ANMELDENMalam yang dingin tipis membasahi kaca gedung tinggi milik RN'Group karena hujan, seorang pria duduk santai di ruangan kerja paling atas, ia memutar gelas wine di tangannya.Matanya menatap tajam, pada layar tablet yang memperlihatkan siaran ulang di bandara saat kedatangan Ashuna pagi tadi."Akhirnya ... kamu kembali juba," ucap Rafello sambil tersenyum tipis.Ketukan pintu terdengar dari luar, Rafello menyuruhnya masuk. "Masuk."Pria yang berpakaian hitam masuk sambil membawa map tipis, ia berdiri tegak di depan meja kerja Rafello."Kami sudah menyiapkan laporan tentang Nona Ashuna, Tuan," ucapnya."Baca!" ucap Rafello meletakkan gelasnya perlahan."Nona Ashuna langsung menuju hotel Grand Royal, setelah konferensi pers selesai. Lalu besoknya Nona Ashuna ada jadwal pagi bersama panitia audisi idol nasional," sahutnya."Ternyata dia masih sama?" Rafello mengangguk pelan sambil tersenyum tipis."Maksud Tuan?" anak buahnya menaikkan alisnya, ia terlihat bingung."Dia itu masih terlalu b
"Jadi artis kepercayaan agensi kami," lanjut Ashuna lagi.Heca yang mendengar hal itu menjadi terkejut, artis kepercayaan mereka? Apa maksudnya? Ia tak mengerti, tetapi berusaha untuk bertanya sedikit."Maksud Nona?" tanya Heca menajamkan pandangannya.Ashuna tersenyum melihat perubahab pandangan Heca, ia juga akan melakukan hal yang sama jika menjadi Heca."Jadilah artis yang besar atas kerja kerasmu sendiri," sahut Ashuna lalu menjelaskan apa maksudnya dari artis kepercayaan agensi.Setelah dijelaskan, Heca pun paham maksud Ashuna. Ia berjanji akan menjadi artis besar di bawah bimbingan agensi mereka, Ashuna senang mendengarnya."Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Ashuna pamit."Hati-hati, Nona," sahut Heca sedikit menunduk kepalanya tanda hormat.Beberapa hari kemudian, Ashuna menghadiri audisi di kota lain. Suasana langsung riuh ketika ia datanga, namun ada seorang wanita terpaku melihatnya.Tangan wanita itu bergetar, bola matanya membesar, menatap sosok yang dinantikan teman-te
"Ada apa ini?" tanya seorang dokter dengan jas putih panjangnya yang mencapai lutut saat ia sampai di depan ruang rawat seseorang."Lepaskan aku!" teriak Romi yang mengamuk dalam kamar."Ayo suntik dia," ucap Dokter Tama melangkah maju masuk ke dalam ruangan itu."Baik Dokter," sahut perawatnya mengikuti sang dokter.Setelah diberi obat penenang, Romi berhenti mengamuk. Dokter Tama dan perawatnya keluar, namun percakapan mereka berdua saat keluar dari ruangan membuat salah satu perawat menghela napasnya."Kita beritahu Nona M," ucap Dokter Tama."Apa kita perlu memindahkannya?" tanya perawat."Mungkin," sahut Dokter Tama.Keduanya pun menghilang dari pandangan perawat tadiโDona salah satu kepercayaan seseorang."Jahat sekali mereka," gumam Dona di depan pintu ruang rawat Romi.Dalam sebuah gedung mewah utama milik Zaemley Group, suasananya jauh dari tenang. Beberapa wajah karyawan terlihat tegang, seolah mereka akan kehilangan pekerjaannya.Seseorang duduk di kursi direktur sementara,
"Tuan Hans," ucap Ashuna tersenyum melihatnya"Ashuna, kau ...." Tuan Hans menjeda ucapannya sebentar."Baiklah, maaf ya jika aku membuatmu terdiam. Silalan panggil yang selanjutnya," ucap Ashuna lalu berdiri dan ingin pergi."Duduk!" perintah Tuan Hans."Ada apa, Tuan Hans?" tanya Ashuna menaikkan alisnya sambil menoleh."Duduk, kita lanjutkan wawancaranya. Aku tidak peduli seperti apa reputasimu," sahut Tuan Hans lagi menarik tangan Ashuna.Ashuna memicingkan matanya. "Kau yakin? Bukankah dulu sering meremehkanku?""Dengar Ashuna, dulu aku memang meremehkanmu karena naif. Tapi sekarang aku ingin melihat perkembanganmu setelah terpuruk," ucap Tuan Hans memberitahu alasannya.Ashuna pun tersenyum tipis, ia langsung melanjutkan wawancaranya dan lulus. Sejak diterima bekerja di rumah sakit sebagai cleaning service, sedikit demi sedikit bisa menabung untuk kuliahnya sendiri. Sesekali menerima pesan dari Rafello, hanya itu dan fokus untuk masa depannya sendiri.Waktu memang tak mengenal j
"Aku sudah membuat anak itu tidak nyaman di rumah, apalagi yang kamu inginkan." Shiona memijit dahinya yang pusing.Tidak ada jawaban dari penelepon, Shiona pun melihat layar ponselnya yang sambungan telpon sudah mati."Astaga! Dimatikan," ucapnya pelan.Di luar pintu, Mora bingung dengan siapa mama angkatnya bicara. "Aneh," batin Mora lalu kembali ke kamarnya sendiri.Di lain tempat, lebih tepatnya kota Palangkaraya di mana Ashuna membuka layar ponselnya cukup lama. Pesan dari Rafello, bibirnya tersenyum tipis."Aku baik-baik saja di sini, Rafello. Tak perlu mengkhawatirkanku." Ashuna membalas pesan Rafello."Baguslah, aku senang mendengarnya. Kau jaga kesehatan di sana ya," balas Rafello menggunakan emot love-love."Kau juga, sudah ya, aku mau menata kamar baruku." Ashuna menyudahi chattingan-nya.Ashuna langsung menatap kamar barunya dengan semangat, ia juga tak lupa mencari pekerjaan paruh waktu di sini.Di kamar barunya yang sudah tertata rapi, meskipun kecil dan tidak mewah. Na
Ashuna benar-benar marah kepada Mora, dialah orang yang sudah membuat Gustav mencacinya sebagai wanita murahan. Semua perkataan kotor itu selalu terdengar dalam kepalanya, seolah-olah berputar tanpa henti seperti nyanyian rusak. Kata-kata wanita murahan itu terasa sakit dari pukulan hulk, ia berdiri di depan cermin lalu menatap duplikat dirinya dalam-dalam. Mata bengkak karena banyak menangis, wajah pucat seperyi orang sakit, rambut terurai ditiup angin, inikah dirinya yang tersakiti. Semuanya berawal dari video sialan itu, sebuah video berdurasi kurang dari 1 menit. Dalam video itu sepertinya direkam dari suduy yang salah, seperti sengaja dipotong tanpa sebab, kemudian disebarkan dengan kalimat dan kata-kata yang sudah disusun dengan rapi untuk menggiring opini. "Kau itu selalu saja berpura-pura suci, Ashuna!" Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Gustav waktu itu. "Aku melihat video itu dengan mata kepalaku sendiri, tidak ada editan di sana." Setelah kejadian itu ia menjauh ta







