เข้าสู่ระบบSetelah perceraiannya dengan Julian bulan lalu, Aya memilih meninggalkan kota tempat ia pernah tinggal. Dengan sisa tabungan yang dimiliki, ia menyewa sebuah kamar di rumah susun sederhana dan mulai bekerja sebagai kuli cuci di rumah seorang wanita paruh baya.
Hari itu, Aya sedang membilas pakaian di kamar mandi belakang ketika majikannya datang membawa satu keranjang cucian lagi.
“Aya, boleh saya tambah lagi cucian bajunya?” tanya wanita itu.
Aya mengangkat wajah lalu tersenyum kecil. “Tentu boleh, Bu. Taruh saja keranjangnya.”
Wanita itu berkacak pinggang sambil menatap keranjang cucian yang baru saja diletakkan. “Nanti saya tambahkan uang makannya, ya. Repot sekali kalau punya cucu yang aktif. Cucian tidak ada habisnya.”
Aya kembali membilas pakaian yang ada di tangannya. “Tidak apa Bu, memang pekerjaan saya.”
Majikannya tersenyum puas. “Kalau begitu saya tinggal lagi, ya.”
Aya menatap keranjang cucian baru itu sebentar, kemudian mengangguk pelan. “Baik, Bu.”
Setelah wanita itu pergi, Aya kembali membilas pakaian satu persatu. Setelah yakin tidak ada lagi busa yang tersisa, ia memeras pakaian itu lalu memasukkannya ke dalam ember untuk dijemur.
Tak lama kemudian, suara tawa anak kecil terdengar dari dalam rumah. Cukup untuk membuat Aya menghentikan gerakannya sesaat.
“Kalau tidak mau diam nanti tidak dapat es krim ya!” Suara majikannya terdengar sedikit berteriak. Lalu, disusul gelak tawa sang cucu.
Senyum tipis sempat terukir di wajah Aya. Namun hanya sesaat. Mungkin, jika bayinya masih hidup, suara tawa seperti itu juga akan mengisi hari-harinya.
***
Pukul enam sore, Aya akhirnya tiba di rumah susun tempatnya tinggal. Beberapa anak tampak masih bermain di halaman, sementara para ibu duduk mengobrol tak jauh dari tempat mereka bermain.
Sebuah bola plastik tiba-tiba menggelinding hingga berhenti tepat di depan kaki Aya. Anak-anak yang sedang bermain saling tatap, sampai salah seorang anak laki-laki menghampirinya.
Anak itu sedikit menundukkan kepalanya. “Maaf, Kak! Tidak sengaja.”
Aya membungkuk, mengambil bola itu, lalu menyerahkannya sambil tersenyum tipis. “Tidak apa. Hati-hati mainnya, ya!”
“Terima kasih, Kak!” setelah menerima bolanya, anak itu kembali berlari menghampiri teman-temannya.
“Maaf ya, Aya,” ucap salah seorang ibu sambil tersenyum canggung. “Anak-anak kalau sudah main memang suka tidak memperhatikan sekitar.”
Aya menggeleng. “Tidak apa, Bu. Saya mengerti.”
Setelah itu, Aya melanjutkan langkahnya. Kamarnya berada di lantai dua rumah susun dan sangat sederhana. Hanya ada satu kasur berukuran kecil, lemari disudut ruangan serta meja pendek yang diletakkan di samping kasur.
Begitu pintu tertutup, Aya meletakkan tasnya di atas meja. Ia mengembuskan napas pelan sebelum merebahkan tubuhnya di atas kasur. Rasa lelah setelah bekerja seharian akhirnya terasa memenuhi seluruh tubuhnya.
***
Malam itu, Aya baru saja kembali dari minimarket menuju rumah susunnya setelah berbelanja kebutuhan untuk beberapa hari ke depan. Satu tangannya membawa kantong plastik yang berisi beberapa kebutuhan rumah untuk beberapa hari.
Jarak dari minimarket ke rumah susun tidak terlalu jauh. Namun, baru beberapa menit berjalan, kantong plastik di tangan Aya tiba-tiba robek. Beberapa bungkus mie instan, botol sabun, dan belanjaan lain berserakan di trotoar.
“Astaga,” keluh Aya memandangi barang-barang yang kini berserakan.
Aya segera berjongkok untuk memunguti satu per satu belanjaannya. Saat itulah, sepasang tangan lebih dulu mengambil botol sabun yang hampir menggelinding ke jalan. Aya mendongak dan mendapati seorang pria berdiri di sampingnya sambil membawa barang miliknya.
“Eh, terima kasih,” ucap Aya malu-malu.
Pria itu melirik kantong plastik yang sudah robek. “Plastiknya sudah tidak bisa dipakai. Tunggu sebentar!”
Ia berjalan menuju mobil yang terparkir di tepi jalan, lalu kembali dengan sebuah tote bag berwarna hitam.
Pria itu membuka tote bag yang dibawanya. “Pakai ini saja!”
Aya melihatnya dengan sedikit ragu dan mulai memindahkan barangnya satu-persatu. “Maaf jadi merepotkan.”
Pria itu menggeleng pelan. “Tidak sama sekali.”
Aya tersenyum tipis. “Kalau begitu, saya duluan.”
Belum sempat Aya melangkah, pria itu kembali bersuara. “Kalau tidak salah, kamu Aya, kan?”
Aya kembali menatap pria di hadapannya, lalu menjawab dengan suara pelan. “Iya.”
Pria itu menunjuk diri sendiri dengan senyum ramah. “Aku Vindra. Kita pernah satu kelas waktu SMA.”
Aya mengernyit, berusaha lagi mengingat tentang masa sekolahnya dulu. Sayangnya, nama pria itu tak ada dalam ingatan Aya.
Aya membetulkan posisi kacamatanya. “Begitu ya. Aku tidak ingat.”
Senyum Vindra memudar. “Tidak apa. Sudah lama juga.”
Tatapannya kemudian beralih pada tote bag yang sebelumnya ia berikan. “Kamu mau pulang?”
“Iya,” jawab Aya singkat.
“Naik mobilku saja. Sepertinya kita searah,” tawar Vindra.
Aya memikirkan tawaran itu sejenak. “Tidak merepotkan?”
Vindra hanya membalasnya dengan senyum tipis. Kemudian, melangkah menuju mobil yang terparkir di tepi jalan. Setelah membukakan pintu penumpang, ia menunggu hingga Aya masuk sebelum menutup pintu dan berjalan memutari mobil menuju kursi pengemudi.
Beberapa saat setelah mobil melaju, suasana di dalamnya dipenuhi keheningan. Aya sesekali melirik ke luar jendela, sementara Vindra fokus mengemudi.
“Sekarang kesibukanmu apa?” tanya Vindra memecah keheningan.
“Aku bekerja,” jawab Aya sambil menatap keluar jendela.
“Bekerja dimana?” tanya Vindra penasaran.
“Hanya kuli cuci di rumah orang.” Jemari Aya mengerat pada tali tote bag yang berada di pangkuannya.
Alis Vindra sedikit terangkat. “Benarkah?”
“Iya.” Suaranya terdengar tenang. “Tidak jauh dari rumah susun tempat tinggalku.”
“Sudah biasa mengurus banyak jenis pakaian?” tanya Vindra sambil fokus menyetir.
“Mungkin, bisa dibilang begitu,” kata Aya sedikit ragu.
“Kalau begitu, kebetulan sekali.” Vindra melirik Aya sambil tersenyum. “Aku baru saja membuka usaha laundry di daerah sini.”
Aya menoleh ke arah Vindra. “Benarkah?”
Vindra mengangguk pelan. “Iya. Masih dalam proses persiapan. Kalau lancar, mungkin minggu depan sudah dimulai.”
“Hebat sekali,” puji Aya.
“Terima kasih.” Vindra melirik Aya sekilas. “Kalau kamu berminat, aku ingin kamu bekerja denganku.”
Aya menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa aku?”
Vindra mengangkat bahunya. “Iya. Dari ceritamu tadi, sepertinya kamu sudah terbiasa dengan cucian. Menurutku, pengalamanmu cocok untuk bekerja di tempatku.”
Aya mengusap tengkuknya dengan canggung. “Mungkin aku harus memikirkannya lebih dulu.”
“Tidak masalah,” jawab Vindra. “Aku hanya menawarkan. Keputusannya tetap ada di tanganmu.”
Setelah itu, tak ada lagi percakapan di antara keduanya. Suara mesin mobil menjadi satu-satunya yang terdengar di sepanjang perjalanan. Sampai mobil Vindra memasuki kawasan rumah susun tempat Aya tinggal.
“Berhenti di depan saja,” pinta Aya.
Vindra mengangguk lalu menghentikan mobil tepat di depan gerbang rumah susun.
“Terima kasih sudah mengantarku,” kata Aya sambil membuka seat belt.
Aya hendak membuka pintu mobil ketika Vindra menahan tangannya. “Tunggu sebentar!”
Vindra meraih sebuah kartu nama dari dashboard mobil, lalu menyodorkannya kepada Aya. “Kalau tertarik dengan tawaranku, hubungi nomor yang ada dikartu.”
Aya menerima kartu nama itu dengan kedua tangan. Membaca nama yang tertera kavindra Jevera. “Baik. Terima kasih.”
Aya sontak membeku. Ia mengenali suara itu sebelum akhirnya berbalik, dan benar saja, Vindra berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan senyum tipis. Pria itu baru saja keluar dari salah satu toko ketika tanpa sengaja melihat Aya berjalan sendirian menuju pintu keluar.“Pak Vindra? Bapak juga ada di sini?” tanya Aya, masih sedikit terkejut.“Iya. Aku sedang ada urusan di sekitar sini,” jawab Vindra sambil melirik paper bag di tangan Aya. “Kamu sendiri sedang apa?”“Karena sedang libur, aku membeli beberapa barang yang diperlukan,” jelas Aya. “Sekarang aku mau pulang.”Vindra memandang jam tangan hitam di pergelangan tangannya. “Apa kamu sudah makan siang?”Genggaman tangannya pada paper bag mengeratm. “Belum. Aku berniat untuk makan siang di rumah.” “Apa tidak keberatan kalau aku mengajakmu mengunjungi kafe di sekitar sini?” tawar Vindra. “Kafe?” Aya mengulang dengan sedikit ragu. “Iya. Kebetulan aku akan pergi ke sana, menu di sana sangat enak.”Aya berpikir cukup lama sebelum
Aya berkali-kali mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya melangkah menuju pintu masuk utama pusat perbelanjaan. Matanya memperhatikan orang-orang yang datang bersama keluarga atau teman, sementara ia berdiri sendirian dengan jemari yang sesekali mengerat pada tali tasnya. Setelah memikirkannya semalaman, ia memutuskan untuk pergi ke luar rumah dan menghabiskan waktu liburnya untuk bersenang-senang. “Jangan takut. Aku hanya ingin bersenang-senang hari ini,” ucap Aya kepada dirinya sendiri sebelum melangkah masuk. Begitu berada di dalam, Aya berjalan perlahan sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia tidak memiliki tujuan khusus, tetapi semakin lama berada di sana, langkahnya justru semakin ringan dan senyum kecil mulai menghiasi wajahnya. “Aku mau lihat-lihat saja. Tidak harus membeli apa pun,” gumam Aya. Entah ke mana langkah kakinya membawanya, Aya akhirnya berhenti di sebuah toko pakaian. Beberapa produk yang dipajang terlihat menarik perhatiannya karena sebagian besar modelnya
Wanita itu masih berdiri di depan meja kasir dengan wajah penuh amarah. Ia meletakkan kantong laundry di atas meja, lalu mengeluarkan sebuah kemeja berwarna putih dengan noda di bagian kerah. “Ini kemeja suami saya. Sebelum dicuci kondisinya masih bagus, tapi sekarang malah seperti ini,” protesnya sambil menunjuk noda tersebut. Aya menerima kemeja itu dan memeriksanya sebentar. “Ibu menyerahkan pakaian ini ke sini untuk dicuci?” “Iya. Asisten saya yang mengurusnya. Dia bilang kemeja ini dicuci di sini,” jawab wanita itu dengan nada kesal. Aya berusaha tetap tenang meskipun wanita tersebut terus menatapnya dengan tajam. “Baik, Bu. Kalau begitu, boleh saya melihat nota pesanannya?” “Saya tidak membawanya,” jawab wanita itu. “Memangnya tidak bisa dicek dengan cara lain?” “Kami bisa mencoba mencarinya, Bu. Namun, kami tetap harus menjalankan sesuai prosedur,” jelas Aya. Linda yang sejak tadi memperhatikan dari belakang akhirnya menghampiri mereka. “Kalau Ibu tidak membawanya, mungk
Malam itu, Vindra baru saja tiba di rumah sewanya setelah menutup laundry. Ia meletakkan tas di atas sofa, lalu merebahkan tubuh sejenak. Rasa lelah belum sepenuhnya hilang. Namun, pikirannya justru kembali pada percakapan saat ia mengajak Aya makan malam beberapa waktu lalu.Hari itu, sebenarnya Vindra sempat ingin menanyakan satu hal. Ia penasaran apakah Aya sudah memiliki seseorang di sisinya. Tetapi pertanyaan itu urung keluar karena terasa terlalu pribadi untuk diucapkan. “Kenapa aku jadi memikirkan hal seperti itu?” gumamnya pelan sambil menatap langit-langit rumah. Vindra mengusap wajahnya perlahan. Selama ini ia tidak pernah mencampuri kehidupan pribadi siapa pun, tetapi entah mengapa ia justru ingin mengenal Aya lebih jauh. Ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama asistennya muncul di layar sehingga Vindra segera mengangkat panggilan itu.“Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu.” Suara asisten itu terdengar gugup. Vindra segera duduk tegak. “Tidak apa-apa. Ada masalah?”
Begitu membukanya, seorang wanita berambut pendek dengan daster sederhana sudah berdiri di hadapannya. Aya mengenali wanita itu sebagai salah satu penghuni rumah susun yang tinggal di lantai bawah. "Ya, ada apa?" tanya Aya sambil menatap wanita itu dengan bingung. Wanita itu melongok ke dalam kamar Aya sejenak, seolah memastikan sesuatu. "Tidak apa-apa. Saya hanya ingin memastikan." Aya mengernyitkan kening. "Memastikan apa, Bu?" "Tadi saya melihat ada seorang pria," ujar wanita itu sambil tersenyum kecil. "Sudah pulang, ya?" Aya memejamkan mata sejenak, berusaha meredakan rasa pening di kepalanya. Pria yang dimaksud wanita itu pasti Vindra. Mungkin ia melihat Vindra keluar dari kamarnya atau melihat mobil pria itu yang terparkir di depan rumah susun. "Iya, dia datang untuk menjenguk saya," jawab Aya berusaha tetap tenang. "Apa dia saudaramu?" tanya wanita itu memastikan. Aya tersenyum tipis sebelum menjawab. "Bukan. Dia teman saya." Mendengar jawaban Aya, wanita itu
Tatapan Vindra bertahan beberapa saat pada Aya. Ada sedikit keraguan pada sorot matanya. “Aku ingin tahu ....” Kalimat itu terhenti ketika ponsel di atas meja berdering. Vindra mengalihkan pandangannya ke layar. Nama salah satu rekan bisnisnya terpampang di sana. “Maaf.” Ia meraih ponselnya. “Sebentar.” Vindra mengangkat panggilan itu dan berbicara singkat. Tak sampai dua menit, ia kembali meletakkan ponselnya di atas meja. “Maaf,” ucapnya sekali lagi. Vindra sempat membuka mulut, seolah hendak melanjutkan pertanyaannya. Namun, ia mengurungkannya. “Lain kali saja, mari lanjutkan makannya.” *** Aya membuka mata dengan susah payah. Tubuhnya terasa jauh lebih berat dibanding biasanya, sementara kepalanya masih berdenyut sejak semalam. Ia mencoba bangkit dari tempat tidur, tetapi rasa pusing yang datang membuatnya kembali terduduk di tepi ranjang. Mengembuskan napas pelan, Aya meraih ponselnya. Setelah berpikir sejenak, ia membuka ruang obrolan Vindra lalu mulai mengetik pe







