Home / Romansa Dewasa / BATARI / Tebing Uluwatu

Share

Tebing Uluwatu

last update Last Updated: 2026-02-28 23:52:00

10 bulan telah berlalu, dan kediaman Wijaya masih menjadi sebuah teater kemunafikan. Victoria, Adrian, dan Seline memberikan Batari ruang untuk bernapas, namun itu bukan karena belas kasihan. Mereka seperti predator yang sabar, membiarkan mangsanya merasa aman di puncak kejayaan akademik agar saat jatuh nanti, hancurnya akan menjadi tontonan yang paripurna.

Di Universitas Astoria, Batari menjadi legenda yang dingin—mahasiswa terbaik yang tak tersentuh. Namun, di balik pilar-pilar megah kampus, bahaya memiliki wajah.

Langkah Batari terhenti tepat di depan pintu toilet yang sepi. Sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, sebuah tangan kekar menyambar pergelangan tangannya. Victor, pria dengan senyum licin yang selalu mengintai di balik bayang-bayang Adrian, menariknya kasar ke dalam ruang kosong di samping toilet.

"Batari, berhenti bersikap seolah kau suci," bisik Victor, napasnya yang berbau alkohol menerpa wajah Batari. Matanya menelusuri wajah Batari dengan lapar. "Aku tahu kau kesepian di istana kaca itu. Ini kesempatanmu untuk merasakan sedikit kesenangan."

"Lepas, Victor!" Batari menyentak, namun punggungnya tertahan dinding dingin. Napasnya memburu, ketakutan mulai merambat di nadinya.

BRAK!

Pintu terbuka dengan dentuman keras. Freya berdiri di sana. Matanya yang biru biasanya lembut, namun kini berkilat seperti pedang yang baru diasah. Ia melangkah masuk, memposisikan dirinya di depan Batari—sebuah benteng manusia.

"Mundur tiga langkah, Tuan Victor, atau aku pastikan kau keluar dari kampus ini karena skandal pelecehanTuan ," suara Freya rendah, tenang, namun mengandung janji kematian.

Victor mendengus, mencoba tertawa meski nyalinya sedikit menciut melihat tatapan predator di mata Freya. "Kau hanya pelayan, Freya. Jangan sok pahlawan."

"Ya itulah sebabnya aku disini Tuan Victor, menjaga Nonanya," balas Freya dingin.

Victor akhirnya mundur, melemparkan tatapan penuh kebencian yang menjanjikan pembalasan sebelum menghilang di balik tikungan lorong.

Kini ia tahu siapa yang harus ia hancurkan lebih dulu.

~~

Liburan semester tiba, membawa mereka ke sebuah vila mewah di tebing Uluwatu, Bali. Perayaan ulang tahun Seline. Secara kontrak, Batari wajib hadir sebagai "simbol keluarga yang harmonis"—sebuah lelucon pahit yang harus ia telan.

Vila itu menyerupai oase; kolam renang infinity yang seolah menyatu dengan cakrawala biru Hindia, musik chill-out yang mengalun lembut, dan aroma kamboja yang memabukkan. Namun bagi Batari, bau laut terasa seperti amis darah.

"Minumlah, Batari. Jangan merusak pestaku dengan wajah masammu itu," Seline menghampiri, menyodorkan segelas minuman berwarna merah delima yang cantik. Matanya berkilat penuh kemenangan yang terselubung.

Batari ragu, namun tatapan Victoria dari kejauhan memaksanya menyesap cairan itu.

Di sudut lain, Freya sedang mengawasi dari dekat meja bar. Tiba-tiba, seorang pria berpakaian pelayan mendekatinya, berpura-pura menanyakan sesuatu. Tanpa sempat Freya bereaksi, sebuah jarum halus menusuk tengkuknya. Dunia Freya seketika berputar. Obat bius.

"Batari..." bisik Freya parau sebelum tubuhnya jatuh lunglai, diseret oleh dua orang pria ke arah gudang belakang sebelum ada yang menyadari.

Seketika itu juga, efek minuman itu mulai menghantam Batari.

Itu bukan mabuk biasa. Gelombang panas yang asing dan menyengat mulai menjalar dari perutnya ke seluruh pori-pori kulitnya. Afrosidak dosis tinggi. Batari merasa dunianya miring. Suara musik di sekitarnya berubah menjadi dengungan yang menyakitkan. Jantungnya berdegup kencang, menuntut sesuatu yang ia sendiri tidak pahami.

"Kau terlihat tidak sehat, Sayang," Seline merangkul bahu Batari, senyumnya seperti ular yang baru saja menyuntikkan bisa. "Mari, biar kakakmu ini mengantarmu ke kamar untuk... beristirahat."

Batari ingin melawan, namun otot-ototnya terasa seperti jeli. Setiap sentuhan tangan Seline di kulitnya terasa seperti api yang membakar. Ia merasa terhina oleh tubuhnya sendiri yang mulai bereaksi secara liar terhadap obat itu.

Di dalam kamar mewah dengan pemandangan laut yang kini menggelap, Seline mendorong Batari ke atas ranjang king-size. Batari terjatuh, napasnya tersengal, matanya sayu dan penuh air mata frustrasi.

"Neraka yang sebenarnya baru dimulai, Batari," bisik Seline, berdiri di samping ranjang sambil menatap Batari dengan kepuasan yang murni. "Nikmatilah malammu. Karena besok, kau tidak akan punya harga diri lagi untuk menatap dunia."

Pintu kamar dikunci dari luar. Di dalam kegelapan yang gerah, Batari hanya bisa merintih, sementara sosok misterius yang sejak lama mengintainya kini sedang melangkah menuju kamar tersebut dengan kunci cadangan di tangannya.

⚜️⚜️

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • BATARI   Jeritan di Ruang Hampa

    Pagi itu, Jakarta terbangun dengan sebuah guncangan digital. Freya, dengan ketangkasan jemari yang dilatih oleh Theo, mulai menaburkan benih-benih kehancuran. Melalui forum-forum anonim dan akun-akun gelap yang tak terlacak, ia mengunggah cuplikan video bejat Adrian—sebuah rekaman yang diambil dari ponsel Erick yang menunjukkan betapa rendahnya moral sang putra konglomerat. Dalam hitungan jam, video itu meledak, menjadi viral dan memicu gelombang kemarahan publik. Nama keluarga Wijaya yang selama ini dipuja sebagai simbol kesuksesan, kini terseret ke dalam lumpur kehinaan.Di saat kericuhan itu memuncak di dunia luar, di dalam apartemen mewah yang sunyi, suasana justru terasa sangat kontras. Batari berdiri di depan cermin, sementara Lenka—dalam wujud bayangan yang mulai menghangat—sedang merayu dengan cara yang tak terduga."Batari... aku ingin 'hadiah'," bisik Lenka. Suaranya tidak lagi dingin mencekam seperti tanah kuburan, melainkan terdengar seperti gadis

  • BATARI   Digilir 2 Iblis

    Mobil sport itu membelah jalanan dengan kecepatan yang nyaris gila. Erick mencengkeram kemudi seolah-olah benda itu adalah leher musuhnya, napasnya menderu berat, tersengal-sengal oleh campuran adrenalin, alkohol, dan pengaruh mistis aroma mawar Lenka. Dahaganya bukan lagi soal minuman; ada rasa lapar yang membakar di dalam perutnya, sebuah tuntutan biologis yang dipicu oleh sentuhan Batari di kelab tadi.Di kursi penumpang, Batari bersandar dengan keanggunan yang dingin. Di dalam kepalanya, suara Lenka bergema, terkekeh dengan nada yang membuat merinding."Haruskah kita bermain sebentar, Sayang? Sudah sangat lama jemari dan lidahku tidak menari di atas kulit yang malang..." bisik Lenka, auranya mulai merembes keluar, membuat suhu di dalam kabin mobil terasa anjlok."Tunggu, Lenka. Biarkan dia yang memulai," jawab Batari dalam hati, suaranya lirih, nyaris tak terdengar namun penuh otoritas.Batari melirik ke arah Erick yang tampak kalap. "Kau

  • BATARI   Lumatan di bawah Lampu Strobe

    Lampu strobe berwarna ungu dan biru gelap berdenyut selaras dengan dentuman bass yang menggetarkan dada di dalam Onyx Club. Erick melangkah masuk dengan angkuh, tangannya menggenggam jemari Batari seolah ia baru saja memenangkan lotre paling berharga di dunia. Ia membawa Batari menuju meja VVIP di sudut terjauh—sebuah sofa kulit melingkar yang gelap, tempat para penguasa malam biasanya berkumpul.Di sudut ruangan lainnya, Victor dan Adrian sudah terpaku sejak detik pertama Batari menapakkan kaki di sana. Bagi mereka, Batari seolah menjadi pusat gravitasi; setiap mata di ruangan itu tersedot ke arahnya. Adrian tak lagi peduli pada Victor, ia bahkan melupakan pesan adik kandungnya, Seline, untuk menjaga sang tunangan. Isi kepala Adrian mendadak riuh, dipenuhi oleh bayangan adik tirinya yang kini tampak sangat berbeda. Ia tak menyangka bahwa wanita yang duduk dengan anggun di depan matanya adalah gadis yang sama yang enam bulan lalu merintih, memohon ampun dengan suara pe

  • BATARI   Belati dalam Beludru

    Jakarta yang lembap dan berisik menjadi latar belakang sempurna bagi teror yang perlahan namun pasti mulai menyusup ke kediaman Wijaya. Batari tidak menyerang dengan pedang, ia menyerang dengan bayangan. Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya bangun, sebuah kiriman misterius mendarat di atas meja kelas yang biasa diduduki Seline di universitas—sekuntum mawar merah yang bukan hanya layu, tapi tampak menghitam seolah terbakar oleh kebencian.Di kediaman Wijaya, teror itu lebih nyata. Karangan bunga mawar merah yang segar namun berlumuran cairan merah kental menyerupai darah dikirimkan tanpa nama pengirim. Veronica Wijaya menanggapi kiriman itu dengan histeria yang tak terkendali. Ia menjerit, memerintahkan pelayan untuk membuang bunga-bunga itu, sementara Seline hanya bisa mematung dengan wajah pucat, tangannya tanpa sadar meremas perutnya yang mulai membuncit.Mereka belum curiga pada Batari. Terlalu banyak dosa yang telah mereka tanam selama bertahun-tahun;

  • BATARI   Benih Cemburu

    University of Astoria International kembali ke ritme sibuknya saat semester baru dimulai. Bagi sebagian besar mahasiswa, ini adalah awal dari pengejaran gelar dan gengsi. Namun bagi Batari, ini adalah panggung sandiwara di mana ia akan mementaskan tragedi bagi musuh-musuhnya.Berita kembalinya Batari dari "kematian" telah menjadi desas-desus liar di koridor kampus, namun tak ada yang berani bertanya langsung saat melihat sosoknya yang kini memancarkan aura otoritas yang dingin. Batari harus mengejar ketertinggalan akademisnya, namun prioritas utamanya adalah membedah kehidupan Erick.Melalui Theo, Freya telah mendapatkan berkas lengkap. Erick hanyalah seorang pemuda labil yang mabuk oleh harta haram ayahnya—seorang pejabat negara yang korup. Erick adalah pion yang sempurna; ia sering digunakan oleh Adrian dan Victor sebagai tumbal atau "pembersih" skandal mereka menggunakan koneksi ayahnya di pemerintahan. Namun, Erick memiliki satu titik lemah: ia selalu mera

  • BATARI   Tarian Iblis di Balik Pupil Mata

    Pesta pertunangan itu seharusnya menjadi puncak kejayaan bagi Seline dan Victor, namun kehadiran Batari telah mengubah atmosfer hotel berbintang itu menjadi sebuah peti mati berlapis emas. Saat lilin-lilin mulai meredup dan para tamu mulai beranjak, Batari melangkah dengan keanggunan seorang ratu menuju pintu keluar. Namun, sebelum jemarinya yang lentik menyentuh gagang pintu kaca, sebuah tangan kasar mencekal pergelangan tangannya.Cengkeraman itu panas, lembap oleh keringat dingin, dan bergetar.Victor berdiri di sana. Tuksedo mahalnya kini tampak kusut, senada dengan wajahnya yang pucat pasi. Ia menatap Batari dengan tatapan seorang pria yang baru saja melihat hantu, namun sekaligus pria yang haus akan dahaga yang tak terjelaskan."Batari... kau... bagaimana mungkin?" Victor tergagap, suaranya parau, pecah di udara yang dingin. "Kau selamat? Kenapa tidak memberiku kabar? Aku... aku hampir gila mencarimu setelah malam di Bali itu."Kebohong

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status