Home / Romansa / BATARI / Asisten Pribadi

Share

Asisten Pribadi

last update publish date: 2026-02-28 23:51:00

Rumah besar itu adalah paradoks yang menyakitkan.

Secara hukum, sebagian fondasinya kini milik Batari Amara Wijaya. Namanya tercetak rapi dalam berkas-berkas, lengkap dengan angka yang membuat Victoria Wijaya ingin mematahkan giginya sendiri. Namun secara atmosfer, Batari tetap menjadi tawanan. Dinding-dinding itu tidak mengakuinya. Lantai marmer itu tidak menyambutnya. Setiap lorong seolah memerintah: ingat tempatmu.

Victoria sering menatap punggung Batari dengan tatapan yang bisa membunuh, tapi tangannya terikat—bukan oleh rasa takut, melainkan oleh hukum. Di balik setiap sudut bayangan, ada pengacara keluarga, tangan kanan Robert, yang tidak pernah benar-benar pergi. Pria itu seperti jam yang berdetak pelan: memantau aset, memantau keselamatan Batari, memantau siapa pun yang terlalu dekat—sesuai wasiat terakhir sang konglomerat.

“Satu goresan di kulitnya,” Victoria membatin setiap kali Batari melewati ruang tengah, “dan kalian kehilangan seluruh akses ke deposito utama.”

Kehadiran pengacara itu adalah algojo yang menunda hukuman mati. Bukan karena ia belas kasihan—melainkan karena hukuman itu harus tepat waktu, tepat cara, dan tidak merusak warisan.

Namun, di University of Astoria International, hukum rumah tidak berlaku.

Di sana, Seline adalah penguasa.

Batari melangkah keluar dari sedan hitam, bahunya tegak, wajahnya tenang seperti seseorang yang sudah belajar menelan rasa takut tanpa meninggalkan jejak. Angin kampus menerpa rambut cokelat gelapnya yang panjang, menyapu helai-helainya ke belakang seperti tirai yang dibuka perlahan—cukup untuk membuat beberapa pasang mata berhenti pada detik yang tidak sopan.

Di belakangnya, Freya turun menyusul. Langkahnya anggun, tapi ada sesuatu yang terlalu siap di cara ia memindai sekitar—seperti orang yang terbiasa menghitung jarak, titik buta, dan kemungkinan bahaya. Freya bukan sekadar asisten. Mata biru cerahnya tajam, geraknya efisien, dan diamnya terasa seperti peringatan.

Batari mendapatkan hak yang sama seperti Seline: kartu kredit tanpa batas, kartu debit tiga digit dan seorang asisten pribadi untuk memastikan ia tidak jatuh… atau dijatuhkan. Hadiah yang manis, dengan rasa logam di ujung lidah.

“Seline ada di jam sepuluh, dekat air mancur,” bisik Freya, suaranya nyaris tak bergerak di bibir. “Dia membawa kroninya.” Freya menatap lurus ke depan. “Abaikan. Atau hancurkan dengan keheninganmu.”

Batari mengangguk tipis.

Keheningan adalah senjata. Ia tahu itu. Victoria mengajarinya dengan cara paling kejam: dengan membuat Batari hidup di rumah yang penuh kata-kata tajam, sampai Batari belajar bahwa diam bisa lebih menyakitkan daripada teriakan.

Ia melangkah melewati halaman kampus.

Di kerumunan itu, ia merasakan banyak tatapan. Ada yang kagum. Ada yang lapar. Ada yang ingin tahu. Tapi di antara semuanya, ada satu yang tidak seperti yang lain.

Di balkon lantai dua gedung rektorat, seorang pria berdiri tanpa tergesa.

Setelan gelap tanpa dasi. Rambutnya rapi, tapi bukan rapi untuk menyenangkan orang. Rapi seperti seseorang yang selalu memegang kendali. Ia bertumpu pada pagar balkon, jemarinya mengetuk pelan dengan ritme yang membuat bulu kuduk merinding—bukan karena bunyinya, melainkan karena kesabarannya.

Matanya yang dingin mengunci Batari dengan intensitas yang tidak wajar. Itu bukan tatapan kagum. Itu penilaian. Perhitungan. Obsesi yang disiplin.

Ia mengamati cara Batari menanggapi ejekan Seline: diam yang elegan, punggung yang tak menunduk, langkah yang tidak mempercepat meski udara di sekitarnya jelas mengandung permusuhan.

“Begitu rapuh di luar,” gumam pria itu, suaranya tenggelam dalam jarak, “begitu beracun di dalam.”

Ia tersenyum tipis—hampir tidak ada. Tapi cukup untuk terasa salah.

“Aku ingin melihatnya hancur…” Jemarinya berhenti mengetuk. “Sebelum aku membangunnya kembali sesuai keinginanku.”

Malam harinya, Batari terduduk di meja belajar. Lampu meja menyala kuning, menciptakan lingkaran kecil kehangatan yang terasa asing di kamar sempit sayap barat. Ia menatap lembar pengumuman nilai yang baru saja masuk.

Peringkat pertama.

Namanya berada di atas nama Seline yang selama ini bertakhta.

Kemenangan itu seharusnya manis, tapi yang Batari rasakan hanyalah sensasi dingin—seperti menerima amplop undangan tanpa tahu isinya adalah pesta… atau pemakaman.

Freya masuk membawa secangkir teh chamomile. Ia meletakkan nampan, lalu berlutut di samping kursi Batari, memegang tangan gadis itu dengan hati-hati, seolah Batari terbuat dari kaca yang tidak boleh retak…

“Batari,” kata Freya lembut, “kau sudah bekerja keras.” Ia menahan napas sepersekian detik. “Seline sedang meradang. Aku mendengar dia dan Adrian merencanakan sesuatu di pub tadi sore. Mereka pikir aku hanya asisten yang tuli.”

Batari menatap Freya. Di mata lelahnya, ada rasa syukur yang tidak pernah ia izinkan muncul di hadapan keluarga Wijaya.

“Aku tidak bisa berhenti sekarang,” ucap Batari pelan. “Mereka selalu mengintai, menunggu aku salah langkah.”

Freya tersenyum. Namun kali ini senyumnya memiliki sisi tajam—seperti bilah tipis yang baru keluar dari sarung.

“Biarkan mereka merencana.” Freya memegang tangan Batari sedikit lebih erat, hangatnya nyata.“Kau tidak sendirian. Aku tangan kananmu. Pedangmu. Dan perisaimu.”

Batari menghela napas pelan. Di rumah yang penuh intrik, Freya adalah satu-satunya hal yang terasa tidak membohonginya.

Di sudut lain Jakarta, sebuah pub eksklusif bernapas temaram. Musik rendah, lampu redup, dan denting gelas kristal beradu seperti nada kecil dari rencana yang kotor.

Adrian menyesap wiskinya dengan kasar. Matanya merah, senyumnya miring, seolah hidup adalah sesuatu yang ia benci tapi tidak bisa ia lepaskan. Di seberangnya, Seline duduk dengan wajah memerah oleh amarah yang cantik dan mematikan.

“Dia melampaui nilaiku, Adrian!” Seline memukul meja, kecil tapi penuh tenaga. “Semua dosen membicarakannya. Bahkan anak-anak klub mulai mengabaikanku—mereka mendekatinya!” Napasnya cepat, seperti api yang butuh bahan bakar. “Aku ingin dia hilang. Bukan hanya dari kampus. Dari dunia.”

Adrian tertawa pelan, lalu meludah ke samping seolah menyebut nama Batari membuat lidahnya kotor.

“Ayah mungkin melindungi jalang itu dengan pengacara lamanya,” katanya. “Tapi pengacara itu tidak bisa melindunginya dari skandal.”

Ia mencondongkan tubuh, suara menurun, menjadi rahasia yang menyenangkan.

“Di pesta ulang tahunmu nanti, aku akan memastikan dia tidak punya muka lagi untuk menginjakkan kaki di Astoria.”

Seline menyipitkan mata. “Aku mau lebih dari itu.”

Adrian mengangkat alis, lalu tersenyum—senyum yang tidak hangat, tapi terlalu yakin.

“Hati-hati, adikku sayang.” Suaranya berat, nyaris lembut, dan karena itu justru semakin menjijikkan. “Menghancurkan berlian seperti dia tidak bisa dengan pukulan kasar.” Ia mengetuk gelasnya pelan. “Kita buat dia cacat… lewat reputasi. Kita buat dia merangkak kembali ke selokan asalnya.”

Seline memutar gelas kristalnya. Cahaya memantul di kuku merah darahnya.

“Bukan hanya reputasinya, Kak.” Seline tersenyum puas. “Aku ingin dia merasa sangat hina… sampai dia sendiri yang memohon untuk mati.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Nubnub
Ea eaa manusia ada jahatnya ke gini tuhan sodara aendiri loh
goodnovel comment avatar
Chill yoy
Idih seline stress
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • BATARI   Milikmu sangat nikmat, Batari...

    Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, membasahi kaca mobil Elio dan menciptakan suasana hening yang hanya diisi oleh suara wiper yang beradu ritmis. Bunyi itu terdengar seperti detak jantung yang sedang menghitung waktu menuju sebuah ledakan besar. Di kursi penumpang, Batari menyandarkan kepalanya yang terasa seberat timah pada kaca jendela yang dingin. Hatinya gersang, gundah gulana. Sisa-sisa kehancuran setelah mengetahui fakta tentang Robert Wijaya—sang arsitek yang tega merancang seluruh penderitaan ibunya, Isabel—masih berdenyut nyeri dan perih di balik dadanya.Elio memecah kesunyian dengan suara baritonnya yang tenang, mengalun berwibawa di antara gemuruh badai di luar. "Aku tahu kau sedang menenun sesuatu yang besar, Batari. Sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya dari sekadar pengambilalihan takhta Wijaya Group."Batari tetap bergeming. Tatapannya kosong menembus rintik air, sementara jemarinya yang lentik meremas kain gaun sutra midnight blue-nya hingga kusut masai.

  • BATARI   Tidak disini, badai kecilku

    Suara gesekan ban mobil Freya di atas aspal basah mengakhiri hari yang melelahkan setelah RUPSLB yang bersejarah itu. Kemenangan mutlak telah diraih, mahkota Wijaya Group telah diletakkan di kepala Batari Amara Wijaya. Namun, dunia bisnis tidak digerakkan oleh sekadar gertakan di ruang rapat. Hukum formal tidak mengenal intrik berdarah atau dendam yang membeku; ia hanya patuh pada tanda tangan hitam di atas putih di hadapan hukum negara.Sebelum Batari bisa benar-benar menginjakkan kakinya di Bali untuk menuntaskan perang terakhirnya, ia harus menyelesaikan urusan birokrasi yang memuakkan di Jakarta. Ia tidak bisa meninggalkan Theo dalam posisi yang rentan tanpa tameng hukum yang sah.Keesokan paginya, langit Jakarta kembali menangis tipis, menumpahkan rintik hujan yang membuat kaca-kaca gedung pencakar langit di kawasan Sudirman tampak buram dan berembun. Di dalam kantor notaris rekanan utama Wijaya Group—sebuah ruangan VIP yang steril, berpanel kayu ek mahal dengan aroma kopi hita

  • BATARI   RUPSLB

    "Kita harus jeda, Victor," bisik Batari, jemarinya mengusap rahang Victor yang keras, sebuah sentuhan yang terasa hangat namun mengirimkan sinyal penolakan yang dingin. "Aku harus fokus pada RUPSLB perusahaan Ayah. Terlalu banyak serigala yang mengincar kursi itu, dan aku tidak bisa terdistraksi."Mendengar kata 'jeda', rahang Victor kian mengeras. Amarah primitif bergejolak di dadanya—bukan karena ia tidak mendukung Batari, melainkan karena ia benci merasa dikesampingkan, bahkan oleh ambisi wanita itu sendiri. Dengan satu gerakan brutal, Victor menghantam setir mobil dengan tinjunya. BUGH Kulit di pergelangan tangannya robek, darah segar merembes, mengotori jok kulit mewah kendaraan tersebut.Batari hanya menatap noda merah itu tanpa berkedip. Di dalam kepalanya, Lenka terbangun, mendesis dengan tawa sarkas yang menusuk.“Lihatlah anjing pelacak ini, Batari. Dia begitu bersemangat menguasaimu, padahal dia lupa bahwa dialah serigala pertama yang merobek kulitmu di masa lalu. Bi

  • BATARI   Apakah kau puas, Victor?

    Di Kediaman Utama Wijaya, keheningan yang biasanya melambangkan kemewahan kini terasa mencekam, seperti udara yang membeku sebelum badai besar melanda. Di tengah aula luas berlantai marmer Italia yang dingin, Veronica Wijaya berdiri mematung. Tubuhnya yang biasanya tegak penuh wibawa kini gemetar hebat, seolah fondasi jiwanya baru saja diguncang gempa dahsyat. Di hadapannya, sebuah kotak kayu hitam tergeletak terbuka. Isinya sederhana, namun dampaknya lebih mematikan daripada peluru mana pun: sebuah jam tangan Patek Philippe milik Adrian. Jam itu, yang dulu melingkar di pergelangan tangan putranya sebagai simbol status dan kejayaan, kini hancur berkeping-keping. Kaca safirnya retak seribu, dan yang paling mengerikan, logam peraknya tertutup noda merah pekat yang sudah mengering—darah yang masih membawa aroma besi yang amis. Sepucuk surat kecil terjatuh di samping kotak itu, dengan tulisan tangan yang rapi namun dingin: “Pembayaran Tuntas." Suara napas Veronica terdengar pende

  • BATARI   Aahh Vic terlaluu dalam..

    Victor menatap Batari dari kejauhan, napasnya terasa berat seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis. Langkah kakinya yang berat namun ragu terdengar samar di atas karpet, beradu dengan suara hujan yang menghantam kaca jendela dengan ritme yang makin liar. Ia mendekat, perlahan sekali, hingga bayangannya yang besar menutupi tubuh Batari yang sedang bersandar pasrah di sofa. Tanpa sepatah kata pun, Victor menjatuhkan lututnya ke lantai. Suara gedebuk pelan itu terdengar begitu nyata, sebuah tanda runtuhnya harga diri sang algojo. Lidahnya terasa kelu, namun matanya tidak bisa beralih dari pemandangan di depannya. Victor mengulurkan tangannya yang gemetar, jari-jarinya yang kasar perlahan menyentuh punggung kaki Batari. Ia bisa merasakan kelembutan kulit itu di bawah jemarinya yang kasar—kontras yang membuatnya semakin haus. Victor mendekatkan wajahnya, membiarkan uap napasnya yang panas menyentuh kulit dingin Batari. Ia mulai menciumi punggung kaki itu, pelan dan basah, lalu

  • BATARI   kali ini mintalah dengan baik, Victor..

    Saat Theo pamit, Elio tidak langsung ikut melangkah keluar. Ia mematung di sisi ranjang, membiarkan keheningan rumah sakit yang mencekam merayap di antara mereka. Matanya yang biasanya jernih dan berwibawa kini meredup, beralih dari wajah Isabel yang pucat menuju jemari kurus wanita itu yang seolah kehilangan sisa hidupnya.Ada denyut nyeri yang menghantam dada Elio—Di matanya, Isabel bukan sekadar pasien; wanita ini adalah kepingan teka-teki dari masa lalu Batari, wanita yang mulai ingin ia lindungi. "Batari..." suara Elio rendah, parau oleh emosi yang ia tekan sekuat tenaga di balik jas mahalnya. Ia berbalik, menatap Batari dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan wanita itu. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajahmu... kenapa matamu menyimpan begitu banyak luka yang tidak bicara?"Batari hanya diam, jemarinya meremas kain sprei ranjang ibunya. Namun, Elio melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma oud dan cendana yang hangat menyelimu

  • BATARI   Sensitif sekali, Batari

    "Berapa lama lagi kau mau aku jadi pengasuhmu, Adrian? Polisi sudah mondar-mandir di gerbang depan dua kali pagi ini!"Victor membanting gelas wiskinya ke meja marmer, suaranya bergema tajam di ruang tengah yang luas. Matanya yang lelah menatap Adrian yang sedang duduk di sofa kulit, mas

  • BATARI   Jeritan di Ruang Hampa

    "Lepaskan! Kau binatang, Adrian! Kau pikir uang keluargamu bisa membeli harga diriku?" "Diamlah, Sayang. Nikmati saja. Besok kau akan berterima kasih karena nilaimu mendadak sempurna," suara Adrian di video itu terdengar menjijikkan, disusul suara robekan kain yang kasar. “ AKHHHHHH.” Suara jerit

  • BATARI   Benih Cemburu

    Batari berdiri telanjang di depan cermin besar, menatap sisa-sisa trauma yang kini ia poles dengan kemewahan. Tiba-tiba, suhu ruangan anjlok. Sosok Lenka muncul di pantulan cermin, berdiri tepat di belakang Batari. Jemari hantu itu yang panjang dan pucat merayap turun dari bahu, menyusuri lengan Ba

  • BATARI   Tarian Iblis di Balik Pupil Mata

    Pesta pertunangan itu seharusnya menjadi mahkota bagi Seline dan Victor, tapi kehadiran Batari justru mengubah lobi Hotel Grand Astoria menjadi peti mati berlapis emas yang menyesakkan. Saat lilin-lilin mulai meredup dan bau alkohol sisa pesta mulai terasa memuakkan, Batari melangkah tenang menuju

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status