ログイン“Baginda?” Elara memekik pelan, begitu pintu terbuka menampilkan Erion berdiri disana.Ia berdiri dengan tergesa, berlari kecil menghampiri. Matanya seketika berkaca-kaca. Kebahagiaan terpancar begitu nyata dari wajahnya yang bersih.“Kau datang... aku tidak menyangka kau akan datang menemuiku seperti ini.”Erion terdiam sejenak, membiarkan Elara berdiri di depannya. Gadis ini tampak sangat rapuh dengan mata yang mulai basah.“Maafkan aku, Baginda. Mohon maafkan aku,” bisik Elara bergetar. Ia menunduk dalam, tangannya meremas pinggiran gaunnya sendiri.“Aku terlalu gegabah. Aku terlalu bodoh karena membiarkan diriku terseret dalam permainan Cassia. Aku dibutakan keserakahan.”Erion mengulurkan tangan untuk menepuk bahu Elara sekilas sebelum menariknya kembali. Ia tidak bisa bersikap kasar, tidak pada gadis ini.Ia menghela napas panjang, lalu “Duduklah, Elara. Kita perlu bicara.”Mereka duduk berhadap-hadapan di meja kayu kecil yang biasanya digunakan untuk minum teh. Erion menyandark
“Suatu kehormatan, seorang Putra Mahkota Odisian yang agung harus turun tangan sendiri ke penjara bawah tanah untuk menemuiku?” Cassia memulai ejekannya.Suara tawa Cassia yang melengking bergema di setiap sudut ruangan yang pengap. Kaki dan tangannya terikat kuat pada kursi kayu berat, yang dirancang untuk meruntuhkan nyali siapa pun.Meski pakaian kebesarannya telah kumal dan debu mengotori wajahnya, wanita itu tetap mengangkat dagu tinggi-tinggi, menjaga sisa-sisa keangkuhan seorang mantan ratu.Di luar pintu besi, Marib berdiri tegak bak menara penjaga. Erion telah menitahkan agar tidak ada seorang pun yang masuk. Ia butuh keheningan total untuk menguliti kebenaran dari mulut wanita berbisa ini tanpa ada satu saksi pun.“Aku merasa sangat terhormat. Apa perjamuan di atas sana terlalu membosankan bagimu, Erion?” lanjut Cassia.Erion tidak membalas. Ia melangkah perlahan, mengitari kursi Cassia dengan langkah bot yang berdentum pelan di atas lantai batu. Ia berhenti tepat di belakan
Yasmin berjongkok di tepi jalur setapak taman utama. Jemarinya yang lentik sibuk mencabuti kelopak bunga hingga berserakan di atas rumput, bentuk pelampiasan dari kekesalannya.Bibirnya mengerucut, menggumamkan sumpah serapah untuk satu orang pria yang tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.“Kenapa dia lama sekali? Dia pikir aku ini patung selamat datang di gerbang istana?” gerutu Yasmin sambil memukul seekor nyamuk yang nekat hinggap di lengannya.Ia sudah menyuruh Voya kembali ke paviliun lebih dulu karena tidak tega membiarkan pelayan itu ikut menjadi santapan nyamuk kebun. Kini, ia hanya sendirian, terjebak dalam gaun formal Pervane yang beratnya bukan main, lengkap dengan korset ketat yang membuatnya sulit bernapas panjang.“Kalau dia tidak datang dalam hitungan sepuluh, aku akan benar-benar pergi. Satu... dua... tiga...”“Delapan, sembilan, sepuluh.”Hingga bayangan tinggi besar menutupi cahaya matahari sore yang menyorot punggung Yasmin. Dengan cepat Yasmin mendongak, eksp
Erion menarikkan kursi untuk Yasmin, lalu tangannya terulur pelan untuk memastikan gadis itu duduk dengan nyaman. Tindakan tersebut tidak luput dari perhatian para dewan kerajaan dan bangsawan yang hadir. Bisik-bisik di aula besar itu seketika meledak, menciptakan suasana yang kian riuh.Ohmad berdeham keras, berusaha memecah ketegangan yang menyesakkan. Ia menyambut keduanya dengan senyum yang dipaksakan.“Sepertinya tamu kehormatan kita terlalu bersemangat hingga lupa bahwa protokol kerajaan mengharuskan Putri Yasmina datang bersama iring-iringan dayang,” sindir Ohmad halus.Matanya menatap tajam ke arah tangan Erion yang masih menggenggam jemari Yasmin.Erion tidak gentar. Ia hanya membungkuk hormat tanpa melepaskan pegangannya. “Protokol bisa diubah, Raja Ohmad. Bagi saya, keselamatan dan kenyamanan Putri Yasmina adalah prioritas yang tidak bisa ditunda.”Yasmin hanya bisa terdiam, mematung di kursinya. Kata-kata Erion terasa seperti senjata yang mematikan. Di satu sisi ia merasa
“Sebenarnya ada apa kau mengajakku jalan berdua seperti ini?”Mata Yasmin menyapu sekitar yang sibuk menata istana untuk pengukuhan Ohmad dua hari lagi.“Aku hanya ingin berbicara berdua saja denganmu, menikmati sepanjang jalan Istana Utama. Selama ini kita hanya sibuk berdebat, jadi aku ingin menikmati masa tenang ini,” jawab Erion lembut.Langkahnya tidak tergesa, mengikuti Yasmin yang memang melangkah pelan karena etiket dan berat gaun yang dipakainya.“Berbicara apa? Politik? Perjanjian damai? Kalau itu, bicara saja dengan Kak Ohmad, aku sudah malas beurusan dengan politik lagi!” sahut Yasmin tetap ketus.“Bukan,” potong Erion rendah dan ebih intim sambil mulai menuruni anak tangga paviliun.“Aku ingin bicara tentang kenapa kau memakai bros perak itu.” Erion menoleh pada bros perak Yasmin. “Kau tahu, di Odisian, perak yang disematkan di sisi kiri hiasan kepala berarti seorang wanita sedang membuka hatinya untuk pelamar.”Yasmin hampir tersandung kakinya sendiri. Ia segera meraba b
“Tuan Putri! Baginda... Baginda sudah tiba!” seru Voya begitu kencang karena panik.Yasmin mengerutkan kening. Tangannya terhenti di udara, tepat saat ia hendak menyematkan bros perak kecil pada kain panjang yang menghiasi kepalanya. Ia melirik jendela, matahari bahkan belum mencapai puncaknya. Padahal, agenda hari ini adalah jamuan makan siang formal pertama di Istana Utama. Sebuah rangkaian awal bagi pengukuhan Ohmad sebagai Raja Pervane.“Siapa? Kak Ohmad? Memangnya dia tidak sibuk mengurus persiapan di aula utama?” tanya Yasmin bingung. “Lagipula, aku yang seharusnya ke sana, bukan dia yang menjemputku.”“Bukan Raja Ohmad, Putri!” Voya menggeleng cepat, matanya membulat penuh antusias. “Baginda Erion! Baginda Odisian. Beliau sudah ada di ruang tamu!”“Erion? Ah… aku lupa sekarang dia seorang Baginda,” gumam Yasmin, kembali fokus menyematkan bros di kerudungnya. “Untuk apa dia ke sini sepagi ini?”“Hamba juga tidak tahu, Putri,” jawab Voya sama-sama heran.Dengan langkah gusar, Ya
"Voya, panggil Menteri Jetmir," perintah Yasmin sambil merapikan sarung tangan kulitnya. "Katakan padanya aku ingin berjalan-jalan.”"Tuan Putri, Anda belum meminta izin Yang mulia untuk keluar istana?" Voya tampak ragu."Jetmir akan melakukannya untukku. Katakan saja ini aku benar-benar ingin berj
Yasmin berdiri mematung di depan nisan batu. Ia menatap gundukan tanah itu dengan tatapan kosong, tangannya sesekali bergerak mengambil dedaunan kering yang jatuh mengotori pusara. “Kau ibunya, kan?” bisik Yasmin lirih, suaranya nyaris pecah. “Kau pasti tahu di mana Yasmina sekarang berada. Aku se
Langkah kaki Erion yang berdentum di koridor lantai paviliun. Jubah hitamnya menyapu lantai saat ia keluar dari kamar Yasmin. Bibirnya tersenyum miring, rahangnya mengeras, pikirannya dipenuhi sorot mata Yasmina yang terlihat asing. Hal itu mengusik insting Erion.Tepat di belokan menuju serambi lu
“Voya, menurutmu berapa lama aku harus berendam di air dingin sampai tubuhku benar-benar jatuh sakit?” gumam Yasmin tanpa menoleh. Tatapannya kosong, terpaku pada permukaan kolam ikan yang tenang di bawah teras paviliun.“Ya? Bagaimana maksudnya, Tuan Putri?” Voya menghentikan kegiatannya mengelap