Beranda / Fantasi / BOUND IN BLOOD / 5. Bisik-bisik Di Dapur

Share

5. Bisik-bisik Di Dapur

Penulis: lyns_marlyn
last update Tanggal publikasi: 2026-07-14 20:31:35

Jam lima pagi.

Tanganku sudah lecet akibat terlalu lama terendam air es. Kulitnya memerah dan terasa perih setiap kali terkena sabun.

Aku mengupas kentang sambil terus menunduk. Bukan karena lelah, melainkan karena takut bertemu tatapan siapa pun. Takut jika ada yang mampu membaca rasa bersalah yang bersembunyi di balik mataku.

Hangat sup semalam masih terasa di lidahku. Begitu pula tatapan mata emasnya—tajam, dingin, dan terus menghantuiku hingga membuatku tidak bisa tidur.

“Alpha yang makan sendiri,” gumamku pelan.

Aku segera menggeleng.

“Tidak... tidak. Jangan memikirkannya.”

“Baru, ya?”

Suara perempuan yang parau membuatku terkejut. Pisau di tanganku hampir terlepas.

Di sebelahku berdiri seorang pelayan tua. Rambutnya diikat ketat menggunakan kain lusuh. Tangannya bergerak gesit memotong daging dengan satu tangan. Meskipun punggungnya telah membungkuk dimakan usia, sorot matanya masih sangat tajam.

Namanya Martha. Katanya, dia sudah lima belas tahun bekerja di istana ini—sejak tempat ini masih dipenuhi tawa.

“Iya, Bu,” jawabku pelan tanpa mengangkat kepala.

Martha mengelap tangannya pada celemek, kemudian memperhatikanku dari atas hingga bawah seolah sedang menilai sesuatu.

“Namamu siapa?”

“Elara Black, Bu.”

Martha mendengus kecil. “Elara Black. Nama yang bagus untuk seseorang yang tidak punya siapa-siapa.”

Tanganku berhenti mengupas kentang.

“Maksud Ibu?”

Martha mendekat hingga aroma bawang dan sabun tercium jelas. Dia menurunkan suaranya menjadi bisikan. “Hati-hati, Nak. Di rumah ini, dinding punya telinga... dan Alpha punya hati yang sudah mati sepuluh tahun lalu.”

Darahku seolah mengalir deras menuju kaki. Pisau di tanganku bergetar. “Sepuluh tahun lalu?” ulang ku dengan suara serak.

Martha mengangguk sambil kembali mengiris bawang. Air mata mengalir dari sudut matanya, tetapi jelas bukan karena bawang. “Iya. Sejak malam bulan darah itu. Sejak upacara pengikatan gagal. Sejak Luna nya lari dan meninggalkan dia di depan altar dengan gaun putih dan mahkota yang dipesannya khusus dari kota.”

Altar. Gaun putih. Mahkota. Itu aku. Itu malam yang seharusnya menjadi hari ketika aku resmi menjadi Luna Rowan. Tanganku mengepal begitu kuat hingga kuku menancap ke telapak tangan.

“Katanya, Luna itu pengecut,” lanjut Martha. Pisau di tangannya menghantam talenan. “Dia menikah hanya demi kekuasaan Pack Voss, lalu kabur malam itu sambil membawa rahasia pack. Kasihan Alpha kita. Selama sepuluh tahun dia membangun kembali istana ini sendirian. Dan selama sepuluh tahun pula, dia tidak pernah tersenyum lagi.”

Mangkok di tanganku hampir terlepas. Air dingin tumpah dan membasahi kakiku. Jadi, di mata semua orang, dialah korbannya?

Selama ini Rowan mengira aku pengkhianat. Sementara aku...

Aku hanya ingin bertahan hidup.

“Bu Martha!” Suara seorang pelayan lain terdengar dari ujung dapur. “Jangan menakut-nakuti anak baru.”

Martha hanya tertawa kecil. “Aku tidak menakut-nakutinya. Aku hanya mengatakan fakta.”

Dia menatapku. “Kamu yang baru, jaga dirimu baik-baik, Elara.”

Setelah itu, dia pergi meninggalkanku dengan kepala yang berdengung dan dada yang sesak.

Setiap kata yang keluar dari mulut Martha terasa seperti palu yang menghantam rencanaku satu per satu.

Tiba-tiba, pintu dapur terbuka dengan suara keras. Semua orang terdiam. Langkah kaki berat terdengar mendekat. Bau cedar, aroma salju, dan sisa wine yang samar memenuhi udara.

Rowan masuk.

Dia masih mengenakan kemeja yang sama seperti pukul tiga pagi tadi. Dagunya belum dicukur, dan bayangan hitam tampak jelas di bawah matanya.

Semua pelayan langsung menundukkan kepala. Tidak ada suara selain denting pisau dan gemeretak api.

“Kerja.” Suaranya pendek dan serak. Namun, ketika melewatiku, langkahnya tiba-tiba berhenti.

Hanya sedetik. Jarak kami begitu dekat hingga aku bisa merasakan hangat tubuhnya. Kemudian dia membungkuk sedikit. Bibirnya mendekati telingaku.

“Tanganmu gemetar.”

Bisikannya begitu pelan hingga hanya aku yang bisa mendengarnya. Bahkan embusan napasnya menyentuh kulit leherku.

Aku tidak berani menoleh. Tidak berani bernapas. Karena jika aku menoleh, dia mungkin akan melihat sesuatu di mataku. Rasa bersalah yang sudah sepuluh tahun ku kubur dalam-dalam.

Jantungku berdetak begitu keras seolah ingin melompat keluar dari dada.

Rowan kemudian kembali melangkah tanpa menunggu jawabanku.

Martha yang sejak tadi memperhatikan kami langsung tersenyum sambil kembali mengiris bawang. Senyum yang aneh. Senyum seseorang yang seolah mengetahui sesuatu.

“Katanya tidak pernah memperhatikan pelayan,” bisik Martha kepadaku. “Tapi dia sampai melihat tanganmu gemetar.” Dia terkekeh. “Menarik, bukan?”

Aku tidak menjawab. Aku pura-pura sibuk mencuci sayuran. Namun, pikiranku kacau. Rowan memperhatikanku. Dia mengingat detail sekecil itu. Padahal, semua orang mengatakan bahwa hatinya telah mati.

---

Siang harinya, aku diperintahkan mengantarkan makanan ke ruang kerja Rowan. Nampan di tanganku terasa berat. Namun, bukan makanan di atasnya yang membuatnya terasa demikian. Kakiku gemetar. Aku mengetuk pintu tiga kali.

Tok... tok... tok...

“Masuk.”

Suara Rowan terdengar dari dalam.

Aku membuka pintu. Ruangan itu gelap. Hanya ada meja besar yang dipenuhi tumpukan berkas, rak buku, dan perapian yang menyala di sudut ruangan.

Rowan duduk di balik meja. Kemejanya sudah berganti, tetapi matanya masih tampak merah karena kurang tidur.

“Letakkan di sana.”

Aku berjalan mendekat dan meletakkan nampan di atas meja dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ketika hendak mundur, mataku tanpa sengaja menangkap sesuatu di dinding.

Aku membeku. Sebuah lukisan. Seorang wanita mengenakan gaun putih dengan mahkota bunga di kepalanya. Namun, wajah wanita itu telah dicoret menggunakan tinta hitam hingga tidak lagi terlihat.

Aku menatapnya tanpa berkedip. Bentuk tubuh itu...

Tinggi badan itu... Aku mengenalnya. Itu aku Sepuluh tahun yang lalu. Napas tercekat di tenggorokanku. Dadaku mendadak sesak.

“Keluar.”

Suara Rowan yang tiba-tiba terdengar membuatku tersentak. Aku segera berbalik dan keluar tanpa sempat membungkuk. Begitu berada di luar, aku bersandar pada dinding. Tanganku menutup mulut. Dia masih menyimpan lukisan itu. Dia masih menyimpan luka itu.

---

Malam harinya, Martha kembali mendekatiku ketika kami sedang mencuci piring.

“Nak.” Suaranya terdengar pelan. “Kamu mirip seseorang.”

Jantungku seolah berhenti berdetak. “Mirip siapa, Bu?”

Martha mengusap piring dengan gerakan perlahan. “Mirip Luna yang dulu.”

Tanganku membeku.

“Tapi tidak mungkin.” Martha menghela napas. “Luna itu sudah mati. Katanya, dia tenggelam di sungai ketika sedang melarikan diri.”

Kemudian Martha menatapku tajam. Terlalu tajam. Seolah-olah sedang menyelidiki ku. “Aku cuma bercanda.” Dia tertawa kecil. “Kamu jangan takut, ya.”

Namun, aku tahu. Dia tidak sedang bercanda. Martha tahu sesuatu. Atau mungkin... Dia sedang memancingku.

---

Malam itu aku kembali tidak bisa tidur. Pukul dua pagi, aku keluar dari kamar menuju dapur untuk mengambil air. Namun, ketika sampai di sana, langkahku terhenti.

Rowan ada di sana.

Duduk di tempat yang sama. Dengan botol wine yang sama. Dia menoleh kepadaku. Anehnya, dia tidak terlihat terkejut. Seolah-olah sudah menungguku.

“Kamu lagi.”

“Aku haus, Tuan.”

“Duduk.”

Kali ini aku duduk lebih dekat. Hanya berjarak dua kursi darinya.

Rowan mendorong sepotong roti ke arahku. “Makan. Jangan sampai pingsan saat bekerja.”

“Terima kasih, Tuan.”

Kami terdiam cukup lama. Hanya suara kayu terbakar di perapian yang terdengar di antara kami.

Kemudian Rowan bertanya, “Kenapa kamu lari ke pelelangan?”

Tubuhku menegang. “Aku... aku tidak punya pilihan, Tuan.”

“Semua orang punya pilihan.” Dia meneguk wine. “Kecuali orang yang sudah tidak punya apa-apa untuk kehilangan.”

Kalimat itu menamparku. Karena dia benar. Sepuluh tahun lalu, aku juga tidak punya pilihan.

“Sepuluh tahun...” gumamku tanpa sadar.

Rowan langsung menoleh. “Apa?”

Aku tersentak. “Tidak. Tidak apa-apa, Tuan.”

Aku buru-buru menundukkan kepala.

Rowan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berdiri. Namun, sebelum pergi, langkahnya berhenti tepat di belakang kursiku. Tangannya terangkat, seolah hendak menyentuh bahuku. Tetapi berhenti di udara. Jarinya perlahan mengepal. Kemudian dia pergi.

Aku tetap duduk di sana bahkan setelah sosoknya menghilang dari pandangan. Martha benar. Hatinya mungkin telah mati sepuluh tahun lalu.

Tetapi kalau begitu... Mengapa dia mendorong roti ke arahku? Mengapa dia memperhatikan tanganku yang gemetar? Dan mengapa tadi tangannya hampir menyentuh bahuku?

Itu bukan perilaku seseorang yang hatinya benar-benar telah mati.

---

Aku kembali ke kamar dengan kepala yang berdenyut. Dari dalam laci, aku mengambil pisau kecil yang selama ini kusembunyikan. Namun, malam ini tanganku justru menggenggam kalung kayu milik Nenek Selma.

Aku menatap benda itu lama sebelum berbisik, “Nenek... rencananya mulai retak.”

Aku memejamkan mata. Besok aku harus lebih berhati-hati. Martha mulai curiga. Rowan mulai memperhatikanku. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada kecurigaan mereka. Sesuatu yang bahkan tidak pernah masuk dalam rencanaku.

Aku mulai merasa kasihan kepada pria yang seharusnya...

Kubunuh.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • BOUND IN BLOOD   5. Bisik-bisik Di Dapur

    Jam lima pagi.Tanganku sudah lecet akibat terlalu lama terendam air es. Kulitnya memerah dan terasa perih setiap kali terkena sabun.Aku mengupas kentang sambil terus menunduk. Bukan karena lelah, melainkan karena takut bertemu tatapan siapa pun. Takut jika ada yang mampu membaca rasa bersalah yang bersembunyi di balik mataku.Hangat sup semalam masih terasa di lidahku. Begitu pula tatapan mata emasnya—tajam, dingin, dan terus menghantuiku hingga membuatku tidak bisa tidur.“Alpha yang makan sendiri,” gumamku pelan.Aku segera menggeleng.“Tidak... tidak. Jangan memikirkannya.”“Baru, ya?”Suara perempuan yang parau membuatku terkejut. Pisau di tanganku hampir terlepas.Di sebelahku berdiri seorang pelayan tua. Rambutnya diikat ketat menggunakan kain lusuh. Tangannya bergerak gesit memotong daging dengan satu tangan. Meskipun punggungnya telah membungkuk dimakan usia, sorot matanya masih sangat tajam.Namanya Martha. Katanya, dia sudah lima belas tahun bekerja di istana ini—sejak tem

  • BOUND IN BLOOD   4. Alpha Yang Makan Sendiri

    Jam tiga pagi.Aku tidak bisa tidur. Sudah tiga malam sejak aku masuk ke istana ini, tetapi mataku masih terbuka lebar setiap kali cahaya obor di koridor padam.Sangkar emas ini terasa begitu pengap. Dindingnya terlalu tinggi, langit-langitnya terlalu jauh, dan keheningannya terlalu keras sampai aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.Jadi, aku menyelinap keluar.Memang dilarang. Namun, kalau ketahuan, paling-paling aku hanya akan dimarahi atau dipecat. Dan dipecat rasanya jauh lebih baik daripada mati bosan di kamar itu.Aku berjalan menyusuri koridor yang gelap dengan kaki telanjang agar tidak menimbulkan suara. Aku sudah menghafal jalan menuju dapur karena semalam mendengar para pelayan melewatinya.Aku hanya ingin mencari air. Tenggorokanku kering setelah seharian berpura-pura menjadi gadis ketakutan. Namun, ketika sampai di depan pintu dapur yang terbuka setengah, langkahku terhenti.Dia ada di sana. Alpha Rowan Blackwood.Dia duduk sendirian di ujung meja panjang yang biasan

  • BOUND IN BLOOD   3. Sangkar Emas

    Kereta berhenti dengan bunyi roda yang menggerus salju.Pintu kereta dibuka dengan kasar. Hawa dingin langsung menerobos masuk, menusuk hingga ke tulang dan paru-paruku sampai setiap tarikan napas terasa menyakitkan.Di hadapanku berdiri Istana Blackwood.Bangunannya sangat besar, tetapi gelap dan suram. Seluruh dindingnya terbuat dari batu hitam yang telah diguyur hujan dan darah selama puluhan tahun. Jendela-jendelanya tinggi menjulang, tetapi hampir tidak ada cahaya yang terpancar dari baliknya. Menara-menara runcingnya menusuk langit malam, menyerupai taring raksasa yang siap mencabik siapa pun yang berani mendekat.Istana ini lebih mirip sebuah kuburan raksasa daripada sebuah rumah.Sepuluh tahun lalu, tempat ini juga menjadi saksi kehancuran pack-ku.Aku masih mengingat asap yang membubung dari bukit ini, membakar langit malam hingga berubah merah.Tanganku gemetar hebat di balik lengan baju yang kebesaran. Bukan karena dingin. Melainkan karena aku sedang menahan amarah.Amarah

  • BOUND IN BLOOD   2. Pelelangan Daging

    Sepuluh tahun.Selama sepuluh tahun aku menunggu malam ini. Menghitung hari, menghitung salju yang turun, bahkan menghitung berapa kali aku muntah hanya karena membayangkan wajahnya kembali muncul di hadapanku.Dan malam ini, akhirnya tiba.Tempat ini kotor, berisik, dan pengap. Bau alkohol murah bercampur dengan aroma serigala-serigala yang putus asa, keringat tubuh yang sudah berhari-hari tidak dibersihkan, serta sesuatu yang lebih menjijikkan daripada semuanya.Keputusasaan. Ini adalah pelelangan mate. Tempat para Alpha miskin membeli pasangan dengan harga murah, sekaligus tempat para wanita menjual diri demi sesuap roti dan atap yang tidak bocor.Lantainya lengket. Lampunya redup. Di atas panggung, tali tambang mengikat pergelangan tangan para wanita yang berdiri dengan kepala tertunduk.Mata mereka kosong.Seolah-olah sebagian dari diri mereka sudah mati jauh sebelum malam ini. Dan di antara mereka, berdirilah aku.Elara Black.Bukan siapa-siapa. Wajahku sengaja ku coreng dengan

  • BOUND IN BLOOD   1. Malam Darah Dan Salju

    Salju yang turun malam itu begitu putih dan lembut, menyerupai kapas yang berjatuhan dari langit. Namun, keindahan itu hanyalah kebohongan.Di bawah lapisan putihnya, darah mengalir deras dan meresap ke tanah, perlahan mengubah hamparan salju menjadi merah.Saat itu, aku baru berusia sebelas tahun. Tanganku masih kecil. Tangan yang biasanya menggenggam tangan Mama ketika kami berjalan ke pasar, atau diam-diam menyelinap ke dapur untuk mengambil kue kesukaanku. Namun malam itu, tangan kecilku hanya mampu mencengkeram gaun Mama yang telah basah kuyup. Bukan oleh salju. Melainkan oleh darah yang terus mengalir dari tubuhnya, menghangatkan jemariku yang sejak tadi membeku."Lyra, lari... jangan melihat ke belakang." Itulah bisikan terakhir Mama.Suaranya gemetar, terputus-putus di antara napas yang semakin berat. Dadanya naik turun seperti seseorang yang sedang berusaha bertahan dari tenggelam. Matanya menatapku dengan tatapan yang tak akan pernah bisa kulupakan. Seolah-olah dia sedang me

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status