๋ก๊ทธ์ธSuasana koridor gedung perkantoran masih dipenuhi ketegangan. Rafello dan Argus berdiri saling berhadapan. Tatapan keduanya sama-sama tajam, tidak ada yang berniat mengalah.Argus memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Ashuna sudah banyak berubah."Rafello menjawab singkat. "Memang.""Dia jauh lebih menarik dibanding lima tahun lalu." Argus semakin berani memuji Ashuna di depan Rafello.Tatapan Rafello semakin dingin. "Aku tidak suka orang lain menjadikannya bahan pembicaraan."Argus tersenyum tipis. "Aku hanya menyampaikan fakta. Lagipula aku belum melakukan apa pun."Rafello melangkah satu langkah lebih dekat. "Kalau tujuanmu hanya bisnis, aku tidak akan ikut campur. Tapi kalau tujuanmu mendekati Ashuna, aku tidak akan diam."Argus tertawa pelan. "Rafello, kau masih sama seperti dulu. Terlalu posesif terhadap sesuatu yang bahkan belum menjadi milikmu."Ucapan itu membuat suasana semakin panas. Namun, sebelum terjadi perdebatan lebih jauh, sekretaris Argus datang menghampiri."T
Pagi setelah wawancara televisi, nama Ashuna Zaemley kembali menjadi perbincangan di berbagai media. Bukan karena isu sensasional, melainkan karena sikapnya yang tenang, rendah hati, dan jawaban-jawabannya yang menginspirasi banyak orang.Salah satu potongan wawancaranya bahkan menjadi viral. "Saya tidak hidup untuk membalas dendam, saya hidup untuk membuktikan bahwa masa lalu tidak berhak menentukan masa depan saya."Kalimat itu menuai banyak pujian. Di kantor PT. Ashuna Group, Ashuna sedang membaca laporan perkembangan audisi idol ketika asistennya masuk."Nona," ucap asisten."Ada apa?" tanya Ashuna."Semua jadwal hari ini sudah siap." Asisten memberitahu."Lanjut," ucap Ashuna kembali."Pukul sepuluh ada penandatanganan kerja sama dengan RN'Group." Asisten kembali melanjutkan agenda untuk Ashuna.Ashuna mengangguk pelan. "Lalu?""Asosiasi Pengusaha Nasional juga mengundang Anda menjadi pembicara bulan depan." Sang asisten kembali memberitahu."Atur saja!" perintah Ashuna."Baik."
Suasana studio mendadak terasa menegangkan, Ashuna masih duduk di hadapan pembawa acara. Pertanyaan terakhir belum juga dijawabnya."Apakah dalam perjalanan menuju kesuksesan, pernah ada seseorang yang sangat melukai hidup Anda?"Seluruh penonton menunggu. Ashuna menarik napas pelan, tatapannya tenang."Tentu pernah." Jawabannya singkat.Pembawa acara kembali bertanya dengan hati-hati.."Apakah Anda membencinya?"Ashuna tersenyum tipis. "Dulu ... iya.""Lalu sekarang?" tanya pembawa acara itu lagi."Sekarang saya lebih memilih berterima kasih," sahut Ashuna.Semua orang tampak bingung."Karena tanpa mereka ... saya tidak akan menjadi pribadi yang kuat seperti hari ini," lanjut Ashuna menjelaskan.Tepuk tangan memenuhi studio, tidak ada satu nama pun yang disebut. Tidak ada kebencian yang diumbar, namun jawaban itu berhasil menyentuh hati banyak orang. Di rumah keluarga Zaemley, Shiona menangis tanpa suara."Itu pasti tentang kami...." gumam Shiona sambil menutup wajahnya.Wisnu hanya m
Malam yang dinanti akhirnya tiba. Gedung stasiun televisi nasional dipenuhi wartawan sejak sore hari, lampu kamera terus berkedip, sementara para penggemar memenuhi area depan gedung hanya untuk melihat secara langsung sosok pengusaha muda yang sedang menjadi perbincangan.Di dalam mobil, Ashuna duduk tenang mengenakan setelan jas putih elegan dipadukan celana panjang hitam. Riasannya sederhana, tetapi memancarkan wibawa yang membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan.Di sampingnya, asisten pribadi sedang menjelaskan susunan acara. "Nona, wawancara berlangsung sekitar satu jam. Setelah itu ada sesi foto bersama."Ashuna hanya mengangguk, mobil perlahan memasuki area parkir VIP. Begitu pintu mobil dibuka, puluhan kamera langsung mengarah kepadanya."Nona Ashuna!""Nona, lihat ke sini!""Bagaimana perasaan Anda kembali ke Indonesia?"Ashuna hanya memberikan senyum tipis dan lambaian singkat, sebelum memasuki gedung dengan pengawalan keamanan.***Di sisi lain, sebuah mobil hitam ber
Pagi itu, Ashuna berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil memegang secangkir kopi hangat. Tatapannya tertuju pada langit kota yang mendung, pesan dari Shiona semalam masih tersimpan di ponselnya. Ia sudah membacanya berkali-kali, namun, tak sekali pun membalas. Tok, tok. "Nona." Asistennya masuk membawa beberapa berkas. "Ada jadwal baru." "Apa?" tanya Ashuna menatap asisten itu. "Stasiun televisi nasional, meminta Anda menjadi bintang tamu dalam program wawancara eksklusif mereka malam besok." Ashuna menerima berkas tersebut, program itu merupakan salah satu acara paling populer di negara itu. Jutaan orang menontonnya setiap minggu. "Mereka sudah menghubungi tiga kali," ucap asisten itu. "Apa alasannya?" tanya Ashuna. "Mereka ingin membahas perjalanan hidup Anda. Dari mahasiswa pindahan yang memulai hidup dari nol di Korea, hingga menjadi CEO muda paling berpengaruh." Ashuna membaca rincian acaranya, biasanya, ia akan langsung menolak acara yang terlalu mencampu
Pagi itu, hujan gerimis turun membasahi halaman rumah keluarga Zaemley. Di lantai dua rumah besar itu, Shiona Arnando duduk di kursi rodanya sambil memandangi sebuah album foto lama. Tangannya yang mulai keriput membalik halaman demi halaman dengan hati-hati, senyumnya bergetar ketika menemukan sebuah foto yang sangat dikenalnya. Foto Ashuna saat baru diterima di kampus impiannya di Indonesia, gadis itu tersenyum lebar sambil memeluknya erat."Ma! Akhirnya Ashuna diterima!""Mama bangga sama Ashuna.""Hehehe... nanti kalau Ashuna sukses, Mama jangan lupa bangga terus sama Ashuna, ya?""Memangnya Mama pernah tidak bangga?"Ashuna tertawa kecil. "Kalau Ashuna sudah jadi orang hebat, Ashuna mau membahagiakan Mama dan Papa."Air mata Shiona jatuh membasahi foto itu, lima tahun berlalu. Gadis yang dulu penuh impian itu, pergi meninggalkan rumah dengan hati hancur. Dan dirinya menjadi salah satu alasan kepergian putrinya."Ashuna..." Suara Shiona pecah. "Maafkan Mama..."Tok... tok..."Masu
"Ada apa ini?" tanya seorang dokter dengan jas putih panjangnya yang mencapai lutut saat ia sampai di depan ruang rawat seseorang."Lepaskan aku!" teriak Romi yang mengamuk dalam kamar."Ayo suntik dia," ucap Dokter Tama melangkah maju masuk ke dalam ruangan itu."Baik Dokter," sahut perawatnya men
"Tuan Hans," ucap Ashuna tersenyum melihatnya"Ashuna, kau ...." Tuan Hans menjeda ucapannya sebentar."Baiklah, maaf ya jika aku membuatmu terdiam. Silalan panggil yang selanjutnya," ucap Ashuna lalu berdiri dan ingin pergi."Duduk!" perintah Tuan Hans."Ada apa, Tuan Hans?" tanya Ashuna menaikkan
"Aku sudah membuat anak itu tidak nyaman di rumah, apalagi yang kamu inginkan." Shiona memijit dahinya yang pusing.Tidak ada jawaban dari penelepon, Shiona pun melihat layar ponselnya yang sambungan telpon sudah mati."Astaga! Dimatikan," ucapnya pelan.Di luar pintu, Mora bingung dengan siapa mam
Ashuna benar-benar marah kepada Mora, dialah orang yang sudah membuat Gustav mencacinya sebagai wanita murahan. Semua perkataan kotor itu selalu terdengar dalam kepalanya, seolah-olah berputar tanpa henti seperti nyanyian rusak. Kata-kata wanita murahan itu terasa sakit dari pukulan hulk, ia berdir







