LOGINTidak ada seorang wanita pun rela dimadu. pun Hanum, tapi siapa yang bisa menentang takdir jika suami yang dicintainya mendua. Hanum dilema. Bertahan atau melepaskan. "Jangan tanyakan kesanggupanku berbagi hati, tapi tanyakan kemampuanmu berbuat adil. Aku tahu itu syariat, aku tahu balasannya surga. Tapi haruskah sesakit ini?"
View MorePetir menggelegar, suaranya seperti raungan raksasa yang tengah marah, sementara mentari bersembunyi di balik mega yang sekelam malam. Ditingkahi kilat yang seolah-olah ingin membakar apa saja yang bisa disentuhnya. Langit pun ikut serta menurunkan titik-titik air menghujam jatuh ke bumi, dia berduka.
Ketika orang-orang berlari menghindari derasnya hujan, Hanum seakan menikmati jarum-jarum basah itu menusuk tubuh ringkihnya. Dia sakit, bukan raga melainkan hatinya. Dia menekan dada yang terasa nyeri. Saat ini Hanum memilih matanya buta hingga tidak perlu melihat adegan yang mengiris hati.Harusnya dia mengabaikan firasat buruk yang mendera sejak pagi, hingga tak perlu melihat pengkhianatan di depan mata. Harusnya dia duduk diam di rumah menunggu Adrian-suaminya- pulang. Hingga tak perlu melihat laki-laki itu memeluk seorang batita dan tertawa bahagia bersama Amelia yang sialnya adalah sahabatnya sendiri.Hanum yang malang.Inilah jawaban atas lirih doa-doanya. Tuhan menuntun kaki Hanum ke rumah yang tak pernah didatangi sejak mereka menikah. Bukan tak mau, tetapi orang tua Adrian tidak pernah sudi menerimanya sebagai menantu. Hanum gadis yatim-piatu yang tak jelas asal-usulnya dianggap tak sepadan dengan Adrian yang keturunan ningrat.Kaki ramping Hanum berjalan tertatih membelah jalanan yang mulai tergenang. Tak dipedulikan banyak pasang mata yang menatap heran, seakan bertanya mengapa dia menerobos hujan sederas itu. Mereka tidak pernah tahu luka di hatinya. Tak ada yang tahu air matanya mengalir deras tersamar hujan. Andai kematian itu indah, mungkin dia rela menggadaikan nyawanya agar tidak merasakan perihnya sayatan luka.Tarikan di lengannya memaksa Hanum berbalik. Matanya menangkap sosok Adrian yang berdiri menyorot sendu. Sekejap mereka saling pandang di bawah hujan dengan kilat kesedihan di mata keduanya. Namun, kilasan pengkhianatan Adrian lebih dulu menyentak kesadaran Hanum. Dia menepis tangan laki-laki itu, tetapi Adrian terlalu keras kepala. Dia kembali mengejar wanita yang telah dihancurkan hatinya."Hanum, dengarkan penjelasanku dulu," pinta Adrian di antara derasnya hujan.Hanum menulikan diri, terseok-seok melangkah dengan sisa kekuatannya.Adrian menghadang, mencengkeram bahu wanita yang lima tahun ini mendampinginya."Hanum, aku mengaku salah, tapi kumohon dengarkan penjelasanku," lagi, laki-laki itu memohon dengan wajah memelas.Hanum tersenyum getir. "Tidak perlu menjelaskan apa pun. Apa yang kulihat adalah kenyataan. Mas menyangkal itu sekarang?" tanyanya, tak dipedulikan tubuhnya yang kuyup. Hati wanita itu membara, bahkan hujan tak mampu mendinginkannya.Adrian mengusap air di wajahnya, dia terlihat frustasi. "Tidak. Aku memang menikahi Amelia dan itu memang putriku, tapi aku juga sangat mencintaimu. Kumohon keikhlasanmu menerima ini. Aku berjanji akan adil," ucapnya menghiba.Hanum menggeleng, dia surut satu langkah. "Tidak! Kau tahu bagaimana aku, Mas. Cintaku terlalu dalam. Berbagi jarak saja aku tak mampu apalagi berbagi hati. Jangan kejam ...," rintihnya pilu.Adrian maju menangkup wajah wanita bermata bening itu."Jangan tinggalkan aku. Jangan pernah meminta berpisah dariku. Aku berjanji akan adil padamu dan Amelia," pinta Adrian cepat, lalu memeluk tubuh mungil Hanum dalam dekapannya.Wanita itu terlalu lelah menolak. Terlalu banyak luka yang menyapa. Adrian, laki-laki tu menggadaikan kepercayaannya, menakar cintanya dengan harta. Hanum benci dirinya yang lemah. Di satu sisi dia pantang dikhianati, tetapi sisi hatinya yang lain begitu memuja laki-laki itu. Pada akhirnya dia memilih melihat kesanggupan Adrian memegang janji.Hanum pasrah pada kenyataan yang tak bisa diubah. Mungkin inilah takdir Tuhan untuknya. Skenario hidupnya telah ditulis, dia tinggal menjalani hingga akhir."Aku benar-benar kecewa sama Alex. Pasti wanita itu yang menghasutnya." Nina masuk ke ruang kerja papanya sambil mengomel dan wajah kusut.Pak Burhan hanya diam, dia tetap melanjutkan pekerjaannya sambil menunggu putrinya itu melimpahkan amarah."Papa tahu, Alex mengusirku hanya karena wanita itu! Padahal dia tak punya kelebihan apa-apa dibanding aku. Aku bisa menyokong usahanya, aku mengerti bisnis, tapi dia lebih condong ke wanita itu.""Kamu selalu menyebut wanita itu wanita itu. Setidaknya kamu sebut namanya.""Papa tahu siapa yang aku maksud. Siapa lagi kalau bukan Hanum" balas Nina dengan nada keras."Papa rasa tidak ada yang salah dengan Alex. Kamu yang terlalu agresif dan memaksakan kehendakmu padanya. Kau tahu dengan jelas kalau laki-laki itu sangat mencintai Hanum dan kau seakan-akan meminta dia memilih, jelas Alex akan memilih istrinya.""Tapi dia janji mau nikahi aku, Pa!" Nina tak mau kalah. Sifat aslinya keluar. Wajah manis yang selama ini dia tampaknya berubah menjadi r
"Sialan!"Dengan raut kesal Nina melemparkan tasnya ke sembarang arah. Niat mendatangi rumah Hanum dan bersikap seolah-olah menguasai rumah itu untuk membuat mental si wanita jatuh, malah gagal total. Dia tidak memperhitungkan Neysa. Gadis remaja itu ternyata berpihak kepada Hanum. Tak mungkin dia lupa senyum puas di wajah Hamum melihat Alex membentaknya. Ternyata, wanita itu lebih pintar dari yang dia kira. Dia yakin Hanumlah yang menghasut Neysa untuk mengerjainya. Nina benar-benar dibuat seperti orang bodoh di depan lelaki pujaannya oleh kedua orang itu.'Dasar tidak tahu terima kasih! Sudah ditolong malah berniat mencelakakanku. Lihat saja, aku akan membalas perbuatanmu.' Nina mengumpat sambil mengepalkan kedua tangannya.Nina bukan tipe wanita yang tertarik dengan pernikahan. Dia lebih hubungan tanpa ikatan, gaya hidup yang dia jalani sejak remaja. Tinggal di Singapura serba bebas adalah surga baginya. Alex adalah teman lamanya dan mendiang suaminya. Sejak dulu dia menyukai l
Pagi itu, ketika Hanum bersiap ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan bekas jahitan dan juga perkembangan bayinya, mobil milik Nina memasuki pekarangan rumahnya.. Wanita itu datang ke rumah Hanum sambil membawa beberapa kantong plastik berisi berbagai bahan makanan. Begitu melihat Hanum, Nina tersenyum ramah sambil melambaikan tangannya."Pagi, Num, aku mau bantu urus anak-anak dan memasak untuk keluarga," ucap Nina sembari memperlihatkan barang bawaannya, seolah-olah dia masuk ke rumah sendiri.Dahi Hanum berkerut saat mendengar ucapan Nina. Dia mengulas senyum untuk menyembunyikan amarahnya. "Makasih, Nin, kamu enggak perlu repot-repot," balasnya berusaha tetap ramah. Hanum tidak ingin paginya dirusak oleh Nina.Melihat sikap Hanum yang melunak, Nina merasa di atas angin. Dia tersenyum. "Ah, enggak apa-apa kok. Aku ingin membantu. Lagipula, aku ingin belajar memasak masakan rumahan yang enak seperti yang sering kamu buat," ujarnya lalu masuk begitu saja tanpa permisi, seakan
Setelah Hanum melahirkan. Alex menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menemani bayi mereka yang sedang berjuang untuk hidup. Dia juga terus mendampingi sang istri, memberikan dukungan dan kasih sayang yang dibutuhkan wanita itu, walaupun sikap Hanum masih saja dingin, meskipun begitu dia tidak menyerah untuk mengambil hati sang istri. Sementara Hanum terus berusaha menggerakkan tubuhnya agar segera pulih. Dia tak ingin berlama-lama di rumah sakit. Beruntung, bayi mereka baik-baik saja sehingga bisa tidur kembali dengan Hanum."Num, apa kau butuh sesuatu?" Alex mencoba mencairkan suasa yang membeku."Aku enggak butuh apa-apa. Makasih."Alex menghela napas. Meski singkat setidaknya Hanum sudah mulai bicara padanya.Pada saat yang bersamaan, Nina yang merasa terabaikan oleh Alex, mencoba mencari cara agar bisa mendapatkan perhatian lelaki itu kembali. Setelah berpikir matang, dia memutuskan untuk mengunjungi rumah sakit dan membawa beberapa perlengkapan bayi sebagai hadiah untuk Hanum






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore