Share

9

Penulis: Bhay Hamid
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-25 21:55:54

Di Istana Kristal, Pangeran Valari sedang minum anggur buah saat ibunya, Permaisuri Livia, masuk dengan wajah serius.

"Valari," Livia berkata tajam. "Aku baru saja menerima laporan. Torin dan Elara sudah di kandang kuda itu selama sebulan lebih. Apakah pengawasan kita cukup ketat?"

Valari tersenyum mengejek, memutar gelasnya. "Ibu, sungguh? Mereka di kandang kuda! Di Utara yang beku! Torin sekarang sibuk memotong kayu daripada merancang makar. Elara menangisinya di pojok ruangan. Ancaman apa yang bisa datang dari sana?"

Livia melangkah mendekat, matanya yang tajam menatap putranya. "Itu masalahnya, Valari. Kau terlalu cepat berpuas diri. Torin adalah garis darah Raja Alaric yang sah, selain kakak tirimu yang masih bodoh hingga kini. Tetapi ingat Rakyat mencintai Elara. Semakin kita menindas mereka, semakin besar potensi simpati yang mereka tarik."

Livia menjentikkan jarinya, memanggil Jendral Baros yang berdiri membungkuk di ambang pintu.

"Baros, pastikan setiap gerakan Torin dan Perm
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   65

    Torin menepuk bahu Rion dengan cukup keras, hingga pemuda itu tersentak dari lamunannya. Tawa kecil pecah dari bibir Torin melihat asisten setianya itu masih saja melongo menatap kemegahan arsitektur batu di dalam rumah Zano."Jangan banyak melamun, Rion. Nanti kau cepat tua sebelum sempat melihat Azure runtuh," goda Torin sambil menarik kursi kayu besar untuk Zeni. "Sudahlah, apa yang kau lihat hari ini hanya sebagian kecil dari wilayah kita yang baru kau ketahui.Sekarang makanlah, kau sudah bekerja keras. Kamarmu sudah disiapkan di pendopo luar, menghadap langsung ke arah air terjun."Rion menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya memerah karena malu. "Oh... iya, Tuan. Maafkan saya. Saya hanya... benar-benar masih terkagum-kagum. Rasanya seperti masuk ke dunia lain dalam satu malam."Wajah Torin yang tadinya penuh gurauan mendadak berubah menjadi lebih lembut dan tulus. Ia menatap Rion dengan pandangan seorang kakak kepada adiknya."Jangan begitu, Rion. Akulah yang seharusnya

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   64

    Zano melangkah dengan tegap, tangannya yang kasar meraba permukaan lambung kapal yang dingin dan keras. Ia memberi isyarat kepada Torin dan Rion untuk mengikutinya berjalan mengelilingi monster kayu tersebut.Di bawah cahaya remang jurang, kapal itu tampak seperti paus raksasa yang sedang tertidur, siap untuk menerjang siapa saja yang menghalangi jalannya.Rion berjalan dengan mata yang tak henti-hentinya menjelajah. Ia berhenti di dekat bagian haluan kapal dan mengetuk kulit kapal itu dengan buku jarinya.Bunyi yang dihasilkan bukanlah bunyi kayu biasa, melainkan denting padat mirip logam."Ini bukan kayu jati biasa," gumam Rion takjub. "Anda menggunakan lapisan iron brak di bagian lunas dan lambung luar?"Bentuknya meruncing tajam di depan, dirancang untuk membelah arus deras Sungai Tra tanpa kehilangan kecepatan sedikit pun.Tidak ada ornamen emas atau ukiran mewah seperti kapal-kapal kaisar; setiap jengkal kapal ini murni untuk fungsi peperangan."Tuan Torin," Rion menoleh ke arah

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   63

    Rion merasa sedikit terpukul. Sebagai orang kepercayaan dan mata-mata terbaik Torin, ia merasa gagal karena tidak mengetahui proyek sebesar ini di bawah hidungnya sendiri.Torin menatap kapal itu dengan mata yang dingin, namun ada secercah kebanggaan di sana. "Kejutan adalah satu-satunya pelindung kita, Rion. Jika kau saja tidak mengetahuinya, maka mata-mata Valari pun tidak akan pernah membayangkannya."Torin melangkah lebih dekat ke tepi tebing, membiarkan angin sungai menerpa jubahnya."Suku Ek bukan sekadar pengungsi yang pandai menanam gandum, Rion. Mereka adalah keturunan pembuat kapal dari pesisir yang diasingkan oleh kakek Valari. Mereka membangun ini bukan untuk perdagangan, tapi untuk pembalasan."Torin kemudian menoleh pada Rion, memberikan penjelasan yang lebih mendalam:"Sungai ini mengalir langsung menuju kanal rahasia di bawah benteng belakang Azure. Saat saatnya tiba, kapal ini akan membawa 'hadiah' yang tidak akan pernah bisa ditolak oleh Valari.""Sementara Valari si

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   62

    Rumah-rumah permanen dari pahatan batu berukuran sedang dengan atap lempengan batu belah berukir nan cantik yang kokoh berjajar rapi, menunjukkan tanda-tanda peradaban yang bangkit dari abu pembuangan.Rion berdiri satu langkah di belakang Torin, suaranya nyaris terendam oleh desis angin, memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar."Tuan, pemandangan di Balai Rung tadi benar-benar memuakkan," lapor Rion dengan nada rendah. "Valari tidak hanya menghina para menterinya.Dia terlihat seperti binatang yang kelaparan saat melihat mantel-mantel itu. Matanya merah, bukan karena wibawa, tapi karena gairah yang tidak sehat terhadap kemewahan tersebut."Rion melanjutkan detailnya tanpa melewatkan satu hal pun:"Dia merampas pipa iron brak itu seolah-olah itu adalah nyawanya. Saya melihatnya menghirup aroma kayu itu dengan mata terpejam, mengabaikan protokol keamanan istana.""Menteri Keuangan dan Menteri Perdagangan dipermalukan di depan publik. Mereka pulang dengan tangan hampa dan hati

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   61

    "Karena kalian telah berani memamerkan kemewahan ilegal ini di istanaku," ujar Valari, tangannya gemetar karena nafsu yang tertahan, "maka barang-barang ini disita.Bukan karena aku menginginkannya, tapi karena kalian tidak pantas menyentuh sesuatu yang begitu langka."Satu per satu, Valari menarik paksa mantel-mantel itu dari bahu para menterinya.Ia menjatuhkan mantel kulit beruang putih ke lantai dengan kasar, meski jemarinya sempat mengelus permukaannya yang sehalus awan.Ia menyambar pipa iron brak itu dan langsung menghirup aromanya langsung dari corong kayu tersebut, matanya terpejam sejenak menikmati kesegaran yang masuk ke paru-parunya.Para menteri hanya bisa gemetar, menunduk hingga dahi mereka menyentuh lantai. Mereka merasa terhina, namun ketakutan akan kegilaan Valari jauh lebih besar.Dari balik tirai beludru di koridor samping, Rion menyaksikan segalanya. Ia melihat betapa mudahnya Valari dimanipulasi oleh rasa irinya sendiri.Rion tahu benar rahasia pipa itu. Kayu iro

  • Balas Dendam Pangeran Bodoh   60

    Valari mencengkeram lengan takhtanya hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang tajam dan penuh dengki terpaku pada Menteri Keuangan, yang berdiri dengan angkuh di barisan depan.Sang menteri mengenakan mantel kulit rubah merah yang bulunya berkilau sehalus sutra—warna merah yang begitu pekat seolah-olah baru saja diperas dari darah segar. Di jemarinya, terselip sebuah pipa rokok dari kayu iron brak yang langka, mengeluarkan aroma tembakau eksotis yang memenuhi ruangan dengan kabut biru tipis.Pesta Pura-Pura di Atas Takhta yang RapuhBalai Rung semakin tidak kondusif. Para menteri lainnya tidak lagi membungkuk dengan khidmat; mereka sibuk saling membandingkan kancing manset dari permata laut dalam atau kain satin yang ditenun oleh pengrajin terlarang dari negeri seberang.Bisikan di Sudut Ruangan: Suara tawa rendah para pejabat menenggelamkan suara sang kaisar.Aroma Pengkhianatan: Bau harum dari pipa iron brak itu terasa seperti ejekan bagi Valari, mengingatkannya bahwa ada keku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status