LOGINSuasana kamar rawat mendadak menjadi sangat gelap setelah Jonny mematikan saklar utama dan menyelinap keluar untuk memantau koridor.Satu-satunya sumber cahaya hanyalah pendar hijau redup dari layar monitor detak jantung Arsenio yang berbunyi dengan ritme konstan. Alyssa berdiri tegak di samping ranjang, kedua tangannya mencengkeram erat tiang infus besi, matanya menatap tajam ke arah pintu. Ketegangan memenuhi udara.Namun, di tengah kesunyian yang mencekam itu, sebuah tangan kekar tiba-tiba bergerak dari balik selimut dan menyambar pergelangan tangan Alyssa. Sentuhan itu kuat dan tidak terduga, membuat Alyssa terkesiap pelan."Lepaskan, Arsenio! Apa yang kau lakukan?" bisik Alyssa dengan suara tertahan, mencoba menarik tangannya namun cengkeraman Arsenio justru semakin erat.Arsenio menarik tubuh Alyssa hingga wanita itu terpaksa mencondongkan tubuhnya ke atas ranjang. Di bawah temaram cahaya hijau, sepasang mata gelap Arsenio berkilat penuh gairah yang tidak tertahan."Dalam keadaa
Alyssa mendudukkan dirinya kembali di kursi besi samping bangsal, berniat menemani Arsenio yang masih harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Meski kondisi fisiknya masih lemah, pria itu tampaknya tidak kekurangan energi untuk terus mengeluarkan ocehan dan nostalgia masa lalu tentang hubungan mereka sebelum kecelakaan.Alyssa mendengarkan setiap cerita dengan kening berkerut. Rasa penasaran yang sejak tadi ia tahan di ujung lidah akhirnya memuncak juga. Ia menatap Arsenio dengan pandangan menyelidik."Tuan Valmer, ada satu hal yang mengganjal di otakku," ujar Alyssa, mengetuk-ngetuk jarinya di atas pembatas ranjang. "Kenapa kita bisa memiliki anak, padahal kau bilang hubungan asmara kita saat itu baru berjalan dua tahun? Apa hubungan kita dahulu begitu intim dan panas, sampai Nathan lahir bahkan sebelum kita sempat meresmikan pernikahan?"Arsenio hampir saja tersedak air liurnya sendiri mendengar pertanyaan blak-blakan dari wanita di hadapannya. Ia menatap Alyssa dengan pandan
Arsenio perlahan menggeser tubuhnya, bersandar pada bantal rumah sakit yang ditinggikan hingga ia berada dalam posisi duduk.Sambil menahan ringisan kecil akibat jahitan di perutnya, sepasang matanya tidak lepas memandangi Alyssa. Keheningan kamar rawat itu mendadak mencair saat senyum tipis mulai terbit di wajah pucat sang pengacara."Kau tahu, Freya? Dulu, sebelum kecelakaan itu menghapus semua memorimu, kau adalah wanita yang paling merepotkan," ujar Arsenio, suaranya masih parau namun terdengar jauh lebih hidup.Alyssa menghentikan gerakannya yang sedang merapikan selimut di ujung bangsal. Ia lalu menoleh sambil menaikkan sebelah alisnya. "Merepotkan bagaimana?""Kau punya hobi makan yang luar biasa, persis seperti Nathan yang tidak bisa melihat camilan menganggur," kenang Arsenio, matanya menerawang menatap langit-langit kamar."Kau juga sangat manja, selalu menuntut perhatian, dan kadang-kadang suka sekali masuk ke ruang kerjaku hanya untuk mengacaukan tumpukan berkas perkara ya
Dua hari kemudian, keheningan di kamar rawat intensif itu pecah oleh suara lenguhan lirih dari atas bangsal.Alyssa, yang sedang duduk terjaga di kursi samping tempat tidur, langsung menegakkan punggungnya.Ia melihat jemari tangan kanan Arsenio bergerak sedikit, disusul oleh kelopak matanya yang berkedip berat, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan."Fre... Freya..." bisik Arsenio, suaranya sangat parau dan lemah di balik masker oksigen yang terpasang di wajahnya.Alyssa menoleh cepat, sepasang matanya membola sempurna saat melihat kedua netra gelap pria itu akhirnya terbuka.Rasa syok sekaligus lega yang luar biasa menghantam dadanya seketika. Dengan gerakan refleks, Alyssa langsung menekan tombol darurat di dinding untuk memanggil dokter, sebelum kembali condong ke arah ranjang."Arsenio? Kau bisa mendengarkanku?" Alyssa meraih dan memegang erat tangan pria itu, merasakan kehangatan yang menjalar di antara jemari mereka. "Syukurlah... demi Tuhan, kau akhirnya bangun
"Kau... kau bercanda, kan, Alyssa? Ini tidak lucu! Bagaimana bisa kau adalah Clara Freya?"Anna menganga lebar, matanya bergerak panik antara Alyssa dan tubuh Arsenio yang terbaring koma setelah mendengar cerita panjang dari Alyssa."Aku tidak sedang bercanda, Anna. Ini kenyataannya," jawab Alyssa, suaranya terdengar datar namun bergetar menahan tekanan. "Johan Verena bukan ayah kandungku. Dia mengubah wajahku tiga tahun lalu untuk menyembunyikan identitasku sebagai Freya setelah kecelakaan itu."Anna membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat karena syok. "Pantas saja, demi Tuhan, Alyssa! Aku benar-benar tidak menyangka bahwa sahabat yang kutemui tiga tahun lalu, yang terlihat begitu murung dan kebingungan di taman kota, ternyata adalah Freya yang dicari-cari oleh Arsenio Valmer!"Alyssa menoleh, menatap Anna dengan kening berkerut. "Apakah penampilanku seburuk itu saat pertama kali kita bertemu?""Lebih dari buruk. Kau tampak sangat aneh dan seperti wanit
Alyssa kembali melangkah menyusuri koridor Rumah Sakit Pusat Oakhaven dengan ritme kaki yang jauh lebih cepat. Di dalam dadanya, badai emosi berkecamuk antara tidak percaya, marah, dan asing. Begitu pintu kamar rawat intensif terbuka, sepasang matanya langsung tertuju pada tubuh Arsenio yang masih mematung di balik balutan alat-alat medis.Ia mendekati ranjang, menatap lurus ke dalam guratan wajah pria itu. Alyssa meremas jemarinya sendiri yang mendadak terasa dingin."Aku tidak mengingatmu," bisik Alyssa pada keheningan ruangan. Ia menoleh ke arah Jonny yang berdiri berjaga di dekat pintu. "Aku benar-benar tidak ingat apa pun tentang dia. Wajah ini, nama ini... bahkan Nathan. Kepalaku kosong, Jonny. Tolong jelaskan padaku. Jelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi."Jonny melangkah mendekat, mengembuskan napas berat sebelum memulai penjelasannya. "Tuan Arsenio dan Anda maksud saya, Clara Freya telah menjalin hubungan asmara yang sangat kuat selama dua tahun. Hubungan itu dipenuhi te
“Kau menolak? Kau benar-benar menolak Arsenio Valmer?” Anna meletakkan cangkirnya dengan hentakan keras. “Alyssa, otak hukummu ke mana? Itu bukan sekadar tawaran kerja, itu tiket emas!”Di pagi itu, di kafe langganan Alyssa untuk sarapan, dia baru saja mendengar ocehan Anna yang shock setengah mati
Pukul sepuluh malam dan Alyssa sudah menunggu Arsenio pulang hampir tiga jam sejak Nathan tertidur. Hingga tak lama kemudian, suara lift yang berdenting halus menandakan kepulangan sang pemilik hunian.Arsenio melangkah masuk, sambil melepaskan jam tangan mahalnya dan meletakkannya di atas meja kon
Alyssa mengabaikan tatapan tajam Arsenio dan maju selangkah. Dia pun berlutut di atas karpet beludru abu-abu itu, membiarkan lututnya bersentuhan dengan lantai dingin. Ia teringat adiknya bertahun-tahun yang lalu, saat ibu mereka meninggal, tangisan yang sama, getaran ketakutan yang serupa.“Sstt..
“Ayo, Alyssa. Lakukan demi Ayah,” bisiknya pada diri sendiri sebelum melangkah masuk.Gedung di hadapannya adalah benteng kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan. Bagi Alyssa, ini adalah pelabuhan terakhir. Ayahnya, Johan Verena, kini mendekam di sel besi atas tuduhan pencucian uang senilai jutaa







