Home / Fantasi / Ayah, Jangan Bunuh Aku! / Chapter 217 - Pingsan

Share

Chapter 217 - Pingsan

Author: Nyx
last update publish date: 2026-08-28 23:20:38

Sementara di sisi lain, Mei Qian terlihat mencari-cari Xie Guang sampai akhirnya dia menemukan Xie Guang yang sedang duduk di batu halaman belakang.

“Tuan muda Xie, hamba ini datang membawa pesan dari Tuan Putri,” sapa Mei Qian dengan datar.

Meski Tuan Putrinya tidak mengatakan apapun, namun sudah jelas bahwa Tuan Putrinya pasti mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan selama tinggal di Kediaman Xie.

Xie Guang tidak membalas hanya menatap Mei Qian dan menunggu perkataan Mei Qian.

“Tuan Putri me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 217 - Pingsan

    Sementara di sisi lain, Mei Qian terlihat mencari-cari Xie Guang sampai akhirnya dia menemukan Xie Guang yang sedang duduk di batu halaman belakang.“Tuan muda Xie, hamba ini datang membawa pesan dari Tuan Putri,” sapa Mei Qian dengan datar.Meski Tuan Putrinya tidak mengatakan apapun, namun sudah jelas bahwa Tuan Putrinya pasti mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan selama tinggal di Kediaman Xie.Xie Guang tidak membalas hanya menatap Mei Qian dan menunggu perkataan Mei Qian.“Tuan Putri mengatakan bahwa dia akan menunggu laporan hasil penyelidikan pembunuh bayaran yang menyerangnya. Tuan muda Xie dapat menyerahkan hasil penyelidikannya kepada biro resmi Kekaisaran,” ucap Mei Qian.“Lalu… Tuan Putri juga ingin meminta maaf karena telah mengganggumu, jadi Tuan Putri kembali terlebih dahulu,”lanjut Mei Qian.Wajah Xie Guang berubah menjadi agak terkejut ketika mendengarkan perkataan Mei Qian.“Tuan Putri sudah kembali? Bukankah Tuan Putri berjanji akan menikmati makan bersama dengan

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 216 - Benci

    Lalu pandangannya beralih ke pohon tempat ayunan ini menggantung dan secara tidak sengaja membaca satu kata kata yang agak memukul hatinya.Yaitu, kata kata pudar berbentuk ‘zhizhi', tidak sulit untuk menebak siapa pemilik nama ini.Mengingat bahwa tidak ada satupun orang di Kediaman Xie ini yang memiliki nama Zhi di dalam nama mereka maka ini hanya bisa merupakan nama Zhu Yuezhi.Tidak heran, Xie Guang dengannya adalah teman masa kecil yang tumbuh bersama. Mengukir nama di pohon yang mereka tanam bersama, bagaimana rasanya ? Ning Xueqin tidak dapat mengatakan apapun, dia turun dari ayunannya dan tiba-tiba merasa tidak bersemangat lagi.Dia tidak tahu apa yang salah dengan dirinya, namun melihat hubungan Xie Guang dengan Zhu Yuezhi ini membuatnya merasa tidak nyaman.Ayunan ini juga bukannya ayunan bagus yang tiada harganya, Ayahnya baru saja membuatkannya sebuah ayunan yang sangat indah.Jika dia menginginkannya maka biarkan dia bermain saat pulang nanti, Ning Xueqin melangkah pergi

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 215 - Gaun Baru

    Ning Xueqin menoleh ke belakang dan menatap dengan rumit ke arah pemuda di belakangnya ini, tidak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh pemuda ini.‘Jika begini, bukankah orang tuanya akan salah paham? Apa sih maunya orang ini?'pikir Ning Xueqin dengan kesal.Namun karena citranya sebagai seorang Tuan Putri yang lembut dan anggun, dia mempertahankan ekspresinya dan bertindak biasa saja.“Tuan Putri terluka menyelamatkan kamu? Dasar tidak berguna!”bentak Xie Zhong dengan marah kepada putranya.Xie Guang langsung berlutut dan menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani membalas bentakan Ayahnya.“ Hambamu meminta maaf kepada Tuan Putri atas kelalaian ini, bukan hanya tidak melindungi Tuan Putri namun justru membutuhkan Tuan Putri untuk melindungiku,”ucap Xie Guang dengan sungguh-sungguh.“Tidak apa-apa, bangunlah. Setiap orang bisa melakukan kesalahan, Tuan Xie kamu maafkanlah Tuan muda Xie. Anggap memberi wajah padaku ya?” tanya Ning Xueqin dengan ramah dan membantu Xie Guang un

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chaptee 214 - Salah Paham

    “Tuan muda Xie sekarang sudah kembali ke setelan awal, sayang sekali bahwa aku kemarin terlalu lemah untuk menikmati wajah kecemasanmu,”goda Ning Xueqin.Xie Guang hanya diam saja dan tidak membalas, hanya menatapnya dengan tatapan yang dalam dan rumit.“Kenapa menatapku seperti itu, Tuan muda Xie? Apakah kamu melihat sesuatu yang tidak pantas?” canda Ning Xueqin sekali lagi.Ning Xueqin tidak takut Xie Guang melihat sesuatu yang tidak pantas darinya, hanya berpikir bahwa Xie Guang tidak akan berani melakukannya.Xie Guang adalah seorang pemuda yang sangat teguh pada pendiriannya dan aturan kesopanan, sehingga memiliki wajah yang sangat tipis.Sedikit godaan dan candaan sudah berhasil membuatnya merasa malu, baru Ning Xueqin sadari bahwa meski Xie Guang memasang wajah yang tidak tersentuh dan dingin.Tetapi telinganya tidak dapat berbohong, telinganya yang putih pucat itu berubah menjadi kemerahan ketika merasa malu.“Tuan Muda Xie, telingamu memerah!”seru Ning Xueqin.Xie Guang denga

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 213 - Pingsan

    “Aku akan memanggil tabib,” ucap Xie Guang setelah tiba di dalam kamarnya namun Ning Xueqin dengan susah payah menahan tangannya dan menggelengkan kepalanya.“Tidak boleh… ada orang luar yang tahu bahwa aku terluka!”seru Ning Xueqin dengan penuh penekanan.“Lalu bagaimana dengan luka ini?” tanya Xie Guang tampak kebingungan.Jika pada waktu santai maka Ning Xueqin pasti akan menertawakan Xie Guang yang cemas dan gelisah seperti ini.Sayang sekali bahwa kali ini dia bahkan tidak memiliki tenaga untuk melakukan itu, dia bahkan kesulitan untuk mengatakan sepatah kata yang utuh.Dengan tangan yang gemetar, dia meraba dadanya sendiri dan mengambil sesuatu sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah botol giok kecil.“Oleskan… ini!”perintah Ning Xueqin sambil terbatuk-batuk.Xie Guang tidak ragu-ragu lagi dan langsung membuka jubah luar Ning Xueqin dan menyisakan pakaian dalamnya yang lebih tipis.“Maafkan aku, Tuan Putri.”Xie Guang mengoleskan obat itu dengan hati-hati dan Ning Xueqin terlihat m

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 212 - Terluka Lagi

    Keduanya tampak canggung satu sama lain, namun keduanya sama saja dengan sifat keras kepala yang sama membuat keduanya memutuskan untuk bertahan di tengah situasi yang sunyi itu.Ning Xueqin perlahan-lahan merasa agak mengantuk, jadi dia memejamkan matanya dan mulai tertidur sementara Xie Guang diam-diam menonton penampilan Ning Xueqin yang lucu dan imut itu.Semuanya berjalan dengan tenang dan aman sampai akhirnya tengah malam berlalu dan Ning Xueqin tiba-tiba membuka matanya kemudian menyapu lengannya.Dia menegakkan punggungnya dan melihat sekitar dengan dahi yang berkerut, dia merasa agak takut dan tidak nyaman kala sebuah angin dingin menerpa lengannya.Tidak biasanya dia merasakan seperti ini, apalagi di dalam hembusan angin ini seperti ada hawa membunuh yang disamarkan.Namun sudah menunggu hingga beberapa waktu pun tidak ada pergerakan sedikitpun yang membuat Ning Xueqin mengendurkan kewaspadaannya.Mungkin dirinya terlalu waspada sehingga hal sepele ini pun mengganggunya, dia

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 62 - Mandul?

    Zhen Lingyu ini jelas sekali dengan sengaja mempermainkannya dengan menggantung kata katanya tapi anehnya, Ning Xueqin justru tidak merasa marah sedikitpun. “Namun? “ Tanya Ning Xueqin mendesak Zhen Lingyu. “Namun… jawabanmu benar. Yang Mulia juga telah mengetahui hal ini sejak awal, pernikahan k

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 45 - Gelisah

    Ning Xueqin lupa bahwa di tempat tinggalnya yang baru ini, hidup dan mati seorang budak sama sekali tidak berharga. Wei Luo juga tampaknya sudah tahu bahwa dirinya akan dihukum mati sejak awal sehingga tidak memberontak dan menurut saja saat dipukuli. Pada saat itu seluruh Aula Kekaisaran pun men

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 41 - Umpan

    “Lumayan.” Ucap Kaisar Ning pada akhirnya. Ning Xueqin menganggukkan kepalanya dan lumayan senang, lumayan berarti tidak buruk hal ini menandakan bahwa Kaisar Ning cukup senang dengan pemberiannya. Jadi Ning Xueqin pun menundukkan kepalanya dan ingin kembali ke tempat duduknya sebelum akhirnya Ka

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 39 - Kalah Taruhan

    Nada bicaranya dalam sekejap berubah, dari lembut dan lirih menjadi datar dan dingin seolah olah apa yang ingin dia cari sudah dia ketahui dan sisa pertunjukkannya tidak penting lagi baginya. Tapi itu tidak sepenuhnya salah karena sikap dan tindakan Kaisar Ning padanya tadi sudah menggambarkan ban

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status