LOGIN
Gilang Pratama – melangkah keluar kelas sambil menguap kecil, meregangkan bahunya yang terasa pegal setelah sejam penuh mendengarkan dosen ngoceh soal rangkaian listrik. Matanya masih sayu, efek dari waktu tidur yang berantakan selama seminggu terakhir.
Yeah! Semua gara-gara Bima yang menyetujui banyak job, dan belakangan baru panik sendiri, terus ujung-ujungnya semu dioper-operin ke Gilang. Tapi, berhubung bayarannya gede, tentu saja, Gilang tidak keberatan sama sekali. Sikat saja lah! Mumpung masih muda, kuat dan perkasa. Iya, kan?!
Baru dua langkah dari depan pintu, terdengar suara nyaring memanggilnya, menggema di koridor kelas.
"Gilang, kita makan bareng di kantin, yukk ..."
Seorang gadis jelita berpakaian serba kekurangan bahan, melangkah mendekat dengan senyum manis berpulas merah muda tercetak di bibirnya.
Gilang mengerjapkan mata, kantuknya perlahan menguap. Tawaran makan ini cukup menggoda, karena yang bayar makanan pasti Sabrina. Tapi ...
“Duluan, Sab. Aku masih ada perlu nih. Tugas dari Pak Sidik belum aku kerjain sama sekali.” Gilang menggaruk lehernya, menolak sopan ajakan gadis itu.
“Iiihh ... bete ah, Gilang belajar terus," Sabrina mengerucutkan bibirnya. "Ya udah! Tapi besok-besok kamu nggak boleh nolak ya, kalau aku ajak makan bareng lagi. Aku pengen ngobrol banyak, Lang." Sabrina menggerlingkan mata sambil mendaratkan tangannya di dada Gilang dan mengusapnya manja.
"Siap, Cantik ..." Gilang mengedip tengil, dan mengacak rambut sabrina sekilas.
Gadis yang dipanggil 'cantik' itu tersipu malu dan segera berlalu meninggalkan Gilang. Selepas kepergian Sabrina yang kembali bergabung dengan geng centilnya, Gilang buru-buru mengeluarkan ponselnya yang selama di kelas tadi terus bergetar tanpa henti.
"Dia ngirim pesan apa, sih?" gumamnya, membuka aplikasi chat sambil berjalan menuju taman kampus.
Siang itu, seperti biasa, area taman kampus selalu sepi. Hanya ada beberapa kucing liar yang tidur melingkar di bawah pohon, serta sepasang kekasih yang pura-pura mengerjakan tugas bareng sambil colek-colekan.
Untuk berjaga-jaga, Gilang memilih kursi taman yang paling strategis — dekat dengan pintu toilet. Ia membuka belasan pesan video yang baru masuk, dan memasang headset nirkabel ke telinganya.
"Sh*t ..." desis Gilang begitu mendengar suara lenguhan seorang wanita berwajah mungil dan berkulit pucat tanpa busana menembus telinganya. "Nggak biasanya nih. Kapan dia videoin ini? Aduh, bikin pengen lagi..."
Gilang menggigit bibir bawahnya, dan mengatur posisi duduknya, sedikit merosot di sandaran kursi. Saking serunya, Gilang sampai tidak sadar kalau ada sepasang mata yang mengamatinya dari arah toilet. Seorang wanita dengan pakaian rapi, berjalan mendekat dengan langkah tenang, dan ... berdehem tepat di belakang Gilang.
"Ehem! Lagi nonton apa, nih?" tanyanya.
Volume maksimal yang dipasang Gilang jelas mengaburkan suara apapun yang berada di sekelilingnya. Gilang yang mulai meresapi video kedua yang ditontonnya, tanpa sadar menggosok-gosok bagian bawah tubuhnya dengan santai. Raut mesum tergurat jelas di wajah tampannya.
Wanita itu melihat dengan jelas apa yang sedang ditonton Gilang. Namun, bukannya menegur, Mayang Sari – Ibu Dosen di kampus itu malah berputar dan duduk di sebelah mahasiswanya. Gilang yang terkejut buru-buru mematikan video yang tengah di tontonnya, dan segera menjauhkan ponselnya dari pandangan Mayang.
Di luar dugaan, Mayang malah mengambil sebelah headset Gilang dan memakai ke telinganya.
"Lanjut, Lang. Suara siapa, nih? Merdu banget... By the way, kayaknya tadi saya lihat yang mirip kamu di video itu. Bener, nggak?" tanyanya santai.
"Bu – bukan, bu! Salah lihat kali nih," elak Gilang, sudah siap mengantongi ponselnya.
"Ah, masa saya salah lihat? Mata saya ini cuma minus, bukan buta. Buktinya, saya masih bisa bedain mana tugas mahasiswa yang dikerjain sendiri, dan mana yang nyuruh orang ngerjain. Sini, coba saya lihat lagi,” ujar Mayang sambil membuka telapak tangannya di atas paha Gilang.
Mata Gilang melotot sedetik melihat tangan Mayang — kulit putih langsat, mulus, tapi ada bulu-bulu halus yang membut pikirannya berkelana nakal.
"Jangan, Bu! Bisa bahaya kalau ibu lihat," sahut Gilang.
Mayang menyipitkan matanya.
"Lebih bahaya lagi kalau dosen lain yang lihat, Lang. Kamu itu kan mahasiswa jalur beasiswa, dan calon penerima beasiswa luar negeri. Kamu harus menjadi teladan buat yang lain. Tapi, kamu malah–"
Perkataan Mayang terpenggal senyuman tipis penuh arti yang terbit di bibir Gilang.
"Oh, jadi ... kalau Ibu yang lihat nggak bahaya, ya?!" Gilang mencondongkan tubuhnya, mulutnya mendekati telinga Mayang yang tidak tertutup headset.
"Yah ... maksud saya ... nggak enak aja gitu ..." sahut Mayang, dadanya berdesir halus.
"Terus, kalau sama ibu ... bisa enak, ya?" Gilang terkekeh pelan, sembari mengacungkan layar ponselnya, siap memutar ulang video syur-nya itu.
"Ibu ... mau lihat video panas ini bareng saya, hmm?" desah Gilang, sekilas menyentuhkan bibirnya ke telinga Mayang.
Deg!
Jantung Mayang membeku sesaat, dan siap meledak oleh sorot mata tengil pemuda itu.
"Aku sayang kamu, Ibu Mayang Sari Indriani ..." bisik Gilang di sela ciuman itu. Napasnya mulai memburu. Perlahan, tangannya bergerak, hendak menggapai dada Mayang yang bebas.Namun saat Gilang mulai akan meremas dadanya, Mayang segera melayangkan protes. "Ingat jatah anak, Lang.""Iya, bu ... iya ..." Gilang manyun.Matanya kembali menatap anak ketiganya yang mulai kekenyangan. Mulut bayi mungil itu melepaskan pucuk dada ibunya yang memerah. Persis seperti kalau Gilang keasikan bermain-main di sana. Hanya saja sekarang bentuknya lebih besar dan ..."Sesek, Mayang ..." ucap Gilang sembari merapatkan pahanya.Mayang tertawa. Ketiga bayinya memang sangat menggemaskan. Tapi lebih menggemaskan lagi ayah mereka kalau sudah merajuk. Wajah memelasnya itu selalu saja berhasil membuat Mayang mengangkangkan kedua pahanya. Karena kalau tidak, Gilang akan terus merajuk sampai dapat.Sungguh tak terbayang setelah 40 hari berlalu, Gilang akan membolak-balik dirinya seperti apa nanti. Sepertinya May
Seorang perawat yang membantu mendorong bayi-bayi mereka sampai ke ruang perawatan, berdiri di dekat Mayang."Maaf, apa ibu mau menyusui bayinya?" tanya perawat itu."Mau," ucap Mayang dengan wajah sumringah.Selain mengandung dan melahirkan, peristiwa menyusui bayi juga merupakan kejadian yang sangat ia nanti-nantikan. Sebelum menyodorkan bayi yang lahir lebih dulu, perawat memberi penjelasan singkat tentang beberapa jenis makanan yang dapat memperlancar produksi asi."Saya bantu melepaskan bagian atas pakaian ibu supaya bisa menyusui dengan mudah," tukas perawat wanita berkulit gelap dengan rambut berombak yang digulung ke atas.Perawat itu mengatur posisi sandaran ranjang Mayang hingga 45 derajat. Gilang dengan sigap membantu membetulkan bantal untuk menjadi tempat bersandar Mayang. Pakaian Mayang terlepas saat perawat menarik tali baju bersalinnya.Gilang pura-pura mengalihkan pandangannya saat sepasang dada Mayang yang bengkak terpampang di depannya. Perawat memencet dada Mayang,
Pagi itu, begitu terbangun dari tidur, Pertiwi merasakan kerinduan yang begitu dalam terhadap putrinya. Ia menyeduh teh melati kesukaan Mayang, lalu menghirup aromanya perlahan, seolah mencoba mendekatkan jarak yang kini terbentang.Di dekatnya, Amanda duduk manis, sibuk menghias roti tawar bersama ibunya.Gadis kecil itu kini semakin besar. Ketertarikannya pada musik pun semakin terlihat-semua itu pasti tak lepas dari doa eyang kakungnya yang selalu ingin memiliki cucu seorang seniman."Bu, foto pernikahan Mayang dan Gilang mau dipindahkan ke mana?" tanya Surya. Hari itu, ia ditugaskan oleh Pertiwi untuk menata ulang dekorasi ruang tamu."Sebelah kiri itu kan foto pernikahan kalian. Jangan dipindah lagi. Di tengah, foto Ibu dan Bapak waktu menikah. Nah, yang kanan, dekat jendela, baru taruh foto pernikahan Mayang dan Gilang. Foto cucu pertama Eyang letakkan di bawah foto kalian. Cantik, kan, susunannya..." jelas Pertiwi sambil menyesap teh melatinya."Tapi nanti kita juga harus sedia
Bel apartemen berbunyi. Asisten yang membantu keseharian Mayang akhirnya datang. Wanita itu berusia lima tahun lebih muda dari Mayang dan selalu tiba dengan membawa sarapan untuk mereka."Tina... silakan masuk. Bawa sarapan apa hari ini?" tanya Gilang ramah.Wanita asal Australia itu menguasai lima bahasa, termasuk bahasa Indonesia dan svenska (Swedia). Karena tahu dua tahun lagi pasangan itu akan pindah ke Swedia, Tina kerap menyelipkan percakapan sederhana dalam bahasa tersebut. Kehadirannya pun terasa seperti anggota keluarga baru bagi Gilang dan Mayang."Meat pie. Aku membuatnya agak terburu-buru, tapi aku jamin rasanya tetap enak," ujar Tina sambil meletakkan seloyang pai daging di atas meja makan. "Mana ibu hamil kita?" tanyanya lagi."Masih berbaring sambil main ponsel. Dari tadi sibuk memilih pakaian dan perlengkapan bayi. Mungkin takut yang sudah dibeli masih kurang... maklum, anaknya banyak," jawab Gilang sambil tersenyum tipis."Ah, benar juga. Kalau begitu, mumpung akhir p
"Supir sudah datang, Mayang. Kamu siap?" tanya Gilang, memastikan.Ini adalah perjalanan terjauh pertama mereka dengan pesawat, terlebih dengan kondisi kehamilan Mayang yang sudah cukup besar."Minyak angin aku sudah masuk tas belum, Lang? Takut tiba-tiba pusing atau mual," ujar Mayang sambil berjalan pelan keluar dari kamar."Sudah, Sayang... aku minta tolong supir angkut koper dulu, ya...""Gilang!" Suara merdu Camelia tiba-tiba memanggil, menghentikan langkahnya yang hendak keluar rumah. "Mayang mana?!""Baru keluar kamar, Tante. Gilang mau angkut koper dulu...""Eh, bukannya bantuin istri yang lagi hamil besar, malah sibuk mikirin koper! Dasar anak kecil sudah bisa bikin anak kecil!" protes Camelia setengah gemas, setengah kesal.Tanpa menunggu jawaban, Camelia langsung menggandeng Mayang dengan penuh perhatian, menuntunnya berjalan pelan keluar rumah.Selama perjalanan menuju bandara, Camelia memberikan wejangan ini dan itu untuk Gilang agar menjaga ibu hamil yang sebentar lagi a
"Gilang... aku capek. Kamu bantuin, dong..." gumam Mayang. Perutnya kini sudah sebesar galon air mineral. Ia berjalan keluar dari kamar mandi sambil memegangi pinggangnya yang terasa nyeri.Sejak usia kandungannya memasuki enam bulan, bahkan kegiatan sederhana seperti mandi pun bisa terasa sangat melelahkan. Ajaibnya, Gilang selalu punya cara untuk manja-manjaan tanpa membuat Mayang semakin kelelahan. Memang ya, kalau rasa sayang sudah bercampur dengan nafsu memuncak, capek seperti apa pun hajar saja."Sini, aku bantu keringkan rambut kamu, Mayang. Jalannya pelan-pelan," ujar Gilang, menuntun Mayang duduk di depan meja rias. "Kalau disuruh gendong kamu sekarang, kayaknya aku sudah nggak kuat deh. Kamu sudah... gede banget.""Gede? Banget?" tanya Mayang, langsung cemberut."Maksud aku-perutnya yang gede, sayangku..." Gilang buru-buru meralat. "Kamu sih nggak gede... eh, maksudnya... ya dari dulu juga udah... eh..." ia mulai gugup sendiri."Apa? Gemuk? Iya, aku gemuk! Pahaku gede banget
"Hei! Kita jadi nganter Bu Mayang pulang nggak sih?" tanya Sabrina yang merasa dicuekin karena kedua orang yang berada di depannya itu terus saja mengobrol dengan asyik seolah melupakan keberadaan dirinya."Ehhh ... jadi lah, Sab ... tunggu... aku minta kursi roda dulu ke perawat ..." sahut Gilang.
"Mayang... aku nggak yakin ada pria lain yang mau sama kamu setelah bercerai nanti, Mayang ..." ucap Gilang setelah mengeluarkan jari telunjuk Mayang dari mulutnya dan menatap dalam manik mata Mayang."Kenapa? Karena aku sudah tua, ya?" tanya Mayang, hatinya sedikit menciut."Bukan. Karena aku sela
"Awww ... aahhh pelan pelan, Lang ... aahhh ...""Udah pelan ini, Mayang ... tahan doong ... punya aku udah bengkak gini saja masih tahan ...""Ihhh beda laahh ... tempat aku lebih sensitif ... sakit ... aahhh pelaaannn!!""Duuhh lebaay ah Bu Dosen... gemes deh jadi pengen nyiksa ...""Jangan terla
Adzan subuh baru saja berkumandang. Alih-alih membasuh wajah dengan air kran yang sejuk, Cipto justru belingsatan di dalam kamar. Istri mudanya yang bertubuh mungil, padat itu sebenarnya sangat enak dipeluk di udara dingin begini. Tapi, karena masih dalam masa nifas yang tak kunjung selesai. Ditamb







