Home / Fantasi / Ayah, Jangan Bunuh Aku! / Chapter 59 - Sadar

Share

Chapter 59 - Sadar

Author: Nyx
last update publish date: 2026-04-29 23:46:07

Ning Xueqin sangat ingin untuk membuka matanya dan memanggil pemuda itu lalu menatap wajah pemuda itu dengan jelas kali ini.

Untuk melihat sosok yang telah menyelamatkan nyawa nya dua kali dalam waktu satu tahun ini.

Bahkan dibandingkan dengan Ayah atau kakak laki lakinya, pria asing ini pun memperlakukannya sedikit lebih baik.

Ning Xueqin merasa sangat mengantuk jadi terlelap lagi ke dalam mimpi yang panjang, ketika dirinya terbangun pun sudah tidak ada siapapun di sampingnya.

Ning Xueqin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 124 - Surat Terakhir

    Dirinya agak terhenyak namun dengan cepat menyesuaikan diri dan berbalik untuk melihat Xu Chang yang memanggilnya kembali. “Ada apa, Ayah angkat? “ Tanya Ning Xueqin berjalan mendekat. “Tidak apa apa, Ayah angkat hanya ingin bilang bahwa malam hari ini dingin. Gunakan lebih banyak selimut dan tidurlah lebih awal, jangan sampai sakit. “ Jawab Xu Chang. Ning Xueqin menganggukkan kepalanya lalu berbalik lagi dan berjalan ke halamannya dengan langkah yang lebih cepat. Sesampainya di halamannya, Ning Xueqin langsung melangkah masuk dan menemukan bahwa ada tiga orang yang menunggunya di dalam. “Bagaimana? “ Tanya Ning Xueqin. “Kami sudah berhasil, Tuan Putri. Kita bisa segera bergerak. “ Jawab Mei Qian dengan yakin. Ning Xueqin akhirnya bisa melepaskan beban di punggungnya dan tersenyum ringan, dirinya mengambil tiga gulungan kertas yang ada di tangan Mei Qian. Itu adalah buku buku yang berisikan jumlah korupsi Xu Chang dari bantuan bencana Kekaisaran, lalu jumlah penyelundupan besi

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 123 - Pengalihan

    Ning Xueqin melirik sebuah meja kecil dengan dua tempat duduk yang telah disiapkan di atas benteng. “Silakan Tuan Putri, silakan Tuan Xu. “ Ucap salah satu prajurit. Ning Xueqin menganggukkan kepalanya dan memegang tangan Xu Chang lalu menuntunnya ke arah meja. Setelah membiarkan Xu Chang duduk dengan baik, barulah Ning Xueqin bisa duduk di sampingnya . Xu Chang diam diam memberikan isyarat kepada prajurit untuk meninggalkan mereka berdua. Ning Xueqin berpura pura tidak tahu dan menyesap teh hangat yang disiapkan oleh para prajurit. Ning Xueqin tersenyum kecil kala memandang ke depan, Xu Chang ikut tersenyum lebar dan berpikir bahwa Ning Xueqin bahagia dengan tempat pilihannya. Tanpa tahu bahwa sebenarnya yang ada di pikiran Ning Xueqin adalah tempat ini sangat indah. Merupakan tempat yang sangat ideal jika ingin menggantung kepala Xu Chang dari atas sini dan membiarkan setiap warga Jianyue yang lewat sini melihat kepala Xu Chang yang tergantung. Ning Xueqin cukup yakin bahwa

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 122 - Benteng Jianyue

    Tentu saja sebenarnya tidak ada masalah semacam ini, namun Ning Xueqin perlu membuat Xu Chang semakin percaya padanya. Semakin Xu Chang percaya maka akan semakin baik, lagipula tidak ada janji fisik yang terlihat. Ning Xueqin tidak akan membuat kesalahan, namun Xu Chang yang telah dibutakan oleh ambisi dan keserakahan tidak menyadari keanehan ini. Selama ini keluarga Xu hanya bisa mendominasi di Kabupaten Jianyue yang terpencil dan jauh dari Ibukota. Paling paling hanya menjadi pejabat kelas enam, namun… jika menjadi seorang wakil menteri maka Xu Chang akan melompat tinggi. Menjadi pejabat kelas empat, setiap hari bertemu dengan Kaisar di rapat pagi yang penuh dengan kemewahan dan ambisi. Bagaimana mungkin Xu Chang bisa tidak tergoda dengan tawaran sebaik ini? Bertemu dengan Kaisar setiap hari menandakan dirinya bisa mencari perhatian Kaisar setiap hari. Peluang dirinya mendapatkan promosi akan menjadi semakin besar, bahkan seorang pejabat kelas enam yang tinggal di Ibukota de

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 121 - Tawaran Posisi

    “Oh, tentu. Apapun yang diinginkan oleh Xueqin akan Ayah angkat kabulkan. “ Ucap Xu Chang dengan perhatian. Ning Xueqin bergembira dan mendekati Xu Chang sementara itu dia melirik ke arah Nyonya Yu dengan senyum penuh makna. Mungkin bagi Nyonya Yu itu adalah senyum penuh provokasi, terlihat bahwa Nyonya Yu langsung menatap dengan tajam seolah olah ingin meremukkan seluruh tulang yang ada di tubuh Ning Xueqin. Namun Ning Xueqin sama sekali tidak marah. Dirinya justru bahagia dengan sikap posesif milik Nyonya Yu. Baginya semakin posesif maka semakin baik, karena Nyonya Yu mungkin akan membantu rencananya di masa depan. Ning Xueqin telah membaca bahwa Nyonya Yu ini berasal dari Keluarga Yu di Ibukota yang merupakan keluarga bangsawan terkini dengan total satu keluarga utama dan sembilan keluarga cabang. Keluarga Yu ini dikepalai oleh Yu Ming yang merupakan Menteri Keuangan, sementara Nyonya Yu ini adalah sepupu Yu Ming. Namun status Nyonya Yu ini tidak terlalu tinggi di keluarga g

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 120 - Jalan Jalan

    Zilan tampak berusaha mengingat ngingat tambang apa yang sebenarnya ada di Kabupaten Jianyue. “Tambang biji besi. “ Ucap Zilan dengan yakin setelah berpikir sejenak . “Kamu yakin? “ Tanya Ning Xueqin dengan wajah menggelap. Dirinya berpikir bahwa yang ada di sini mungkin tambang emas atau tambang perak, ini akan berkaitan dengan kas negara. Pasti dalam waktu dekat akan bermunculan perak dan emas palsu yang akan mengacaukan keuangan Kekaisaran Ning. Namun tidak disangka sangka itu adalah tambang besi, besi identik dengan senjata. Senjata umumnya digunakan untuk pemberontakan. Sikap Xu Chang ini juga tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi sebuah pemberontakan besar. Xu Chang ini jelas bukan orang yang setia apalagi orang yang berintegritas, jadi tidak mengherankan jika dirinya memiliki niat untuk membelot. Namun Ning Xueqin penasaran, siapa sebenarnya dalang sebenarnya? Pasokan biji besi itu akan dikirim ke Ibukota dan diolah di Ibukota jika berdasarkan ucapan Gong Yu. It

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 119 - Tambang

    Zilan tampak menghela napas kasar karena sepertinya mengingat bagian yang menyakitkan dalam hidupnya. “Kemudian, Tuan merasa bahwa aku sangat cantik dan ingin membawaku sebagai selir. Aku menolak namun apa dayaku? Aku hanya seorang pelayan rendahan. ““Namun… Nyonya rumah melihatku sekali dan sangat membenciku , mengatakan bahwa aku terlalu cantik dan membawa bencana. ““Jadi, Tuan dan Nyonya terus menerus bertengkar masalah ini sehingga aku pun ditunda untuk dikirimkan ke halaman mana pun. ““Ketiga Tuan muda melihat bahwa aku sedang diincar oleh Tuan sehingga tidak berani memperebutkan ku secara terang terangan. ““Namun di tengah gelapnya malam akan selalu ada percobaan mereka untuk melecehkan ku. ““Aku sangat takut… keempat temanku telah mati, mereka semua tidak berhasil mempertahankan kasih sayang para majikan.”“Mereka pun akan mati, dibunuh atau mati karena kelelahan di ranjang. Sangat menyedihkan dan tulang mereka pun hanya dikubur ke halaman belakang tanpa nama. ““Dunia l

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 7 - Papan Target

    Ning Xueqin pun memanggil Meiqian untuk membawakannya kertas dan alat tulis lalu menatap barang barang itu dengan agak terperangah. Ning Xueqin bahkan agak merasa terpukul ketika melihat barang barang ini, sebenarnya dia sudah menyiapkan dirinya sendiri bahwa benda benda aneh ini memang akan menem

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 19 - Setitik Kelembutan

    Ning Xueqin agak tertegun ketika mendengarkan keputusan besar ini karena Ning Xueqin sedikit tahu tentang posisi pangkat Selir. Dari budak penghangat ranjang, menjadi Selir lalu menjadi Selir Mulia dan terakhir adalah Selir Agung. Selir Su sendiri adalah pemimpin para Selir lain karena tidak memi

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 6 - Pelayan

    “Apakah kamu ingin pergi sendiri atau ingin aku menambah waktu kurungannya? “Tanya Kaisar Ning. Ning Xueqin berpikir sejenak dan tentu saja tidak ingin hukuman ditambah, tidak apa apa jika satu tahun dibandingkan lebih lama lagi. Jadi Ning Xueqin berlutut dan bersujud di belakang Kaisar Ning deng

  • Ayah, Jangan Bunuh Aku!    Chapter 17 - Istana Selir Su

    “Apakah Tuan Putri yakin dengan rencana ini? “Tanya Mei Qian dengan ragu ragu dan jelas ada ketakutan di wajahnya. “Bagaimana jika-” Ucapan Mei Qian terpotong oleh Ning Xueqin yang menggelengkan kepalanya. “Berhasil atau tidak tergantung kerja sama kita berdua. Kamu harus berusaha sekuat tenaga,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status