LOGINMustahil!..”
Bara berdiri terpaku di depan Anjani. Matanya sulit berpindah dari wajah wanita yang selama ini selalu tertutup cadar itu. Anjani yang masih memegang kain cadarnya mengernyit. "Apa yang mustahil?" tanya Anjani dengan nada bingung sambil menatap Bara. Bara menggeleng pelan. Selama tiga tahun menjadi menantu keluarga Braja, ia sudah mendengar berbagai cerita tentang Anjani. Katanya wajah Anjani buruk. Katanya wajah Anjani memalukan. Katanya Anjani sendiri yang memilih hidup di balik cadar karena tidak sanggup menerima kenyataan. Namun semua cerita itu ternyata bohong.Karena wanita yang berdiri di depannya sekarang justru sangat cantik.Bahkan terlalu cantik untuk disebut biasa. "Aku tidak mengerti," ucap Bara dengan suara rendah sambil menghela napas. Anjani tersenyum tipis.Namun, senyum itu tidak menunjukkan kebahagiaan. "Akhirnya kau melihatnya juga," ujar Anjani sambil menurunkan pandangan. "Kalau wajahmu seperti ini, kenapa kau harus memakai cadar?" tanya Bara sambil mengernyit. Senyuman di wajah Anjani perlahan menghilang. Tatapannya berubah dingin. "Itu bukan urusanmu," jawab Anjani sambil kembali menarik kain cadarnya hingga menutupi sebagian wajah. "Aku hanya bertanya," ujar Bara dengan tenang. "Aku tidak suka membahasnya," balas Anjani sambil memalingkan wajah. Keheningan langsung memenuhi kamar. Bara dapat merasakan bahwa pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang selama ini berusaha disembunyikan Anjani. Ia tidak melanjutkan pertanyaannya. Beberapa saat kemudian Bara berjalan menuju sofa dan duduk perlahan. Pukulan Jodi tadi masih meninggalkan rasa nyeri di kepalanya. Namun rasa penasaran dalam dirinya jauh lebih besar. "Kau tahu apa yang paling aneh?" tanya Bara sambil menatap lantai. Anjani melirik sekilas ke arahnya. "Apa?" tanya Anjani dengan nada datar. "Semua orang di rumah ini bilang kau buruk rupa," jawab Bara sambil mengangkat kepala. Anjani tidak menjawab. "Padahal kenyataannya sama sekali berbeda," lanjut Bara. Terdengar tawa kecil dari balik cadar. Tawa yang justru terdengar pahit. "Kadang kenyataan tidak penting," ucap Anjani pelan. Bara mengerutkan kening. "Maksudmu?" Anjani berjalan ke dekat jendela. Tatapannya mengarah ke taman yang mulai gelap. "Yang penting adalah apa yang ingin dipercaya orang," jawab Anjani tanpa menoleh. Bara semakin yakin. Ada sesuatu yang disembunyikan keluarga Braja. Dan rahasia itu berkaitan langsung dengan Anjani. Sebelum ia sempat bertanya lagi, terdengar suara langkah kaki mendekat dari luar kamar. Anjani langsung memasang kembali cadarnya dengan cepat. Gerakannya begitu terlatih seolah sudah dilakukan ribuan kali. Tok. Tok. Tok. Ketukan terdengar dari luar. "Kak Anjani?" Bara langsung mengenali suara itu. Helend. "Ada apa?" tanya Anjani sambil berjalan ke arah pintu. "Aku ingin bicara sebentar," jawab Helend dari luar kamar. Anjani tampak ragu. Namun akhirnya ia membuka pintu. Helend berdiri di sana dengan mata sembab. Sepertinya wanita itu baru saja menangis. Saat melihat Bara berada di dalam kamar, Helend terlihat sedikit canggung. Tatapannya sempat bertemu dengan Bara sebelum buru-buru dialihkan. "Aku mengganggu?" tanya Helend dengan suara pelan. Bara bangkit dari sofa. "Aku bisa keluar kalau kalian ingin bicara berdua," ujar Bara sambil melangkah menuju pintu. "Tidak perlu," sahut Helend sedikit terlalu cepat. Bahkan Helend sendiri terlihat terkejut dengan reaksinya. Suasana mendadak menjadi canggung. "Aku hanya ingin bicara sebentar dengan Kak Anjani," lanjut Helend sambil menundukkan kepala. Bara mengangguk pelan lalu kembali duduk. Helend pun masuk ke dalam kamar. Namun beberapa langkah kemudian, gerakannya tiba-tiba berhenti. Matanya terpaku pada wajah Anjani. Lebih tepatnya pada bagian wajah yang belum tertutup sempurna oleh cadar. Untuk beberapa detik, Helend tidak bergerak. Tidak berkedip. Tidak bersuara. Seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Anjani yang menyadari tatapan itu langsung ingin merapikan cadarnya. Namun semuanya sudah terlambat. Helend sudah melihatnya. Benar-benar melihatnya. "Kak..." ucap Helend lirih. Anjani menundukkan kepala. Sementara Bara hanya memperhatikan dari kejauhan. "Kakak..." Suara Helend mulai bergetar. Wanita itu melangkah satu langkah lebih dekat. Matanya terus menatap wajah kakaknya. Wajah yang selama bertahun-tahun selalu tersembunyi. "Tidak mungkin..." bisik Helend sambil menggeleng pelan. Air matanya perlahan mulai menggenang. Seumur hidup ia percaya bahwa kakaknya memakai cadar karena wajahnya rusak. Karena itulah yang selalu dikatakan keluarganya. Karena itulah yang selalu ia dengar. Namun wanita yang berdiri di depannya sekarang justru jauh lebih cantik daripada yang pernah ia bayangkan. Bahkan kecantikan itu membuat Helend sulit memercayai matanya sendiri. "Kakak..." panggil Helend dengan suara serak. Anjani masih diam. "Kakak tidak seperti yang mereka katakan." Bibir Anjani bergetar tipis. Namun ia tetap tidak menjawab. Helend menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Semakin lama ia menatap kakaknya, semakin besar rasa tidak percaya dalam dirinya. Lalu sebuah pikiran tiba-tiba muncul. Pikiran yang membuat wajahnya memucat. "Tunggu..." ucap Helend sambil mundur satu langkah. Tatapannya perlahan berubah. Bukan lagi bingung. Melainkan syok. Helend memandang Anjani, lalu memandang lantai, kemudian kembali menatap kakaknya. Seolah sedang menyusun kepingan-kepingan yang selama ini tidak pernah cocok. "Ayah bilang wajah Kakak rusak." Anjani memejamkan mata. Helend melanjutkan dengan suara yang semakin gemetar. "Ayah bilang Kakak sendiri yang memilih memakai cadar." Air mata mulai jatuh di pipi Helend. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa seperti tidak mengenal keluarganya sendiri. Kemudian Helend menatap lurus ke arah Anjani. Tatapan yang penuh kebingungan sekaligus luka. "Jadi selama ini..." bisik Helend sambil menggenggam dadanya. Anjani tetap diam. tapi Keheningan itu justru menjadi jawaban paling menyakitkan. Mata Helend seketikamembesar perlahan. Wajahnya memucat. Dan akhirnya kalimat itu keluar dari bibirnya. "Jadi selama ini Ayah berbohong kepada kita semua?"ucap Helend dengan pandangan kosong dan nanar. Bersambung,ya,Manteman.terimakadih sudah singgah. semoga nyaman sampai akhir,ya. jangan lupa sub dan komen juga gift ya, jika berkenan. makaciiiiiSeluruh orang di lorong bawah tanah masih terpaku menatap layar ponsel Roland yang kini telah kembali gelap. Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik, membiarkan keheningan malam dan deru napas tertahan mendominasi ruangan.Namun di luar dugaan, Bara justru tidak langsung panik. Dengan gestur tenang, ia meminta Roland memutar ulang video rekaman siaran langsung ruang rapat yang baru saja dikirimkan.Roland mengernyitkan dahi, menatap tuannya dengan keheranan. "Tuan Muda, isi pesannya sudah sangat jelas. Pria bermata abu-abu itu sudah menguasai ruang rapat. Untuk apa kita melihatnya lagi?"Bara tidak menjawab pertanyaan asistennya. Alih-alih memperhatikan wajah paman yang sedang berkhianat di layar, sorot mata Bara justru mengamati setiap detail sudut ruangan tempat video itu direkam.Ia mengamati posisi tiang infus, pantulan cahaya tipis pada kaca jendela, angka digital di layar monitor pasien yang redup, hingga arah bayangan tirai di lat
Seluruh orang di lorong bawah tanah mendadak membeku dalam keheningan yang menyesakkan. Sorot mata Bara terkunci tajam pada layar ponsel Roland yang masih menampilkan siaran langsung dari ruang rapat utama kantor pusat.Di layar tersebut, pria bermata kiri abu-abu tampak berdiri dengan angkuh di hadapan para direksi, mengangkat selembar dokumen resmi yang baru saja ia buka. Di atas kertas berlogo negara itu, memang tertulis nama Bara Arthur sebagai pihak pertama.Namun, ketika mata Bara membaca lebih jauh pada kolom berikutnya, darahnya seolah berdesir dingin. Nama mempelai wanita di dalam akta pernikahan tersebut bukanlah Anjani.Di ruang rapat pusat, sang paman bermata abu-abu mulai mengumumkan dokumen itu dengan suara lantang yang sengaja disiarkan ke seluruh penjuru ruangan. Ia menuding bahwa Bara selama ini telah membohongi keluarga besar Arthur dan dewan direksi dengan menyembunyikan status pernikahan masa lalu yang sah secara hukum, menjadikannya tidak layak memegang tampuk
Sorot senter dari tangan Bara menerangi lorong yang tersembunyi di balik dinding batu. Sosok pria berjas hitam yang berdiri di ujung lorong itu sama sekali tidak menunjukkan niat untuk melawan. Di belakangnya, sebuah ruangan yang lebih luas terpampang nyata, dihiasi sebuah meja batu besar dan sebuah lukisan minyak berukuran besar yang tergantung di dinding paling dalam.Seluruh rombongan memandang lukisan itu tanpa berkedip. Ketua Dewan melangkah mendekat dengan napas memburu. Tongkat di tangannya hampir terlepas dari genggamannya saat matanya menangkap sosok pria yang berdiri tepat di samping pendiri keluarga Arthur dalam lukisan kuno tersebut.Kemiripan wajah pria dalam lukisan itu dengan Bara terlalu mencolok untuk disebut sebuah kebetulan. Bentuk rahangnya, sorot mata tajamnya, bahkan garis alisnya tampak hampir identik, seolah-olah wajah Bara yang dipindahkan ke atas kanvas tua.Roland spontan menoleh ke arah Bara, lalu kembali menatap lukisan di dinding. "Mustahil..." bisikny
Suara ledakan yang menggema dari bangunan utama masih menyisakan dengung di telinga, namun perhatian rombongan kecil itu kini terkunci sepenuhnya pada pintu besi tua di hadapan mereka. Semua orang membeku dalam ketegangan yang pekat.Roland langsung memberi isyarat tajam kepada dua pengawal terbaiknya untuk menyisir dan memeriksa area sekitar lorong. Setelah pemeriksaan kilat dilakukan, kedua pengawal itu kembali dengan napas terengah-engah dan menggelengkan kepala."Tidak ada siapa pun yang melewati lorong ini, Tuan Muda," lapor salah satu pengawal. "Hanya kita yang ada di sini."Pernyataan itu menyisakan dua kemungkinan yang sama-sama mengerikan. Entah ada jalan rahasia lain yang tersembunyi di balik dinding, atau... seseorang memang telah berada di dalam ruangan itu jauh sebelum mereka datang.Ketua Dewan tampak kehilangan ketenangan yang selama ini selalu ia jaga. Pria sepuh itu meremas tongkatnya dengan jemari yang gemetar. Selama puluhan tahun mengabdi pada keluarga Arthur,
Udara di dalam ruang kerja mendadak terasa begitu tipis setelah Roland melontarkan kalimat terakhirnya. Seluruh orang yang hadir saling berpandangan dalam keheningan yang mencekam, membawa beban keterkejutan yang teramat berat.Ketua Dewan, seorang pria sepuh yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani keluarga besar Arthur, tampak sangat pucat. Ia menggelengkan kepala perlahan sambil menopang tubuhnya di tepi meja kerja."Tidak mungkin..." gumam Ketua Dewan dengan suara bergetar. "Selama puluhan tahun aku mengabdi di sini, yang kumengerti hanya ada satu Ruang Warisan, yaitu tempat penyimpanan dokumen leluhur yang biasa dibuka saat pergantian kepala keluarga. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, tidak pernah ada catatan tentang Ruang Warisan Kedua."Pengakuan itu semakin memperbesar kabut misteri yang menyelimuti silsilah keluarga Arthur.Bara tidak langsung bersuara. Ia berjalan mendekati meja, lalu meletakkan sebuah kunci perak kuno yang ia temukan sebelumnya di seb
Suasana di ruang utama mendadak berubah tegang. Seluruh anggota dewan keluarga Arthur masih terpaku, menatap Bara yang baru saja membaca surat misterius yang dibawa oleh kuasa hukum sang pemegang saham baru. Tidak ada satu pun yang mengetahui isi surat tersebut karena Bara dengan cepat melipat kertas itu dan menyimpannya ke dalam saku jasnya tanpa ragu.Seorang paman senior langsung maju dengan nada tidak sabar. "Bara, apa isi surat itu? Bacakan di depan seluruh dewan keluarga. Jangan bertindak sendiri!" desak sang paman.Bara menatapnya datar tanpa gentar. "Isinya bukan urusan dewan untuk saat ini," jawabnya dingin. Penolakan tegas itu kontan memancing bisik-bisik dan spekulasi liar di antara kerabat yang lain.Setelah situasi di ruang utama mulai mereda, Bara meminta Ketua Dewan, Roland, dan Anjani untuk masuk ke ruang kerja pribadinya. Pintu dikunci rapat guna memastikan kerahasiaan percakapan mereka.Di balik meja kerjanya, Bara mengeluarkan kembali surat tersebut. Di hadapan







