MasukGilang memarkirkan motornya di pelataran gedung Pengadilan Agama. Mesin dimatikan, lalu ia melirik jam digital di pergelangan tangannya. Seharusnya sidang perceraian Mayang sudah selesai.Tanpa membuang waktu, ia mempercepat langkah menuju ruang persidangan. Sepatu sneakers putihnya berdetak cepat di lantai koridor yang hampir sepi.Tiba di depan pintu ruangan yang sudah terbuka, sayup-sayup dia mendengar suara seorang pria yang tengah memohon-mohon kepada Mayang."Mau apa kamu, Cipto?!" tanya Mayang setengah berteriak dan menepis tangan mantan suaminya."Rumah itu aku yang beli, Mayang! Berlian! Perabot rumah tangga yang kamu pakai! Itu semua uang aku, Mayang!" seru Cipto mengabsen segala sesuatu yang menjadi bagian dari kawajiban suami untuk menafkahi istrinya. Mayang hanya menatap Cipto tak bergeming."Kam -" Mayang mengeraskan rahangnya. Haruskah dia menghabiskan sisa energinya untuk mengatai-ngatai Cipto?Melihat reaksi Mayang, entah apa yang ada dipikiran Cipto, pria tak tahu ma
Kejadian pemukulan malam itu benar-benar membuka mata Sigit. Untuk pertama kalinya, ia melihat sendiri sisi gelap Cipto-bukan sekadar kakak yang keras kepala, melainkan pria yang kehilangan kendali. Derai tangis Amira malam itu masih terngiang di telinganya, membuatnya bertekad untuk melindungi istri dan anaknya, apa pun risikonya.Terlebih ketika Amira menceritakan tentang seorang pria yang pernah datang, mengaku bisa membantu mereka mencari solusi atas masalah yang membelit keluarga itu.Dan hari ini, Amira terperanjat. Ia baru menyadari kalau pria yang dulu berbincang panjang dengannya itu-ternyata adalah pengacara Mayang.Hatinya menguat. Kebenaran harus diungkap. Tentang pernikahan Cipto dan Risma yang selama ini disusun diam-diam, begitu rapi seakan tak menyisakan celah.Dengan jemari meremas ujung jaket longgarnya, Amira melangkah ke depan. Bukan untuk menjadi saksi Cipto. Melainkan untuk Mayang."Pernikahan itu dilakukan tanggal empat belas Januari," ucapnya, suaranya sedikit
Semakin mendekati pintu ruang persidangan, langkah Mayang terasa kian berat.Udara di sekelilingnya seperti menekan dada. Rasa takut menyergap, membuat jemarinya dingin dan tubuhnya bergetar halus. Kalau saja Rossy tidak menggenggam tangannya erat-erat, mungkin ia sudah berbalik arah-kabur saja dari tempat itu.Belum lagi rasa mual yang sejak pagi tak kunjung reda. Perutnya bergolak, kepalanya sedikit pening, dan tubuhnya sedikit lemas."Tenang, Mayang. Sidangnya nggak akan lama," ujar Rossy lembut. Tangan satunya mengusap pundak Mayang, memberi kehangatan yang sangat dibutuhkan."Aku takut, Rossy..." bisik Mayang lirih, langkahnya terhenti tepat beberapa meter dari pintu.Rossy memutar tubuhnya hingga mereka saling berhadapan. "Mayang, lihat aku."Mayang mengangkat wajahnya perlahan."Kita punya Charles. Dia pengacara andalanku. Sembilan puluh persen kasus pasien-pasienku yang dia tangani, berhasil dimenangkan. Kita pasti bisa."Mayang mengangguk pelan.Ya, Charles sudah berjanji aka
"Sudah – sudah, kamu berangkat saja sama Chandra. Pecahan gelasnya biar ibu saja yang bereskan," ucap Dahlia. Tangannya mengibas-ngibas menyuruh Gilang cepat pergi bersama Chandra.Tanpa menunggu perintah Dahlia untuk kedua kalinya, Gilang segera mengikuti Chandra. Masuk ke mobil mewah yang dikendarai sendiri oleh pria itu. Duduk bersebelahan dengan pria yang katanya akan membuat hidupnya berubah dalam sekejap. Tapi entah mengapa hatinya terasa tidak tenang. Seolah akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi kepadanya."Kamu nggak apa-apa, Lang?" tanya Chandra setelah beberapa menit hening yang canggung.Gilang mengalihkan pandangannya ke luar jendela, melihat rumah-rumah yang perlahan berganti menjadi gedung-gedung tinggi."Aku nggak apa-apa, Om," jawabnya singkat. "Cuma… gugup."Chandra tersenyum tipis. "Om ngerti. Kamu nggak usah tegang. Om dan tante-tante kamu pada dasarnya orang baik-baik." Ia melirik Gilang sekilas dari sudut mata. "Mereka juga sudah penasaran pengen lihat keponaka
Dahlia membuka lebar-lebar pintu lemari yang berisi deretan kemeja dan jas Irawan. Setelan pakaian yang dulu menjadi busana sehari-hari Irawan saat berangkat bekerja. Lengkap dengan dasi aneka warna dan juga ikat pinggang berbahan kulit. Kemeja putih itu juga masih ada di sana, kemeja yang dipakai Irawan saat menyematkan cincin di jarinya.Wanita itu tersenyum sembari membayangkan kembali saat-saat dia menyiapkan setelan kerja untuk dipakai oleh suaminya itu. Rutinitas yang membuatnya merasa bahagia telah menjadi istri seorang Irawan Mahendra. Kemudian tangannya mengambil kemeja biru langit dengan dasi biru dongker. Padanan warna yang menurutnya paling membuat Irawan terlihat begitu menawan."Lang ... kamu coba pakai kemeja ayah, nih. Ibu rasa ukuran badan kamu sudah sama dengan badan ayah dulu. Coba deh ..." ujar Dahlia, membawa kemeja pilihannya ke kamar Gilang.Gilang yang masih mengeringkan rambutnya sehabis mandi terkejut dengan kehadiran Dahlia di kamarnya. Ia sedikit mengeryitk
Belajar dari apa yang dialami Mayang, Amira tak ingin menghabiskan belasan tahun hidupnya dalam kesengsaraan yang sama-tinggal serumah dengan ibu mertua yang tak pernah benar-benar menghargai pengorbanan menantu. Setiap usaha dianggap kurang. Setiap kesalahan dibesar-besarkan. Kata-kata kasar seperti menjadi santapan harian.Dia juga sudah jenuh mendengar urusan rumah tangga kakak iparnya yang selalu saja bertengkar karena uang."Kamu kenapa bertanya begitu, Mira?" Sigit menatapnya heran. "Bukannya dulu kamu sendiri yang ingin tetap tinggal di sini karena mau menjaga Ibu? Sekarang kondisi kita lagi harus berhemat. Bukan malah nambah pengeluaran lagi.""Aku punya sedikit tabungan, Mas," suara Amira mulai bergetar, tapi ia memaksa tetap tenang. "Kita keluar dari rumah ini. Tinggal di kontrakan sederhana saja. Aku bisa jualan makanan lagi buat bantu tambah penghasilan. Aku yakin kita pasti bisa, Mas."Ia mengguncang lengan suaminya pelan, berharap mendapat dukungan. Namun reaksi Sigit ju
"Masa sih, Mas? Aku cuma masukin gula sedikit ... sungguh. Aku juga udah cobain dulu kok," ucap Mayang."Cobain gimana? Lidah kamu itu kebanyakan gulali kali ya? Nggak bisa bedain antara manis dan ja-ngan-ter-la-lu manis. Kamu mau bikin aku diabetes ya?"Mayang meremas lap kering di tangannya. Seku
"Kurang ajar kamu! Suami saya bukan asu," sahut Mayang, namun dalam hati ikut menyetujui candaan Gilang.Segalak-galaknya anjing saja, pikirnya getir, makhluk itu masih tahu cara menunjukkan kasih sayang, tahu melindungi yang disayanginya. Begitu miris jika ada seorang suami yang dulu meminang deng
Mayang berdiri dengan rambut dan kemeja awut-awutan. Sekilas ia merapikan diri, sambil berharap pembantu di rumah sebelah sudah tidur, dan tidak menyadari kasak-kusuk mereka.Mayang memasukkan anak kunci ke lubang kunci dengan tangan gemetar. Dadanya berdebar, birahinya sudah tinggi, membuat aliran
"Mas, kapan pulang?" tanya Mayang, sesak menggantung di dadanya."Baru aja. Maaf ya, Mas malah bangunin kamu. Subuh-subuh lihat kamu pakai daster tipis begitu, anu mas langsung ON. Maaf ya, Mayang ..."Mayang menghela napas pelan. Sekarang ia ingat, setelah Gilang tersandung batu dan menabraknya, p







