ログイン
⚜️⚜️
Gerbang besi kediaman Wijaya mengerang saat terbuka, suara logam yang beradu terdengar seperti jeritan peringatan. Bagi dunia luar, ini istana. Bagi Batari Amara Wijaya, ini adalah mulut raksasa yang siap mengunyahnya hidup-hidup. Batari berdiri di sana, menggenggam tali tas lusuhnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rambut cokelat gelapnya yang panjang mengalir lembut hingga pinggang, kontras dengan wajahnya yang pucat namun memiliki keindahan yang "berbahaya"—kecantikan yang bisa memicu perang. Di kepalanya, suara tawa ibunya, Isabel, yang kini hilang kewarasan di rumah sakit jiwa, terus berdenging. "Sepuluh detik untuk masuk, atau kau mati kedinginan di trotoar seperti jalang Filipina itu," sebuah suara dingin memotong lamunan Batari. Di ambang pintu kayu jati hitam, berdiri Victoria Wijaya. Istri sah ayahnya itu tampak sempurna dalam balutan sutra, namun matanya sebeku es utara. Batari melangkah masuk, dan seketika itu juga, atmosfer rumah itu mencekiknya. Belum sempat Batari menaruh tasnya, suara langkah kaki yang serampangan turun dari lantai dua. "Jadi ini 'adik' baruku?" Adrian Wijaya muncul dengan kemeja yang kancing atasnya terbuka. Wajahnya tampan namun tampak kusam karena alkohol dan amarah yang meledak-ledak. Matanya yang merah menelusuri lekuk tubuh Batari dengan cara yang menjijikkan—sebuah tatapan mata keranjang yang terang-terangan. "Robert benar-benar punya selera yang bagus untuk urusan simpanan," Adrian menyeringai, melangkah mendekat hingga Batari bisa mencium aroma tembakau darinya. "Kau cantik, Batari. Sayangnya, kecantikanmu di rumah ini hanya akan menjadi kutukan." "Jauhkan tangan kotormu darinya, Adrian. Dia terlihat menjijikkan dengan baju murah itu." Seorang gadis cantik dengan gaun desainer muncul di belakang Adrian. Dia adalah Seline, yang hanya satu tahun lebih tua dari Batari. Seline memandang Batari dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan merendahkan. Di rumah ini, Seline adalah matahari; semua keinginan dan amarahnya harus dituruti, atau seisi rumah akan menerima akibatnya. "Ma," Seline merengek pada Victoria tanpa melepas tatapan bencinya dari Batari. "Aku tidak mau dia ada di sini. Wajahnya merusak pemandangan rumah ini. Dan lihat rambut itu... aku ingin memotongnya." "Dia di sini karena wasiat bodoh ayahmu," Victoria menyela dingin. "Dia punya saham dan properti yang kita butuhkan. Biarkan dia tinggal di kamar pelayan di sayap barat. Dia tidak boleh menyentuh apa pun di rumah utama tanpa izin." Seline mendekati Batari, jemarinya yang berkutek merah darah menyentuh dagu Batari dengan kasar, memaksanya mendongak. "Dengar, Gadis Filipina. Di sini, kau bukan siapa-siapa. Kau hanya pajangan yang bisa kupatahkan kapan saja aku bosan. Jika kau berani mencari perhatian atau mengadu, aku akan pastikan rumah sakit jiwa ibumu berhenti menerima pembayaran." Batari merasakan getaran di nadinya—bukan hanya ketakutan, tapi benih dendam yang mulai berkecambah. Ia menatap balik mata Seline yang angkuh. "Aku di sini hanya untuk kesembuhan ibuku," suara Batari tenang namun tajam seperti sembilu. "Lakukan apa pun yang kalian mau, tapi jangan pernah sentuh ibuku." Adrian tertawa keras, suara beratnya menggema di aula yang dingin itu. Ia mendekat ke telinga Batari, berbisik dengan nada mengancam yang penuh obsesi, "Aku tidak akan menyentuh ibumu, Sayang. Aku hanya tertarik untuk menyentuhmu... pelan-pelan, sampai kau memohon padaku untuk menghentikannya." Rumah ini memang neraka. Tapi mereka lupa satu hal: Batari adalah anak dari wanita yang bertahan hidup dari pengusiran dan kehancuran. Saat ia diantar menuju kamarnya—sebuah ruangan sempit di sudut paling gelap rumah itu—Batari berhenti di depan cermin besar. Wajahnya yang cantik tampak pucat, seperti bunga yang mekar di atas tanah kuburan. "Ibu," bisiknya pada bayangan sendiri. "Aku akan menjemputmu kembali. Meskipun aku harus merangkak keluar dari neraka ini dengan tangan berdarah." ⚜️⚜️Pagi itu, Jakarta terbangun dengan sebuah guncangan digital. Freya, dengan ketangkasan jemari yang dilatih oleh Theo, mulai menaburkan benih-benih kehancuran. Melalui forum-forum anonim dan akun-akun gelap yang tak terlacak, ia mengunggah cuplikan video bejat Adrian—sebuah rekaman yang diambil dari ponsel Erick yang menunjukkan betapa rendahnya moral sang putra konglomerat. Dalam hitungan jam, video itu meledak, menjadi viral dan memicu gelombang kemarahan publik. Nama keluarga Wijaya yang selama ini dipuja sebagai simbol kesuksesan, kini terseret ke dalam lumpur kehinaan.Di saat kericuhan itu memuncak di dunia luar, di dalam apartemen mewah yang sunyi, suasana justru terasa sangat kontras. Batari berdiri di depan cermin, sementara Lenka—dalam wujud bayangan yang mulai menghangat—sedang merayu dengan cara yang tak terduga."Batari... aku ingin 'hadiah'," bisik Lenka. Suaranya tidak lagi dingin mencekam seperti tanah kuburan, melainkan terdengar seperti gadis
Mobil sport itu membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris gila. Erick mencengkeram kemudi seolah-olah benda itu adalah leher musuhnya, napasnya menderu berat, tersengal-sengal oleh campuran adrenalin, alkohol, dan pengaruh mistis aroma mawar Lenka. Dahaganya bukan lagi soal minuman; ada rasa lapar yang membakar di dalam perutnya, sebuah tuntutan biologis yang dipicu oleh sentuhan Batari di kelab tadi.Di kursi penumpang, Batari bersandar dengan keanggunan yang dingin. Di dalam kepalanya, suara Lenka bergema, terkekeh dengan nada yang membuat merinding."Haruskah kita bermain sebentar, Sayang? Sudah sangat lama jemari dan lidahku tidak menari di atas kulit yang malang..." bisik Lenka, auranya mulai merembes keluar, membuat suhu di dalam kabin mobil terasa anjlok."Tunggu, Lenka. Biarkan dia yang memulai," jawab Batari dalam hati, suaranya lirih, nyaris tak terdengar namun penuh otoritas.Batari melirik ke arah Erick yang tampak kalap. "Kau
Lampu strobe berwarna ungu dan biru gelap berdenyut selaras dengan dentuman bass yang menggetarkan dada di dalam Onyx Club. Erick melangkah masuk dengan angkuh, tangannya menggenggam jemari Batari seolah ia baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia. Ia membawa Batari menuju meja VVIP di sudut terjauh—sebuah sofa kulit melingkar yang gelap, tempat para penguasa malam biasanya berkumpul.Di sudut ruangan lainnya, Victor dan Adrian sudah terpaku sejak detik pertama Batari menapakkan kaki di sana. Bagi mereka, Batari seolah menjadi pusat gravitasi; setiap mata di ruangan itu tersedot ke arahnya. Adrian tak lagi peduli pada Victor, ia bahkan melupakan pesan adik kandungnya, Seline, untuk menjaga sang tunangan. Isi kepala Adrian mendadak riuh, dipenuhi oleh bayangan adik tirinya yang kini tampak sangat berbeda. Ia tak menyangka bahwa wanita yang duduk dengan anggun di depan matanya adalah gadis yang sama yang enam bulan lalu merintih, memohon ampun dengan suara pe
Jakarta yang lembap dan berisik menjadi latar belakang sempurna bagi teror yang perlahan namun pasti mulai menyusup ke kediaman Wijaya. Batari tidak menyerang dengan pedang, ia menyerang dengan bayangan. Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya bangun, sebuah kiriman misterius mendarat di atas meja kelas yang biasa diduduki Seline di universitas—sekuntum mawar merah yang bukan hanya layu, tapi tampak menghitam seolah terbakar oleh kebencian.Di kediaman Wijaya, teror itu lebih nyata. Karangan bunga mawar merah yang segar namun berlumuran cairan merah kental menyerupai darah dikirimkan tanpa nama pengirim. Veronica Wijaya menanggapi kiriman itu dengan histeria yang tak terkendali. Ia menjerit, memerintahkan pelayan untuk membuang bunga-bunga itu, sementara Seline hanya bisa mematung dengan wajah pucat, tangannya tanpa sadar meremas perutnya yang mulai membuncit.Mereka belum curiga pada Batari. Terlalu banyak dosa yang telah mereka tanam selama bertahun-tahun;
University of Astoria International kembali ke ritme sibuknya saat semester baru dimulai. Bagi sebagian besar mahasiswa, ini adalah awal dari pengejaran gelar dan gengsi. Namun bagi Batari, ini adalah panggung sandiwara di mana ia akan mementaskan tragedi bagi musuh-musuhnya.Berita kembalinya Batari dari "kematian" telah menjadi desas-desus liar di koridor kampus, namun tak ada yang berani bertanya langsung saat melihat sosoknya yang kini memancarkan aura otoritas yang dingin. Batari harus mengejar ketertinggalan akademisnya, namun prioritas utamanya adalah membedah kehidupan Erick.Melalui Theo, Freya telah mendapatkan berkas lengkap. Erick hanyalah seorang pemuda labil yang mabuk oleh harta haram ayahnya—seorang pejabat negara yang korup. Erick adalah pion yang sempurna; ia sering digunakan oleh Adrian dan Victor sebagai tumbal atau "pembersih" skandal mereka menggunakan koneksi ayahnya di pemerintahan. Namun, Erick memiliki satu titik lemah: ia selalu mera
Pesta pertunangan itu seharusnya menjadi puncak kejayaan bagi Seline dan Victor, namun kehadiran Batari telah mengubah atmosfer hotel berbintang itu menjadi sebuah peti mati berlapis emas. Saat lilin-lilin mulai meredup dan para tamu mulai beranjak, Batari melangkah dengan keanggunan seorang ratu menuju pintu keluar. Namun, sebelum jemarinya yang lentik menyentuh gagang pintu kaca, sebuah tangan kasar mencekal pergelangan tangannya.Cengkeraman itu panas, lembap oleh keringat dingin, dan bergetar.Victor berdiri di sana. Tuksedo mahalnya kini tampak kusut, senada dengan wajahnya yang pucat pasi. Ia menatap Batari dengan tatapan seorang pria yang baru saja melihat hantu, namun sekaligus pria yang haus akan dahaga yang tak terjelaskan."Batari... kau... bagaimana mungkin?" Victor tergagap, suaranya parau, pecah di udara yang dingin. "Kau selamat? Kenapa tidak memberiku kabar? Aku... aku hampir gila mencarimu setelah malam di Bali itu."Kebohong







