로그인Debu dari dua arah makin dekat dan akhirnya memperlihatkan bentuknya. Dari sisi barat, orang-orang jaringan bayangan datang tidak beraturan—berlari, menyebar, beberapa sudah mengangkat senjata sebelum benar-benar melihat situasi. Dari sisi timur, barisan Dewan bergerak rapi, jarak antarorang konsisten, langkah seragam, tanpa satu gerakan sia-sia.Rael berdiri tepat di tengah jalur tabrakan itu.Lina menatap kanan-kiri. “Kau yakin ini ide bagus?”Rael menjawab tanpa melihatnya, “Tidak.”Serath menambahkan datar, “Tapi ini satu-satunya cara cepat.”Dua kelompok itu akhirnya melihat satu sama lain.Momen itu penting.Mereka tidak langsung menyerang.Karena masing-masing menyadari kehadiran pihak lain.Dan di tengah—Rael.Salah satu dari jaringan bayangan berteriak lebih dulu, “Dewan?!”Di sisi lain, seorang komandan Dewan mengangkat tangan, memberi sinyal berhenti pada barisannya. “Target di tengah. Abaikan yang lain.”Itu cukup.Rael melangkah satu langkah ke depan, suaranya tidak kera
Jalan yang dipilih Rael bukan jalur dagang, bukan pula rute patroli. Tanahnya keras, jarang dilalui, dan hampir tidak ada penanda selain bekas roda lama yang sudah setengah hilang. Itu bukan kebetulan. Semakin sedikit jejak, semakin kecil kemungkinan dilacak.Mereka berjalan dalam diam cukup lama.Lina yang pertama memecah. “Kita tidak punya rencana, ya?”Rael tidak menoleh. “Punya.”“Apa?”“Tidak terlihat.”Lina menghela napas panjang. “Aku tidak tahu kenapa aku ikut.”Serath menjawab tanpa emosi, “Karena kau tidak mau tinggal diam saat variabel utama bergerak.”“Aku bukan variabel,” potong Lina.“Kau akan jadi,” balas Serath singkat.Rael berhenti di persimpangan kecil—hanya dua jalur tanah yang tampak sama buruknya. Ia jongkok, menyentuh tanah, melihat arah tekanan dan sisa jejak yang nyaris tak terlihat.“Ke kiri,” katanya.“Kenapa?” tanya Lina.“Karena kanan terlalu jelas.”Serath mengangguk tipis. “Setuju.”Mereka berbelok.Beberapa jam kemudian, matahari sudah cukup tinggi. Jal
Malam turun tanpa upacara. Wilin tidak punya waktu untuk merayakan selamat; mereka bekerja. Obor dipasang di setiap sudut, penjaga ditempatkan di titik-titik tinggi, dan warga yang masih sanggup mengangkat alat langsung memperbaiki apa yang bisa diperbaiki. Tidak ada sihir, tidak ada mantra—hanya kayu, batu, tali, dan tangan yang bergerak cepat.Rael terbaring di dalam rumah batu milik tetua desa. Bukan karena ia ingin istirahat, tapi karena tubuhnya memaksa. Napasnya masih berat, dan lengan kanannya dibalut kain tebal yang mulai menghitam oleh darah yang merembes. Tidak ada cahaya lagi di sana—hanya retakan kulit yang kini terlihat seperti luka bakar dalam.Serath berdiri di dekat pintu, mengamati tanpa menyentuh. Lina duduk di sisi tempat tidur, memegang mangkuk air dan kain, meski caranya jelas lebih cocok untuk bertarung daripada merawat orang.“Kalau kau mati, aku akan marah,” kata Lina datar.Rael membuka satu mata. “Ancaman yang menakutkan.”Serath tidak ikut bercanda. “Kita ti
Retakan kecil di permukaan cakram itu semakin jelas setiap kali hujan pedang cahaya menghantam kubah batu. Setiap benturan membuat pilar-pilar bumi bergetar hebat, serpihan batu rontok, dan tanah di bawah kaki Rael berderak seperti akan pecah kapan saja. Namun aliran energi yang ia salurkan tetap stabil—tipis, terarah, dan kejam dalam efisiensinya. Ia tidak lagi melawan secara langsung; ia menahan, membelokkan, lalu mengembalikan tekanan itu ke sumbernya.Elyra menyadari perubahan itu.Matanya menyipit, tangan yang terangkat mulai bergetar halus. Ia mempercepat putaran cakram, memaksa lebih banyak hujan pedang turun sekaligus, mencoba menghancurkan kubah sebelum efek baliknya membesar. Langit di atas Wilin kini seperti lautan cahaya yang runtuh tanpa henti.Di bawahnya, Rael berdiri seperti poros.Darah menetes dari ujung dagunya, namun matanya tetap fokus ke atas.“Sedikit lagi…” gumamnya pelan.Serath yang berdiri di sisi dalam kubah menatap dengan napas tertahan. Ia bisa melihat ap
Angin malam pertama mulai turun di atas Wilin ketika kata-kata Serath menggantung di udara. Tidak ada yang berbicara sesaat setelah itu. Bahkan Elyra yang berdiri di kejauhan tampak menilai ulang, seolah ia tahu persis arti “segel inti”.Lina menoleh cepat ke Serath. “Kenapa kau baru bilang sekarang?”“Karena aku berharap dia punya sisa akal.”“Aku punya,” jawab Rael santai.Lina menunjuknya marah. “Tidak kelihatan!”Rael mengabaikan mereka. Ia berdiri diam dengan mata terpejam, napas perlahan masuk dan keluar. Tubuhnya yang sejak tadi dipenuhi tekanan kini justru tampak tenang—terlalu tenang. Darah di sela kuku berhenti menetes. Getaran aura di sekelilingnya meredup hingga nyaris tak terasa.Elyra mengangkat tangan memberi isyarat pada avatar bersayapnya untuk menahan serangan.“Menarik,” katanya dingin. “Aku ingin melihat apakah rumor terakhir juga benar.”Rael membuka satu mata. “Rumor tentang aku tampan ternyata populer sekali.”Tidak ada yang tertawa kali ini.Serath melangkah ma
Rantai-rantai cahaya turun dari langit seperti hujan ular putih. Mereka tidak sekadar jatuh, tetapi membelok, mengejar, dan mengunci ruang gerak. Setiap mata rantai mengeluarkan suara berdenging yang menusuk kepala, membuat beberapa warga yang bersembunyi menutup telinga sambil meringkuk di lantai rumah.Rael berdiri di tengah hujan serangan itu dengan napas panjang yang belum selesai keluar. Bahunya turun, lutut sedikit ditekuk, kedua tangan terbuka tanpa aura mencolok.Lina menatap bingung. “Cara lama itu apa?”Serath menjawab lirih, seolah tidak yakin ingin melihatnya. “Sesuatu yang biasanya membuat tukang bangunan menangis.”Rantai pertama menyambar pergelangan kaki Rael.Ia melangkah setengah jengkal ke kiri.Rantai itu hanya menangkap bayangan gerakannya dan menghantam tanah.Rantai kedua mengincar leher.Rael menunduk.Rantai ketiga datang dari belakang pinggang.Ia memutar pinggul tipis, membiarkannya lewat sejari dari pakaian.Lalu serangan datang puluhan sekaligus.Yang terj
Malam itu, setelah istana kembali sunyi dan para bangsawan pulang dengan pikiran masing-masing, Rael belum tidur.Ia duduk sendirian di ruang arsip kecil yang jarang dipakai—ruangan tanpa lambang keluarga, tanpa penjaga tetap. Tempat yang aman justru karena dianggap tidak penting.Di hadapannya han
Perintah Raja dijalankan tanpa teriakan, tanpa derap berlebihan. Inilah cara istana bekerja ketika situasi genting—sunyi, cepat, dan mematikan bagi siapa pun yang lengah.Gerbang utama ditutup perlahan, seolah hanya pergantian jaga biasa. Di pelabuhan, kapal-kapal dagang ditahan dengan alasan inspe
Rael menegakkan tubuhnya, meski rasa kantuk sejak tadi terus menarik kelopak matanya turun. Ia merapikan kerah bajunya yang berdebu, lalu berjalan menyusuri lorong menuju pintu balai utama istana. Suasana di dalam terasa berat—senyap, namun penuh tekanan yang sulit didefinisikan.Paman Halim berdir
Yubi menggigit bibirnya, ketakutan semakin menusuk ke dalam dada. Ia menatap ibunya dengan mata merah.“Bu… kita tidak bisa menyentuh Rael,” katanya dengan suara pecah.“Sekarang dia didukung oleh Raja. Bahkan para penasehat pun takut padanya.”Sang Nyonya mendengus pelan, namun ada keraguan di mat







