Home / Romansa / Balas Dendam Anak Kandung / ๐ŸBab 2๐Ÿ

Share

๐ŸBab 2๐Ÿ

Author: Swahy Sw
last update publish date: 2026-04-30 20:45:43

"Aku sudah membuat anak itu tidak nyaman di rumah, apalagi yang kamu inginkan." Shiona memijit dahinya yang pusing.

Tidak ada jawaban dari penelepon, Shiona pun melihat layar ponselnya yang sambungan telpon sudah mati.

"Astaga! Dimatikan," ucapnya pelan.

Di luar pintu, Mora bingung dengan siapa mama angkatnya bicara.

"Aneh," batin Mora lalu kembali ke kamarnya sendiri.

Di lain tempat, lebih tepatnya kota Palangkaraya di mana Ashuna membuka layar ponselnya cukup lama. Pesan dari Rafello, bibirnya tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja di sini, Rafello. Tak perlu mengkhawatirkanku." Ashuna membalas pesan Rafello.

"Baguslah, aku senang mendengarnya. Kau jaga kesehatan di sana ya," balas Rafello menggunakan emot love-love.

"Kau juga, sudah ya, aku mau menata kamar baruku." Ashuna menyudahi chattingan-nya.

Ashuna langsung menatap kamar barunya dengan semangat, ia juga tak lupa mencari pekerjaan paruh waktu di sini.

Di kamar barunya yang sudah tertata rapi, meskipun kecil dan tidak mewah. Namun, ini sudah layak untuk dihuni. Paling utama baginya adalah kebersihan, maka oksigen akan baik untuk dihirup.

"Astaga! Gambar-gambar sialan ini masih tersimpan rupanya," ucap Ashuna melihat gallery foto di ponselnya.

Ashuna menghapus semua gambar di gallery-nya, ia tidak ingin berhubungan lagi. Mulai hari ini hidupnya harus lebih bahagia daripada sebelumnya, tanpa mengingat apapun lagi tentang masa lalu, kecuali Rafello.

Saat ingin menghapus nomor kontrak Aldo, nomor itu menelponnya. Ashuna menatap sambungan telpon itu di layar ponsel dengan datar, ia tidak ingin lagi berkomunikasi. Setelah beberapa kali menelpon, pesan darinya pun masuk.

"Kau ada di mana?" Aku ada di kosmu, tapi kosong?"

Ashuna langsung memblokir nomor Aldo Gustav dan menghapusnya, ia tak membalas pesan sampah itu. Baginya masa depannya harus diutamakan dari segala-galanya.

"Laki-laki sepertimu tidak pantas lagi untukku, Aldo," ucap Ashuna menatap ponselnya. Ia kemudian meletakkan benda pipih itu di samping, rasa kantuk pun menyerang matanya. "Sebaiknya aku tidur dulu."

Aldo yang ada di depan kos Ashuna kembali mencoba menelpon, namun kali ini tidak terzambung lagi.

"Apa nomorku diblokirnya," ucap Aldo lagi. "Sudahlah, mungkin dia ingin menenangkan diri. " Nanti dia juga akan menghubungiku lagi."

Aldo memutuskan untuk pulang, hatinya sangat yakin jika nanti Ashuna akan mwnghubunginya lagi. Saat ia sampai di rumah, adiknya langsung menghadangnya.

"Kakak dari mana saja?" tanya Fera melipat kedua tangannya di dada.

"Dari luar," sahut Aldo memasukkan kedua tangannya di saku celana.

"Aku tahu Kakak dari luar, tapi dari rumah siapa?" tanya Fera lagi menegaskan.

"Kau tidak perlu tahu," ucap Aldo lalu pergi.

Fera melirik kakaknya sebentar, lalu menelpon seseorang. "Hallo, bagaimana?"

"Tuan Aldo baru saja kembali dari kos, Nona," sahutnya dalam telpon.

Tut! Fera menutup sambungan telponnya sepihak, ia tidak menyangka kakaknya masih mau ke sana.

"Sampai kapanpun aku tidak akan suka jika Kak Aldo bersama wanita itu," gumam Fera penuh tekad.

***

Saat makan malam di keluarga Zaemley, Mora benar-benar dimanjakan oleh Shiona dan Wisnu. Seolah-olah mereka tidak punya anak lain, keduanya tersenyum bahagia.

"Sayang, bagaimana kuliahmu hari ini?" tanya Tuan Wisnu.

"Baik Yah, semuanya berjalan lancar. Aku juga terpilih sebagai mahasiswa teladan," sahut Mora sepolos mungkin.

"Putriku sangat hebat, Ayah bangga padamu. Seandainya saja Ashuna sama sepertimu, mungkin Ayah lebih bangga. Tapi sayang ... dia mempermalukan keluarga Zaemley," ucap Tuan Wisnu sedih.

Mora langsung menyentuh tangan ayah angkatnya itu dengan lembut, ia berkata, "Ayah jangan bicara seperti itu. Aku yakin Ashuna nanti pasti alan berubah, kalian harus percaya itu."

"Terima kasih, Mora. Kamu memang anak yang sangat pengertian," ucap Tuan Wisnu bangga.

"Sudah ya, tidak baik makan sambil bicara. Mora, ini ayam goreng untukmu. Dan ini untuk suamiku," sahut Nyonya Shiona mengambilkan tambahan lauk untuk dua orang yang ia cintai.

"Hahaha ... terima kasih sayang," ucap Tuan Wisnu lagi.

"Oh ya sayang, Romi minta kirim uang karena sebentar lagi bayar apartemen." Nyonya Shiona mengingatkan.

"Iya, aku kirim sekarang." Tuan Wisnu langsung membuka ponselnya.

Mora yang melihat itu tersenyum tipis, ia tidak menyangka bisa berada di keluarga kaya raya seperti Zaemley.

"Aku sangat beruntung," batin Mora, "kalau begini Ashuna tidak akan kubiarkan kembali lagi!"

***

Keesokan harinya saat di kampus, Mora dikejar-kejar mahasiswa karena kecantikannya. Fera hanya bisa menggeleng melihat kegilaan mereka, saat tersenyum tipis dengan tulus, ia melihat sahabatnyaโ€”Rafello.

"Raf," panggil Fera melambaikan tangannya. "Aku mau bicara denganmu."

Rafello masih menganggap Fera sahabatnya, jadi ia menghampirinya. "Ada apa?"

"Aku yakin kau pasti mengetahui di mana Ashuna," ucap Fera dengan yakin.

"Apa yang kau bicarakan?" tanya Rafello menaikkan alisnya, seolah-olah ia tidak mengerti.

"Rafello, ayolah, aku tahu kau sangat peduli dengan Ashuna. Jadi beritahu aku di mana dia? Kau tahu, aku sangat menyesal bersahabat dengannya. Sebaiknya putuskan saja persahabatanmu dengannya," sahut Fera memberikan peringatan.

"Yang kau bicarakan ini adalah kalimatku untukmu!" sarkas Rafello.

"Maksudmu?" tanya Fera tidak paham.

"Artinya kau dan aku bukan sahabat lagi, jadi mulai sekarang berhati-hatilah bicara denganku atau aku akan membunuhmu!" sahut Rafello lebih kejam dari Fera. Sebelum ia pergi, memberikan satu pesan lagi. "Setelah ini jangan memanggil namaku lagi, kita tidak seakrab itu!"

Rafello langsung pergi meninggalkan Fera, ia tersenyum tipis karena merasa puas bisa menyerangnya dengan kalimat pedas.

"Kau sudah mengecewakanku, Fera. Jadi jangan salahkan aku menempatkan posisimu sebagai musuh," batin Rafello.

***

Sementara itu, Ashuna mencari pekerjaan paruh waktu agar ia bisa membaginya dengan kuliah nanti. Semoga saja ada lowongan kerja yang berpihak padanya. Saat sedang berjalan di trotoar, ia melihat tempelan kertas di salah satu toko buku.

"Lowongan kerja cleaning servis rumah sakit," ucap Ashuna membacanya. Ia segera mencatat nomor kontak yang tertera di sana. "Semoga saja aku diterima di sana."

Tanpa menunggu banyak waktu, Ashuna segera menyiapkan berkas yang diminta pihak rumah sakit. "Lumayan juga membuat berkas untuk melamar kerja, habis 40 ribu."

Ashuna segera mendatangi rumah sakit Idaman, ia diarahkan untuk interview. Matanya membelalak melihat yang melamar kerja, lebih banyak dari perkiraannya.

"Ternyata cleaning servis juga jadi rebutan," batin Ashuna merasa tak percaya diri karena dirinya orang baru di sini. "Diterima tidak ya? Mana aku urutan 78 lagi."

Saat menunggu panggilan, Ashuna benar-benar mengantuk jika hanya berdiam diri saja. Ia menoleh ke kanan, setidaknya tinggal satu orang lagi. Beberapa menit kemudian, akhirnya namanya dipanggil.

"Nona Ashuna, silakan masuk."

"Baik," sahut Ashuna Ashuna langsung masuk ke dalam.

"Ashuna!" ucap yang mewawancarai, ia terkejut melihatnya. "Kau di sini?"

"Hah! Anda ...," ucapAshuna menggantung. Ia terkejut melihat calon bosnya ini.

โ€‹

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“26๐Ÿ’“

    Suasana studio mendadak terasa menegangkan, Ashuna masih duduk di hadapan pembawa acara. Pertanyaan terakhir belum juga dijawabnya."Apakah dalam perjalanan menuju kesuksesan, pernah ada seseorang yang sangat melukai hidup Anda?"Seluruh penonton menunggu. Ashuna menarik napas pelan, tatapannya tenang."Tentu pernah." Jawabannya singkat.Pembawa acara kembali bertanya dengan hati-hati.."Apakah Anda membencinya?"Ashuna tersenyum tipis. "Dulu ... iya.""Lalu sekarang?" tanya pembawa acara itu lagi."Sekarang saya lebih memilih berterima kasih," sahut Ashuna.Semua orang tampak bingung."Karena tanpa mereka ... saya tidak akan menjadi pribadi yang kuat seperti hari ini," lanjut Ashuna menjelaskan.Tepuk tangan memenuhi studio, tidak ada satu nama pun yang disebut. Tidak ada kebencian yang diumbar, namun jawaban itu berhasil menyentuh hati banyak orang. Di rumah keluarga Zaemley, Shiona menangis tanpa suara."Itu pasti tentang kami...." gumam Shiona sambil menutup wajahnya.Wisnu hanya m

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“25๐Ÿ’“

    Malam yang dinanti akhirnya tiba. Gedung stasiun televisi nasional dipenuhi wartawan sejak sore hari, lampu kamera terus berkedip, sementara para penggemar memenuhi area depan gedung hanya untuk melihat secara langsung sosok pengusaha muda yang sedang menjadi perbincangan.Di dalam mobil, Ashuna duduk tenang mengenakan setelan jas putih elegan dipadukan celana panjang hitam. Riasannya sederhana, tetapi memancarkan wibawa yang membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan.Di sampingnya, asisten pribadi sedang menjelaskan susunan acara. "Nona, wawancara berlangsung sekitar satu jam. Setelah itu ada sesi foto bersama."Ashuna hanya mengangguk, mobil perlahan memasuki area parkir VIP. Begitu pintu mobil dibuka, puluhan kamera langsung mengarah kepadanya."Nona Ashuna!""Nona, lihat ke sini!""Bagaimana perasaan Anda kembali ke Indonesia?"Ashuna hanya memberikan senyum tipis dan lambaian singkat, sebelum memasuki gedung dengan pengawalan keamanan.***Di sisi lain, sebuah mobil hitam ber

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“24๐Ÿ’“

    Pagi itu, Ashuna berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil memegang secangkir kopi hangat. Tatapannya tertuju pada langit kota yang mendung, pesan dari Shiona semalam masih tersimpan di ponselnya. Ia sudah membacanya berkali-kali, namun, tak sekali pun membalas. Tok, tok. "Nona." Asistennya masuk membawa beberapa berkas. "Ada jadwal baru." "Apa?" tanya Ashuna menatap asisten itu. "Stasiun televisi nasional, meminta Anda menjadi bintang tamu dalam program wawancara eksklusif mereka malam besok." Ashuna menerima berkas tersebut, program itu merupakan salah satu acara paling populer di negara itu. Jutaan orang menontonnya setiap minggu. "Mereka sudah menghubungi tiga kali," ucap asisten itu. "Apa alasannya?" tanya Ashuna. "Mereka ingin membahas perjalanan hidup Anda. Dari mahasiswa pindahan yang memulai hidup dari nol di Korea, hingga menjadi CEO muda paling berpengaruh." Ashuna membaca rincian acaranya, biasanya, ia akan langsung menolak acara yang terlalu mencampu

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“23๐Ÿ’“

    Pagi itu, hujan gerimis turun membasahi halaman rumah keluarga Zaemley. Di lantai dua rumah besar itu, Shiona Arnando duduk di kursi rodanya sambil memandangi sebuah album foto lama. Tangannya yang mulai keriput membalik halaman demi halaman dengan hati-hati, senyumnya bergetar ketika menemukan sebuah foto yang sangat dikenalnya. Foto Ashuna saat baru diterima di kampus impiannya di Indonesia, gadis itu tersenyum lebar sambil memeluknya erat."Ma! Akhirnya Ashuna diterima!""Mama bangga sama Ashuna.""Hehehe... nanti kalau Ashuna sukses, Mama jangan lupa bangga terus sama Ashuna, ya?""Memangnya Mama pernah tidak bangga?"Ashuna tertawa kecil. "Kalau Ashuna sudah jadi orang hebat, Ashuna mau membahagiakan Mama dan Papa."Air mata Shiona jatuh membasahi foto itu, lima tahun berlalu. Gadis yang dulu penuh impian itu, pergi meninggalkan rumah dengan hati hancur. Dan dirinya menjadi salah satu alasan kepergian putrinya."Ashuna..." Suara Shiona pecah. "Maafkan Mama..."Tok... tok..."Masu

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“22๐Ÿ’“

    Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang kerja Ashuna. Suasana kantor PT. Ashuna Group sudah ramai sejak pukul tujuh pagi, para karyawan berlalu-lalang dengan berkas di tangan, sementara jadwal sang CEO semakin padat.Ashuna sedang memeriksa proposal kerja sama baru, ketika asistennya kembali masuk."Nona," panggil asisten itu."Ada apa?" tanya Ashuna."Permintaan pertemuan dari Nyonya Shiona kembali masuk."Tangan Ashuna yang sedang membalik halaman berhenti sesaat. "Berapa kali?""Sudah tiga kali sejak kemarin."Ashuna menatap layar tablet yang diberikan, isi pesannya singkat."Ashuna, Mama hanya ingin bertemu sebentar. Mama ingin meminta maaf."Tatapan Ashuna berubah kosongโ€”Mama. Sudah lama sekali, ia tidak mendengar dirinya dikaitkan dengan panggilan itu."Nona?" Asistennya tampak ragu. "Apakah akan ditolak?"Ashuna mengembalikan tablet itu. "Biarkan dulu.""Baik."Meskipun demikian, setelah asistennya keluar, Ashuna tidak lagi fokus pada dokumen di depannya. Kal

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“21๐Ÿ’“

    Malam itu hujan turun perlahan membasahi halaman rumah keluarga Zaemley, di lantai dua, sebuah lampu kamar masih menyala. Shiona Arnando duduk di kursi rodanya, sambil menatap foto lama yang berada di pangkuannya. Foto itu sudah sedikit kusam, karena terlalu sering disentuh. Di dalam foto terlihat dirinya, Wisnu, Romy, Ashuna, dan Mora. Namun yang paling sering ia pandangi adalah senyum Ashuna, senyum yang dulu selalu memenuhi rumah itu dengan kehangatan. "Lima tahun..." air mata perlahan jatuh ke pipinya, Shiona menggenggam foto itu erat. "Lima tahun Mama tidak melihatmu, Nak." Semakin tua usianya, semakin besar penyesalan yang ia rasakan. Ia masih ingat hari ketika Ashuna pergi, hari ketika putrinya menangis dan berusaha menjelaskan semuanya. Namun, dirinya justru memilih mempercayai orang lain. Bukan anak yang selama ini dibesarkannya, bukan pula anak yang selalu memanggilnya Mama dengan penuh kasih. Tok. Tok. Pintu kamar diketuk pelan. "Masuk," ucap Shiona. Seoran

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 5๐Ÿ

    "Jadi artis kepercayaan agensi kami," lanjut Ashuna lagi.Heca yang mendengar hal itu menjadi terkejut, artis kepercayaan mereka? Apa maksudnya? Ia tak mengerti, tetapi berusaha untuk bertanya sedikit."Maksud Nona?" tanya Heca menajamkan pandangannya.Ashuna tersenyum melihat perubahab pandangan H

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 4๐Ÿ

    "Ada apa ini?" tanya seorang dokter dengan jas putih panjangnya yang mencapai lutut saat ia sampai di depan ruang rawat seseorang."Lepaskan aku!" teriak Romi yang mengamuk dalam kamar."Ayo suntik dia," ucap Dokter Tama melangkah maju masuk ke dalam ruangan itu."Baik Dokter," sahut perawatnya men

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 3๐Ÿ

    "Tuan Hans," ucap Ashuna tersenyum melihatnya"Ashuna, kau ...." Tuan Hans menjeda ucapannya sebentar."Baiklah, maaf ya jika aku membuatmu terdiam. Silalan panggil yang selanjutnya," ucap Ashuna lalu berdiri dan ingin pergi."Duduk!" perintah Tuan Hans."Ada apa, Tuan Hans?" tanya Ashuna menaikkan

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 1๐Ÿ

    Ashuna benar-benar marah kepada Mora, dialah orang yang sudah membuat Gustav mencacinya sebagai wanita murahan. Semua perkataan kotor itu selalu terdengar dalam kepalanya, seolah-olah berputar tanpa henti seperti nyanyian rusak. Kata-kata wanita murahan itu terasa sakit dari pukulan hulk, ia berdir

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status