Mag-log inPagi itu, hujan gerimis turun membasahi halaman rumah keluarga Zaemley. Di lantai dua rumah besar itu, Shiona Arnando duduk di kursi rodanya sambil memandangi sebuah album foto lama. Tangannya yang mulai keriput membalik halaman demi halaman dengan hati-hati, senyumnya bergetar ketika menemukan sebuah foto yang sangat dikenalnya. Foto Ashuna saat baru diterima di kampus impiannya di Indonesia, gadis itu tersenyum lebar sambil memeluknya erat."Ma! Akhirnya Ashuna diterima!""Mama bangga sama Ashuna.""Hehehe... nanti kalau Ashuna sukses, Mama jangan lupa bangga terus sama Ashuna, ya?""Memangnya Mama pernah tidak bangga?"Ashuna tertawa kecil. "Kalau Ashuna sudah jadi orang hebat, Ashuna mau membahagiakan Mama dan Papa."Air mata Shiona jatuh membasahi foto itu, lima tahun berlalu. Gadis yang dulu penuh impian itu, pergi meninggalkan rumah dengan hati hancur. Dan dirinya menjadi salah satu alasan kepergian putrinya."Ashuna..." Suara Shiona pecah. "Maafkan Mama..."Tok... tok..."Masu
Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang kerja Ashuna. Suasana kantor PT. Ashuna Group sudah ramai sejak pukul tujuh pagi, para karyawan berlalu-lalang dengan berkas di tangan, sementara jadwal sang CEO semakin padat.Ashuna sedang memeriksa proposal kerja sama baru, ketika asistennya kembali masuk."Nona," panggil asisten itu."Ada apa?" tanya Ashuna."Permintaan pertemuan dari Nyonya Shiona kembali masuk."Tangan Ashuna yang sedang membalik halaman berhenti sesaat. "Berapa kali?""Sudah tiga kali sejak kemarin."Ashuna menatap layar tablet yang diberikan, isi pesannya singkat."Ashuna, Mama hanya ingin bertemu sebentar. Mama ingin meminta maaf."Tatapan Ashuna berubah kosongโMama. Sudah lama sekali, ia tidak mendengar dirinya dikaitkan dengan panggilan itu."Nona?" Asistennya tampak ragu. "Apakah akan ditolak?"Ashuna mengembalikan tablet itu. "Biarkan dulu.""Baik."Meskipun demikian, setelah asistennya keluar, Ashuna tidak lagi fokus pada dokumen di depannya. Kal
Malam itu hujan turun perlahan membasahi halaman rumah keluarga Zaemley, di lantai dua, sebuah lampu kamar masih menyala.Shiona Arnando duduk di kursi rodanya, sambil menatap foto lama yang berada di pangkuannya. Foto itu sudah sedikit kusam, karena terlalu sering disentuh. Di dalam foto terlihat dirinya, Wisnu, Romy, Ashuna, dan Mora. Namun yang paling sering ia pandangi adalah senyum Ashuna, senyum yang dulu selalu memenuhi rumah itu dengan kehangatan."Lima tahun..." air mata perlahan jatuh ke pipinya, Shiona menggenggam foto itu erat."Lima tahun Mama tidak melihatmu, Nak."Semakin tua usianya, semakin besar penyesalan yang ia rasakan. Ia masih ingat hari ketika Ashuna pergi, hari ketika putrinya menangis dan berusaha menjelaskan semuanya. Namun, dirinya justru memilih mempercayai orang lain. Bukan anak yang selama ini dibesarkannya,bukan pula anak yang selalu memanggilnya Mama dengan penuh kasih.Tok. Tok.Pintu kamar diketuk pelan."Masuk," ucap Shiona.Seorang pelayan wanita
Pagi itu suasana kantor Zaemley Group terasa jauh lebih suram, dibanding biasanya. Para karyawan berjalan dengan wajah tegang, beberapa bahkan berbisik pelan saat melewati koridor. Semua orang mengetahui kondisi perusahaan, sedang tidak baik-baik saja. Proyek demi proyek gagal, investor mulai menarik dana. Klien besar memilih bekerja sama dengan perusahaan lain, dan semua itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Brak! Suara map dibanting keras di atas meja rapat, Wisnu Zaemley berdiri dengan wajah pucat. Di hadapannya duduk para direktur dan manajer perusahaan. "Apa maksud laporan ini?" tanya Wisnu. Tidak ada yang langsung menjawab, salah satu direktur senior akhirnya memberanikan diri berbicara. "Tuan Wisnu..." "Kerugian kuartal ini meningkat hampir tiga kali lipat dibanding tahun lalu." Wajah Wisnu semakin buruk. "Tiga kali lipat?" "Ya." Direktur itu membuka beberapa berkas. "Selain itu, dua investor utama memutuskan menghentikan kerja sama." Ruangan langsung
Pagi itu suasana kantor Zaemley Group, terasa jauh lebih suram dibanding biasanya. Para karyawan berjalan dengan wajah tegang, beberapa bahkan berbisik pelan saat melewati koridor. Semua orang mengetahui kondisi perusahaan sedang tidak baik-baik saja, proyek demi proyek gagal. Investor mulai menarik dana, klien besar memilih bekerja sama dengan perusahaan lain. Dan semua itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat.Brak!Suara map dibanting keras di atas meja rapat, Wisnu Zaemley berdiri dengan wajah pucat. Di hadapannya duduk para direktur dan manajer perusahaan."Apa maksud laporan ini?" tanya Wisnu.Tidak ada yang langsung menjawab, salah satu direktur senior akhirnya memberanikan diri berbicara."Tuan Wisnu...kerugian kuartal ini meningkat hampir tiga kali lipat, dibanding tahun lalu."Wajah Wisnu semakin buruk. "Tiga kali lipat?""Ya."Direktur itu membuka beberapa berkas. "Selain itu, dua investor utama memutuskan menghentikan kerja sama."Ruangan langsung hening, semua orang bi
Suasana depan hotel mendadak terasa tegang, Fera berdiri dengan napas memburu sambil menggenggam flashdisk erat-erat. Di hadapannya, Ashuna menatap tenang. Sedangkan Rafello berdiri sedikit di samping Ashuna, mengamati Fera dengan tatapan tajam."Apa maksudmu?" tanya Ashuna akhirnya.Fera menelan ludah. "Aku menemukan bukti tentang video yang menghancurkan hidupmu lima tahun lalu."Mata Ashuna sedikit menyipit, untuk pertama kalinya sejak kepulangannya, masa lalu itu kembali disebut secara langsung di hadapannya."Bukti apa?" Fera mengangkat flashdisk tersebut."Video asli.""Yang belum diedit."Suasana langsung hening, bahkan Rafello yang biasanya tenang ikut memfokuskan perhatian pada benda kecil itu.Fera melanjutkan dengan suara bergetar. "Ashuna...aku salah. Aku benar-benar salah." Air mata mulai memenuhi matanya."Video itu dimanipulasi, kau tidak pernah melakukan hal-hal yang dituduhkan waktu itu."Ashuna terdiam, tidak ada ekspresi marah, tidak ada ekspresi bahagia,hanya kehen
Tiga hari setelah pertemuan Fera dan Ashuna, kehidupan Ashuna semakin sibuk. Proses audisi berjalan lancar, berbagai kontrak kerja sama mulai berdatangan, dan nama PT. Ashuna Group semakin sering menghiasi berita bisnis nasional. Namun, kesuksesan besar selalu mengundang iri hati. Dan Mora Yunira a
Pagi itu suasana rumah keluarga Zaemley terasa sunyi, dulu rumah besar itu selalu ramai oleh suara tawa Ashuna yang memenuhi setiap sudut ruangan. Namun, sejak kepergiannya lima tahun lalu, rumah tersebut terasa jauh lebih dingin. Di ruang kerja, Wisnu Zaemley duduk menatap layar laptop. Di hadapan
Malam semakin larut, lampu-lampu kota berkelap-kelip di balik jendela mobil mewah yang melaju menuju kediaman keluarga Gustav. Di dalam mobil, Aldo duduk diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pikirannya masih tertinggal di restoran tadi, tepatnya pada senyum Ashuna. Senyum yang dulu sering ia li
Malam mulai turun ketika seluruh rangkaian audisi hari itu akhirnya selesai, Ashuna menutup map laporan terakhir lalu menyandarkan tubuhnya di kursi ruang kerja sementara yang disediakan hotel. Ia memijat pelipisnya perlahan, hari yang melelahkan. Namun anehnya, pikirannya justru teringat pada sese







