Share

Badai Topan yang Membukakan Mataku
Badai Topan yang Membukakan Mataku
Author: Tujuh

Bab 1

Author: Tujuh
"Di mana kalian?"

"Dalam perjalanan ke rumahku. Kak Darwin bilang terlalu berbahaya kalau aku pulang sendirian."

"Oh iya, dia bilang sudah mengirim pesan setengah jam yang lalu agar kamu pulang duluan naik taksi. Kak Jessi, apakah kamu sudah sampai rumah?" Suara angin menderu terdengar di luar jendela.

Hatiku terasa semakin dingin.

Selama tiga tahun ini, Darwin telah memberikan semua perhatiannya kepada rekan kerja perempuannya itu.

Dan, aku pun telah menghabiskan sisa perasaan terakhir di hatiku.

"Iya, aku sudah di rumah."

Sebuah rumah yang tidak akan pernah memiliki sosoknya lagi.

...

Suara wanita di telepon terdengar menghela napas lega.

"Syukurlah kalau kau sudah di rumah, kami juga sudah hampir sampai."

"Tapi topannya akan segera menerjang. Kak Darwin memintaku untuk memberitahumu bahwa dia mungkin akan menginap di rumahku malam ini."

Aku hanya bergumam singkat dengan datar.

Aku bahkan bisa mendengar suara seorang pria bicara dengan lembut dari ujung telepon.

"Apa kamu kedinginan? Mau aku naikkan suhunya?"

Yolanda tertawa, "Ini musim panas, Kak!"

Benar, sekarang memang sedang musim panas.

Tetapi, aku justru merasakan hawa dingin menjalari tubuhku, dan membuat tubuhku terus gemetar.

Panggilan pun berakhir.

Aku menatap layar obrolan kami, tidak ada pesan yang menyuruhku pulang naik taksi.

Dia mungkin memang sudah mengirimnya, tetapi karena sinyal yang buruk sehingga pesannya gagal terkirim.

Namun, hal itu berarti bahwa dia tidak pernah memeriksa layar obrolan kami lagi setelah mengirim pesan itu.

Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Saat kami pertama kali berpacaran, dia hampir tak pernah lepas dari ponselnya kecuali saat tidur atau sedang di kelas.

Pesan-pesan yang dia kirimkan kepadaku sangat sepele, bahkan dia sampai menceritakan tentang seekor anjing yang menggonggong padanya di jalan.

Dia membalas pesan-pesanku dengan cepat.

Dia bilang tidak ingin melewatkan satu pun pesanku, dan takut tidak bisa langsung tahu jika aku dalam bahaya.

Tetapi sekarang, dia justru mengkhawatirkan orang lain.

Perasaan pahit menyebar dari lubuk hatiku yang terdalam.

Angin kencang di luar terasa seperti tangan gaib yang meremas hatiku berulang kali.

Pukul enam, topan itu pun akhirnya menerjang.

Dan aku terjebak sendirian di dalam kantor.

Aku pergi ke ruang istirahat dan menutup pintu rapat-rapat.

Lalu, menelepon orang tuaku yang tinggal di kota lain untuk memberi tahu mereka bahwa aku selamat.

Mereka bertanya, "Apakah kamu bersama Darwin?"

Aku berpikir sejenak dan menjawab, "Iya."

Layar kembali menjadi gelap dan ruangan itu kembali sunyi.

Sangat sunyi hingga hanya suara angin dan hujan di luar yang terdengar.

Kemudian, layar ponselku menyala sebentar dan membuat jantungku berdebar kencang.

Aku pun langsung meraih dan membukanya.

Namun detik berikutnya, aku merasa kecewa.

Itu adalah pesan pengingat dari pemerintah.

Kalimat terakhir berbunyi: [Harap tetap tinggal dengan aman di rumah bersama keluarga. Sehebat apa pun badainya, kita jaga bersama.]

Di media sosial, semua orang sedang sibuk mengagumi dahsyatnya kekuatan badai topan kali ini sambil memposting foto makan malam mereka.

Perutku keroncongan.

Aku menyadari bahwa aku belum makan apa pun.

Aku mengambil sekantong biskuit di ruang istirahat dan memakannya sambil melihat foto-foto makanan di media sosial.

Saat terus menggulir layar, jariku refleks berhenti ketika melihat foto profil yang tampak familiar.

[Masakan rekan kerjaku terlalu enak, apa yang harus kulakukan? Selera makanku jadi termanjakan!]

Gambar itu menunjukkan tiga hidangan dan sup yang sudah biasa kulihat, masakan andalan Darwin.

Dalam foto itu, hanya tangannya yang terlihat membentuk tanda "V".

Dia pernah berkata bahwa selain orang tuanya, satu-satunya orang yang akan dia masakkan seumur hidupnya adalah aku.

Ternyata, seumur hidupnya begitu singkat.

Aku menyukai unggahan itu dan berkomentar di bawahnya.

[Kalau begitu, aku sarankan untuk dijadikan pacar saja.]

Sesaat kemudian, pesan Darwin masuk.

[Jessi, apa maksudmu bicara seperti itu?]

Apa maksudku?

Bukankah hal-hal yang mereka lakukan sudah lebih jelas daripada ucapanku itu?

Dia membuka kolom obrolan kami, tetapi tidak menyadari pesannya yang belum terkirim.

Dia bahkan tidak bertanya di mana aku berada.

Jari-jariku mencengkeram ponsel dengan erat.

Aku hendak memberitahunya bahwa aku sama sekali belum pulang dan masih terjebak sendirian di kantor.

Namun, kemudian aku mendengar suara ledakan keras dari luar!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 9

    Rekan kerja Jessi memutar bola matanya dengan malas."Bagaimana aku bisa tahu? Tanya saja pada dirimu sendiri.""Yang kutahu, dia dengan penuh harapan menunggu pacarnya datang menjemput setelah pulang kerja, tapi pacarnya malah tidak datang sampai dia harus terjebak di kantor.""Jendela kantor pecah, dan dia harus bersembunyi sendirian di ruang istirahat. Apa kau tahu betapa takutnya dia malam itu? Tapi apa yang kau lakukan saat itu?"Darwin menggelengkan kepala."Mustahil ... Bagaimana mungkin dia bisa ada di kantor? Aku jelas-jelas sudah mengiriminya pesan ...." Tangannya gemetar saat membuka kunci ponselnya, lalu menelusuri riwayat obrolan mereka hingga akhirnya menemukan pesan yang telah dikirimnya hari itu.[Jessi, aku ada urusan mendesak. Kau pulang naik taksi saja ya. Hati-hati di jalan.]Namun, di samping pesan itu terdapat tanda seru merah terang yang sangat menyolok.Itu menunjukkan bahwa pesan tersebut gagal terkirim.Tubuhnya mendadak bergoyang hebat, dan wajahnya berubah

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 8

    Rekan-rekan kerja yang lain merasa sangat terkejut.Darwin menolak Yolanda?Apakah matahari terbit dari barat?Ditolak di depan umum, Yolanda merasa wajahnya memerah.Matanya memerah, dia merasa ingin menangis.Suaranya terdengar sedikit sengau dan dipenuhi kesedihan."Kenapa? Kamu bawa mobil, kan?" Darwin menoleh dan meliriknya sekilas, tatapannya begitu dingin hingga mampu membuat bulu kuduk merinding.Pria itu berkata dengan nada tidak sabar, "Aku harus menjemput pacarku pulang kerja, tentu saja aku tidak punya waktu."Mendengar hal itu, semua rekan kerja menghentikan pekerjaan mereka dan mulai menguping.Rekan kerja yang duduk di seberang sempat ragu sejenak, tetapi akhirnya tidak bisa menahan rasa ingin tahu."Hmm, Darwin, bukannya kau selalu bilang kalau pacarmu itu sangat mandiri dan bisa pulang sendiri, sama sekali tidak butuh dijemput?"Darwin tertegun."Apa aku pernah bicara begitu?"Semua rekan kerjanya mengangguk.Seorang rekan kerja perempuan seolah teringat sesuatu."Aku

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 7

    Darwin duduk di kursi kerjanya sambil menatap kosong ke arah layar ponselnya yang sunyi.Dua hari telah berlalu sejak Jessi memperingatkannya untuk tidak mengirim pesan lagi.Dia berpikir Jessi hanya masih emosi saja.Setelah amarahnya mereda, wanita itu pasti akan menghubunginya secara sukarela. Lagipula, hal seperti ini sudah sering terjadi sebelumnya.Bahkan ketika Jessi marah, dia akan kembali ceria seperti biasa dalam waktu dua hari.Namun kali ini, Darwin merasakan gelombang kepanikan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Pada hari itu, tatapan Jessi kepadanya begitu dingin.Tidak ada senyum, tidak ada kebencian, atau menyalahkan.Seolah-olah dia sedang menatap orang asing.Dulu, dia pasti akan mengamuk, menangis, membuat keributan, dan berulang kali bertanya apakah Darwin tidak mencintainya lagi.Meskipun merasa sedikit kesal dan risih, namun dia juga merasakan kegembiraan dan kebanggaan yang tersembunyi di dalam hati.Karena hal itu menunjukkan bahwa Jessi sangat menyukain

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 6

    Setelah berpisah dengan Ronald, aku kembali ke hotel bersama orang tuaku.Malam itu, pesan-pesan dari Darwin terus berdatangan.Karena tahu aku tidak akan menjawab teleponnya, jadi dia terus mengirim pesan.[Jessi, apakah kamu marah karena aku memintamu memberi penjelasan tentang Yolanda? Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu akan sangat peduli tentang ini. Aku sudah menyuruhnya untuk menghapus unggahan itu.][Atau apakah kamu marah karena kami mengadakan pesta perayaan untuknya? Itu ide dari rekan-rekan setimku. Kalau kamu tidak suka, aku tidak akan ikut lagi dalam acara-acara seperti itu.][Kamu boleh marah, kamu boleh memukulku, kamu boleh membentakku, tapi tolong jangan bilang soal putus, ya?][Kamu dulu tidak pernah menyebut kata putus, saat marah sekalipun.]Memang benar, karena saat itu aku tidak rela mengakhiri hubungan ini.Aku tak sanggup kehilangan sosoknya, orang yang rela tangannya terbakar saat berlatih memasak agar bisa membuatkanku makanan sehat dan bergizi.Aku ta

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 5

    Aku bersama orang tuaku dan seorang pemuda asing tampak sedang duduk di ruangan itu.Pria itu duduk di sebelahku.Dia sedang mengambilkan lauk untukku ketika Darwin masuk.Ibuku yang duduk di seberang, tersenyum dan berkata kepada ayahku."Ronald masih sama seperti dulu, selalu perhatian. Aku cuma bilang sekali kalau Jessi tidak bisa makan makanan pedas, coba lihat itu, dia sudah mengambilkan Jessi makanan yang tidak ada cabainya."Ayahku mengangguk riang penuh rasa puas.Darwin menjatuhkan barang-barang yang dipegangnya hingga berbunyi, dan berbicara dengan terbata-bata."Paman, Bibi, Jessi, ini ... sebenarnya ada apa ini?"Orang-orang kemudian baru memperhatikan keberadaannya.Senyum ibuku sedikit memudar, namun dia memilih untuk tetap diam.Ayahku juga meliriknya dengan wajah dingin.Pantas saja kalau orang tuaku tidak menyukainya.Dua tahun lalu, mereka berinisiatif untuk bertemu dengan Darwin.Saat itu, kami sudah bersama selama lebih dari empat tahun.Awalnya, Darwin menyetujui r

  • Badai Topan yang Membukakan Mataku   Bab 4

    Darwin fokus menatap pintu dengan lekat dan berkata padaku."Aku lupa memberi tahumu kalau proyek Yolanda sebelumnya berhasil dengan sukses, jadi atasan berencana untuk mempromosikannya."“Jadi, ini adalah pesta perayaan untuk Yolanda.”Perhatian Darwin masih tertuju pada sisi lain dan tidak menyadari bahwa nada suaraku sudah terdengar dingin.“Iya. Lagipula, kamu selalu mengeluh kalau aku bermain dengan rekan-rekanku tanpa mengajakmu, jadi aku mengajakmu kali ini.”“Darwin, apakah kamu masih ingat hari ini hari apa?”Darwin menatapku kosong.Aku tersenyum tipis dan mengangguk.“Darwin, ayo kita putus.”Bang!"Selamat Yolanda ... untuk promosimu yang akan datang!"Suara letusan konfeti dan sorakan riang menenggelamkan suaraku.Dan Darwin pun sudah bergegas ke sisi Yolanda dan merangkulnya dengan satu tangan.Aku mengangkat sudut mulutku dan membentuk senyuman mengejek, lalu berbalik dan melangkah pergi.Aku mengeluarkan ponsel dan menemukan bahwa ibuku telah mengirim pesan setengah jam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status