MasukPerlahan jari lentik Anjani menarik kain cadar yang menutupi wajahnya.
Bara yang masih duduk di atas ranjang spontan menahan napas. tanpa sadar, ia menunggu dan penasaran juga dengan seperti apa wajah Anjani yang kini akan jadi istri barunya.. Namun tepat sebelum cadar itu benar-benar terbuka, Bara tiba-tiba mengalihkan pandangan ke arah lain. Gerakan bara itu sontak saja membuat upaya Anjani untuk membuka cadarnya langsung terhenti. Wanita bercadar itu menatap Bara beberapa saat. di mata Anjani, Bara sosok yang baik, juga sosok tampan dengan tubuh yang ideal untuk ukuran lelaki. tapi selama ini Anjani hanya menganggap Bara sebagai adik iparnya yang telah dinikahi oleh Helend,adik kandungnya. sementara di mata Bara, Anjani adalah wanita yang pendiam meski wajahnya tertutup cadar tapi bentuk tubuhnya terlihat ideal. bahkan pernah sekali waktu Bara tak sengaja melihat bentuk tubuh Anjani tanpa busana di kamar mandi. kulit tubuhnya putih bersih dengan lekuk lekuk yang menggiurkan. meski wajahnya belum ia ketahui seperti apa. tkini Anjani akan jadi milik Bara. " oh Tuhan, sudahlah!" lennguh Bara spontan dan lirih setelah mengingat segala keanehan yang terjadi pada satu hari ini. bagaimana bisa, ia bertukar ranjang dan bertukar tubuh untuk kakak kandung istrinya. "Apa maksudmu?" tanya Anjani dengan nada dingin. Bara mengusap pelipisnya yang masih berdenyut akibat pukulan yang tiba-tiba menghantam tadi. "Aku sedang tidak ingin melihat wajah siapa pun malam ini," jawab Bara sambil berdiri dari ranjang. Anjani langsung mengangkat alisnya, ia seperti tersinggung dengan sikap Bara. "Kau takut melihat wajahku?" tanya Anjani. Bara sedikit menunduk dan tidak langsung menjawab. Ia memilih bangkit dan berjalan menuju jendela kamar lalu memandang ke luar. Lampu taman keluarga Braja masih menyala terang. Rumah mewah itu tetap terlihat megah seperti biasa. saking megahnya hingga dirinya yang hanya seorang satpam selalu dianggap tak lebih dari selembar keset di rumah ini. Namun bagi Bara, malam ini semuanya terasa asing. "Kau tidak menjawab pertanyaanku," desak Anjani. Bara akhirnya menoleh. Tatapan mereka pun akhirnya bertemu. "A- aku baru saja kehilangan istriku," kata Bara pelan. "Maaf kalau saat ini aku tidak sedang memikirkan wajahmu."jawab Bara dengan pelan agar tidak menyakiti hati Anjani.kakak iparnya yang kini tiba-tiba menjadi istrinya. Kalimat itu membuat Anjani membeku. Sesaat kemudian wanita itu tertawa kecil. Tawa Anjani itu pelan tapi terdengar pahit. "Lucu," gumam Anjani. "Apa yang lucu?" tanya Bara. "Aku juga kehilangan suamiku hari ini," jawab Anjani. Bara pun terdiam mndengar ucapan Anjani dan dalam sesaat wajah dan senyum Helend tiba-tiba tiba tergambar dalam pikirannya. Anjani melepaskan tangannya dari cadar. "Wanita mana yang senang mandul dan diceraikan lalu disuruh menikah dengan pria lain dalam satu hari?" tanya Anjani. Nada suaranya mulai bergetar dan serak. "Ayahku bahkan tidak bertanya apakah aku setuju."lanjut Anjani sedikit parau. Bara tidak bisa membantah ia pun merasakan hal yang sama. meski di hadapannya telah duduk wanita yang siap untuk ia nikmati tubuhnya tapi ingatannya masih terkunci pada Helend istrinya, yang kini mungkin sudah sama Jodi. tapi, meskiMereka sama-sama korban. Namun, bukan berarti mereka harus saling menyukai. "Aku tidak pernah meminta semua ini," ujar Bara sambil menyilangkan tangan di dada. "Aku juga tidak," balas Anjani. "Lalu kenapa kau tadi menawarkan tubuhmu?" tanya Bara. Pertanyaan itu membuat Anjani terdiam. Wajahnya memang tidak terlihat karena tertutup cadar. Namun dari sorot matanya, Bara tahu wanita itu tidak nyaman. Beberapa detik berlalu sebelum Anjani menjawab. "Karena aku tidak punya pilihan," jawab Anjani. Bara mengernyit. Anjani menundukkan kepala. "Sejak kecil aku selalu melakukan apa yang diminta keluargaku," lanjut Anjani. Ia tersenyum tipis. Sayangnya senyum itu terasa sedih. "Hari ini pun sama." Bara memandang wanita itu cukup lama. Untuk pertama kalinya malam itu, kemarahannya sedikit mereda. Namun saat ia mengingat Helend, dadanya kembali terasa sesak. "Helend benar-benar pergi?" tanya Bara. Anjani mengangguk pelan. "Tadi sore," jawab Anjani. Bara menggenggam tangannya erat. Tiga tahun. Tiga tahun ia hidup bersama Helend. Dan kini semuanya berakhir hanya karena keputusan orang lain. Melihat ekspresi Bara, Anjani kembali membuka suara. "Kau masih mencintainya?" tanya Anjani. Bara tertawa kecil. Bukan karena lucu. Melainkan karena pertanyaan itu terasa menyakitkan. "Aku menikahinya selama tiga tahun," jawab Bara. "Itu bukan jawaban," balas Anjani. Bara menghela napas panjang. "Aku tidak tahu apakah itu cinta atau kebiasaan. Tapi yang jelas, aku tidak pernah membayangkan kehilangan dia seperti ini," kata Bara. ucapan Bara sontak membuat ruangan kembali sunyi. Beberapa saat kemudian ponsel Bara bergetar. Ia langsung mengambilnya. Nomor tidak dikenal. Bara mengangkat panggilan itu. "Halo?" "Tuan muda, akhirnya kami berhasil menghubungi Anda." Suara pria tua terdengar dari seberang. Baratidaj langsung mengenali suara itu. "Saya tidak kenal Anda," kata Bara. "Namun kami mengenal Anda, Tuan Muda" jawab pria itu. Bara mengernyit sambil menatap langit-langit kamar sementara semerbak wangi farpum Anjani masih menguarkan di hidungnya. Pria di telpon itu lantas melanjutkan, "Ayah Anda sedang sakit keras." Entah mengapa, ketika mendengar itu, Jantung Bara seketika berdetak lebih cepat. "Kami membutuhkan Anda."lanjut pria di ponsel itu. namun belum sempat Bara brtanya lebih jauh, tiba-tiba saja Sambungan terputus begitu saja. Bara menatap layar ponselnya beberapa saat sambil geleng-gelengxkepala dan berdecak kesal. Anjani memperhatikan dari kejauhan. "Ada masalah?" tanya Anjani. "Tidak ada," jawab Bara. "Itu jelas wajah orang yang sedang punya masalah," balas Anjani. Bara memasukkan ponselnya ke saku. "Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi," kata Bara. Malam semakin larut.Jam menunjukkan hampir pukul sebelas. Sementara Bara duduk di sofa. Dan Anjani masih duduk di tepi ranjang. Suasana terasa canggung. Sampai akhirnya Anjani kembali membuka suara. "Bara." "Hm?" sahut Bara. "Kau benar-benar tidak penasaran dengan wajahku?" tanya Anjani. Bara menatapnya. Sementara Wanita itu perlahan berdiri. Lalu berjalan melangkah, Langkahnya pelan.Satu langkah dua langkah,tiga langkah.Hingga akhirnya berhenti tepat di depan Bara. "Kau tahu kenapa aku selalu memakai cadar?" tanya Anjani. Bara menggeleng. "Karena semua orang bilang wajahku memalukan," jawab Anjani. Anjani menarik napas panjang. "Tapi malam ini aku lelah mendengar penilaian orang lain." lanjut Anjani. Jantung Bara mulai berdetak lebih cepat. Entah kenapa.Perlahan...Bahkan Sangat perlahan... Anjani mengangkat kedua tangannya. Lalu memegang ujung cadarnya. Bara menatap tanpa berkedip. Kain hitam itu mulai turun sedikit demi sedikit. Memperlihatkan dagu putih mulus. Lalu bibir merah muda yang terlihat lembut. Bara mulai mengernyit. BERSAMBUNG,ya,Manteman. mksh sudah singgah. jgn lupa sub. komentar dan gift jika berkenan. semoga rejeki Manteman semua semakin mengalir dan berkah. Aamiin. mksh banyak,MantemanSeluruh orang di lorong bawah tanah masih terpaku menatap layar ponsel Roland yang kini telah kembali gelap. Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik, membiarkan keheningan malam dan deru napas tertahan mendominasi ruangan.Namun di luar dugaan, Bara justru tidak langsung panik. Dengan gestur tenang, ia meminta Roland memutar ulang video rekaman siaran langsung ruang rapat yang baru saja dikirimkan.Roland mengernyitkan dahi, menatap tuannya dengan keheranan. "Tuan Muda, isi pesannya sudah sangat jelas. Pria bermata abu-abu itu sudah menguasai ruang rapat. Untuk apa kita melihatnya lagi?"Bara tidak menjawab pertanyaan asistennya. Alih-alih memperhatikan wajah paman yang sedang berkhianat di layar, sorot mata Bara justru mengamati setiap detail sudut ruangan tempat video itu direkam.Ia mengamati posisi tiang infus, pantulan cahaya tipis pada kaca jendela, angka digital di layar monitor pasien yang redup, hingga arah bayangan tirai di lat
Seluruh orang di lorong bawah tanah mendadak membeku dalam keheningan yang menyesakkan. Sorot mata Bara terkunci tajam pada layar ponsel Roland yang masih menampilkan siaran langsung dari ruang rapat utama kantor pusat.Di layar tersebut, pria bermata kiri abu-abu tampak berdiri dengan angkuh di hadapan para direksi, mengangkat selembar dokumen resmi yang baru saja ia buka. Di atas kertas berlogo negara itu, memang tertulis nama Bara Arthur sebagai pihak pertama.Namun, ketika mata Bara membaca lebih jauh pada kolom berikutnya, darahnya seolah berdesir dingin. Nama mempelai wanita di dalam akta pernikahan tersebut bukanlah Anjani.Di ruang rapat pusat, sang paman bermata abu-abu mulai mengumumkan dokumen itu dengan suara lantang yang sengaja disiarkan ke seluruh penjuru ruangan. Ia menuding bahwa Bara selama ini telah membohongi keluarga besar Arthur dan dewan direksi dengan menyembunyikan status pernikahan masa lalu yang sah secara hukum, menjadikannya tidak layak memegang tampuk
Sorot senter dari tangan Bara menerangi lorong yang tersembunyi di balik dinding batu. Sosok pria berjas hitam yang berdiri di ujung lorong itu sama sekali tidak menunjukkan niat untuk melawan. Di belakangnya, sebuah ruangan yang lebih luas terpampang nyata, dihiasi sebuah meja batu besar dan sebuah lukisan minyak berukuran besar yang tergantung di dinding paling dalam.Seluruh rombongan memandang lukisan itu tanpa berkedip. Ketua Dewan melangkah mendekat dengan napas memburu. Tongkat di tangannya hampir terlepas dari genggamannya saat matanya menangkap sosok pria yang berdiri tepat di samping pendiri keluarga Arthur dalam lukisan kuno tersebut.Kemiripan wajah pria dalam lukisan itu dengan Bara terlalu mencolok untuk disebut sebuah kebetulan. Bentuk rahangnya, sorot mata tajamnya, bahkan garis alisnya tampak hampir identik, seolah-olah wajah Bara yang dipindahkan ke atas kanvas tua.Roland spontan menoleh ke arah Bara, lalu kembali menatap lukisan di dinding. "Mustahil..." bisikny
Suara ledakan yang menggema dari bangunan utama masih menyisakan dengung di telinga, namun perhatian rombongan kecil itu kini terkunci sepenuhnya pada pintu besi tua di hadapan mereka. Semua orang membeku dalam ketegangan yang pekat.Roland langsung memberi isyarat tajam kepada dua pengawal terbaiknya untuk menyisir dan memeriksa area sekitar lorong. Setelah pemeriksaan kilat dilakukan, kedua pengawal itu kembali dengan napas terengah-engah dan menggelengkan kepala."Tidak ada siapa pun yang melewati lorong ini, Tuan Muda," lapor salah satu pengawal. "Hanya kita yang ada di sini."Pernyataan itu menyisakan dua kemungkinan yang sama-sama mengerikan. Entah ada jalan rahasia lain yang tersembunyi di balik dinding, atau... seseorang memang telah berada di dalam ruangan itu jauh sebelum mereka datang.Ketua Dewan tampak kehilangan ketenangan yang selama ini selalu ia jaga. Pria sepuh itu meremas tongkatnya dengan jemari yang gemetar. Selama puluhan tahun mengabdi pada keluarga Arthur,
Udara di dalam ruang kerja mendadak terasa begitu tipis setelah Roland melontarkan kalimat terakhirnya. Seluruh orang yang hadir saling berpandangan dalam keheningan yang mencekam, membawa beban keterkejutan yang teramat berat.Ketua Dewan, seorang pria sepuh yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani keluarga besar Arthur, tampak sangat pucat. Ia menggelengkan kepala perlahan sambil menopang tubuhnya di tepi meja kerja."Tidak mungkin..." gumam Ketua Dewan dengan suara bergetar. "Selama puluhan tahun aku mengabdi di sini, yang kumengerti hanya ada satu Ruang Warisan, yaitu tempat penyimpanan dokumen leluhur yang biasa dibuka saat pergantian kepala keluarga. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, tidak pernah ada catatan tentang Ruang Warisan Kedua."Pengakuan itu semakin memperbesar kabut misteri yang menyelimuti silsilah keluarga Arthur.Bara tidak langsung bersuara. Ia berjalan mendekati meja, lalu meletakkan sebuah kunci perak kuno yang ia temukan sebelumnya di seb
Suasana di ruang utama mendadak berubah tegang. Seluruh anggota dewan keluarga Arthur masih terpaku, menatap Bara yang baru saja membaca surat misterius yang dibawa oleh kuasa hukum sang pemegang saham baru. Tidak ada satu pun yang mengetahui isi surat tersebut karena Bara dengan cepat melipat kertas itu dan menyimpannya ke dalam saku jasnya tanpa ragu.Seorang paman senior langsung maju dengan nada tidak sabar. "Bara, apa isi surat itu? Bacakan di depan seluruh dewan keluarga. Jangan bertindak sendiri!" desak sang paman.Bara menatapnya datar tanpa gentar. "Isinya bukan urusan dewan untuk saat ini," jawabnya dingin. Penolakan tegas itu kontan memancing bisik-bisik dan spekulasi liar di antara kerabat yang lain.Setelah situasi di ruang utama mulai mereda, Bara meminta Ketua Dewan, Roland, dan Anjani untuk masuk ke ruang kerja pribadinya. Pintu dikunci rapat guna memastikan kerahasiaan percakapan mereka.Di balik meja kerjanya, Bara mengeluarkan kembali surat tersebut. Di hadapan







