Beranda / Rumah Tangga / BERTUKAR RANJANG / Bab 1. BERTUKAR RANJANG

Share

BERTUKAR RANJANG
BERTUKAR RANJANG
Penulis: Chana Lee

Bab 1. BERTUKAR RANJANG

Penulis: Chana Lee
last update Tanggal publikasi: 2026-06-15 15:03:22

Ruang keluarga besar keluarga Braja sore itu terasa tenang, tapi justru ketenangan itu membuat suasananya terasa tegang , terlebih untuk Bara yang merupakan menantu miskin yang kalah jauh dengan Jodi yang katanya merupakan anak orang terkaya di kota ini..

Bara duduk dengan hati tak karuan dan ketegangan yang melanda.

Di hadapannya, Tuan Braja, menantunya duduk di kursi utama.

Lelaki tua itu tidak perlu meninggikan suara untuk membuat orang lain segan. Cukup dengan duduk dan menatap saja, suasana sudah terasa berat.

Di sisi kanan Tuan Braja, Helend duduk.

Helend adalah istri Bara. Cantik, tenang, dan selalu terlihat rapi. Helend ini disebut-sebut sebagai putri keluarga Braja yang paling berkualitas, selain cantik, ia juga punya tubuh bagus, dan pendidikan tinggi di luar negeri. Tapi ia pun disebut putri yangkurang beruntung karena menikahi lelaki miskin seperti bara. Berbeda dengan Anjani Kakak kandungnya yan katanya berwajah buruk hingga wajahnya ditutupi cadar, tapi Anjani disebut beruntung punya suami anak orang terkaya di kota ibu yang bernama Jodi. Pernikahan Anjani dan Jodi membuatkerjasama bisnis yangmenguntungkan untuk keluarga Braja. Tapi beberapa hari lalu hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa Anjani diketahui mandul sehingga. Anjani dan Jodi tak Mungin punya keturunan. Jodi yang dituntut keluarganya untuk punya keturunan awalnya nemutuskan untuk menceraikan Anjani sekaligus memutus kerjasama bisnis dengan seluruh perusahaan Braja milik mertuanya.hal l itu sontak membuat Tuan Braja , sang tetua keluarga Braja merasa gusar. maka dari itu Tuan Brajad memanggil kedua putri beserta suaminya untuk memutuskan sesuatu.

aTuab Braja duduk di kursi utama dengan wibawa yang kuat meskipun usianya sudah tak muda lagi

Di sisi kiri Tuan Braja, Anjani putri pertama yang mengenakan cadar itu duduk diam.

Wajahnya tertutup cadar, hanya matanya yang terlihat. Dia dikenal sebagai wanita yang “beruntung” karena menikah dengan anak orang terkaya yang menguasai separo bisnis di kota kecil ini. Lelaki itu bernama Jodi.

Dan Jodi sekarang duduk di samping Bara.

Dia adalah menantu yang dibanggakan keluarga Braja. Anak orang kaya, meski tidak setampan bara, tapi harta dan kedudukan yang dimiliki Jodi, membuat dirinya terlihat percaya diri, dan jelas terlihat nyaman berada di sana.

Sementara Bara…

Dia hanya duduk di sampingnya, terlihat paling sederhana di antara semuanya.

Meski sebenarnya dia bertubuh tegap dan wajahnya tampan, statusnya sebagai satpam bank dan suami dari keluarga ini membuatnya selalu dipandang rendah.

Tak lama kemudian, Tuan Braja akhirnya bicara.

‘’Helend, menurut hasil pemeriksaan dokter, ternyata ANJANI, kakakmu itu mandul, sementara Jodi suaminya dan keluarganya membutuhkan garis keturunan sebagai pewaris mereka.karena itu, jodi memutuskan untuk menceraikan kakakmu. jika Jodi menceraikan kakakmu. Ini benar-benar bencana untuk bisnis keluarga kita. kita berada pada posisi yang tak mudah Tapi, Ayah sudah menemukan jalan keluarnya, ayah harap kalian paham dan menerima semua keputusan yang berat ini.," ujar Tuan Braja dengan suara berat.

di saat itu, suasana seketika terasa menegangkan. Bara, suami Helend yang selama ini selalu dihina dan direndahkan karena miskin duduk di kursinya dengan tenang, namun matanya terus menangkap detail kecil di ruangan itu—cara Helend menarik napas lebih dalam dari biasanya, cara Tuan Braja tidak benar-benar menatap semua orang secara setara, dan cara Jodi duduk dengan ketenangan yang terasa terlaluangkuh untuk sebuah percakapan keluarga biasa.

Di dalam pikirannya, Bara mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman. Bukan sekadar firasat, tapi lebih seperti kesadaran bahwa ia sedang berada di tengah percakapan yang hasil akhirnya sudah ditentukan bahkan sebelum ia hadir di sana.

"Jalan keluar apa?" tanya Helend.

"Helend... Ayah ingin kau berpisah dengan Bara dan Bara menikahi Anjani, kakakmu," jawab Tuan Braja setelah menarik napas panjang.

"Ayah gila?" seru Helend sambil berdiri.

Tentu saja ia tak menyangka papanya memutuskan hal segila itu, bagaimana bisa ia menikahi njodi yang detik ini masih berstatus suami Anjani, kakaknya yang bercadar itu.

"Ayah tidak bercanda," tegas Tuan Braja pelan.

"Kalau ini lelucon, ini tidak lucu!" balas Helend dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Aku yang meminta ini," sambar Jodi sambil berdiri

dengan tenang dari kursinya.

"Kau serius?" tanya Anjani sambil menatap tajam Jodi yang kini masih berstatus suaminya.

"Keluargaku, keluarga Anggara membutuhkan penerus.” tegas Jodi sambil menepuk Dadanya penuh kebanggaan.

"Aku sudah memikirkan semuanya,"imbuh Tuan Braja sambil menatap kedua putrinya secara bergantian.

"Memikirkan semuanya?"timpal Anjani dengan suara yang terdengar mulai bergetar.

"Termasuk menghancurkan perasaan aku sebagai putrimu?" Sambar Anjani terlihat berusaha memberanikan diri karena ia tak rela jika Jodi, suaminya jadi milik Helend yangxmerupakan adik kandungnya.

" ini sudah ketelaluan!" celetuk Bara tanpa sadar sambil menggelengkan kepalanya

celetukan Bara itu membuat Jodi langsung menoleh dan terbelalak.

"Kamu pria tidak berguna tidak punya hak untuk bicara! saya sudah menjelaskan konsekuensinya," timpal Jodi sambil menunjuk batang hidung Bara yang lancip sempurna.

" dasar binatang! pekik Bara yang sedikit hilang kesabarannya kepada Jodi.

Jodi langsung terbelalak, matanya melotot menatap Bara

“ maaf, aTuan Braja, apa kontribusi dia untuk keluarga ini!” lanjut Jodi sambil menunjuk Bara dan menoleh kepada Tuan Braja.

“ tidak ada, " jawab Tuan Braja dengan tegas.

Mendengar hal itu Jodi langsung mendekati bara dan...

CIH!

Jodi langsung meludahi dada bara dengan cairan kental dari mulutnya kemudian berkata, “ orang miskin, dasar sampah!” sentak Jodi sambil mendorong leher Bara hingga bara mundur satu langkah.

"Ayah..." Helend menatap ayahnya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Dengar,Nak!Kalau kita kehilangan Jodi, maka sebagian besar bisnis keluarga kita akan runtuh," jawab Tuan Braja dengan wajah muram.

“jadi daripada kita hancur karena kehilangan Jodi. Alangkah baiknya kalian bertukar posisi. Helend menjadi milik Jodi. Dan Anjani, akan menikah dengan Bara yang gak guna itu,” jelas Tuan Braja dengan perlahan dan hati-hati.

Bara tetap diam. Namun di balik ketenangan wajahnya,

Bara merasakan ada sesuatu yang sedang “menggeser posisinya” tanpa ia diberi pilihan untuk menolak.

Namun sebelum ia sempat menarik kesimpulan dan bereaksi lebih jauh untuk menghajar Jodi sebagai balasan atas tindakannya yang telah meludahinya, tiba-tiba saja ponsel Bara bergetar.

Bara menunduk, membuka pesan yang baru masuk, lalu membacanya perlahan.

[Tuan Bara akhirnya kami menemukan Anda, ayahmu sakit keras dan Anda harus segera pulang,Tuan muda!]

Untuk sesaat, ruangan itu terasa lebih sempit.

Panggilan itu… TUAN MUDA merupakan panggilan yang sama sekali belum pernah didapatkan oleh Bara yang hanya dikenal sebagai satpam miskin dan menantu tidak berguna dan sampah di keluarga Braja.

Belum sempat pikirannya menyambung makna dari kalimat itu, sebuah gerakan datang terlalu cepat dari sisi ruangan.

BRAK.

Sebuah pukulan keras menghantam Bara tanpa peringatan. Tubuhnya tersentak, kursinya bergeser kasar. Sebelum ia sempat mengangkat tangan atau bereaksi, pukulan kedua menyusul lebih brutal, membuat Bara pingsan dan hilang kesadaran.

mata Bara terpejam dan Suara di ruangan itu memudar.

Pandangan Bara mulai kabur dan perlahan menjadi gelap.

Bara jatuh terkulai tak sadarkan diri, tapi ingatan bawah sadarnya mengingat sebuah pesan si ponselnya ...

[uan MUDA , kami akhirnya menemukan Anda. Anda harus segera pulang]

bunyi pesan yang muncul di layar ponsel Bara tadi masih terngiang di ingatan bawah sadar Bara.

Hibgga tiba-tiba tiba saja sebuah suara membuatnya setengah kembali ke kesadaran penuhnya.

"Bara..."

Suara lembut seorang wanita menyambutnya dan menyadarkannya, dengan perlahan netra bara mencari sumber suara hingga netranya berhenti pada sosok wanita bercadar yang tengah duduk angyn di kursi samping ranjang.

Bara semakin membuka mata.

"Kau akhirnya sadar," lanjut wanita bercadar itu dengan suaraserak.

"Apa yang terjadi?" tanya Bara sambil mencoba

duduk.

"Ayah sudah mengambil keputusan," ucap wanita bercadar itu yang sudah pasti Anjani, sang kakak iparnya.

Suara Anjani terdengar lirih, wanita bercadar iruenundukkan kepala sesaat.

"Mulai malam ini, aku adalah istrimu. Perlakukan lah

aku selayaknya istrimu!," kata Anjani sambil menatap Bara dengan matasembap.

“ Tidak!” pekik Bara yang mengingat istrinya.

“ Kamu pikir aku mau nikah sama kamu yang miskin aku juga terpaksa, jangan ge'er dulu! “ sambar Anjani sambil bangkit dan beralih duduk di atas ranjang tepat di samping Bara.

Aroma tubuh Anjani langsung menguarkan di hidung Bara.

“ tapi, sebagai anak, aku harus patuh sama orang tua.

“ Malam ini ... Jika kamu mau, aku relakan tubuhku untukmu, “Lanjut Anjani sambil menoleh dan mendekatkan wajahnya ke wajah bara.

perlahan jari lentik Anjani menarik kain cadar untuk membuka kain penutup wajahnya di hadapan Bara.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BERTUKAR RANJANG   36. PERMAINAN. TIGA LANGKAH

    Seluruh orang di lorong bawah tanah masih terpaku menatap layar ponsel Roland yang kini telah kembali gelap. Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik, membiarkan keheningan malam dan deru napas tertahan mendominasi ruangan.​Namun di luar dugaan, Bara justru tidak langsung panik. Dengan gestur tenang, ia meminta Roland memutar ulang video rekaman siaran langsung ruang rapat yang baru saja dikirimkan.​Roland mengernyitkan dahi, menatap tuannya dengan keheranan. "Tuan Muda, isi pesannya sudah sangat jelas. Pria bermata abu-abu itu sudah menguasai ruang rapat. Untuk apa kita melihatnya lagi?"​Bara tidak menjawab pertanyaan asistennya. Alih-alih memperhatikan wajah paman yang sedang berkhianat di layar, sorot mata Bara justru mengamati setiap detail sudut ruangan tempat video itu direkam.​Ia mengamati posisi tiang infus, pantulan cahaya tipis pada kaca jendela, angka digital di layar monitor pasien yang redup, hingga arah bayangan tirai di lat

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 35

    Seluruh orang di lorong bawah tanah mendadak membeku dalam keheningan yang menyesakkan. Sorot mata Bara terkunci tajam pada layar ponsel Roland yang masih menampilkan siaran langsung dari ruang rapat utama kantor pusat.​Di layar tersebut, pria bermata kiri abu-abu tampak berdiri dengan angkuh di hadapan para direksi, mengangkat selembar dokumen resmi yang baru saja ia buka. Di atas kertas berlogo negara itu, memang tertulis nama Bara Arthur sebagai pihak pertama.​Namun, ketika mata Bara membaca lebih jauh pada kolom berikutnya, darahnya seolah berdesir dingin. Nama mempelai wanita di dalam akta pernikahan tersebut bukanlah Anjani.​Di ruang rapat pusat, sang paman bermata abu-abu mulai mengumumkan dokumen itu dengan suara lantang yang sengaja disiarkan ke seluruh penjuru ruangan. Ia menuding bahwa Bara selama ini telah membohongi keluarga besar Arthur dan dewan direksi dengan menyembunyikan status pernikahan masa lalu yang sah secara hukum, menjadikannya tidak layak memegang tampuk

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 34

    Sorot senter dari tangan Bara menerangi lorong yang tersembunyi di balik dinding batu. Sosok pria berjas hitam yang berdiri di ujung lorong itu sama sekali tidak menunjukkan niat untuk melawan. Di belakangnya, sebuah ruangan yang lebih luas terpampang nyata, dihiasi sebuah meja batu besar dan sebuah lukisan minyak berukuran besar yang tergantung di dinding paling dalam.​Seluruh rombongan memandang lukisan itu tanpa berkedip. Ketua Dewan melangkah mendekat dengan napas memburu. Tongkat di tangannya hampir terlepas dari genggamannya saat matanya menangkap sosok pria yang berdiri tepat di samping pendiri keluarga Arthur dalam lukisan kuno tersebut.​Kemiripan wajah pria dalam lukisan itu dengan Bara terlalu mencolok untuk disebut sebuah kebetulan. Bentuk rahangnya, sorot mata tajamnya, bahkan garis alisnya tampak hampir identik, seolah-olah wajah Bara yang dipindahkan ke atas kanvas tua.​Roland spontan menoleh ke arah Bara, lalu kembali menatap lukisan di dinding. "Mustahil..." bisikny

  • BERTUKAR RANJANG   Bab 33

    Suara ledakan yang menggema dari bangunan utama masih menyisakan dengung di telinga, namun perhatian rombongan kecil itu kini terkunci sepenuhnya pada pintu besi tua di hadapan mereka. Semua orang membeku dalam ketegangan yang pekat.​Roland langsung memberi isyarat tajam kepada dua pengawal terbaiknya untuk menyisir dan memeriksa area sekitar lorong. Setelah pemeriksaan kilat dilakukan, kedua pengawal itu kembali dengan napas terengah-engah dan menggelengkan kepala.​"Tidak ada siapa pun yang melewati lorong ini, Tuan Muda," lapor salah satu pengawal. "Hanya kita yang ada di sini."​Pernyataan itu menyisakan dua kemungkinan yang sama-sama mengerikan. Entah ada jalan rahasia lain yang tersembunyi di balik dinding, atau... seseorang memang telah berada di dalam ruangan itu jauh sebelum mereka datang.​Ketua Dewan tampak kehilangan ketenangan yang selama ini selalu ia jaga. Pria sepuh itu meremas tongkatnya dengan jemari yang gemetar. Selama puluhan tahun mengabdi pada keluarga Arthur,

  • BERTUKAR RANJANG   32. RUANG WARISAN KEDUA

    Udara di dalam ruang kerja mendadak terasa begitu tipis setelah Roland melontarkan kalimat terakhirnya. Seluruh orang yang hadir saling berpandangan dalam keheningan yang mencekam, membawa beban keterkejutan yang teramat berat.​Ketua Dewan, seorang pria sepuh yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk melayani keluarga besar Arthur, tampak sangat pucat. Ia menggelengkan kepala perlahan sambil menopang tubuhnya di tepi meja kerja.​"Tidak mungkin..." gumam Ketua Dewan dengan suara bergetar. "Selama puluhan tahun aku mengabdi di sini, yang kumengerti hanya ada satu Ruang Warisan, yaitu tempat penyimpanan dokumen leluhur yang biasa dibuka saat pergantian kepala keluarga. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, tidak pernah ada catatan tentang Ruang Warisan Kedua."​Pengakuan itu semakin memperbesar kabut misteri yang menyelimuti silsilah keluarga Arthur.​Bara tidak langsung bersuara. Ia berjalan mendekati meja, lalu meletakkan sebuah kunci perak kuno yang ia temukan sebelumnya di seb

  • BERTUKAR RANJANG   31. TANDATANGAN ORANG YANG MATI

    Suasana di ruang utama mendadak berubah tegang. Seluruh anggota dewan keluarga Arthur masih terpaku, menatap Bara yang baru saja membaca surat misterius yang dibawa oleh kuasa hukum sang pemegang saham baru. Tidak ada satu pun yang mengetahui isi surat tersebut karena Bara dengan cepat melipat kertas itu dan menyimpannya ke dalam saku jasnya tanpa ragu.​Seorang paman senior langsung maju dengan nada tidak sabar. "Bara, apa isi surat itu? Bacakan di depan seluruh dewan keluarga. Jangan bertindak sendiri!" desak sang paman.​Bara menatapnya datar tanpa gentar. "Isinya bukan urusan dewan untuk saat ini," jawabnya dingin. Penolakan tegas itu kontan memancing bisik-bisik dan spekulasi liar di antara kerabat yang lain.​Setelah situasi di ruang utama mulai mereda, Bara meminta Ketua Dewan, Roland, dan Anjani untuk masuk ke ruang kerja pribadinya. Pintu dikunci rapat guna memastikan kerahasiaan percakapan mereka.​Di balik meja kerjanya, Bara mengeluarkan kembali surat tersebut. Di hadapan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status