukup pantas untuk diuca
Berjalan melewati lorong panjang, menuju halaman belakang kastil Versailles. Benjamin duduk di salah satu bangku taman, di tepi kanal salib.Menyandarkan tubuh dengan kepala menengadah, memandang hamparan awan putih yang mencurahkan butir-butir salju bak melati surgawi. Bila lembut angin berbisik menyapa raganya, tidak cukup meredakan bara yang menggelegak di dalam dada. Dia menghembuskan napas panjang dan memejamkan mata, berusaha menelan segala murka.Di tengah gemeretak dahan yang tak sanggup menahan berat musim dingin, serta teriakan ganas dari burung gagak biru, dia mendengar derap langkah sepatu perlahan mendekat ke arahnya.Kelopak matanya terangkat enggan. Dia memiringkan kepala, dan badai yang tadi perlahan menggerogoti kesadarannya, seketika lenyap begitu mendapati Vivienne sudah berdiri di samping bangkunya."Maaf... A-apakah Anda baik-baik saja?" tanya gadis itu.Benjamin tersenyum. "Saya baik-baik saja." Jemarinya menyisir tumpukan salju pada ruang kosong di sampingnya. "







