Home / Romansa / BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN / Bab 11. Misi Naik Ranjang

Share

Bab 11. Misi Naik Ranjang

Author: Nanitamam
last update publish date: 2026-06-08 12:29:35

“Red Viver tidak pernah melepas siapa saja yang sudah termasuk radar mereka, Mayor. Jangan biarkan ingatan gadis itu kembali”

Kata-kata dari pesan teks terenkripsi yang masuk ke ponsel rahasianya membuat bola mata Ziandra melebar. Pesan tanpa nama itu begitu singkat, namun mampu menjungkirbalikkan ketenangan yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

Ziandra menurunkan ponselnya dengan perlahan. Tatapannya yang sedingin es kini tertuju pada sosok yang tengah mendengkur halus di atas ranjang
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 31. Awal Mula Misi

    Almira menatap Ziandra dengan sorot mata sendu. Ingatannya kembali pada beberapa waktu lalu sebelum ia menjadi istri Ziandra. "Ini surat tagihan pasien atas nama Nenek Sarmila,” ucap salah satu pegawai rumah sakit bagian administrasi.“Makasih, Mbak,” jawab seorang gadis cantik meski wajahnya tanpa make-up dan rambut di kuncir seadanya.Lembaran kertas berlogo Rumah Sakit Medika itu tampak seperti vonis hukuman mati di mata Qiana. Deretan angka yang tercetak di sana membuat matanya yang besar semakin melotot, nyaris keluar dari sarangnya.Rp. 185.000.000,00.Almira menelan ludah. Tenggorokannya terasa sekering gurun pasir. Ia memandang pintu ruang ICU tempat Nenek Sarmila terbaring.Nenek Sarmila, satu-satunya manusia di bumi ini yang memberinya nama, memberinya rumah, dan memberinya alasan untuk tetap bernapas setelah ia mengalami kecelakaan setahun lalu tanpa satu pun ingatan di kepalanya."Seratus delapan puluh lima juta..." gumam Almira pada udara kosong. "Gimana cara bayarnya? K

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 30. Ukuran Xl

    "Ya ampun, Bang Komandan kenapa?!" teriak Almira panik setengah mati melihat tubuh tegap suaminya terjerembab ke atas lantai lobi dalam rumah.Almira langsung berlutut, tangannya menyentuh kening Ziandra yang biasanya sejuk sekeras batu es. "Aduh, panas banget badannya kayak pantat wajan di atas kompor! Ini Abang habis ikut latihan militer apa habis ikut lomba debus di gurun pasir sih?!"Dengan susah payah, Almira memapah dan mengangkat tubuh berat Ziandra naik ke atas sofa panjang di ruang tengah. Napasnya tersengal-sengal."Aduh, mana Bi Sumi udah pulang ke rumahnya lagi," gumam Almira celingukan bingung. "Ok, tenang Almira, rileks. Anggap aja ini lagi evakuasi korban perang ganteng."Almira bergegas mencari kotak obat di lemari ruang tengah. Setelah membongkar isinya, ia mengeluarkan sebotol obat penurun panas dosis tinggi. Ia kembali ke sisi sofa, berlutut di samping wajah suaminya yang tampak luar biasa pucat namun tetap terlihat menawan."Bang, bangun, Bang, " bisik Almira, mene

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 29. Mau dibantuin Mandi?

    "Jika kamu terbukti terlibat kriminal, mungkin aku akan melakukannya," sahut Ziandra tanpa keraguan, nadanya sedingin es yang membekukan atmosfer di dalam mobil.Kalimat itu menghantam dada Almira, menciptakan getaran dramatis yang menguras emosi di balik senyumnya yang mendadak kaku. Detik itu, sebuah dilema besar mulai berakar di hatinya, haruskah ia terus mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya, atau tetap menjadi 'Almira yang amnesia' demi bisa tetap berada di sisi pria ini?Almira langsung mengerucutkan bibirnya, menutupi rasa sesak yang sempat mampir dengan celetukan konyolnya yang khas. "Abang tega banget sih! Nggak ada romantis-romantisnya pisan jadi suami. Jawab yang enakan didenger gitu napa, Bang. Anggap aja ini lagi main sinetron azab!""Misalnya?" Ziandra mengerutkan kening, menatap istrinya dengan tatapan bingung sekaligus lelah."Aku akan menjagamu dengan segenap jiwaku, Sayang, bahkan jika seluruh dunia memburumu!" sambung Almira dengan nada yang sengaja dibuat me

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 28. Ikhlas dunia akhirat

    Bisikan Ziandra di dekat telinganya terasa hangat, namun sekaligus mengirimkan sinyal bahaya yang membuat bulu kuduk Almira meremang. Di dalam kabin mobil taktis yang kedap suara itu, suasana mendadak berubah menjadi sebuah ruang interogasi berjalan yang sangat dramatis."Aku nggak tahu. Aku nggak sempat kenalan," jawab Almira sekenanya, mencoba memasang wajah sepolos mungkin sambil mengeratkan pelukannya di leher Ziandra, berpura-pura masih lemas. "Bang, aku masih syok berat, jangan diinterogasi dulu dong. Ini jantung aku masih jedag-jedug kayak speaker hajatan tahu."Ziandra menghembuskan napas berat. Karakter dinginnya tidak mudah luntur oleh akting sang istri. Dengan gerakan efisien, ia meraih sebotol air mineral dari holder di dekat kemudi lalu membukakan tutupnya."Ini, minum," Ziandra menyodorkan air mineral itu ke depan wajah Almira.Mata Almira langsung berbinar-binar menggemaskan. Ia menerima botol itu dengan kedua tangan, lalu menatap Ziandra dengan tatapan penuh binar cint

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 27. Bek Tengah

    “Kita harus pergi dari sini!”Dua pria yang menghadang Almira tadi berusaha berdiri dengan susah payah, wajah mereka babak belur. Tepat saat Almira melangkah hendak memastikan mereka tidak bisa kabur, sebuah mobil Van hitam pekat melaju mundur dengan kecepatan tinggi, mengerem mendadak di dekat mereka. Pintu geser terbuka, dan beberapa tangan dari dalam mobil menarik kedua tubuh pria itu dengan gerakan yang sangat cepat dan terorganisir.Sret! Brak!Mobil Van itu langsung melesat pergi, meninggalkan decitan ban yang membakar aspal."Hei! Tanggung jawab dong, main kabur aja! Ini properti restoran banyak yang rusak, entar dikira aku yang mecahin!" teriak Almira kesal sambil mengacungkan tinjunya ke arah mobil yang kian menjauh.Nyonya Stella berusaha duduk sambil memegangi dadanya yang masih berdebar kencang. "Almira... mereka... mereka sebenarnya siapa?" tanyanya dengan suara serak.Almira berbalik, membantu ibu mertuanya berdiri. "Aku nggak tahu, Ma. Mungkin saingan bisnis Nyonya

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 26. Siapa Andrea?

    Tolong! Ada penculik kurang gizi mau bawa saya!" teriak Almira heboh.Ia menyentakkan lengannya, memanfaatkan kelengahan pria itu, lalu berlari sekencang mungkin menerobos pintu menuju restoran terbuka di area halaman depan."Kejar dia!" teriak pria berjaket kulit.Di area restoran, suasana yang semula tenang langsung pecah berantakan. Tubuh Irwan terlempar ke lantai dengan suara berdentum keras saat berusaha menghadang dua pria yang hendak mendekati Almira. Irwan mengerang kesakitan, memegangi dadanya yang sesak."Hei, jangan membuat keributan!" tegur tiga orang petugas keamanan restoran yang berdatangan dengan tongkat pemukul siap di tangan.Namun, ancaman itu sama sekali tidak berarti. Salah satu dari pria misterius itu maju dengan gerakan taktis yang sangat terlatih. Hanya dalam hitungan detik, ia melumpuhkan ketiga petugas keamanan tersebut menggunakan sapuan kaki dan pukulan telak di rahang. Mereka bertiga ambruk tak berdaya di atas lantai marmer. Melihat kengerian itu, nyali A

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 25. Pemaksaan

    "Tapi itu sama aja maksa, Nyonya. Nanti habis bikin dede bayi, terus efek obatnya hilang, Bang Komandan bisa ngamuk dan langsung nembak saya pakai pistol dinasnya!"Nyonya Stella melipat kedua tangannya di dada, tatapannya mendadak berubah sedingin es, mengingatkan Almira pada sosok Ziandra. "Kamu

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 24. Obat Kuat

    "Non Almira mau pergi?" tanya Bi Sumi, matanya membulat cemas melihat Almira yang sudah rapi dan tampak terburu-buru.Almira mengangguk mantap sambil membetulkan tas selempangnya. "Aku mau ketemu sama Nyonya Stella, Bi.""Apa sudah izin sama Pak Ziandra?""Nggak usah, Bi. Aku kan mau ketemu sama i

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 23. Biar Semok

    "Kepalaku rasanya mau pecah."Ziandra duduk di ujung meja dengan seragam dinas yang belum sepenuhnya lengkap. Sebelah tangannya memegang koran laporan pagi, sementara tangan lainnya sesekali mengambil makanan tanpa benar-benar menikmati rasanya. Sejak semalam pikirannya tidak tenang. Memikirkan Al

  • BUAT AKU HAMIL, KOMANDAN   Bab 22. Jangan Sampai Menyesal!

    Ucapan Ziandra meluncur begitu saja, jujur, dingin, dan telak menghantam ulu hati Almira. Kenapa begitu sulit mencairkan bongkahan es yang ada di hadapannya? Suasana kamar yang tadinya dipenuhi candaan absurd mendadak berubah drastis. Atmosfernya mendingin, menyisakan rasa sesak yang tak kasatmata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status