LOGIN
⚜️⚜️
Gerbang besi kediaman Wijaya mengerang saat terbuka—suara logam bergesekan, panjang dan serak, seperti napas sesuatu yang baru bangun dari tidur gelapnya. Dari luar, tempat ini tampak seperti istana: megah, rapi, tak tersentuh. Namun bagi Batari Amara Wijaya, ini bukan istana. Ini rahang. Dan ia baru saja melangkah ke antara gigi-giginya. Batari berdiri sejenak di ambang, menggenggam tali tas lusuhnya sampai kulit di sekitar buku jarinya menegang. Udara malam menempel di tengkuknya, dingin dan basah. Lampu-lampu taman memantulkan kilau pada batu-batu pijakan, membuat jalur masuk terlihat seperti karpet kehormatan—yang sebenarnya adalah jalur eksekusi. Rambut cokelat gelapnya yang panjang mengalir lembut hingga pinggang, kontras dengan wajahnya yang pucat namun memiliki keindahan yang "berbahaya"—kecantikan yang bisa memicu Obsesi. Di kepalanya, suara tawa ibunya, Isabel, yang kini hilang kewarasan di rumah sakit jiwa, terus berdenging. “Sepuluh detik untuk masuk,” sebuah suara memotong, dingin dan datar, seolah hitungan mundur. “Atau kau mati kedinginan di trotoar seperti jalang Filipina itu.” Batari menoleh. Di ambang pintu kayu jati hitam berdiri Victoria Wijaya. Sutra membalut tubuhnya sempurna, wangi parfum mahal mengalir seperti peringatan. Senyumnya tipis, jelas bukan sambutan. Batari menarik napas satu kali. Dalam. Lalu melangkah masuk. Begitu melewati pintu, udara rumah itu berubah—hangat, namun justru menyesakkan. Aroma kayu tua, bunga segar, dan sesuatu yang lebih samar: kekuasaan yang terlalu lama bertahan. Lantai marmer memantulkan bayangan Batari, membuatnya terlihat seperti tamu yang salah alamat. Ia bahkan belum sempat menurunkan tas ketika suara langkah kaki dari lantai dua turun dengan ritme malas yang memaksa semua orang menoleh. “Jadi ini ‘adik’ baruku?” Adrian Wijaya muncul. Kancing atas kemejanya terbuka, kerahnya sedikit miring seolah ia sengaja membiarkan dirinya terlihat setengah rusak. Wajahnya tampan, tapi tampan yang menyimpan sesuatu di bawah kulit—amarah, kebosanan, dan kebiasaan mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Mata merahnya menyapu Batari. Bukan sekadar menilai. Membidik. Batari merasakan itu seperti sentuhan—padahal jarak mereka masih beberapa langkah. “Robert benar-benar punya selera bagus untuk urusan simpanan,” ucap Adrian, dan sudut bibirnya naik sedikit. Ia berjalan mendekat, santai, percaya diri, seperti predator yang tidak perlu berlari. “Kau cantik, Batari.” Nama itu meluncur dari bibirnya dengan terlalu mudah. Terlalu akrab. Seolah ia sudah memilikinya. “Sayangnya,” lanjutnya, suaranya menurun, menjadi sesuatu yang lebih gelap, “kecantikanmu di rumah ini cuma akan jadi kutukan.” Batari tak bergerak mundur. Namun tubuhnya mengencang, naluri mengingatkannya untuk tidak memberi ruang. Adrian berhenti tepat di depannya— Batari mencium campuran tembakau dan alkohol, panas napas yang tidak seharusnya dibagikan pada orang asing. “Adrian.” Suara Victoria memotong, tanpa emosi. “Jangan membuat masalah.” “Masalah?” Adrian tertawa pelan. “Aku cuma menyambut keluarga.” “Jauhkan tatapanmu,” sebuah suara lain menyela, manis tapi menyakitkan. “Dia terlihat menjijikkan dengan baju murah itu.” Seline muncul di belakang Adrian, gaun desainer memeluk tubuhnya seperti sebuah deklarasi. Ia menatap Batari dari ujung kaki ke ujung rambut, lalu tersenyum kecil—senyum seseorang yang selalu menang dan selalu bosan. Di rumah ini, Batari langsung tahu: Seline bukan sekadar anak manja. Seline adalah pusat. Matahari. Dan semua orang akan terbakar jika ia meminta. “Ma,” Seline merengek pada Victoria, tapi matanya tetap menempel pada Batari. “Aku tidak mau dia ada di sini. Wajahnya merusak pemandangan. Dan rambut itu…” bibirnya mengerucut, seperti sedang memilih alat. “Aku ingin memotongnya.” Victoria menatap Batari seperti menatap benda yang baru tiba dari paket. “Dia di sini karena wasiat bodoh ayahmu,” ucap Victoria. “Dia punya saham dan properti yang kita butuhkan.” Lalu, lebih dingin lagi: “Kamar pelayan, sayap barat. Dia tidak menyentuh apa pun di rumah utama tanpa izin.” Kata-kata itu merayap di kulit Batari seperti tali yang diikatkan perlahan. Seline melangkah mendekat. Kukunya merah darah. Jemarinya meraih dagu Batari, mengangkatnya dengan kasar—memaksa Batari menatap ke atas seperti seseorang yang harus tahu tempatnya. “Dengar, Gadis Filipina,” bisik Seline. “Di sini kau bukan siapa-siapa. Kau hanya pajangan.” Jemarinya menekan sedikit, menyakitkan. “Kalau kau berani mengadu…” Seline mendekatkan bibir ke telinga Batari, suara jadi licin, kejam, intim. “Aku pastikan rumah sakit jiwa ibumu berhenti menerima pembayaran.” Untuk sesaat, Batari merasa seluruh rumah berputar. Lalu ia menahan semuanya—takut, marah, rasa sakit—menjadi sesuatu yang lebih tajam. Ia menatap balik Seline, tidak dengan air mata, tidak dengan memohon. Dengan tenang. “Aku di sini hanya untuk kesembuhan ibuku,” kata Batari pelan. Suaranya lembut, tapi ada pisau di dalamnya. “Kalian boleh membenciku. Kalian boleh mempermalukanku. Tapi jangan pernah sentuh ibuku.” Seline terkekeh, seolah itu lucu. Adrian tertawa lebih keras. Suaranya mengisi aula seperti pukulan. Lalu ia bergerak—bukan mendekat dari depan, tapi miring sedikit, memotong ruang Batari, memaksa Batari mencium kehadirannya. Ia menunduk, bibirnya hampir menyentuh telinga Batari. “Aku tidak tertarik menyentuh ibumu, Sayang,” bisiknya. Kata Sayang itu seperti rantai: hangat di permukaan, mengikat di dalam. Adrian menghela napas pelan, seolah menikmati reaksi yang tidak Batari izinkan terlihat. “Aku lebih tertarik… menyentuhmu.. pelan pelan.. sampai kau memohin padaku untuk berhenti.” Batari menahan diri agar tidak menggigil. Jijik bercampur ancaman, tapi—yang lebih menakutkan—ada sesuatu yang lain. Sebuah kesadaran yang tidak ia minta: bahwa Adrian menikmati rasa takut. Dan bahwa ia akan terus menguji batas. Batari menoleh sedikit, cukup untuk menatap mata Adrian dari jarak nyaris tak pantas. “Coba saja,” ujarnya, lembut. “Dan kau akan tahu… aku bukan gadis yang bisa kau patahkan tanpa konsekuensi.” Untuk pertama kali, senyum Adrian tidak sepenuhnya meremehkan. Itu… tertarik. Seolah baru saja menemukan permainan. Rumah ini neraka, ya. Namun neraka selalu punya aturan tak tertulis: yang paling berbahaya bukan api. Melainkan sesuatu yang menunggu dalam gelap dan menganggapmu miliknya. Saat pelayan mengantar Batari menuju kamarnya—ruangan sempit di sudut sayap barat—Batari berhenti di depan cermin besar di lorong. Pantulan dirinya tampak seperti bunga yang mekar di atas tanah kuburan: cantik, pucat, dan keras kepala. “Ibu,” bisiknya pada bayangan sendiri. “Aku akan menjemputmu kembali.” Ia mengangkat dagunya sedikit, seperti memasang mahkota yang tak terlihat. “Meskipun aku harus merangkak keluar dari neraka ini… dengan tangan berdarah.”Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, membasahi kaca mobil Elio dan menciptakan suasana hening yang hanya diisi oleh suara wiper yang beradu ritmis. Bunyi itu terdengar seperti detak jantung yang sedang menghitung waktu menuju sebuah ledakan besar. Di kursi penumpang, Batari menyandarkan kepalanya yang terasa seberat timah pada kaca jendela yang dingin. Hatinya gersang, gundah gulana. Sisa-sisa kehancuran setelah mengetahui fakta tentang Robert Wijaya—sang arsitek yang tega merancang seluruh penderitaan ibunya, Isabel—masih berdenyut nyeri dan perih di balik dadanya.Elio memecah kesunyian dengan suara baritonnya yang tenang, mengalun berwibawa di antara gemuruh badai di luar. "Aku tahu kau sedang menenun sesuatu yang besar, Batari. Sesuatu yang jauh lebih gelap dan berbahaya dari sekadar pengambilalihan takhta Wijaya Group."Batari tetap bergeming. Tatapannya kosong menembus rintik air, sementara jemarinya yang lentik meremas kain gaun sutra midnight blue-nya hingga kusut masai.
Suara gesekan ban mobil Freya di atas aspal basah mengakhiri hari yang melelahkan setelah RUPSLB yang bersejarah itu. Kemenangan mutlak telah diraih, mahkota Wijaya Group telah diletakkan di kepala Batari Amara Wijaya. Namun, dunia bisnis tidak digerakkan oleh sekadar gertakan di ruang rapat. Hukum formal tidak mengenal intrik berdarah atau dendam yang membeku; ia hanya patuh pada tanda tangan hitam di atas putih di hadapan hukum negara.Sebelum Batari bisa benar-benar menginjakkan kakinya di Bali untuk menuntaskan perang terakhirnya, ia harus menyelesaikan urusan birokrasi yang memuakkan di Jakarta. Ia tidak bisa meninggalkan Theo dalam posisi yang rentan tanpa tameng hukum yang sah.Keesokan paginya, langit Jakarta kembali menangis tipis, menumpahkan rintik hujan yang membuat kaca-kaca gedung pencakar langit di kawasan Sudirman tampak buram dan berembun. Di dalam kantor notaris rekanan utama Wijaya Group—sebuah ruangan VIP yang steril, berpanel kayu ek mahal dengan aroma kopi hita
"Kita harus jeda, Victor," bisik Batari, jemarinya mengusap rahang Victor yang keras, sebuah sentuhan yang terasa hangat namun mengirimkan sinyal penolakan yang dingin. "Aku harus fokus pada RUPSLB perusahaan Ayah. Terlalu banyak serigala yang mengincar kursi itu, dan aku tidak bisa terdistraksi."Mendengar kata 'jeda', rahang Victor kian mengeras. Amarah primitif bergejolak di dadanya—bukan karena ia tidak mendukung Batari, melainkan karena ia benci merasa dikesampingkan, bahkan oleh ambisi wanita itu sendiri. Dengan satu gerakan brutal, Victor menghantam setir mobil dengan tinjunya. BUGH Kulit di pergelangan tangannya robek, darah segar merembes, mengotori jok kulit mewah kendaraan tersebut.Batari hanya menatap noda merah itu tanpa berkedip. Di dalam kepalanya, Lenka terbangun, mendesis dengan tawa sarkas yang menusuk.“Lihatlah anjing pelacak ini, Batari. Dia begitu bersemangat menguasaimu, padahal dia lupa bahwa dialah serigala pertama yang merobek kulitmu di masa lalu. Bi
Di Kediaman Utama Wijaya, keheningan yang biasanya melambangkan kemewahan kini terasa mencekam, seperti udara yang membeku sebelum badai besar melanda. Di tengah aula luas berlantai marmer Italia yang dingin, Veronica Wijaya berdiri mematung. Tubuhnya yang biasanya tegak penuh wibawa kini gemetar hebat, seolah fondasi jiwanya baru saja diguncang gempa dahsyat. Di hadapannya, sebuah kotak kayu hitam tergeletak terbuka. Isinya sederhana, namun dampaknya lebih mematikan daripada peluru mana pun: sebuah jam tangan Patek Philippe milik Adrian. Jam itu, yang dulu melingkar di pergelangan tangan putranya sebagai simbol status dan kejayaan, kini hancur berkeping-keping. Kaca safirnya retak seribu, dan yang paling mengerikan, logam peraknya tertutup noda merah pekat yang sudah mengering—darah yang masih membawa aroma besi yang amis. Sepucuk surat kecil terjatuh di samping kotak itu, dengan tulisan tangan yang rapi namun dingin: “Pembayaran Tuntas." Suara napas Veronica terdengar pende
Victor menatap Batari dari kejauhan, napasnya terasa berat seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis. Langkah kakinya yang berat namun ragu terdengar samar di atas karpet, beradu dengan suara hujan yang menghantam kaca jendela dengan ritme yang makin liar. Ia mendekat, perlahan sekali, hingga bayangannya yang besar menutupi tubuh Batari yang sedang bersandar pasrah di sofa. Tanpa sepatah kata pun, Victor menjatuhkan lututnya ke lantai. Suara gedebuk pelan itu terdengar begitu nyata, sebuah tanda runtuhnya harga diri sang algojo. Lidahnya terasa kelu, namun matanya tidak bisa beralih dari pemandangan di depannya. Victor mengulurkan tangannya yang gemetar, jari-jarinya yang kasar perlahan menyentuh punggung kaki Batari. Ia bisa merasakan kelembutan kulit itu di bawah jemarinya yang kasar—kontras yang membuatnya semakin haus. Victor mendekatkan wajahnya, membiarkan uap napasnya yang panas menyentuh kulit dingin Batari. Ia mulai menciumi punggung kaki itu, pelan dan basah, lalu
Saat Theo pamit, Elio tidak langsung ikut melangkah keluar. Ia mematung di sisi ranjang, membiarkan keheningan rumah sakit yang mencekam merayap di antara mereka. Matanya yang biasanya jernih dan berwibawa kini meredup, beralih dari wajah Isabel yang pucat menuju jemari kurus wanita itu yang seolah kehilangan sisa hidupnya.Ada denyut nyeri yang menghantam dada Elio—Di matanya, Isabel bukan sekadar pasien; wanita ini adalah kepingan teka-teki dari masa lalu Batari, wanita yang mulai ingin ia lindungi. "Batari..." suara Elio rendah, parau oleh emosi yang ia tekan sekuat tenaga di balik jas mahalnya. Ia berbalik, menatap Batari dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan wanita itu. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajahmu... kenapa matamu menyimpan begitu banyak luka yang tidak bicara?"Batari hanya diam, jemarinya meremas kain sprei ranjang ibunya. Namun, Elio melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma oud dan cendana yang hangat menyelimu
Lobi Hotel Grand Astoria malam ini adalah altar kemewahan yang memuakkan. Kristal-kristal gantung memantulkan cahaya keemasan yang menyilaukan, menyambut para elit Jakarta yang hadir untuk merayakan pertunangan Seline Wijaya dan Victor. Sebuah persatuan yang dipercepat oleh "kecelakaan" kecil di rah
Rumah lama peninggalan keluarga Lenka berdiri sunyi, seperti bangunan yang sengaja dilupakan. Arsitektur kolonialnya masih angkuh, tapi angkuh yang rapuh: cat mengelupas, kayu kusam, dan bau lembap yang tidak hilang meski pintu sudah dibuka lebar. Udara di dalamnya terasa berat, seperti ada kain bas
Freya memapah Batari yang nyaris kehilangan seluruh tenaganya, setelah dipaksa melayani 3 predator dari neraka. Napas mereka memburu, menciptakan uap putih yang langsung ditelan pekatnya kabut. Langkah kaki Freya terasa berat, sepatu boot-nya menginjak ranting kering dengan bunyi krak yang memiluka
Klik Pintu terbuka, tiga bayangan masuk menenggelamkan tubuh Batari utuh. Batari hanya mampu memeluk lututnya sendiri— Lantai kamar terasa seperti bara api bagi kulitnya. Napasnya terengah, matanya nanar menatap 3 sosok didepannya. “ akkhh..” Rintihan tak sengaja keluar dari bibir batari, selu







