LOGINKeheningan menyelimuti inti Merova.Setelah ledakan besar yang mengorbankan Arkos, hampir seluruh fasilitas berubah menjadi reruntuhan. Cahaya biru yang dulu memenuhi lorong-lorong kini berkedip lemah seperti bara api yang hampir padam.Rael berjalan sendirian.Lina dan yang lainnya tertahan di bagian luar akibat runtuhnya sebagian struktur inti. Untuk pertama kalinya sejak memasuki Merova, tidak ada musuh, tidak ada pertempuran, dan tidak ada suara tembakan.Hanya dirinya.Dan keputusan yang menunggu di depan.Di ujung lorong terakhir, sebuah pintu logam kecil terbuka perlahan.Di baliknya terdapat ruangan yang jauh lebih sederhana dibanding ruang inti sebelumnya.Tidak ada mesin raksasa.Tidak ada jaringan energi besar.Hanya sebuah konsol tua yang masih menyala.Serta sebuah kursi logam yang menghadap layar utama.Seolah seluruh kekuasaan dunia lama pada akhirnya bermuara pada tempat sesederhana itu.Rael melangkah mendekat.Layar menyala.Sosok holografik wanita yang pernah muncul
Rael berdiri di depan gerbang terakhir.Di belakangnya terbentang lorong-lorong Merova yang terus bergetar akibat aktifnya sistem kuno. Cahaya biru mengalir di sepanjang dinding seperti aliran darah dalam tubuh raksasa yang baru terbangun dari tidur panjang.Di hadapannya berdiri satu-satunya orang yang berhasil mencapai inti bersamanya.Arkos.Pria misterius yang sejak awal seolah mengetahui lebih banyak tentang Merova dibanding siapa pun.Gerbang raksasa perlahan terbuka.Suara logam kuno bergema ke seluruh ruangan.Apa yang terlihat di baliknya membuat keduanya terdiam.Mereka akhirnya tiba di pusat Merova.Jantung dunia lama.Ruangan inti berbentuk kubah raksasa yang tingginya mencapai ratusan meter.Di tengahnya melayang sebuah bola energi berwarna putih kebiruan sebesar bangunan bertingkat.Jutaan garis cahaya keluar dari bola itu dan menyebar ke segala arah.Seperti akar pohon yang menghubungkan seluruh dunia.Ribuan layar transparan melayang di udara.Data terus mengalir tanpa
Rael berdiri di tengah lorong logam yang sunyi. Setelah melewati berbagai lapisan keamanan Merova, ia akhirnya mencapai pusat wilayah kuno itu. Di hadapannya berdiri sebuah pintu raksasa berwarna perak gelap dengan simbol yang sama seperti yang terdapat pada gelang logam di pergelangan tangannya.Cahaya biru samar mengalir di sepanjang permukaan pintu.[AKSES UTAMA TERDETEKSI][MEMULAI EVALUASI KANDIDAT]Suara sistem bergema di seluruh ruangan.Rael menggenggam pedangnya."Apa lagi yang kau inginkan dariku?"Tidak ada jawaban.Pintu perlahan terbuka.Di baliknya terbentang ruangan bundar yang sangat luas. Ribuan layar transparan melayang di udara, menampilkan data yang terus berubah. Di tengah ruangan terdapat sebuah kursi logam hitam yang terhubung dengan ratusan kabel energi.Begitu Rael melangkah masuk, pintu menutup di belakangnya.Lantai bergetar.Tiba-tiba cahaya putih menyelimuti seluruh ruangan.Rael membuka mata.Ia tidak lagi berada di Merova.Di depannya terbentang sebuah k
Rael berdiri diam cukup lama di depan lukisan anak kecil itu.Ruangan arsip terasa semakin sunyi.Lentera minyak di tangan lelaki tua bergoyang pelan tertiup angin dari lorong batu, membuat bayangan lukisan bergerak samar di dinding.“Mustahil…” gumam Rael pelan.Lelaki tua itu tidak menjawab.Ia justru berjalan menuju meja kayu di sudut ruangan lalu membuka sebuah kotak tua berisi gulungan surat kerajaan.“Tidak ada yang mustahil di Merova,” katanya tenang.Rael masih memandangi wajah kecil dalam lukisan tersebut. Potongan-potongan ingatan mulai muncul samar di kepalanya.Lorong batu.Suara langkah pelatih.Anak-anak berbaris.Dan seseorang berkata—“Kerajaan membutuhkan penerus yang tidak terikat darah bangsawan.”Rael memejamkan mata sesaat.Kepalanya terasa berat.“Kenapa aku tidak mengingat semua ini?”“Karena sebagian dari kalian dibawa keluar sebelum pemilihan akhir.”Rael langsung menoleh cepat. “Kalian?”Lelaki tua itu mengangguk kecil.“Ada tujuh belas anak.”“Dan?”“Hanya d
Langit Wilin tampak suram ketika Rael meninggalkan kota itu tanpa menoleh lagi.Kabut tipis turun dari pegunungan utara, menyelimuti jalan batu tua yang selama puluhan tahun dianggap jalur mati. Orang-orang Wilin percaya tidak ada apa pun di balik pegunungan selain reruntuhan dan salju abadi. Namun malam itu, gunung-gunung itu justru memanggilnya.Di bawah mantel hitam lusuhnya, luka di bahu Rael masih terasa panas. Bekas pertempuran tiga hari lalu belum benar-benar pulih, tetapi ia tak punya waktu untuk beristirahat.Suara langkah kuda terdengar samar dari kejauhan.Mereka masih mengejarnya.Rael mempercepat langkah menembus hutan pinus yang mulai menanjak. Angin dingin menusuk kulit, membuat napasnya berubah menjadi uap putih.Di telapak tangan kirinya, simbol samar bercahaya merah redup.R-17.Tanda itu muncul sejak malam ledakan di laboratorium bawah tanah Dewan. Sejak saat itu semuanya berubah. Para petinggi Dewan menyebutnya “anomali.” Arkos menyebutnya “kunci.” Sementara orang-
Ledakan kembali mengguncang Wilin tepat setelah kalimat itu keluar. Pecahan kayu dan debu beterbangan dari sisi jalan utama saat pasukan Obsidian mulai mendorong masuk lebih dalam ke desa.“Unit depan maju!”“Bersihkan seluruh perimeter!”Suara komando dingin menggema di tengah api dan tembakan.Pasukan simbol hitam langsung membalas dari balik rumah-rumah kosong. Dentuman senjata dan kilatan api memenuhi malam.Namun Rael sudah mengambil keputusan.Serath melihatnya lebih dulu. “Kau benar-benar akan pergi ke Merova.”“Ya.”“Sendirian?” tanya Lina cepat.Rael belum sempat menjawab ketika orang berjubah abu berkata pelan,“Itu satu-satunya cara.”Sunyi singkat.Mira langsung mendecak keras. “Aku BENCI saat orang misterius ternyata benar.”Orang abu itu menatap Rael lurus. “Pasukan besar tidak pernah berhasil masuk.”“Kami bukan pasukan besar,” balas Lina cepat.“Kalian tetap terlalu banyak.”Kalimat itu membuat semua diam.Krail akhirnya bicara lagi. “Kalau Merova benar-benar aktif, se