FAZER LOGINMalam itu hujan turun perlahan membasahi halaman rumah keluarga Zaemley, di lantai dua, sebuah lampu kamar masih menyala.Shiona Arnando duduk di kursi rodanya, sambil menatap foto lama yang berada di pangkuannya. Foto itu sudah sedikit kusam, karena terlalu sering disentuh. Di dalam foto terlihat dirinya, Wisnu, Romy, Ashuna, dan Mora. Namun yang paling sering ia pandangi adalah senyum Ashuna, senyum yang dulu selalu memenuhi rumah itu dengan kehangatan."Lima tahun..." air mata perlahan jatuh ke pipinya, Shiona menggenggam foto itu erat."Lima tahun Mama tidak melihatmu, Nak."Semakin tua usianya, semakin besar penyesalan yang ia rasakan. Ia masih ingat hari ketika Ashuna pergi, hari ketika putrinya menangis dan berusaha menjelaskan semuanya. Namun, dirinya justru memilih mempercayai orang lain. Bukan anak yang selama ini dibesarkannya,bukan pula anak yang selalu memanggilnya Mama dengan penuh kasih.Tok. Tok.Pintu kamar diketuk pelan."Masuk," ucap Shiona.Seorang pelayan wanita
Pagi itu suasana kantor Zaemley Group terasa jauh lebih suram, dibanding biasanya. Para karyawan berjalan dengan wajah tegang, beberapa bahkan berbisik pelan saat melewati koridor. Semua orang mengetahui kondisi perusahaan, sedang tidak baik-baik saja. Proyek demi proyek gagal, investor mulai menarik dana. Klien besar memilih bekerja sama dengan perusahaan lain, dan semua itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Brak! Suara map dibanting keras di atas meja rapat, Wisnu Zaemley berdiri dengan wajah pucat. Di hadapannya duduk para direktur dan manajer perusahaan. "Apa maksud laporan ini?" tanya Wisnu. Tidak ada yang langsung menjawab, salah satu direktur senior akhirnya memberanikan diri berbicara. "Tuan Wisnu..." "Kerugian kuartal ini meningkat hampir tiga kali lipat dibanding tahun lalu." Wajah Wisnu semakin buruk. "Tiga kali lipat?" "Ya." Direktur itu membuka beberapa berkas. "Selain itu, dua investor utama memutuskan menghentikan kerja sama." Ruangan langsung
Pagi itu suasana kantor Zaemley Group, terasa jauh lebih suram dibanding biasanya. Para karyawan berjalan dengan wajah tegang, beberapa bahkan berbisik pelan saat melewati koridor. Semua orang mengetahui kondisi perusahaan sedang tidak baik-baik saja, proyek demi proyek gagal. Investor mulai menarik dana, klien besar memilih bekerja sama dengan perusahaan lain. Dan semua itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat.Brak!Suara map dibanting keras di atas meja rapat, Wisnu Zaemley berdiri dengan wajah pucat. Di hadapannya duduk para direktur dan manajer perusahaan."Apa maksud laporan ini?" tanya Wisnu.Tidak ada yang langsung menjawab, salah satu direktur senior akhirnya memberanikan diri berbicara."Tuan Wisnu...kerugian kuartal ini meningkat hampir tiga kali lipat, dibanding tahun lalu."Wajah Wisnu semakin buruk. "Tiga kali lipat?""Ya."Direktur itu membuka beberapa berkas. "Selain itu, dua investor utama memutuskan menghentikan kerja sama."Ruangan langsung hening, semua orang bi
Suasana depan hotel mendadak terasa tegang, Fera berdiri dengan napas memburu sambil menggenggam flashdisk erat-erat. Di hadapannya, Ashuna menatap tenang. Sedangkan Rafello berdiri sedikit di samping Ashuna, mengamati Fera dengan tatapan tajam."Apa maksudmu?" tanya Ashuna akhirnya.Fera menelan ludah. "Aku menemukan bukti tentang video yang menghancurkan hidupmu lima tahun lalu."Mata Ashuna sedikit menyipit, untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, masa lalu itu kembali disebut secara langsung di hadapannya."Bukti apa?" Fera mengangkat flashdisk tersebut."Video asli.""Yang belum diedit."Suasana langsung hening, bahkan Rafello yang biasanya tenang ikut memfokuskan perhatian pada benda kecil itu.Fera melanjutkan dengan suara bergetar. "Ashuna...aku salah. Aku benar-benar salah." Air mata mulai memenuhi matanya."Video itu dimanipulasi, kau tidak pernah melakukan hal-hal yang dituduhkan waktu itu."Ashuna terdiam, tidak ada ekspresi marah, tidak ada ekspresi bahagia,hanya kehen
Pagi hari di gedung RN'Group terasa jauh lebih dingin dari biasanya, para karyawan yang melintas di koridor bahkan berjalan lebih hati-hati. Tidak ada yang berani membuat kesalahan hari ini, semua orang tahu. Bos mereka sedang dalam suasana hati yang buruk, di ruang kerja utama, Rafello duduk sambil menatap layar monitor besar yang menampilkan puluhan akun media sosial anonim. Di hadapannya berdiri beberapa anggota tim keamanan digital."Sudah sejauh mana?" tanya Rafello.Salah satu pria maju selangkah. "Kami berhasil menemukan jalur pembayaran akun-akun penyebar rumor, Tuan.""Siapa?" tanya Rafello lagi.Pria itu menelan ludah. "Pembayaran dilakukan melalui beberapa rekening perantara."Rafello menyipitkan mata. "Jadi?""Kami masih melacak sumber utamanya."Ruangan langsung hening, semua orang tahu Rafello tidak suka jawaban setengah jadi. Beruntung, pria itu segera melanjutkan."Tapi kami menemukan satu nama yang terus muncul dalam transaksi.""Siapa?""Mora Yunira."Tatapan Rafello
Tiga hari setelah pertemuan Fera dan Ashuna, kehidupan Ashuna semakin sibuk. Proses audisi berjalan lancar, berbagai kontrak kerja sama mulai berdatangan, dan nama PT. Ashuna Group semakin sering menghiasi berita bisnis nasional. Namun, kesuksesan besar selalu mengundang iri hati. Dan Mora Yunira adalah orang yang paling tidak bisa menerimanya.Pagi itu, Mora duduk di ruang kerjanya sambil menatap layar laptop. Di hadapannya, beberapa akun media sosial anonim sedang aktif menyebarkan berita—judul-judulnya provokatif."Benarkah Kesuksesan Ashuna Didapat dari Pria Kaya Korea?""Rahasia Karier Pengusaha Muda yang Terlalu Cepat Melambung.""Sumber Kekayaan Ashuna Masih Menjadi Misteri."Mora tersenyum puas, ia memang tidak bisa menyerang Ashuna secara langsung.Tetapi opini publik?Itu jauh lebih mudah dimainkan."Kali ini lihat bagaimana kau membersihkan nama baikmu." Mora menyandarkan tubuhnya ke kursi.Dalam hitungan jam, berita itu mulai menyebar ke berbagai platform. Komentar demi ko







