ANMELDEN"Ada apa ini?" tanya seorang dokter dengan jas putih panjangnya yang mencapai lutut saat ia sampai di depan ruang rawat seseorang.
"Lepaskan aku!" teriak Romi yang mengamuk dalam kamar. "Ayo suntik dia," ucap Dokter Tama melangkah maju masuk ke dalam ruangan itu. "Baik Dokter," sahut perawatnya mengikuti sang dokter. Setelah diberi obat penenang, Romi berhenti mengamuk. Dokter Tama dan perawatnya keluar, namun percakapan mereka berdua saat keluar dari ruangan membuat salah satu perawat menghela napasnya. "Kita beritahu Nona M," ucap Dokter Tama. "Apa kita perlu memindahkannya?" tanya perawat. "Mungkin," sahut Dokter Tama. Keduanya pun menghilang dari pandangan perawat tadiโDona salah satu kepercayaan seseorang. "Jahat sekali mereka," gumam Dona di depan pintu ruang rawat Romi. Dalam sebuah gedung mewah utama milik Zaemley Group, suasananya jauh dari tenang. Beberapa wajah karyawan terlihat tegang, seolah mereka akan kehilangan pekerjaannya. Seseorang duduk di kursi direktur sementara, ekspresinya dingin. Ada manaher yang berdiri di hadapannya dengan wajah yang jauh dari kata baik. "Jadi ... apakah proyek ini gagal?" tanya Mora dengan singkat sambil menatap dingin manager itu. "Nona, ada kendala dari pihak vendor. Kami berusaha bernegosiasi ulang dengan mereka, tapโ" belum selesai manager itu berbicara, perkataannya telah dipotong. "Aku tidak peduli!" ucap Mora memotong dengan cepat, tangan kanannya menepuk keras meja. "Jangan banyak alasan, buktikan hasilnya!" "Tapi Nona Mora, ini akan memakan waktu yang laโ" sekali lagi perkataan manager itu dipotong. "Kau dipecat! Pergi dari sini," ucap Mora tanpa belas kasihan sama sekali. Ruangan mendadak hening, manager itu bahkan terdiam setelah Mora memecatnya. "Nona, aku sudah bekerja delapan tahun di perusahaan ini," ucapnya dengan suara bergetar menahan perih. "Cukup lama, tapi delapan tahun itu tidak membuatmu lebih bagus." Mora mengangkat dagunya dengan sombong. "Satpam! Antar perempuan ini keluar." Manager itu langsung ditarik keluar oleh dua petugas keamanan tanpa perlawanan, beberapa staf yang melihatnya hanya bisa menunduk sambil menelan ludah. Ini sudah biasa mereka saksikan, Nona Mora sering kali memecat dengan alasan kurang jelas. Mora menghela napasnya dengan kasar di ruangannya. "Dasar orang-orang-orang tidak berguna." Sekretaris Mora yang ada di dalam ruangan itu terlihat ragu, tetapi ia memutuskan untuk mengatakannya. "Nona, sebenarnya proyek itu masih bisa diselamatkan. Hanya saja kita perluโ" "Apa kau juga ingin dipecat?" tanya Mora melirik tajam. "Tidak, Nona," sahut Liana menggeleng pelan sambil menunduk. "Sekarang kau hubungi tim keuangan, aku ingin laporan kerugian terbaru." Mora memintanya. "Baik, Nona," ucap Liana langsung pergi. Beberapa menit kemudian, laporan keuangan yang datang membuat Mora mengerutkan keningnya. Angka merah terus meningkat, kerugian semakin besar. "Bagaimana mungkin ini bisa terjadi," gumam Mora terus membolak-balikkan berkas laporan itu. "Mengapa angka ini semakin tak terkendali, Liana?" "Karena beberapa proyek besar kita batal, jadi arus kas perusahaan terganggu." Liana menjawabnya dengan jelas dan pelan. Mora memukul mejanya cukup keras. "Aku tidak peduli. Cari proyek baru yang menguntungkan perusahaan tanpa banyak modal, kalau perlu gunakan koneksi apapun." "Ba-baik, Nona," ucap Liana sedikit terbata, tetapi masih lancar. Keesokan harinya di tempat yang berbeda, suasana mendadak ramai karena wartawan berkumpul mengelilingi seorang perempuan cantik. Ashuna tidak menyangka wartawan mengetahui tempat ia menginap, sekarang banyak kamera yang menyorot dirinya. "Nona Ashuna? Apa benar Nona mencari bakat baru di negara ini?" "Bagaimana audisi malam tadi, Nona?" "Apa Nona Ashuna tahu kondisi Zaemley Group sekarang?" Ashuna mengatur napasnya, ia berhenti sejenak sambil menatap para wartawan. "Aku berterima kasih pada kalian yang menghangatkan sambutan ini, acara tadi malam sangat lancar. Mencari bakat baru di negara ini merupakan tantangan baru, untuk Zaemley Group, tak ada satu pun yang tahu. Aku hanya fokus dengan pekerjaanku saat ini, jadi tentang perusahaan itu jangan menanyakannya padaku." "Apakah itu artinya Nona Ashuna benar-benar tidak mengetahui apapun tentang Zaemley Group?" "Tidak." Ashuna tersenyum. "Aku hanya fokus pada perusahaanku sendiri." Semua kalimat yang keluar dari mulut Ashuna memicu bisik-bisik di antara wartawan, keluarga Zaemley menjadi sorotan hangat terkini. Tak lama seorang pria tua datang dan membungkuk hormat, Ashuna pun pamit dari para wartawan. "Maaf Nona, aku terlambat menjemputmu." "Tidak apa, Pak Darius," ucap Ashuna yang sudah di dalam mobil. "Bagaimana kondisi perusahaan itu?" "Tidak terlalu baik, Nona," ucap Pak Darius memberitahunya. "Mungkin sebentar lagi perusahaan itu akan tenggelam dengan sendirinya," sahut Ashuna sambil menatap keluar jendela. "Pemimpin Zaemley Group sekarang dipegang oleh Nona Mora," ucap Pak Darius memberitahunya. "dia sangat keras, tapi tidak memikirkan akibatnya." "Apakah perempuan jelek itu memecat banyak orang?" tanya Ashuna tanpa ragu sedikit pun. "Ya, Nona." Pak Darius mengangguk cepat. Ashuna tersenyum tipis, sudut bibir kanan bagian atas terangkat sedikit. Pak Darius melihanya, ia hanya bisa bergidik merinding. Di perusahaan, Liana masuk ke ruangan Mora dengan tablet di tangannya. "Nona Mora, lihatlah ini." Mora pun melihatnya, sedetik kemudian wajahnya terlihat kesal. "Sialan!" "Berita hangat pagi ini," ujar Liana memberitahunya. Mora memukul meja dengan keras lalu berdiri sambil menggeram. "Mengapa dia harus kembali?" "Nona, berita ini sedang trending." Liana menambahkannya. "Aku tahu itu!" kesal Mora sambil menggertakkan giginya. "Nona, posisi Nona bisa disingkirkan jika Nona Ashuna kembali. Kemungkinan ...," ucap Liana menggantung perkataannya. Mora pun berdiri. "Aku tahu itu." "Para wartawan saat ini sedang mengulik keluarga Zaemley," ungkap Liana memberitahunya. "Mana mungkin aku membiarkannya, Liana." Mora menatap tajam sekretarisnya itu. Di lain tempat, Ashuna sedang melihat pelatihan para peserta yang sudah terpilih, salah satunyaโHeca. "Bagaimana audisi di kota laun?" tanya Ashuna pada timnya. "Semuanya berjalan lancar, Nona," sahut salah satu staf. "Banyak sponsor yang tertarik dengan audisi ini, Nona Ashuna," ujar Pak Darius menambahkan. "Oh ya, wahh ... aku jadi tersanjung." Ashuna tersenyum tipis. Semua orang menatapnya merinding, senyum Nona Ashuna sangatlah jarang. Akan tetapi, senyum kali ini bukan yang diinginkan. "Apakah Nona Ashuna ingin melihat latihan peserta di sini sampai akhir?" tanya staf. "Tidak," sahut Ashuna menggeleng pelan. "Aku akan pergi ke kota lain untuk melihat audisinya." Staf tadi tidak lagi bertanya, ia hanya mengangguk pelan. Sedangkan, Ashuna memanggil Heca. "Heca," panggil Ashuna. Heca yang sedang latihan menyanyi langsung menghentikan kegiatannya, ia segera menghampiri Ashuna. "Ada apa, Nona Ashuna?" tanya Heca sopan. "Ikut saya sebentar," sahut Ashuna langsung pergi dan Heca mengikutinya. Di ruangan yang sepi dan hanya mereka berdua, perasaan Heca sangat dibuat gugup. Ia berharap tak ada kesalahan apapun, karena ini adalah impiannyandan jalan satu-satunya. Sementara itu, Ashuna memilih duduk santai di sofa yang empuk, kakinya ia silangkan sambil menyuruh Heca untuk duduk juga. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, secara pribadi," ucap Ashuna terlihat serius. "Hal apa yang ingin Nona bicarakan denganku?" sahut Heca dengan sopan. "Aku ingin kau menjadi ...," ucap Ashuna sengaja menggantung perkataannya. โMalam yang dingin tipis membasahi kaca gedung tinggi milik RN'Group karena hujan, seorang pria duduk santai di ruangan kerja paling atas, ia memutar gelas wine di tangannya.Matanya menatap tajam, pada layar tablet yang memperlihatkan siaran ulang di bandara saat kedatangan Ashuna pagi tadi."Akhirnya ... kamu kembali juba," ucap Rafello sambil tersenyum tipis.Ketukan pintu terdengar dari luar, Rafello menyuruhnya masuk. "Masuk."Pria yang berpakaian hitam masuk sambil membawa map tipis, ia berdiri tegak di depan meja kerja Rafello."Kami sudah menyiapkan laporan tentang Nona Ashuna, Tuan," ucapnya."Baca!" ucap Rafello meletakkan gelasnya perlahan."Nona Ashuna langsung menuju hotel Grand Royal, setelah konferensi pers selesai. Lalu besoknya Nona Ashuna ada jadwal pagi bersama panitia audisi idol nasional," sahutnya."Ternyata dia masih sama?" Rafello mengangguk pelan sambil tersenyum tipis."Maksud Tuan?" anak buahnya menaikkan alisnya, ia terlihat bingung."Dia itu masih terlalu b
"Jadi artis kepercayaan agensi kami," lanjut Ashuna lagi.Heca yang mendengar hal itu menjadi terkejut, artis kepercayaan mereka? Apa maksudnya? Ia tak mengerti, tetapi berusaha untuk bertanya sedikit."Maksud Nona?" tanya Heca menajamkan pandangannya.Ashuna tersenyum melihat perubahab pandangan Heca, ia juga akan melakukan hal yang sama jika menjadi Heca."Jadilah artis yang besar atas kerja kerasmu sendiri," sahut Ashuna lalu menjelaskan apa maksudnya dari artis kepercayaan agensi.Setelah dijelaskan, Heca pun paham maksud Ashuna. Ia berjanji akan menjadi artis besar di bawah bimbingan agensi mereka, Ashuna senang mendengarnya."Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Ashuna pamit."Hati-hati, Nona," sahut Heca sedikit menunduk kepalanya tanda hormat.Beberapa hari kemudian, Ashuna menghadiri audisi di kota lain. Suasana langsung riuh ketika ia datanga, namun ada seorang wanita terpaku melihatnya.Tangan wanita itu bergetar, bola matanya membesar, menatap sosok yang dinantikan teman-te
"Ada apa ini?" tanya seorang dokter dengan jas putih panjangnya yang mencapai lutut saat ia sampai di depan ruang rawat seseorang."Lepaskan aku!" teriak Romi yang mengamuk dalam kamar."Ayo suntik dia," ucap Dokter Tama melangkah maju masuk ke dalam ruangan itu."Baik Dokter," sahut perawatnya mengikuti sang dokter.Setelah diberi obat penenang, Romi berhenti mengamuk. Dokter Tama dan perawatnya keluar, namun percakapan mereka berdua saat keluar dari ruangan membuat salah satu perawat menghela napasnya."Kita beritahu Nona M," ucap Dokter Tama."Apa kita perlu memindahkannya?" tanya perawat."Mungkin," sahut Dokter Tama.Keduanya pun menghilang dari pandangan perawat tadiโDona salah satu kepercayaan seseorang."Jahat sekali mereka," gumam Dona di depan pintu ruang rawat Romi.Dalam sebuah gedung mewah utama milik Zaemley Group, suasananya jauh dari tenang. Beberapa wajah karyawan terlihat tegang, seolah mereka akan kehilangan pekerjaannya.Seseorang duduk di kursi direktur sementara,
"Tuan Hans," ucap Ashuna tersenyum melihatnya"Ashuna, kau ...." Tuan Hans menjeda ucapannya sebentar."Baiklah, maaf ya jika aku membuatmu terdiam. Silalan panggil yang selanjutnya," ucap Ashuna lalu berdiri dan ingin pergi."Duduk!" perintah Tuan Hans."Ada apa, Tuan Hans?" tanya Ashuna menaikkan alisnya sambil menoleh."Duduk, kita lanjutkan wawancaranya. Aku tidak peduli seperti apa reputasimu," sahut Tuan Hans lagi menarik tangan Ashuna.Ashuna memicingkan matanya. "Kau yakin? Bukankah dulu sering meremehkanku?""Dengar Ashuna, dulu aku memang meremehkanmu karena naif. Tapi sekarang aku ingin melihat perkembanganmu setelah terpuruk," ucap Tuan Hans memberitahu alasannya.Ashuna pun tersenyum tipis, ia langsung melanjutkan wawancaranya dan lulus. Sejak diterima bekerja di rumah sakit sebagai cleaning service, sedikit demi sedikit bisa menabung untuk kuliahnya sendiri. Sesekali menerima pesan dari Rafello, hanya itu dan fokus untuk masa depannya sendiri.Waktu memang tak mengenal j
"Aku sudah membuat anak itu tidak nyaman di rumah, apalagi yang kamu inginkan." Shiona memijit dahinya yang pusing.Tidak ada jawaban dari penelepon, Shiona pun melihat layar ponselnya yang sambungan telpon sudah mati."Astaga! Dimatikan," ucapnya pelan.Di luar pintu, Mora bingung dengan siapa mama angkatnya bicara. "Aneh," batin Mora lalu kembali ke kamarnya sendiri.Di lain tempat, lebih tepatnya kota Palangkaraya di mana Ashuna membuka layar ponselnya cukup lama. Pesan dari Rafello, bibirnya tersenyum tipis."Aku baik-baik saja di sini, Rafello. Tak perlu mengkhawatirkanku." Ashuna membalas pesan Rafello."Baguslah, aku senang mendengarnya. Kau jaga kesehatan di sana ya," balas Rafello menggunakan emot love-love."Kau juga, sudah ya, aku mau menata kamar baruku." Ashuna menyudahi chattingan-nya.Ashuna langsung menatap kamar barunya dengan semangat, ia juga tak lupa mencari pekerjaan paruh waktu di sini.Di kamar barunya yang sudah tertata rapi, meskipun kecil dan tidak mewah. Na
Ashuna benar-benar marah kepada Mora, dialah orang yang sudah membuat Gustav mencacinya sebagai wanita murahan. Semua perkataan kotor itu selalu terdengar dalam kepalanya, seolah-olah berputar tanpa henti seperti nyanyian rusak. Kata-kata wanita murahan itu terasa sakit dari pukulan hulk, ia berdiri di depan cermin lalu menatap duplikat dirinya dalam-dalam. Mata bengkak karena banyak menangis, wajah pucat seperyi orang sakit, rambut terurai ditiup angin, inikah dirinya yang tersakiti. Semuanya berawal dari video sialan itu, sebuah video berdurasi kurang dari 1 menit. Dalam video itu sepertinya direkam dari suduy yang salah, seperti sengaja dipotong tanpa sebab, kemudian disebarkan dengan kalimat dan kata-kata yang sudah disusun dengan rapi untuk menggiring opini. "Kau itu selalu saja berpura-pura suci, Ashuna!" Itulah kata-kata yang keluar dari mulut Gustav waktu itu. "Aku melihat video itu dengan mata kepalaku sendiri, tidak ada editan di sana." Setelah kejadian itu ia menjauh ta







