Mag-log inSepuluh bulan telah berlalu, dan kediaman Wijaya masih menjadi teater kemunafikan yang dipoles dengan kristal.
Victoria, Adrian, dan Seline memberi Batari ruang untuk bernapas, tapi itu bukan belas kasihan. Itu strategi. Predator yang sabar selalu membiarkan mangsanya merasa aman di puncak—agar ketika jatuh, hancurnya menjadi tontonan yang paling memuaskan. Di Universitas Astoria, Batari menjelma legenda yang dingin: mahasiswa terbaik yang tak tersentuh. Senyumnya jarang. Suaranya hemat. Prestasinya seperti dinding kaca—indah, tinggi, dan berbahaya jika dilempar batu. Langkah Batari terhenti di depan pintu toilet yang sepi. Lorong itu terlalu sunyi untuk jam segini. Terlalu… sengaja. Jari Batari belum sempat menyentuh gagang pintu ketika sebuah tangan kekar menyambar pergelangan tangannya. “Ah.” Tarikan itu keras, cepat, dan tepat. Batari terseret ke ruang kosong di samping toilet—ruang sempit yang berbau lembap dan pembersih lantai, dengan lampu redup yang berkedip seperti mata lelah. Victor. Pria dengan senyum licin yang selalu menempel di bayang-bayang Adrian. Tubuhnya lebih besar dari yang diingat Batari. Napasnya berbau alkohol, dan matanya menelusuri wajah Batari dengan cara yang membuat kulit serasa kotor. “Batari,” bisik Victor, suara dibuat rendah seolah ini rahasia di antara mereka. “Berhenti bersikap seolah kau suci.” Tangannya menahan Batari ke dinding. “Aku tahu kau kesepian di istana kaca itu. Ini kesempatanmu merasakan sedikit—” “Lepas.” Suara Batari tidak tinggi. Tidak panik. Tapi ada getaran tajam di ujungnya, seperti kaca tipis yang bisa melukai. Victor tertawa kecil, meremehkan. Tekanannya makin kuat. BRAK! Pintu terbuka dengan dentuman keras. Freya berdiri di sana. Biasanya mata biru itu lembut, nyaris menenangkan. Malam ini, birunya berubah jadi dingin yang memotong—seperti pedang yang baru diasah dan belum sempat mengering dari air. Freya melangkah masuk, lalu berhenti tepat di depan Batari. Satu gerakan sederhana. Satu pernyataan jelas: kalau mau menyentuh Batari, lewati aku dulu. “Mundur tiga langkah, Tuan Victor,” kata Freya. Suaranya rendah, tenang, tapi mengandung janji yang tidak akan ditarik kembali. “Atau saya pastikan Anda keluar dari kampus ini karena skandal pelecehan. Dan saya tidak akan kesulitan mencari saksi.” Victor mendengus, mencoba menertawakan itu, tapi ada sesuatu di mata Freya—sesuatu yang terlalu siap—membuat napasnya goyah. “Kau cuma pelayan,” Victor mengejek, terlalu cepat. “Jangan sok pahlawan.” Freya tidak tersenyum. “Ya.” Freya mencondongkan kepala sedikit, seolah menilai titik lemah. “Itulah sebabnya saya di sini, Tuan Victor. Menjaga Nonanya.” Kata Nonanya terdengar sopan. Tapi cara Freya mengucapkannya terdengar seperti sumpah. Victor akhirnya mundur, melempar tatapan penuh kebencian—tatapan yang tidak sekadar marah, tapi menyimpan rencana. Saat ia menghilang di tikungan lorong, Batari merasakan sesuatu menggantung di udara: bukan lega, melainkan firasat. Sekarang Victor tahu satu hal. Kalau ingin menghancurkan Batari, ia harus mematahkan perisainya lebih dulu. ~~ Secara kontrak, Batari wajib hadir sebagai “simbol keluarga harmonis”. Sebuah kalimat yang terdengar bersih, padahal artinya sederhana: hadir, tersenyum, dan biarkan mereka memakaimu sebagai dekorasi. Vila itu menyerupai oase. Kolam renang infinity menelan langit, musik chill-out mengalun lembut, dan aroma kamboja menempel di udara. Para tamu tertawa ringan, seperti dunia tidak pernah punya gigi. Bagi Batari, semuanya terasa terlalu halus—seolah permukaan pesta ini sengaja dibuat licin agar seseorang mudah terpeleset. “Minumlah, Batari,” Seline menghampiri dengan gaun yang berkilau seperti sisik, menyodorkan segelas minuman merah delima. “Jangan merusak pestaku dengan wajah masammu.” Gelas itu cantik. Terlalu cantik. Embun tipis di dindingnya berkilau, seperti permata yang sengaja dibiarkan terlihat. Batari ragu. Dari kejauhan, Victoria menatap tanpa kata, tanpa ekspresi, tapi tekanan itu menancap seperti paku: Minum. Atau bayar. Batari menyesap. Manisnya menipu. Ada jejak pahit di ujung—hampir tidak terasa, tapi cukup untuk membuat naluri Batari menegang. Ia mengembalikan gelas dengan senyum tipis yang ia paksa lahir, lalu menyingkir perlahan, menjaga langkahnya tetap elegan. Beberapa menit pertama, tidak ada apa-apa. Lalu dunia mulai bergeser. Bukan seperti mabuk. Tidak ada “ringan” yang menyenangkan. Yang ada hanya sensasi asing yang merayap pelan di bawah kulit—panas yang tidak wajar, napas yang tiba-tiba terasa terlalu pendek, jantung yang mengetuk terlalu keras seolah memanggil sesuatu yang tidak ingin ia jawab. Suara musik berubah menjadi dengungan. Lampu-lampu terasa lebih tajam. Dan yang paling mengerikan: tubuhnya mulai bereaksi tanpa meminta izin, seolah ada tangan tak terlihat yang memutar tombol di dalam dirinya. Batari mengatupkan rahang. Tidak. Bukan sekarang. Jangan di sini. Di sudut lain, Freya berdiri dekat meja bar, mengawasi ruangan dengan mata yang tak pernah benar-benar berkedip. Tatapannya menyapu wajah-wajah tamu, menghitung jarak, membaca gerak kecil yang biasanya luput dari orang lain. Seorang pria berpakaian pelayan mendekatinya, membawa baki kosong, bertanya sesuatu dengan nada sopan. Freya menoleh sepersekian detik. Sengatan kecil menusuk tengkuknya. Freya tersentak, tangannya refleks meraih leher. Matanya melebar—bukan panik, melainkan terkejut karena mengenali pola. “Batari…” suara Freya parau, patah, seperti berusaha memaksa kata itu keluar sebelum dunia menutup mulutnya. Tubuhnya melemas. Dua pria menangkapnya cepat, terlalu rapi untuk kebetulan. Mereka mengangkat Freya seolah itu bagian dari pelayanan—seolah tamu yang pingsan adalah pemandangan biasa di pesta orang kaya—lalu membawanya ke arah gudang belakang, hilang di sela tawa dan musik. Batari merasakan sesuatu runtuh di dalam dadanya. Bukan karena takut pada obat itu—melainkan karena Freya adalah satu-satunya garis aman yang ia punya. Dan garis itu baru saja diputus. “Kau terlihat tidak sehat, Sayang.” Seline merangkul bahu Batari, senyumnya lembut—lembut seperti sarung pisau sebelum bilahnya keluar. Sentuhan Seline di kulit Batari terasa terlalu panas, terlalu “dekat”, membuat Batari ingin melepaskan diri, tapi lengannya terasa berat. Koordinasinya menurun seperti tubuhnya sengaja dibuat terlambat. “Jangan keras kepala,” bisik Seline, suaranya manis di permukaan, busuk di bawahnya. “Aku akan mengantarmu ke kamar. Biar kau… tenang.” Batari ingin melawan. Ingin menggigit kata-kata itu dengan amarah. Namun tubuhnya mengkhianati. Dan pengkhianatan tubuh sendiri adalah bentuk penghinaan paling kejam. Seline menuntunnya melewati koridor vila yang dingin, langkah mereka menelan jarak seperti prosesi. Setiap pintu yang dilewati terasa seperti pintu yang menutup kemungkinan. Di kamar mewah menghadap laut gelap, Seline mendorong Batari ke atas ranjang king-size. Batari jatuh di tepi, berusaha duduk, berusaha menahan napas agar tidak terdengar rapuh. Seline berdiri di samping ranjang, menatap dengan kepuasan yang tidak berusaha disembunyikan. “Neraka yang sebenarnya baru dimulai, Batari.” Ia menunduk sedikit, suara menjadi bisikan yang tajam. “Nikmati malammu.” Batari memejamkan mata sekejap—bukan menyerah, tapi menyimpan tenaga. Seline melangkah mundur. “Besok,” lanjut Seline pelan, “kau tidak akan punya harga diri untuk menatap siapa pun.” Klik. Pintu dikunci dari luar. Batari membuka mata, memaksa diri untuk berpikir di tengah gelombang panas dan kabut yang menyiksa. Ia menggenggam seprai, menahan getaran kecil di ujung jarinya—bukan karena lemah, tapi karena tubuhnya dipaksa berjalan di luar perintahnya. Ia berusaha berdiri. Kakinya goyah. Ia berusaha mencari ponsel. Tangannya lambat. Ia berusaha menyebut nama Freya. Suaranya tertelan udara. Lalu terdengar langkah di lorong. Pelan. Tertata. Tidak tergesa, seolah orang itu tahu pintu ini pada akhirnya akan membuka juga. Kunci berputar.Di Kediaman Utama Wijaya, keheningan yang biasanya melambangkan kemewahan kini terasa mencekam, seperti udara yang membeku sebelum badai besar melanda. Di tengah aula luas berlantai marmer Italia yang dingin, Veronica Wijaya berdiri mematung. Tubuhnya yang biasanya tegak penuh wibawa kini gemetar hebat, seolah fondasi jiwanya baru saja diguncang gempa dahsyat. Di hadapannya, sebuah kotak kayu hitam tergeletak terbuka. Isinya sederhana, namun dampaknya lebih mematikan daripada peluru mana pun: sebuah jam tangan Patek Philippe milik Adrian. Jam itu, yang dulu melingkar di pergelangan tangan putranya sebagai simbol status dan kejayaan, kini hancur berkeping-keping. Kaca safirnya retak seribu, dan yang paling mengerikan, logam peraknya tertutup noda merah pekat yang sudah mengering—darah yang masih membawa aroma besi yang amis. Sepucuk surat kecil terjatuh di samping kotak itu, dengan tulisan tangan yang rapi namun dingin: “Pembayaran Tuntas." Suara napas Veronica terdengar pende
Victor menatap Batari dari kejauhan, napasnya terasa berat seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis. Langkah kakinya yang berat namun ragu terdengar samar di atas karpet, beradu dengan suara hujan yang menghantam kaca jendela dengan ritme yang makin liar. Ia mendekat, perlahan sekali, hingga bayangannya yang besar menutupi tubuh Batari yang sedang bersandar pasrah di sofa. Tanpa sepatah kata pun, Victor menjatuhkan lututnya ke lantai. Suara gedebuk pelan itu terdengar begitu nyata, sebuah tanda runtuhnya harga diri sang algojo. Lidahnya terasa kelu, namun matanya tidak bisa beralih dari pemandangan di depannya. Victor mengulurkan tangannya yang gemetar, jari-jarinya yang kasar perlahan menyentuh punggung kaki Batari. Ia bisa merasakan kelembutan kulit itu di bawah jemarinya yang kasar—kontras yang membuatnya semakin haus. Victor mendekatkan wajahnya, membiarkan uap napasnya yang panas menyentuh kulit dingin Batari. Ia mulai menciumi punggung kaki itu, pelan dan basah, lalu
Saat Theo pamit, Elio tidak langsung ikut melangkah keluar. Ia mematung di sisi ranjang, membiarkan keheningan rumah sakit yang mencekam merayap di antara mereka. Matanya yang biasanya jernih dan berwibawa kini meredup, beralih dari wajah Isabel yang pucat menuju jemari kurus wanita itu yang seolah kehilangan sisa hidupnya.Ada denyut nyeri yang menghantam dada Elio—Di matanya, Isabel bukan sekadar pasien; wanita ini adalah kepingan teka-teki dari masa lalu Batari, wanita yang mulai ingin ia lindungi. "Batari..." suara Elio rendah, parau oleh emosi yang ia tekan sekuat tenaga di balik jas mahalnya. Ia berbalik, menatap Batari dengan intensitas yang sanggup meruntuhkan tembok pertahanan wanita itu. "Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa wajahmu... kenapa matamu menyimpan begitu banyak luka yang tidak bicara?"Batari hanya diam, jemarinya meremas kain sprei ranjang ibunya. Namun, Elio melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma oud dan cendana yang hangat menyelimu
Pagi itu, kantor hukum Theo di kawasan SCBD terasa lebih mencekam. Di depan gedung, sebuah sedan hitam dengan pelat diplomatik terparkir tenang, namun kehadirannya sudah cukup membuat staf keamanan berdiri tegak. Elio—Sang Pangeran dari Brunei yang dikenal dunia sebagai diplomat santun dan investor bertangan dingin—duduk di ruang kerja Theo dengan punggung tegak tanpa menyentuh sandaran kursi.Theo mendongak dari tumpukan berkasnya, membenarkan letak kacamata dengan gerakan tenang yang sengaja dibuat lambat. "Tuan Elio? Ini masih terlalu pagi untuk kunjungan mendadak. Apakah ada klausul yang ingin Anda ubah?"Elio tidak duduk. Ia berdiri di depan meja Theo, meletakkan kedua tangannya di atas permukaan kayu mahoni itu. "Batari. Di mana dia sekarang?"Theo menghela napas, jemarinya mengetuk pulpen perak dengan ritme yang terjaga. "Beliau sedang di rumah sakit menemani ibunya, Tuan. Saya baru saja akan berangkat ke sana untuk menyerahkan beberapa dokumen legalitas keamanan.""Aku iku
Di ruangan VVIP, Isabel terbaring lemah. Freya menghampiri dengan wajah pucat. “Tante sudah baik-baik saja, beliau hanya syok... kau butuh dokter untuk memeriksa bibirmu, Batari?” tanya Freya, matanya berkaca-kaca melihat kehancuran fisik nonanya.Batari menghampiri ranjang sang ibu. Pertahanan emosinya runtuh. “Mama... Mama... maafkan Batari,” ia terisak, memendam wajahnya di tangan sang ibu yang kurus.Isabel perlahan membuka matanya. Sebuah keajaiban kecil terjadi; matanya tak lagi kosong. Ia mengusap rambut Batari dengan tangan gemetar. “Si mama ang dapat humingi ng tawad… patawarin mo si mama, sayang, kailangan mong tanggapin ang kapalarang ito,” ucapnya dalam bahasa asalnya yang pilu.“Mama yang harus minta maaf... Mama yang memberimu takdir ini... Maafkan Mama, Sayang.”Batari mendongak takjub. Itu adalah kalimat terpanjang dan paling jernih yang diucapkan ibunya selama bertahun-tahun. Kebahagiaan dan kesedihan melebur dalam pelukan itu. Di sudut ruangan, Freya ikut terisak
Setelah merebahkan tubuh Batari di jok penumpang, Victor mengunci pintu mobil secara sentral hingga Batari hanya bisa menatap melalui kaca yang berembun. Tanpa sepatah kata pun, Victor keluar, langkah kakinya yang berat dan sorot matanya yang gelap.Dari dalam , Victor menyeret Adrian keluar. Adrian yang sudah pingsan, wajahnya babak belur bekas pukulan Victor dan tubuhnya terkulai layaknya tumpukan daging tak bernyawa. Kepala Adrian membentur ambang pintu kayu dengan bunyi thud yang menyakitkan, namun Victor tidak berhenti. Di belakangnya, Seline menjerit histeris, suaranya pecah membelah kesunyian rumah tua itu, namun Victor bahkan tidak menoleh. Baginya, teriakan itu hanyalah gangguan yang tidak berarti.Victor tidak mengarahkan mobilnya ke kantor polisi. Dengan ketenangan yang mengerikan, ia menelepon seseorang. Tak lama mereka sampai ke sebuah gudang Tua berbau karat.Victor melempar tubuh Adrian ke aspal, tepat di bawah sorot lampu mobil hitam lain yang sudah menunggu di sana.
Satu minggu bersembunyi di bawah bayang-bayang Victor terasa seperti peti mati bagi harga diri Adrian yang sudah hancur lebur. Reputasinya hangus dan setiap tarikan napasnya kini terasa seperti sedang dicekik oleh tangan tak terlihat.Pintu ruangan terbuka, menampakkan Seline yang masuk dengan ria
"Berapa lama lagi kau mau aku jadi pengasuhmu, Adrian? Polisi sudah mondar-mandir di gerbang depan dua kali pagi ini!"Victor membanting gelas wiskinya ke meja marmer, suaranya bergema tajam di ruang tengah yang luas. Matanya yang lelah menatap Adrian yang sedang duduk di sofa kulit, mas
"Lepaskan! Kau binatang, Adrian! Kau pikir uang keluargamu bisa membeli harga diriku?" "Diamlah, Sayang. Nikmati saja. Besok kau akan berterima kasih karena nilaimu mendadak sempurna," suara Adrian di video itu terdengar menjijikkan, disusul suara robekan kain yang kasar. “ AKHHHHHH.” Suara jerit
Batari berdiri telanjang di depan cermin besar, menatap sisa-sisa trauma yang kini ia poles dengan kemewahan. Tiba-tiba, suhu ruangan anjlok. Sosok Lenka muncul di pantulan cermin, berdiri tepat di belakang Batari. Jemari hantu itu yang panjang dan pucat merayap turun dari bahu, menyusuri lengan Ba







