تسجيل الدخولNyala obor minyak kelapa yang terpasang pada dinding batu Pos Hulu Brantas berdesis pelan, memantulkan bayangan kaku para prajurit pengawal yang berdiri siaga di sepanjang selasar luar.Hawa dingin malam perbatasan merambat masuk melalui celah-celah jendela kayu jati, membawa serta aroma tanah basah dan sisa kelembapan dari arah aliran sungai di bawah tebing.Setho Gentala nampak duduk bersila di atas amben bambu di dalam ruang telik sandi utama, membiarkan tubuhnya yang letih bersandar pada tiang kayu penopang bangunan yang mulai berderit ditiup angin gunung.Tangan kanannya yang telah dilepaskan dari sarung tangan kulit kini memperlihatkan gumpalan urat keunguan yang mulai menyusut, meninggalkan bekas kerutan halus sewarna memar tua di sepanjang garis nadi.Ia memusatkan seluruh pikiran murninya ke arah hulu pusar batin, menekan sisa-sisa letupan hawa panas dari simbol merah di lengannya agar tidak merambat naik mengacaukan ritme jantung. Keheningan malam itu sesekali dipecahkan ole
Rakit bambu raksasa itu bergetar hebat saat lambung dasarnya bergesekan dengan sisa-sisa akar beringin tua yang tertanam di dasar Rawa Gesing.Permukaan air hitam yang semula bergolak akibat matanya Siluman Sungsang perlahan-lahan mulai ditenangkan oleh riak angin siang yang membawa uap dingin dari sisa hawa es Kalacitra.Enam orang prajurit Bhayangkara yang masih memiliki sisa tenaga segera mengambil posisi di sekeliling bilah bambu, menghujamkan galah panjang mereka ke dalam lumpur dasar rawa guna mendorong beban rakit menjauhi titian pematang yang telah hancur.Menteri tua berjubah ungu itu meringkuk di sudut rakit, sepasang tangannya yang terikat rantai besi memeluk erat sebatang bambu penahan kemudi dengan wajah yang masih sewarna kertas kapur.Setiap kali lambung rakit bergoyang membentur hamparan eceng gondok, ia memejamkan matanya rapat-rapat, mengira moncong siluman raksasa lainnya akan kembali mencuat dari dalam air rawa yang menghitam.Ketakutan yang teramat sangat telah me
Langkah kaki kuda-kuda Bhayangkara menembus jajaran rumpun bambu betung yang tumbuh rapat di sepanjang tepian landai Sungai Brantas, menimbulkan suara kresek beruntun yang menyatu dengan deru arus air. Tanah yang mereka pijak kini berganti menjadi lumpur hitam berlumut, sisa luapan banjir bandang beberapa pekan silam yang menyisakan bau busuk vegetasi membusuk.Setho Gentala memimpin di garis depan, sepasang matanya terus bergerak menyisir kelebatan rumpun bambu yang merunduk berat akibat beban embun pagi yang belum sepenuhnya menguap.Rasa baal di sepanjang siku hingga pergelangan tangan kanannya perlahan berubah menjadi sensasi dingin yang menggelitik, tanda bahwa energi gerbang kuno mulai mengendap, menyisakan keletihan yang teramat sangat pada serat-serat ototnya.Perwira Bhayangkara yang berkuda tepat di sisi kanan tandu Dyah Ranawijaya sesekali menengok ke belakang, memastikan menteri tua berjubah ungu itu tidak jatuh pingsan akibat kelelahan berjalan menyeret rantai besi.Jalur
Semburat warna merah bata di ufuk timur perlahan berubah menjadi kekuningan yang gersang, menyinari permukaan Sungai Brantas yang mengalir deras membelah batasan tanah wilayah barat dengan wilayah tengah.Rombongan kecil Bhayangkara pengawal tandu bergerak semakin cepat, memacu kuda-kuda mereka menuruni tebing curam yang dipenuhi semak berduri serta pohon-pohon dadap yang meranggas kehabisan air.Suara gemuruh riak air yang menghantam bebatuan cadas di dasar lembah bergaung kuat, mengubur suara derit tandu bambu Dyah Ranawijaya yang sejak beberapa jam lalu terus-menerus berguncang hebat di sepanjang jalan setapak.Setho Gentala menarik tali les kudanya, menahan laju binatang tunggangan itu tepat di sebuah dataran tinggi yang menjorok ke arah aliran sungai guna memeriksa kondisi bentangan jembatan gantung di bawah sana.Tangan kirinya yang terasa kebas kini mulai bisa digerakkan kembali, meskipun warna kulit di seputar pergelangan zirahnya masih menyisakan rona keunguan yang samar berc
Tandu bambu yang mengangkut tubuh ringkih Dyah Ranawijaya berderit ritmis, bergerak lambat membelah kabut malam yang mulai turun menyelimuti koridor keluar ruang bawah tanah.Langkah para prajurit Bhayangkara terasa begitu berat, sepatu laras mereka sesekali tergelincir pada lantai marmer yang kini licin akibat rembesan air belerang bercampur sisa cairan pekat kolam sesaji.Di barisan paling depan, Setho Gentala berjalan dengan menumpukan sebagian berat tubuhnya pada hulu pedang pusaka, mencoba menyembunyikan langkah kakinya yang pincang akibat rematan batin dari pertarungan di altar hitam tadi.Sesekali tangan kirinya meraba lengan kanan, meraba permukaan zirah tembaga yang menghitam karena hawa panas yang sempat meletup tak terkendali dari balik kulitnya sendiri.Kulit di seputar pergelangan tangannya terasa kaku bagai disamak, mengeluarkan rasa perih yang berdenyut kencang setiap kali jantungnya memompa sisa hawa murni gerbang kuno kembali ke pusat mediasi batin.Kalacitra melangka
Gelembung-gelembung di permukaan kolam marmer itu pecah satu per satu, meletupkan uap anyir yang langsung menempel pada dinding-dinding sekat ruangan bagai keringat dingin.Uap merah itu bergerak lambat, merayap di atas lantai marmer hitam yang mengkilap, lalu menyelimuti ujung sepatu laras Setho Gentala yang berdiri kokoh di batas tepian.Di seberang genangan pekat tersebut, Dyah Ranawijaya masih bergeming dalam posisi bersila, wajah pucatnya sesekali berkedut ke atas setiap kali bayangan wanita berambut keperakan di belakangnya menggerakkan jemari kuku besinya.Malika Tantrayani memperluas seringai gila di bibirnya yang sewarna memar purba, memperlihatkan deretan taring halusnya yang berkilau ketakutan di bawah temaram nyala obor para Bhayangkara.Desis suaranya menyerupai gesekan ribuan sisik ular di atas tumpukan daun kering, memenuhi rongga telinga setiap manusia yang berada di dalam ruangan bawah tanah tersebut tanpa sempat mereka bendung."Lihatlah siapa yang merangkak masuk ke
Udhara Sagara melangkah di atas tanah berdebu alun-alun desa, membiarkan ujung kapak ganda raksasanya menggores permukaan tanah hingga menciptakan parit kecil yang memanjang.Suara tawanya yang berat kembali berdentum, memecah tangisan histeris dari beberapa wanita tua yang meringkuk di bawah ancam
Panji-panji berwujud surya wilayah barat berkibar malas di sepanjang jalur perbukitan yang membatasi tlatah Majapahit tengah dengan Kadipaten pegunungan.Setho Gentala menunggangi kuda hitamnya tanpa banyak bersuara, membiarkan derap kaki-kaki legiun kecil yang ia pimpin memecah kesunyian hutan jat
Ucapan Setho membuat halaman istana Gunung Pawitra seolah berhenti bernapas sesaat.Kabut hitam masih bergerak liar di udara. Jeritan Gandarwa Kubur terus terdengar dari berbagai penjuru halaman. Rakryan Kala Bregma berdiri menjulang di depan retakan besar seperti gunung hidup yang baru bangkit dar
Seluruh Gunung Pawitra berguncang semakin keras.Batu-batu besar runtuh dari dinding istana malam, menghantam halaman yang sudah retak seperti kulit bumi yang pecah. Pohon-pohon pinus di lereng gunung bergoyang liar diterpa hawa dingin dari bawah tanah, sementara kabut hitam terus menyembur keluar







