共有

Balas Dendam yang Hening
Balas Dendam yang Hening
作者: Cocojam

Bab 1

作者: Cocojam
Mereka melemparkanku dengan keras ke dermaga.

Hujan langsung membasahi gaun putihku dalam sekejap.

Aku berusaha bangkit, tetapi kedua tanganku terikat di belakang. Sebuah tudung hitam menutupi kepalaku.

Tujuh bulan hamil, perutku yang membesar terasa seperti beban berat yang menyeretku turun.

"Permainan dimulai!" Suara dari pengeras terdengar penuh semangat.

"Tuan dan Nyonya, sampah kota! Selamat datang di Pertarungan Dermaga Hitam! Kontestan malam ini? Sepuluh tikus Karsovia yang tertangkap mengendus-endus wilayah kita!"

Mata-mata? Pembunuh bayaran?

Itu bukan aku! Aku Valentina! Aku istri Alex!

Aku mencoba berteriak, tetapi aku terlalu takut sampai tidak bisa bersuara.

"Pasang taruhan sekarang! Siapa yang akan mati berikutnya?"

Lampu sorot raksasa tiba-tiba membanjiri seluruh area dermaga.

Kontainer-kontainer baja disusun seperti labirin, dan memberi perlindungan bagi yang diburu.

Aku mendengar langkah kaki orang lain, dan mereka semuanya berlari menyelamatkan diri.

Jeritan seorang wanita bergema dari kejauhan, lalu tiba-tiba terhenti.

"Sang Bos sudah memasang taruhan!" Suara di pengeras terdengar mengejek. "Lima ratus miliar! Untuk perempuan hamil itu!"

Jantungku seakan berhenti.

Alex ada di sini?

Alex-ku?

"Taruhan yang dingin sekali, Bos." Sebuah suara menyahut dengan tawa kecil. "Lima ratus miliar untuk mudah diraih! Lihat perut itu. Dia bahkan hampir tidak bisa berlari!"

Lalu aku mendengar suara manis yang memuakkan itu.

"Oh, Alex, kamu selalu tahu cara memilih," desahnya lembut, membuat perutku mual. "Yang itu kelihatannya akan jadi yang berikutnya. Kamu pintar sekali, berpikir sama denganku."

Putri dari Aliansi Valenusa itu.

Wanita yang terobsesi pada suamiku.

"Kamu selalu tahu cara menyenangkanku," katanya dengan tawa puas yang penuh kemenangan.

Aku menunggu Alex menghentikannya.

Mendorongnya menjauh, dan menolaknya dengan sikap dinginnya seperti biasa.

Namun kali ini, tidak ada reaksi.

Hanya keheningan yang menyesakkan dan menghimpit, yang pecah ketika akhirnya aku merobek tudung di kepalaku dan menatap layar utama.

Aku melihat semuanya.

Nadira menyandarkan kepalanya di bahu Alex, gerakan yang posesif dan intim.

Dan Alex tidak mendorong Nadira pergi.

Dia hanya duduk di sana, lengannya bersandar santai di belakang kursi Nadira, dan membiarkan Nadira tetap dekat.

Rasanya seperti ada sesuatu yang mencengkeram jantungku dan membuat dadaku terasa sesak.

Air mata mengaburkan pandanganku.

Hujan yang menerpa tudung membuatku hampir tidak bisa bernapas.

Kenangan itu kembali menghampiriku tanpa peringatan.

Tiga tahun lalu di Pusat Seni Cakrawala. Seorang pria tampan menghalangi jalanku, mengajakku berdansa, dan membelikanku pertunjukan kembang api pribadi.

Aku baru tahu namanya kemudian. Dia adalah pria paling berbahaya di Valenusa.

Aku mencoba menghindarinya. Namun dia tidak kenal menyerah. Membawakanku buket bunga lili setiap selesai penampilanku.

Lalu, pada suatu malam yang basah oleh hujan, dia berlutut di tangga yang sama.

"Aku rela mengorbankan segalanya demi kamu," sumpahnya. "Menikahlah denganku."

Aku percaya pada pria yang berlutut di bawah hujan itu.

Aku sungguh percaya pada cinta di matanya. Padahal semuanya hanya kebohongan.

Suara tembakan menarikku kembali ke kenyataan.

Seseorang menjerit. Seseorang yang lain terjatuh. Bau darah bercampur dengan amis asin laut, dan aku merasa mual.

"Tersisa sepuluh!" teriak sang penyiar. "Saatnya menaikkan taruhan! Lepaskan anjing-anjingnya!"

Darahku terasa membeku.

Aku takut pada anjing.

Alex tahu itu. Dia tahu tentang anjing liar yang menggigitku saat aku masih kecil.

Suara gesekan keras menggema saat sebagian besar kontainer didorong hingga rata. Perlindungan kami menghilang.

Ini bukan lagi perburuan. Ini adalah perangkap maut.

Aku mati-matian mencoba melepaskan tudung. Tali itu mengiris pergelangan tanganku hingga berdarah. Akhirnya aku berhasil merobek lubang kecil.

Hujan menghantam wajahku. Aku menatap kamera keamanan terdekat.

Dengan seluruh kekuatanku, aku membuat isyarat itu dengan telunjukku mengetuk dadaku, lalu menunjuk ke langit.

Tanda rahasia kami.

Yang artinya adalah hatiku selalu bersamamu.

Dia yang mengajarkannya kepadaku. Katanya itu hanya untuk kami.

Siaran itu terdiam selama beberapa detik.

Waktu seakan berhenti.

Lalu aku mendengar suara Alex yang ragu. "Wajah wanita hamil itu … kenapa dia terlihat sangat mirip istriku?"

Secercah harapan menyala dalam diriku.

Dia mengenaliku! Aku bisa keluar dari mimpi buruk ini ....

"Alex." Suara Nadira berubah tajam. "Di antara para pembunuh ini, yang hamil justru ahli dalam penyamaran. Dia datang untukmu!"

Wanita itu tidak berhenti, suaranya dingin dan mengejek. "Mereka mempelajari kelemahanmu. Mereka tahu apa yang paling kamu hargai. Bagaimana mungkin Valentina ada di sini? Dia di rumah, menunggu dengan tenang untuk melahirkan!"

Tidak!

Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga, berusaha melepas sisa tudung itu.

Tali-tali itu mengiris kulitku, tetapi rasa sakit dari kata-kata Alex berikutnya jauh lebih menyiksa.

"Pembunuh sialan itu!" raung Alex. "Dia berani memakai wajah istriku untuk mempermainkanku!"

"Buat dia membayar atas penghinaan itu!"

"Lepaskan semua anjingnya! Sekarang!"

Gerbang besi terbuka dengan dentuman keras.

Tiga puluh Doberman besar melesat keluar seperti kilat hitam.

Geraman mereka menggema di malam yang diguyur hujan.

Aku berbalik dan berlari, tetapi tubuhku yang hamil terasa canggung dan tidak berguna.

Setiap langkah adalah siksaan. Bayi di dalam rahimku seolah merasakan bahaya itu, dan menendang dengan panik.

Anjing pertama menerjangku.

Gigi-gigi tajam menancap di pergelangan kakiku. Rasa sakit membuatku menjerit.

Bau darah memenuhi udara.

Aku meringkuk, berusaha melindungi perutku, dan merasakan cairan hangat mengalir di kakiku.

Apakah itu darah? Atau air ketubanku pecah?

Bayiku … bayiku .…

"Haha! Jalang hamil bodoh itu!" Suara dari pengeras tertawa sinis. "Rasakan akibatnya karena mencoba jadi pembunuh!"

"Suaminya pasti benar-benar payah! Tidak semua pria memuja istrinya yang sedang hamil seperti Bos!"

Setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk jantungku.

Lebih banyak anjing menyerbu.

Rasa sakitnya begitu parah sampai aku bahkan tidak bisa menjerit lagi. Aku tidak tahu apakah wajahku dipenuhi air mata, darah, atau air hujan.

Aku menatap kamera dengan putus asa.

Aku hampir bisa melihat Nadira, bersandar pada Alex, dan tersenyum sinis.

Dia akhirnya mendapatkan apa yang dia inginkan.

Aku tidak bisa memercayai bahwa ini orang yang sama, yang tadi malam baru saja mengoleskan minyak untuk garis peregangan di perutku.

Pria yang sama yang menempelkan telinganya ke perutku untuk mendengar gerakan bayi dan berbisik, "Cepatlah lahir, sayang. Ayah akan selalu mencintaimu, begitu juga Ibu."

Sekarang dia membiarkanku mati di sini.

Membiarkan aku dan anaknya mati di sini.

Aku mendengar lebih banyak tembakan dari segala arah. Lebih banyak Doberman muncul dari kegelapan.

Keputusasaan menyelimutiku.

Apakah ini akhirnya? Apakah aku akan mati di sini? Aku menutup mata tidak berdaya.

Lalu tawa manis dan kejam Nadira menggema dari ruang kendali.

Dia menekan tombol mikrofon.

"Sayang, jangan biarkan anjing-anjing itu membunuhnya. Aku punya ide lain. Aku belum selesai bermain."

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 10

    Sudut pandang Valentina.Alex hanya menatapku.Lalu, dia perlahan mengeluarkan pistol dari pinggangnya.Dia memeriksa slot peluru. Enam peluru, semuanya terisi."Kamu ingin aku mati, kan?" tanyanya pelan.Bahunya merosot dan tampak menyerah. "Baiklah, Valentina," bisiknya. "Oke."Dia meletakkan pistol itu di tanganku yang hancur. Logam dingin itu membuat tubuhku merinding."Lakukan saja, Valentina," katanya, berlutut di depanku dan menempelkan ujung pistol ke dadanya sendiri. "Akhiri. Akhiri rasa sakitku, dan akhiri penderitaanmu."Aku menatap pistol di tanganku.Sangat mudah.Cukup menekan pelatuk, lalu pria yang menghancurkan hidupku akan hilang.Anakku akan tenang. Sakitku akan berakhir.Tapi aku tidak bergerak.Bukan karena aku masih mencintainya.Tapi membiarkannya mati begitu saja rasanya terlalu mudah."Kamu pikir mati bisa menebus dosa-dosamu?" tanyaku dengan suaraku yang dingin. "Kamu pikir satu peluru bisa menebus nyawa anak kita?"Rasa sakit muncul di mata Alex."Lalu apa ya

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 9

    Sudut pandang Valentina."Kamu masih dalam pemulihan. Nanti kalau sudah lebih kuat, aku akan membawamu ke pemakaman."Alex berbicara hati-hati, seperti berbicara pada boneka porselen yang bisa pecah kapan saja. "Anak kita … aku sudah buatkan batu nisannya yang terbaik. Marmer putih, dan .…""Aku ingin cerai."Aku memotong ucapannya.Alex terpaku, seakan tersambar petir. "Valentina, kamu baru bangun. Jangan bilang hal-hal seperti itu .…""Aku mau surat cerainya ada di mejaku besok," lanjutku. "Dan jangan sentuh aku lagi."Aku pun menundukkan pandangan ke tanganku.Jari-jari panjang dan elegan itu sekarang tertekuk dalam bentuk yang tidak wajar.Bekas luka ungu melintang di kulit.Tangan ini tidak akan bisa main cello lagi.Tidak akan bisa mengelus wajah anakku.Tapi aku tidak menangis. Tidak merasa putus asa. Bahkan tidak merasa marah.Aku hanya … kosong."Valentina, tolong, biarkan aku jelaskan .…" Alex berlutut di samping tempat tidurku.Bos besar yang ditakuti kini berlutut seperti

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 8

    Sudut pandang Valentina.Kegelapan.Kegelapan yang tidak berujung dan menyesakkan.Setelah jantungku mulai berdetak lagi, aku merasa seperti melayang di kehampaan, tidak sepenuhnya hidup, tapi juga tidak mati.Kadang aku bisa mendengar suara Alex, penuh isak putus asa dan pengakuan.Tapi aku tidak bisa kembali.Valentina yang mencintainya sudah mati.Valentina telah mati di bawah hujan di dermaga. Mati karena perburuan yang dia sendiri perintahkan.Mati saat tangisan bayi kami dibungkam.Aku lalu mendengar langkah kaki pelan. Seseorang masuk ke ruangan.Bukan Alex.Langkah orang ini ringan, tapi dipenuhi kebencian."Lucu, kan?" Suara Nadira menggema di ruangan penuh kecemburuan. "Bos besar Valenusa, begitu setia pada sesuatu yang tidak penting. Dia bahkan mengumumkan perang pada keluargaku karena kamu."Aku mendengar dia mendekati tempat tidur.Aku bisa merasakan tatapan penuh kebenciannya yang menempel padaku."Dia sudah tiga hari tidak tidur," bisiknya. "Dia memenuhi ruangan ini deng

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 7

    Sudut pandang Alex."Semua keluar!" teriak dokter, mendorong kerumunan menjauh. "Pasien butuh lingkungan steril! Kosongkan ruangan sekarang!"Aku ditarik keluar dari ruang operasi.Aku pun menempelkan diri pada pintu, berusaha mati-matian melihat lewat jendela kaca kecil.Aku melihat mereka menangani Valentina dan menyambungkannya ke labirin mesin.Wajahnya tampak pucat ....Setengah jam kemudian, pintu ruang operasi akhirnya terbuka.Dokter keluar, kelelahan, dan melepas sarung tangan berlumuran darah.Aku berlari mendekatinya."Bagaimana kondisinya? Bagaimana Valentina?""Kami berhasil mengembalikannya," kata dokter dengan berat. "Tapi .…""Tapi apa?" Aku menggenggam bahunya."Karena kehilangan darah berkepanjangan, trauma emosional parah, dan kurangnya oksigen ke otak .…" Dokter menghela napas. "Dia mungkin akan berada dalam keadaan vegetatif."Kata-kata itu menghantamku seperti pukulan.Keadaan vegetatif ...."Apa ada harapan dia akan sadar?" tanyaku dengan suara bergetar."Sangat

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 6

    Alex mengangkat salib perak itu, tangannya bergetar tak terkendali.Tulisan [Cintaku yang abadi] berkilau di bawah cahaya lampu.Tanda janji untuk melindungiku seumur hidup kini menjadi saksi kejahatan yang telah dia lakukan.Nadira mencoba menenangkannya."Alex … aku tahu kamu sedih, tapi Valentina .…""Menjauh darinya!"Alex mengaum dan mendorong Nadira dengan kekuatan penuh amarah.Nadira terhantam ke dinding, lalu mengerang kesakitan."Jangan berani mendekatinya!" teriak Alex. "Jangan sentuh dia!"Dia menarik pistol dari pinggangnya, larasnya mengarah tepat ke kepala dokter."Kamu lihat rumah sakit ini?" Suara Alex rendah menggeram, pistol tetap menempel di pelipis dokter. "Kalau dia tidak keluar dari sini hidup-hidup, aku akan membakar rumah sakit ini. Denganmu di dalamnya. Sekarang, selamatkan dia."Dokter gemetar ketakutan dari ujung kaki hingga ujung kepala."Tu … Tuan, dia … dia sudah …. Jantungnya berhenti lebih dari sepuluh menit .…""Maka temukan cara untuk membuatnya berde

  • Balas Dendam yang Hening   Bab 5

    Rasa sakit itu akhirnya berakhir.Aku sadar aku pasti sudah mati.Rasa nyeri yang merobek perut, dan jeritan putus asa, semuanya lenyap saat jantungku berhenti berdetak.Jiwaku melayang di udara, menatap tubuhku sendiri di atas meja operasi.Berantakan.Gaun putihku tercabik, basah oleh hujan dan darah. Bekas gigitan anjing di pergelangan kakiku menjadi daging yang koyak dan terbuka.Luka terbuka di perutku tampak mengerikan.Tapi yang paling menyakitkan adalah tanganku.Jari-jari yang dulu panjang dan anggun kini membiru dan tertekuk, tulangnya menonjol di balik kulit.Inilah tangan yang selalu aku banggakan.Tangan yang memainkan cello.Tangan yang dibiarkan suamiku hancurkan."Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan," kata dokter sambil menggeleng. "Coba lihat apakah keluarganya sudah datang."Baru saja seorang perawat hendak keluar, pintu ditendang hingga terbuka.Alex menerobos masuk, wajahnya diliputi amarah dan ketidakpercayaan."Ini bukan Valentina!" teriaknya dengan suara pecah.

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status