ANMELDEN"Jadi artis kepercayaan agensi kami," lanjut Ashuna lagi.
Heca yang mendengar hal itu menjadi terkejut, artis kepercayaan mereka? Apa maksudnya? Ia tak mengerti, tetapi berusaha untuk bertanya sedikit. "Maksud Nona?" tanya Heca menajamkan pandangannya. Ashuna tersenyum melihat perubahab pandangan Heca, ia juga akan melakukan hal yang sama jika menjadi Heca. "Jadilah artis yang besar atas kerja kerasmu sendiri," sahut Ashuna lalu menjelaskan apa maksudnya dari artis kepercayaan agensi. Setelah dijelaskan, Heca pun paham maksud Ashuna. Ia berjanji akan menjadi artis besar di bawah bimbingan agensi mereka, Ashuna senang mendengarnya. "Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Ashuna pamit. "Hati-hati, Nona," sahut Heca sedikit menunduk kepalanya tanda hormat. Beberapa hari kemudian, Ashuna menghadiri audisi di kota lain. Suasana langsung riuh ketika ia datanga, namun ada seorang wanita terpaku melihatnya. Tangan wanita itu bergetar, bola matanya membesar, menatap sosok yang dinantikan teman-temannya di sini, termasuk dirinya juga. Akan tetapi, satu hal yang ia tidak mengetahuinya dari awal. "Apa dia pemiliknya ...," bisik Fera pelan. Teman-teman kerja Fera memanggilnya Nona Ashuna secara langsung, bahkan mereka bersorak gembira. Salah satu dari mereka melihat Fera terdiam, ia menegurnya. "Fera, kau kenapa?" tanyanya sambil menyenggol pundak lawan. "Aku," sahut Fera menunjuk dirinya sendiri. "Tidak apa, kok." Temannya itu menatap Fera cukup lama, lalu ia tersenyum tipis dan sedikit bergurau. "Apa kau takut dengan kedstangan Nona Ashuna?" tanyanya. "Hah? Aku ...." Fera bingung menjawabnya. Belum sempat Fera menjawabnya karena bingung, Ashuna sudah berdiri di kursinya sebagai sosok yang dikagumi dan beberapa peserta saling berbisik. "Heyyy! Bukankah itu Nona Ashuna?" "Ya ampun, cantik sekali dia." "Pembisnis memang beda ya." Di sisi lain, Mora bertemu dengan ibu kandungnya di suatu tempat yang jarang diketahui orang. "Bagaimana?" tanya Tamara sambil menikmati kentang goreng. "Sebentar lagi aku akan menyingkirkannya," sahut Mora sudah menyusun rencana menjebak seseorang. "Baguslah, Mama harus segera berkumpul dengan papamu itu." Tamara tersenyum tipis, tidak sia-sia usahanya memasukkan Mora ke dalam keluarga Wisnu. "Tapi aku tidak bisa lama-lama bertemu Mama," ujar Mora memberitahu. "Ya, Mama mengerti itu. Pergilah," balas Tania memahami situasinya. "Ya sudah, aku pergi dulu. Jaga diri Mama baik-baik," ucap Mora kemudian pergi. Tamara tersenyum tipis melihat kepergian anaknya, ia sudah tak sabar duduk bersanding dengan Wisnu. Namun, di meja lain ada seseorang. "Dasar!" ucap orang itu lalu pergi. Kembali ke tempat audisi tadi, Ashuna menikmati para peserta yang memiliki bakat-bakat yang luar biasa. Namun, pandangan Ashuna terhenti pada seseorang di belakang layar. Tatapan Ashuna hanya satu detik, tetapi bagi Fera terasa waktu berhenti. "Apa dia tidak mengenaliku?" batin Fera bertanya-tanya. "Mungkin ... dia tidak peduli padaku, lagi pula aku sudah terlalu jahat padanya." Audisinya berjalan lancar di kota itu sampai selesai, Ashuna langsung pulang bersama Darius. Saat ia sebelum masuk mobil, sebenarnya tahu jika ada yang mengikutinya di belakang. "Nona," ucap Darius waspada. "Aku tahu," sahut Ashuna yang sudah sadar dari awal. "Biarkan saja, tapi tetap awasi!" "Baik, Nona," ucap Darius mengangguk kemudian menjalankan mobilnya. Sementara itu, Mora kembali ke kantor, suasana hatinya sangat buruk sekarang setelah melihat audisi itu dalam mobil tadi. Suara benda jatuh terdengar keras dari ruang direktur, para karyawan dan karyawati biasa mendengar hal ini. "Sial!" teriak Mora dengan napas memburu, ia baru saja membanting laptop. Di luar ruangan, suara bisik-bisik terdengar, walaupun pelan. Namun, mereka tidak suka sikap direktur baru. "Selalu saja begini ...." "Apa dia merasa terganggu?" "Direktur kita tidak dewasa." "Rasanya ingin resign, tapi hutangku masih banyak." Kembali pada Mora yang kembali membanting gelas ke lantai, sekretaris tidak berani masuk. Kemudian, Mora mondar-mandir seperti orang banyak pikiran, amarahnya sudah sampai di ubun-ubun. "Aku harus segera menyingkirkan Mama Shiona," batin Mora, "setelah itu baru Ashuna. Kalau Mama tidak disingkirkan lebih dulu, perusahaan ini tidak akan bisa aku kuasai." Malam harinya, Shiona memang sudah memiliki firasat buruk pada Mora. Ia menelpon seseorang, Shiona memberitahu orang itu tentang perasaan buruknya. "Hallo, aku punya perasaan buruk malam ini. Kemungkinan iya, nanti kalau terjadi sesuatu padaku. Tolong ya, sembunyikan surat perusahaan." Shiona segera mematikan sambungan telponnya, ia kemudian menghancurkan ponselnya. Sebelum ponsel itu hancur, Shiona menyimpan kartunya. Sedangkan, Mora bersama anak buahnya datang ke rumah, ia memerintahkan untuk menangkap mama kandungnya. โTidakโฆ aku tidak akan membiarkannya mengambil semuanya.โ "Tangkap Nyonya Shiona dan kurung di bawah tanah!" perintah Mora mutlak. "Baik, Nona," sahut mereka semua dengan patuh. Mora mengambil ponselnya, kemudian ia membuka berita tentang Ashuna. Informasi sekecil apapun tidak akan dilewatkan sedikitpun, mereka semua harus disingkirkan. "Jangan harap kau bisa kembali, Ashuna!" bisik Mora dengan dingin, lalu ia menyimpan kembali ponselnya. Namun, Shiona sudah pingsan di dalam kamarnya. Anak buah Mora mengangkat tubuhnya, lalu membawanya ke ruang bawah tanah, tidak lupa tubuhnya dipasung. "Ayo kita tinggalkan wanita tua ini," ucap salah satunya. Lalu di tempat lain, anak buah Ashuna melaporkan kejadian penangkapan Nyonya Shiona di rumahnya. "Beliau sudah dipasung di ruang bawah tanah." "Begitu ya," ucap Ashuna duduk dengan tenang membelakangi mereka. Ashuna memerintahkan mereka semua untuk bermain-main sebentar dengan Mora, anak buahnya langsung mengerti. Sekitar 30 menit kemudian, anak buah Mora diserang tanpa ampun. Beberapa dari mereka dibiarkan hidup, tidak lupa meninggalkan jejak khusus untuk Mora. "Nona Mora!" panggil anak buah panik menuju kamar nonanya. Mora yang mendengar hal itu langsung membuka pintunya. "Ada apa? Ah, apa-apaan ini?" Anak buah Mora yang menuju kamar wajahnya babak belur, Mora terkejut melihatnya. Ini pertama kalinya penjaga di depan seperti ini. "Siapa pelakunya?" tanya Mora langsung. "Belum tahu, tapi kami diserang mendadak. Kekuatan musuh sangat kuat, Nona," sahutnya jujur. "Apa!" Mora semakin terkejut. DUARRR! Tidak lama terdengar suara keras dari luar, Mora dan anak buahnya langsung menuju ke sana. "Suara apa itu?" tanya Mora langsung lari ke arah suara itu bersama anak buah lainnya. Betapa terkejutnya Mora melihat satu mobilnya terbakar, ia hampir tak bisa bicara. Namun, salah satu anak buahnya menyadarkannya. "Nona," panggilnya menyentuh pundak nona besar. "Ahhh!" Mora langsung tersadar, ia segera memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa cctv. "Ayo periksa cctv!" "Baik, Nona," sahut mereka langsung menuju cctv. Baru saja membuka pintu cctv, mereka melihat pemandangan yang mengerikan sampai mual. "Huekkk! Ahh, aku tidak sanggup melihatnya!" ucap salah satu anak buah Mora memuntahkan isi perutnya. โMalam yang dingin tipis membasahi kaca gedung tinggi milik RN'Group karena hujan, seorang pria duduk santai di ruangan kerja paling atas, ia memutar gelas wine di tangannya.Matanya menatap tajam, pada layar tablet yang memperlihatkan siaran ulang di bandara saat kedatangan Ashuna pagi tadi."Akhirnya ... kamu kembali juba," ucap Rafello sambil tersenyum tipis.Ketukan pintu terdengar dari luar, Rafello menyuruhnya masuk. "Masuk."Pria yang berpakaian hitam masuk sambil membawa map tipis, ia berdiri tegak di depan meja kerja Rafello."Kami sudah menyiapkan laporan tentang Nona Ashuna, Tuan," ucapnya."Baca!" ucap Rafello meletakkan gelasnya perlahan."Nona Ashuna langsung menuju hotel Grand Royal, setelah konferensi pers selesai. Lalu besoknya Nona Ashuna ada jadwal pagi bersama panitia audisi idol nasional," sahutnya."Ternyata dia masih sama?" Rafello mengangguk pelan sambil tersenyum tipis."Maksud Tuan?" anak buahnya menaikkan alisnya, ia terlihat bingung."Dia itu masih terlalu b
"Jadi artis kepercayaan agensi kami," lanjut Ashuna lagi.Heca yang mendengar hal itu menjadi terkejut, artis kepercayaan mereka? Apa maksudnya? Ia tak mengerti, tetapi berusaha untuk bertanya sedikit."Maksud Nona?" tanya Heca menajamkan pandangannya.Ashuna tersenyum melihat perubahab pandangan Heca, ia juga akan melakukan hal yang sama jika menjadi Heca."Jadilah artis yang besar atas kerja kerasmu sendiri," sahut Ashuna lalu menjelaskan apa maksudnya dari artis kepercayaan agensi.Setelah dijelaskan, Heca pun paham maksud Ashuna. Ia berjanji akan menjadi artis besar di bawah bimbingan agensi mereka, Ashuna senang mendengarnya."Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Ashuna pamit."Hati-hati, Nona," sahut Heca sedikit menunduk kepalanya tanda hormat.Beberapa hari kemudian, Ashuna menghadiri audisi di kota lain. Suasana langsung riuh ketika ia datanga, namun ada seorang wanita terpaku melihatnya.Tangan wanita itu bergetar, bola matanya membesar, menatap sosok yang dinantikan teman-te
"Ada apa ini?" tanya seorang dokter dengan jas putih panjangnya yang mencapai lutut saat ia sampai di depan ruang rawat seseorang."Lepaskan aku!" teriak Romi yang mengamuk dalam kamar."Ayo suntik dia," ucap Dokter Tama melangkah maju masuk ke dalam ruangan itu."Baik Dokter," sahut perawatnya mengikuti sang dokter.Setelah diberi obat penenang, Romi berhenti mengamuk. Dokter Tama dan perawatnya keluar, namun percakapan mereka berdua saat keluar dari ruangan membuat salah satu perawat menghela napasnya."Kita beritahu Nona M," ucap Dokter Tama."Apa kita perlu memindahkannya?" tanya perawat."Mungkin," sahut Dokter Tama.Keduanya pun menghilang dari pandangan perawat tadiโDona salah satu kepercayaan seseorang."Jahat sekali mereka," gumam Dona di depan pintu ruang rawat Romi.Dalam sebuah gedung mewah utama milik Zaemley Group, suasananya jauh dari tenang. Beberapa wajah karyawan terlihat tegang, seolah mereka akan kehilangan pekerjaannya.Seseorang duduk di kursi direktur sementara,
"Tuan Hans," ucap Ashuna tersenyum melihatnya"Ashuna, kau ...." Tuan Hans menjeda ucapannya sebentar."Baiklah, maaf ya jika aku membuatmu terdiam. Silalan panggil yang selanjutnya," ucap Ashuna lalu berdiri dan ingin pergi."Duduk!" perintah Tuan Hans."Ada apa, Tuan Hans?" tanya Ashuna menaikkan alisnya sambil menoleh."Duduk, kita lanjutkan wawancaranya. Aku tidak peduli seperti apa reputasimu," sahut Tuan Hans lagi menarik tangan Ashuna.Ashuna memicingkan matanya. "Kau yakin? Bukankah dulu sering meremehkanku?""Dengar Ashuna, dulu aku memang meremehkanmu karena naif. Tapi sekarang aku ingin melihat perkembanganmu setelah terpuruk," ucap Tuan Hans memberitahu alasannya.Ashuna pun tersenyum tipis, ia langsung melanjutkan wawancaranya dan lulus. Sejak diterima bekerja di rumah sakit sebagai cleaning service, sedikit demi sedikit bisa menabung untuk kuliahnya sendiri. Sesekali menerima pesan dari Rafello, hanya itu dan fokus untuk masa depannya sendiri.Waktu memang tak mengenal j
"Aku sudah membuat anak itu tidak nyaman di rumah, apalagi yang kamu inginkan." Shiona memijit dahinya yang pusing.Tidak ada jawaban dari penelepon, Shiona pun melihat layar ponselnya yang sambungan telpon sudah mati."Astaga! Dimatikan," ucapnya pelan.Di luar pintu, Mora bingung dengan siapa mama angkatnya bicara. "Aneh," batin Mora lalu kembali ke kamarnya sendiri.Di lain tempat, lebih tepatnya kota Palangkaraya di mana Ashuna membuka layar ponselnya cukup lama. Pesan dari Rafello, bibirnya tersenyum tipis."Aku baik-baik saja di sini, Rafello. Tak perlu mengkhawatirkanku." Ashuna membalas pesan Rafello."Baguslah, aku senang mendengarnya. Kau jaga kesehatan di sana ya," balas Rafello menggunakan emot love-love."Kau juga, sudah ya, aku mau menata kamar baruku." Ashuna menyudahi chattingan-nya.Ashuna langsung menatap kamar barunya dengan semangat, ia juga tak lupa mencari pekerjaan paruh waktu di sini.Di kamar barunya yang sudah tertata rapi, meskipun kecil dan tidak mewah. Na
Ashuna benar-benar marah kepada Mora, dialah orang yang sudah membuat Gustav mencacinya sebagai wanita murahan. Semua perkataan kotor itu selalu terdengar dalam kepalanya, seolah-olah berputar tanpa henti seperti nyanyian rusak. Kata-kata wanita murahan itu terasa sakit dari pukulan hulk, ia berdiri di depan cermin lalu menatap duplikat dirinya dalam-dalam. Mata bengkak karena banyak menangis, wajah pucat seperyi orang sakit, rambut terurai ditiup angin, inikah dirinya yang tersakiti. Semuanya berawal dari video sialan itu, sebuah video berdurasi kurang dari 1 menit. Dalam video itu sepertinya direkam dari suduy yang salah, seperti sengaja dipotong tanpa sebab, kemudian disebarkan dengan kalimat dan kata-kata yang sudah disusun dengan rapi untuk menggiring opini. "Kau itu selalu saja berpura-pura suci, Ashuna!" Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Gustav waktu itu. "Aku melihat video itu dengan mata kepalaku sendiri, tidak ada editan di sana." Setelah kejadian itu ia menjauh ta







