Share

Bab 5

Author: Farchahcha
last update Last Updated: 2025-09-08 17:39:12

Pipi Tiara masih terasa panas dan perih. Saat ia menoleh ke arah kaca toilet, ternyata ada bekas membiru di sisi wajahnya. 

Tamparan mertuanya sangat keras hingga meninggalkan bekas. Apalagi penampilannya yang sangat berantakan akibat siraman kopi. Tiara seolah tak memiliki harga dirinya lagi sebagai manusia. 

“Kenapa aku mendapatkan perlakuan buruk sampai seperti ini?” gumamnya sambil melihat dirinya sendiri di pantulan kaca. “Apa salahku?” tanya dengan tatapan kosong. 

Tiara terdiam lama di depan kaca sambil melihat dirinya yang berantakan. Ini bukan pernikahan yang dibayangkannya. 

Mungkin dia bisa bertahan dengan sikap dingin Naren selama ini, tapi… kalau pria itu sudah berselingkuh. Bukankah artinya tidak ada harapan lagi untuk Tiara bertahan.

Sebesar apapun rasa cinta Tiara pada Naren. Tapi, kalau hati pria itu untuk wanita lain, apa gunanya. 

Dan, perlakuan yang diterima Tiara dari mertua dan keluarga Naren lainnya juga sangat keterlaluan. 

Tiara menggigit bibir bawahnya menahan gejolak amarah yang membuncah di dalam dirinya. Dia tidak mau menangis lagi, rasanya air matanya mulai mengering sekarang. 

“Aku harus mengakhiri semua ini.” 

Setelah mengucapkan kalimat itu dengan tekad yang kuat. Tiara membersihkan baju dan mencuci wajahnya. Dia keluar dari toilet sambil menutupi pipi kanannya dengan rambut.

Tiara sedikit terkejut melihat Dokter Rafka yang berdiri di dekat toilet seolah sedang menunggu seseorang. Apa mungkin dia menunggu Tiara? Tapi, kenapa? 

Ah, Tiara jadi ingat dengan pertanyaan bodohnya pada Dokter Rafka sebelumnya. Kenapa juga dia bertanya pada dokter itu alasan dia peduli pada Tiara.

“Dia pasti bersikap begitu karena ini adalah rumah sakit dan bisa mengganggu pasien lain. Tentu saja, mana mungkin dia peduli karena aku,” ucap Tiara dalam hati sambil menghela nafas. 

Namun, itu malah membuat Rafka tahu bahwa Tiara sudah keluar dari toilet. Pria itu langsung berjalan mendekat ke arah Tiara. 

Dokter Rafka berdiri tepat di depannya. Sontak saja Tiara menghentikan langkahnya, matanya membulat seakan bertanya, ada apa?

“Apa anda baik-baik saja?” tanyanya sambil melihat ke sebelah pipi Tiara. 

Tiara berusaha menutupi pipinya yang membiru dengan rambut dan tangannya. Lalu dia mengangguk. 

Hening sesaat. Rafka menatap ke arah Tiara yang menunduk. Dari matanya menyiratkan rasa kasihan pada wanita di depannya ini. 

“Kalau begitu saya…” Tiara ingin pamit pergi. Tapi tangan Rafka menahannya. Tiara sempat tersentak karena dipegang tiba-tiba. 

Pria itu menariknya untuk duduk di kursi terdekat. Lalu mengeluarkan satu ice pack dari dalam kantong jasnya. 

Tanpa banyak bicara, Rafka langsung membantu mengompres pipi kanan Tiara yang lebam. Tiara sempat menjauhkan wajahnya. 

“Kalau tidak dikompres lebamnya tidak akan cepat hilang,” ujar Rafka sambil menempelkan ice pack. 

Tiara membeku, jujur saja dia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini. Jantungnya berdebar, saat tangan itu merapikan rambut Tiara ke belakang dan dengan serius mengompres pipinya yang lebam. 

Sesaat mata mereka bertemu. Hening. Ada desiran aneh di dalam diri Rafka saat melihat Tiara dari jarak dekat. Begitu juga Tiara. 

Cepat-cepat Tiara mengalihkan pandangannya. “Saya bisa sendiri,” katanya langsung mengambil alih ice pack dari tangan Rafka. 

Rafka berdehem, menghilangkan rasa canggung yang tiba-tiba muncul. “I-iya silahkan,” ucapnya sedikit terbata sambil menyerahkan ice pack pada Tiara. 

Hening lagi. 

Tiara sibuk mengompres pipinya sedangkan Rafka masih duduk di sampingnya. Entah kenapa enggan pergi dari sisi Tiara. 

“Apa ini sering terjadi?” tiba-tiba saja Rafka bertanya. 

Pertanyaan ini… Rasanya Tiara ingin bilang sejujurnya pada Dokter Rafka. Tapi, dia urungkan karena menganggap pria itu orang asing. 

Tiara menggeleng. “Mungkin mertua saya sedang emosional saja tadi. Melihat anaknya yang masih koma, membuatnya sensitif,” jawab Tiara tenang, mencoba terlihat biasa saja. 

Tapi, Rafka tidak menanggapi lagi, pria itu diam dan malah menatap Tiara dengan tatapan aneh. 

“Apa ada sesuatu di wajah saya?” tanya Tiara. 

Rafka tak menjawab. Pria itu menarik nafas panjang. “Sensitif katamu.” ucapnya. 

Tiara mengangguk. 

“Tetap saja tidak wajar menampar orang hanya karena sensitif,” tegas Rafka.

Tentu saja Tiara tahu itu tidak wajar. Tapi tidak mungkin dia bilang seperti itu pada Rafka, apa untungnya untuk Tiara?

Tiara memilih memendamnya saat ini. Orang asing seperti Rafka tidak perlu tahu. Wanita itu berdiri, “Saya akan kembali ke ruangan suami saya. Terima kasih untuk ice packnya,” pamit Tiara. 

“Tunggu sebentar,” ucap Rafka. “Anda sudah tahu nama saya, tapi saya belum. Siapa nama anda?” tanya Rafka. Dia baru sadar kalau belum mengetahui nama wanita yang hari ini ditemuinya dalam banyak kejadian.

“Tiara.” 

Wanita itu menjawab singkat dan langsung berjalan pergi. 

Rafka mendesah. Dia masih ingin berbicara banyak dengan Tiara. Tapi wanita itu selalu saja berjalan menjauh lebih dulu. 

“Yah, setidaknya aku sudah tahu namanya,” gumam Rafka. Dia lalu berjalan menuju ruangan dokter umum. Tugas visit pasien hari ini cukup seru dari hari-hari sebelumnya bagi Rafka.

***

Tiara sudah mengganti bajunya dengan yang baru. Kini dia duduk di samping ranjang Naren, melihat suaminya yang koma. 

Dia mengeluarkan ponsel kedua Naren yang masih belum berani Tiara buka. Ponsel yang masih terkunci itu masih dalam keadaan mati. 

Tiara menundukkan kepalanya, lalu kembali melihat ke wajah Naren. Tatapannya dalam dan sendu, seolah dia sedang menyakinkan dirinya untuk lebih kuat. 

Dan, sedetik kemudian dia meraih tangan suaminya. Menempatkan ibu jari Naren ke arah ponsel untuk membuka kunci layar. 

Dalam sekejap ponsel itu terbuka dan… hati Tiara mencelos ketika melihat foto beranda di ponsel itu. Foto Naren dengan Shalsa lagi.

Pedih rasanya, air mata lolos membasahi pipi Tiara. Wanita itu menangis dalam diam. Tak berhenti sampai di situ, dia juga membuka beberapa aplikasi pesan dan galeri. Semua dipenuhi dengan Shalsa. 

“Jadi benar, mereka berhubungan selama ini.” 

Tiara memandang wajah Naren dengan mata yang penuh kesedihan. “Sepertinya aku yang bodoh karena selalu berharap kamu mencintaiku, Kak.” 

Tangan Tiara meremas dadanya yang tiba-tiba terasa begitu sesak. Harapannya, impiannya, seolah sudah hancur berkeping-keping.

“Aku akan berhenti Kak. Aku menyerah jadi istrimu,” kata Tiara sambil melihat wajah suaminya yang masih terpejam. 

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Balas Dendam Istri yang Tersakiti   Bab 25: Kehilangan

    Andreas menemui Tiara di apartemennya, wanita itu menyambutnya dengan senyum tenang dan ramah. “Bagaimana kabarmu?” “Aku? Seperti yang kakak lihat, aku baik-baik saja.” Jawab Tiara sambil meletakkan segelas minum untuk Andreas. Pria di depannya mengangguk lega. Dia langsung memberikan dokumen yang dia bawa sebelumnya. Menyerahkannya pada Tiara. “Kamu yakin akan masuk ke perusahaan?” tanyanya, ada nada keraguan di sana. Tiara mengangguk mantap. “Aku harus melakukannya, Kak.”Andreas sudah tahu Tiara akan berkata seperti itu, dia memang harus melakukannya. Kembali ke perusahaan tempatnya seharusnya berada.Akan tetapi, kehadirannya di perusahaan tentu tidak akan membuat senang beberapa orang. Raut kecemasan Andreas tertangkap jelas di mata Tiara. Wanita itu meletakkan dokumen tadi ke atas meja. Menatap lurus ke arah Kakak sepupunya itu. “Tenang saja, Kak. Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku hanya mau Naren keluar dari hidupku. Aku tidak mau lagi berhubungan dengannya ataupun keluar

  • Balas Dendam Istri yang Tersakiti   Bab 24: Pembalasan

    Langit gelap menggantung rendah, seolah menekan kota pagi itu. Tiara menuangkan air panas ke dalam cangkir tehnya. Tak sedikitpun terpengaruh dengan kilat petir yang sesekali muncul. Sudut bibirnya terangkat, menikmati setiap momen kemenangan kecilnya. Di dalam layar televisi, terlihat seseorang yang dikenalnya sedang dikerumuni banyak kamera interogasi. Meski tertutup masker, Tiara mengenal jelas itu adalah Shalsa. Setelah kejadian di kantor penyiaran, Shalsa ditangkap oleh polisi karena Tiara yang melaporkannya.Tuntutan rencana pembunuhan, dan juga perselingkuhan. Tiara mengajukan tuntutan itu pada polisi. Dan, lihatlah sekarang wanita itu berjalan tertunduk tak sanggup menatap kamera. Tiara dengan santai meneguk tehnya, setelah menikmati aroma yang menenangkan. “Selama ini aku sudah mencoba sabar denganmu. Tapi, kau selalu memancingku.” Senyum menyeringai muncul di bibir mungil Tiara. Sekarang saatnya dia memberitahu dunia kalau dia tidak bisa diremehkan. Seorang Tiara Santik

  • Balas Dendam Istri yang Tersakiti   Bab 23

    Tiara kembali ke ruang siaran setelah cuti selama berdiam diri di dalam apartemennya selama sebulan.Wanita itu berjalan memasuki gedung siaran dengan langkah percaya diri. Matanya tajam seperti pedang yang siap menusuk musuhnya. Tujuannya hanya satu, kantor penyiaran. Satu tujuan Tiara, membalas rasa sakitnya sekarang juga. Banyak hal yang sudah ia persiapkan. Brak! Dentuman keras terdengar saat pintu kantor penyiaran dibuka paksa oleh Tiara. Semua orang tersentak melihat ke pintu. Tiara berdiri di sana dengan mata tajam menatap ke satu arah. Detik berikutnya bibir wanita itu mengulas senyum menyeringai. Shalsa yang sedang duduk di meja kerjanya menoleh ke arah Tiara. “Tiara,” katanya lirih nyaris tak terdengar. Dia berpikir Tiara tidak akan kembali karena kecelakaan itu. Apalagi dia sudah memperparahnya. Shalsa menarik sudut bibirnya. “Kak Tiara?” ucapnya dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. Rahang Tiara mengeras, muak sekali rasanya melihat senyuman rubah licik sepe

  • Balas Dendam Istri yang Tersakiti   Bab 22

    Tiara masih menatap sinis pria di depannya. Naren. “Jangan pergi, kumohon!” pinta Naren memelas. Tiara melepaskan tangannya dari Naren. Melihat pria itu memohon membuat hatinya bergetar, baru pertama kali dia melihat Naren dengan ekspresi seperti itu. Naren melihat Tiara dengan mata sendu. “Ra, aku minta maaf soal apapun itu. Tapi, sekarang kita harus memeriksakan kakimu,” kata Naren melirik ke arah kaki Tiara yang sudah membengkak dan mulai membiru. Tiara mengikuti arah pandang Naren, kakinya memang sakit tapi entah kenapa melihat Naren mengkhawatirkannya membuatnya bahagia. Mungkinkah Tiara masih mencintai pria itu setelah apa yang dilakukannya? Cepat-cepat dia mengenyahkan pikiran ngawurnya itu. Tiara memposisikan duduknya lagi, tatapannya lurus ke depan. “Ok, kita ke rumah sakit,” ucapnya tanpa menoleh ke arah Naren. Meski Tiara bersikap begitu, Naren tidak tersinggung sama sekali. Dia langsung menyalakan mobilnya kembali, sebelum itu dia menoleh ke arah Tiara. Dan, tiba

  • Balas Dendam Istri yang Tersakiti   Bab 21

    “Awh,” Tiara meringis ngilu melihat Rafka membuka perban di kakinya.“Apa rasanya masih sakit?” tanya Rafka mendongak melihat Tiara yang duduk di atas bed hospital. Dia khawatir membuat Tiara kesakitan karena tidak hati-hati saat membuka perban kaki wanita itu. Tiara menggeleng, bibirnya terlihat bergetar tipis. “Sedikit, dok. Rasanya agak ngilu, ya,” candanya menanggapi pertanyaan Rafka. Lalu setelah itu Tiara tertawa kecil. Rafka juga ikut tersenyum jelas senyuman yang disertai rasa bersalah. Pria itu melanjutkan membuka perban di kaki Tiara, kali ini lebih hati-hati.Suhu ruangan itu berubah menjadi dingin, hening, dan hanya suara napas mereka yang terdengar. Begitu perban terakhir terlepas, Rafka menatap luka itu dengan dahi berkerut. “Masih sedikit bengkak,” dahi Rafka berkerut menatap luka di kaki Tiara. “Apa kamu benar-benar beristirahat beberapa hari ini?” tanyanya serius. Tiara menyunggingkan senyum tak bersalah. Dia memang tidak beristirahat dengan baik. Beberapa hari

  • Balas Dendam Istri yang Tersakiti   Bab 20

    “Sebenarnya apa yang mama lakukan di apartemen Tiara?” tanya Naren di dalam mobil pada Rosa yang sudah duduk di sampingnya. “Harusnya mama yang tanya itu padamu! Apa yang kamu lakukan Naren? Jangan bilang kamu mau menemui Tiara. Ren, kalian sudah akan bercerai!” tukas Rosa dengan suara meninggi. Naren mengetatkan rahangnya. “Kalau aku tidak mau bercerai dengan Tiara bagaimana? Ma! Sudah kukatakan aku tidak akan melepaskan Tiara.”Suasana menjadi tegang seketika. Rosa tidak habis pikir dengan Naren. Bisa-bisanya dia berbicara dengan nada tinggi pada ibunya sendiri. “Kau mulai berani dengan mama Ren? Lihat, ini semua adalah pengaruh buruk dari wanita itu. Tiara tidak baik buatmu,” Rosa mencoba meraih tangan anaknya dan berusaha mengambil hati Naren lagi. “Kuharap mama tidak ikut campur dengan rumah tanggaku lagi.” Suara Naren terdengar dingin, pria itu menoleh ke Rosa dengan tatapan tajamnya. “Kalau sampai aku nggak bisa membuat Tiara kembali karena mama. Aku bersumpah, tidak akan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status