Beranda / Romansa / Balas Dendam Anak Kandung / ๐ŸBab 5๐Ÿ

Share

๐ŸBab 5๐Ÿ

Penulis: Swahy Sw
last update Tanggal publikasi: 2026-04-30 20:48:22

"Jadi artis kepercayaan agensi kami," lanjut Ashuna lagi.

Heca yang mendengar hal itu menjadi terkejut, artis kepercayaan mereka? Apa maksudnya? Ia tak mengerti, tetapi berusaha untuk bertanya sedikit.

"Maksud Nona?" tanya Heca menajamkan pandangannya.

Ashuna tersenyum melihat perubahab pandangan Heca, ia juga akan melakukan hal yang sama jika menjadi Heca.

"Jadilah artis yang besar atas kerja kerasmu sendiri," sahut Ashuna lalu menjelaskan apa maksudnya dari artis kepercayaan agensi.

Setelah dijelaskan, Heca pun paham maksud Ashuna. Ia berjanji akan menjadi artis besar di bawah bimbingan agensi mereka, Ashuna senang mendengarnya.

"Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Ashuna pamit.

"Hati-hati, Nona," sahut Heca sedikit menunduk kepalanya tanda hormat.

Beberapa hari kemudian, Ashuna menghadiri audisi di kota lain. Suasana langsung riuh ketika ia datanga, namun ada seorang wanita terpaku melihatnya.

Tangan wanita itu bergetar, bola matanya membesar, menatap sosok yang dinantikan teman-temannya di sini, termasuk dirinya juga. Akan tetapi, satu hal yang ia tidak mengetahuinya dari awal.

"Apa dia pemiliknya ...," bisik Fera pelan.

Teman-teman kerja Fera memanggilnya Nona Ashuna secara langsung, bahkan mereka bersorak gembira. Salah satu dari mereka melihat Fera terdiam, ia menegurnya.

"Fera, kau kenapa?" tanyanya sambil menyenggol pundak lawan.

"Aku," sahut Fera menunjuk dirinya sendiri. "Tidak apa, kok."

Temannya itu menatap Fera cukup lama, lalu ia tersenyum tipis dan sedikit bergurau.

"Apa kau takut dengan kedstangan Nona Ashuna?" tanyanya.

"Hah? Aku ...." Fera bingung menjawabnya.

Belum sempat Fera menjawabnya karena bingung, Ashuna sudah berdiri di kursinya sebagai sosok yang dikagumi dan beberapa peserta saling berbisik.

"Heyyy! Bukankah itu Nona Ashuna?"

"Ya ampun, cantik sekali dia."

"Pembisnis memang beda ya."

Di sisi lain, Mora bertemu dengan ibu kandungnya di suatu tempat yang jarang diketahui orang.

"Bagaimana?" tanya Tamara sambil menikmati kentang goreng.

"Sebentar lagi aku akan menyingkirkannya," sahut Mora sudah menyusun rencana menjebak seseorang.

"Baguslah, Mama harus segera berkumpul dengan papamu itu." Tamara tersenyum tipis, tidak sia-sia usahanya memasukkan Mora ke dalam keluarga Wisnu.

"Tapi aku tidak bisa lama-lama bertemu Mama," ujar Mora memberitahu.

"Ya, Mama mengerti itu. Pergilah," balas Tania memahami situasinya.

"Ya sudah, aku pergi dulu. Jaga diri Mama baik-baik," ucap Mora kemudian pergi.

Tamara tersenyum tipis melihat kepergian anaknya, ia sudah tak sabar duduk bersanding dengan Wisnu. Namun, di meja lain ada seseorang.

"Dasar!" ucap orang itu lalu pergi.

Kembali ke tempat audisi tadi, Ashuna menikmati para peserta yang memiliki bakat-bakat yang luar biasa. Namun, pandangan Ashuna terhenti pada seseorang di belakang layar. Tatapan Ashuna hanya satu detik, tetapi bagi Fera terasa waktu berhenti.

"Apa dia tidak mengenaliku?" batin Fera bertanya-tanya. "Mungkin ... dia tidak peduli padaku, lagi pula aku sudah terlalu jahat padanya."

Audisinya berjalan lancar di kota itu sampai selesai, Ashuna langsung pulang bersama Darius. Saat ia sebelum masuk mobil, sebenarnya tahu jika ada yang mengikutinya di belakang.

"Nona," ucap Darius waspada.

"Aku tahu," sahut Ashuna yang sudah sadar dari awal. "Biarkan saja, tapi tetap awasi!"

"Baik, Nona," ucap Darius mengangguk kemudian menjalankan mobilnya.

Sementara itu, Mora kembali ke kantor, suasana hatinya sangat buruk sekarang setelah melihat audisi itu dalam mobil tadi. Suara benda jatuh terdengar keras dari ruang direktur, para karyawan dan karyawati biasa mendengar hal ini.

"Sial!" teriak Mora dengan napas memburu, ia baru saja membanting laptop.

Di luar ruangan, suara bisik-bisik terdengar, walaupun pelan. Namun, mereka tidak suka sikap direktur baru.

"Selalu saja begini ...."

"Apa dia merasa terganggu?"

"Direktur kita tidak dewasa."

"Rasanya ingin resign, tapi hutangku masih banyak."

Kembali pada Mora yang kembali membanting gelas ke lantai, sekretaris tidak berani masuk. Kemudian, Mora mondar-mandir seperti orang banyak pikiran, amarahnya sudah sampai di ubun-ubun.

"Aku harus segera menyingkirkan Mama Shiona," batin Mora, "setelah itu baru Ashuna. Kalau Mama tidak disingkirkan lebih dulu, perusahaan ini tidak akan bisa aku kuasai."

Malam harinya, Shiona memang sudah memiliki firasat buruk pada Mora. Ia menelpon seseorang, Shiona memberitahu orang itu tentang perasaan buruknya.

"Hallo, aku punya perasaan buruk malam ini. Kemungkinan iya, nanti kalau terjadi sesuatu padaku. Tolong ya, sembunyikan surat perusahaan." Shiona segera mematikan sambungan telponnya, ia kemudian menghancurkan ponselnya. Sebelum ponsel itu hancur, Shiona menyimpan kartunya.

Sedangkan, Mora bersama anak buahnya datang ke rumah, ia memerintahkan untuk menangkap mama kandungnya.

โ€œTidakโ€ฆ aku tidak akan membiarkannya mengambil semuanya.โ€

"Tangkap Nyonya Shiona dan kurung di bawah tanah!" perintah Mora mutlak.

"Baik, Nona," sahut mereka semua dengan patuh.

Mora mengambil ponselnya, kemudian ia membuka berita tentang Ashuna. Informasi sekecil apapun tidak akan dilewatkan sedikitpun, mereka semua harus disingkirkan.

"Jangan harap kau bisa kembali, Ashuna!" bisik Mora dengan dingin, lalu ia menyimpan kembali ponselnya.

Namun, Shiona sudah pingsan di dalam kamarnya. Anak buah Mora mengangkat tubuhnya, lalu membawanya ke ruang bawah tanah, tidak lupa tubuhnya dipasung.

"Ayo kita tinggalkan wanita tua ini," ucap salah satunya.

Lalu di tempat lain, anak buah Ashuna melaporkan kejadian penangkapan Nyonya Shiona di rumahnya. "Beliau sudah dipasung di ruang bawah tanah."

"Begitu ya," ucap Ashuna duduk dengan tenang membelakangi mereka.

Ashuna memerintahkan mereka semua untuk bermain-main sebentar dengan Mora, anak buahnya langsung mengerti.

Sekitar 30 menit kemudian, anak buah Mora diserang tanpa ampun. Beberapa dari mereka dibiarkan hidup, tidak lupa meninggalkan jejak khusus untuk Mora.

"Nona Mora!" panggil anak buah panik menuju kamar nonanya.

Mora yang mendengar hal itu langsung membuka pintunya. "Ada apa? Ah, apa-apaan ini?"

Anak buah Mora yang menuju kamar wajahnya babak belur, Mora terkejut melihatnya. Ini pertama kalinya penjaga di depan seperti ini.

"Siapa pelakunya?" tanya Mora langsung.

"Belum tahu, tapi kami diserang mendadak. Kekuatan musuh sangat kuat, Nona," sahutnya jujur.

"Apa!" Mora semakin terkejut.

DUARRR! Tidak lama terdengar suara keras dari luar, Mora dan anak buahnya langsung menuju ke sana.

"Suara apa itu?" tanya Mora langsung lari ke arah suara itu bersama anak buah lainnya.

Betapa terkejutnya Mora melihat satu mobilnya terbakar, ia hampir tak bisa bicara. Namun, salah satu anak buahnya menyadarkannya.

"Nona," panggilnya menyentuh pundak nona besar.

"Ahhh!" Mora langsung tersadar, ia segera memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa cctv. "Ayo periksa cctv!"

"Baik, Nona," sahut mereka langsung menuju cctv.

Baru saja membuka pintu cctv, mereka melihat pemandangan yang mengerikan sampai mual.

"Huekkk! Ahh, aku tidak sanggup melihatnya!" ucap salah satu anak buah Mora memuntahkan isi perutnya.

โ€‹

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“26๐Ÿ’“

    Suasana studio mendadak terasa menegangkan, Ashuna masih duduk di hadapan pembawa acara. Pertanyaan terakhir belum juga dijawabnya."Apakah dalam perjalanan menuju kesuksesan, pernah ada seseorang yang sangat melukai hidup Anda?"Seluruh penonton menunggu. Ashuna menarik napas pelan, tatapannya tenang."Tentu pernah." Jawabannya singkat.Pembawa acara kembali bertanya dengan hati-hati.."Apakah Anda membencinya?"Ashuna tersenyum tipis. "Dulu ... iya.""Lalu sekarang?" tanya pembawa acara itu lagi."Sekarang saya lebih memilih berterima kasih," sahut Ashuna.Semua orang tampak bingung."Karena tanpa mereka ... saya tidak akan menjadi pribadi yang kuat seperti hari ini," lanjut Ashuna menjelaskan.Tepuk tangan memenuhi studio, tidak ada satu nama pun yang disebut. Tidak ada kebencian yang diumbar, namun jawaban itu berhasil menyentuh hati banyak orang. Di rumah keluarga Zaemley, Shiona menangis tanpa suara."Itu pasti tentang kami...." gumam Shiona sambil menutup wajahnya.Wisnu hanya m

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“25๐Ÿ’“

    Malam yang dinanti akhirnya tiba. Gedung stasiun televisi nasional dipenuhi wartawan sejak sore hari, lampu kamera terus berkedip, sementara para penggemar memenuhi area depan gedung hanya untuk melihat secara langsung sosok pengusaha muda yang sedang menjadi perbincangan.Di dalam mobil, Ashuna duduk tenang mengenakan setelan jas putih elegan dipadukan celana panjang hitam. Riasannya sederhana, tetapi memancarkan wibawa yang membuat siapa pun sulit mengalihkan pandangan.Di sampingnya, asisten pribadi sedang menjelaskan susunan acara. "Nona, wawancara berlangsung sekitar satu jam. Setelah itu ada sesi foto bersama."Ashuna hanya mengangguk, mobil perlahan memasuki area parkir VIP. Begitu pintu mobil dibuka, puluhan kamera langsung mengarah kepadanya."Nona Ashuna!""Nona, lihat ke sini!""Bagaimana perasaan Anda kembali ke Indonesia?"Ashuna hanya memberikan senyum tipis dan lambaian singkat, sebelum memasuki gedung dengan pengawalan keamanan.***Di sisi lain, sebuah mobil hitam ber

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“24๐Ÿ’“

    Pagi itu, Ashuna berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil memegang secangkir kopi hangat. Tatapannya tertuju pada langit kota yang mendung, pesan dari Shiona semalam masih tersimpan di ponselnya. Ia sudah membacanya berkali-kali, namun, tak sekali pun membalas. Tok, tok. "Nona." Asistennya masuk membawa beberapa berkas. "Ada jadwal baru." "Apa?" tanya Ashuna menatap asisten itu. "Stasiun televisi nasional, meminta Anda menjadi bintang tamu dalam program wawancara eksklusif mereka malam besok." Ashuna menerima berkas tersebut, program itu merupakan salah satu acara paling populer di negara itu. Jutaan orang menontonnya setiap minggu. "Mereka sudah menghubungi tiga kali," ucap asisten itu. "Apa alasannya?" tanya Ashuna. "Mereka ingin membahas perjalanan hidup Anda. Dari mahasiswa pindahan yang memulai hidup dari nol di Korea, hingga menjadi CEO muda paling berpengaruh." Ashuna membaca rincian acaranya, biasanya, ia akan langsung menolak acara yang terlalu mencampu

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“23๐Ÿ’“

    Pagi itu, hujan gerimis turun membasahi halaman rumah keluarga Zaemley. Di lantai dua rumah besar itu, Shiona Arnando duduk di kursi rodanya sambil memandangi sebuah album foto lama. Tangannya yang mulai keriput membalik halaman demi halaman dengan hati-hati, senyumnya bergetar ketika menemukan sebuah foto yang sangat dikenalnya. Foto Ashuna saat baru diterima di kampus impiannya di Indonesia, gadis itu tersenyum lebar sambil memeluknya erat."Ma! Akhirnya Ashuna diterima!""Mama bangga sama Ashuna.""Hehehe... nanti kalau Ashuna sukses, Mama jangan lupa bangga terus sama Ashuna, ya?""Memangnya Mama pernah tidak bangga?"Ashuna tertawa kecil. "Kalau Ashuna sudah jadi orang hebat, Ashuna mau membahagiakan Mama dan Papa."Air mata Shiona jatuh membasahi foto itu, lima tahun berlalu. Gadis yang dulu penuh impian itu, pergi meninggalkan rumah dengan hati hancur. Dan dirinya menjadi salah satu alasan kepergian putrinya."Ashuna..." Suara Shiona pecah. "Maafkan Mama..."Tok... tok..."Masu

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“22๐Ÿ’“

    Pagi itu, sinar matahari masuk melalui jendela besar ruang kerja Ashuna. Suasana kantor PT. Ashuna Group sudah ramai sejak pukul tujuh pagi, para karyawan berlalu-lalang dengan berkas di tangan, sementara jadwal sang CEO semakin padat.Ashuna sedang memeriksa proposal kerja sama baru, ketika asistennya kembali masuk."Nona," panggil asisten itu."Ada apa?" tanya Ashuna."Permintaan pertemuan dari Nyonya Shiona kembali masuk."Tangan Ashuna yang sedang membalik halaman berhenti sesaat. "Berapa kali?""Sudah tiga kali sejak kemarin."Ashuna menatap layar tablet yang diberikan, isi pesannya singkat."Ashuna, Mama hanya ingin bertemu sebentar. Mama ingin meminta maaf."Tatapan Ashuna berubah kosongโ€”Mama. Sudah lama sekali, ia tidak mendengar dirinya dikaitkan dengan panggilan itu."Nona?" Asistennya tampak ragu. "Apakah akan ditolak?"Ashuna mengembalikan tablet itu. "Biarkan dulu.""Baik."Meskipun demikian, setelah asistennya keluar, Ashuna tidak lagi fokus pada dokumen di depannya. Kal

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐Ÿ’“21๐Ÿ’“

    Malam itu hujan turun perlahan membasahi halaman rumah keluarga Zaemley, di lantai dua, sebuah lampu kamar masih menyala. Shiona Arnando duduk di kursi rodanya, sambil menatap foto lama yang berada di pangkuannya. Foto itu sudah sedikit kusam, karena terlalu sering disentuh. Di dalam foto terlihat dirinya, Wisnu, Romy, Ashuna, dan Mora. Namun yang paling sering ia pandangi adalah senyum Ashuna, senyum yang dulu selalu memenuhi rumah itu dengan kehangatan. "Lima tahun..." air mata perlahan jatuh ke pipinya, Shiona menggenggam foto itu erat. "Lima tahun Mama tidak melihatmu, Nak." Semakin tua usianya, semakin besar penyesalan yang ia rasakan. Ia masih ingat hari ketika Ashuna pergi, hari ketika putrinya menangis dan berusaha menjelaskan semuanya. Namun, dirinya justru memilih mempercayai orang lain. Bukan anak yang selama ini dibesarkannya, bukan pula anak yang selalu memanggilnya Mama dengan penuh kasih. Tok. Tok. Pintu kamar diketuk pelan. "Masuk," ucap Shiona. Seoran

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 4๐Ÿ

    "Ada apa ini?" tanya seorang dokter dengan jas putih panjangnya yang mencapai lutut saat ia sampai di depan ruang rawat seseorang."Lepaskan aku!" teriak Romi yang mengamuk dalam kamar."Ayo suntik dia," ucap Dokter Tama melangkah maju masuk ke dalam ruangan itu."Baik Dokter," sahut perawatnya men

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 3๐Ÿ

    "Tuan Hans," ucap Ashuna tersenyum melihatnya"Ashuna, kau ...." Tuan Hans menjeda ucapannya sebentar."Baiklah, maaf ya jika aku membuatmu terdiam. Silalan panggil yang selanjutnya," ucap Ashuna lalu berdiri dan ingin pergi."Duduk!" perintah Tuan Hans."Ada apa, Tuan Hans?" tanya Ashuna menaikkan

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 2๐Ÿ

    "Aku sudah membuat anak itu tidak nyaman di rumah, apalagi yang kamu inginkan." Shiona memijit dahinya yang pusing.Tidak ada jawaban dari penelepon, Shiona pun melihat layar ponselnya yang sambungan telpon sudah mati."Astaga! Dimatikan," ucapnya pelan.Di luar pintu, Mora bingung dengan siapa mam

  • Balas Dendam Anak Kandungย ย ย ๐ŸBab 1๐Ÿ

    Ashuna benar-benar marah kepada Mora, dialah orang yang sudah membuat Gustav mencacinya sebagai wanita murahan. Semua perkataan kotor itu selalu terdengar dalam kepalanya, seolah-olah berputar tanpa henti seperti nyanyian rusak. Kata-kata wanita murahan itu terasa sakit dari pukulan hulk, ia berdir

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status