Share

Bab 23

last update publish date: 2026-07-13 12:25:27

Setelah memasuki hutan, Panji pun melewati sungai untuk menuju janji menemui Ki Ageng di dalam hutan.

Beruntungnya meskipun ada halangan, pada akhirnya Panji berhasil bertemu dengan Ki Ageng.

Dan bahkan bocah kecil itu sudah mulai berlatih di bawah pelatihan dari sesepuh perguruan Anggrek putih itu.

"Panji, kemari!" teriak Ki Ageng.

Panji hentikan gerakan jurusnya, dan mendekat ke arah Ki Ageng. Sambil memberikan hormat, Panji berdiri di depan Ki Ageng.

"Apa yang bisa aku lakukan, kakek sepuh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 46

    Whusssssssss!!Pedang dengan warna keperakan itu tertahan tepat di atas kepala Panji, dan pedang itu di pegang oleh seorang gadis yang memiliki wajah yang sangat cantik.Panji bahkan sampai terpana pada kecantikan gadis muda itu, hingga tak sadari kalau ada sebilah pedang yang siap mengoyak kepalanya."Mayang, apa yang kau lakukan?" bentak Hardi."Eh, dia bukan musuh kak?" tanya gadis yang memiliki nama Mayang itu."Selalu saja ceroboh, dan sesukamu mengambil keputusan!" kata Hardi geleng kepala."Siapa dia, kak?" tanya Mayang."Minta maaf pada Panji!"Gadis itu menoleh ke arah Panji, dan berikan senyuman yang sangat menawan."Cantiknya!" desis Panji tanpa sadar.Plakkkkkk!!Tangan gadis itu bergerak dan tampar wajah Panji, dan itu kagetkan Panji."Apa ... Apa yang kau lakukan?" tanya Panji sambil elus wajahnya yang ditampar oleh Mayang."Seenakmu mengatakan itu padaku!""Aku ucapkan apa?" tanya Panji bingung."Dasar bocah gendeng!" bentak Mayang.Panji menggaruk kepalanya yang tak ga

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 45

    Kemenangan Panji diluar dugaan banyak orang, itu karena Panji baru datang, dia kelelahan, ditambah lagi Panji bertarung tanpa gunakan tenaga dalam.Hal itu membuat nama perguruan anggrek putih menjadi nama yang cukup sering dibicarakan. Apalagi sudah ada dua wakil mereka yang melaju ke babak berikutnya, yaitu Mutia dan Panji.Sementara itu, di tempat mereka yang ada di sudut perguruan singa timur, Panji masih terbaring dengan kondisi yang lemas.Dia sudah sadarkan diri, tapi kondisinya memang sangat kelelahan. Berlari sekuat tenaga, dan setelah itu bertarung tanpa gunakan tenaga dalam. Itu hal yang menguras seluruh tenaga fisik yang ia miliki."Panji, apa kau sudah merasa baikan?" tanya Mutia."Sudah kak Mutia, maaf sudah merepotkan kalian!" kata Panji."Jangan bangkit dulu Panji, biarkan tubuhmu istirahat!" kata guru Sahdan saat melihat Panji akan bangkit untuk duduk."Eh, dimana kak Pradana dan Kak Sahita?" tanya Panji."Mereka berdua sedang berlatih. Besok Pradana akan bertanding,

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 44

    "Dia tak akan datang!" kata guru Sahdan dan langkahkan kakinya menemui pengawas sekaligus juri di turnamen itu.Tanpa ragu, guru Sahdan membisikkan sesuatu ke telinga pengawas turnamen itu."Apa kau yakin?" tanya pengawas itu."Iya, dia muridku, mungkin dia tak akan datang!" kata Guru Sahdan.Askan, lawan dari Panji merasa kesal karena dia tak dapatkan lawan. Dia ingin tunjukkan kemampuan, tapi kali ini ia gagal.Setelah mendengarkan alasan dari Guru Sahdan, pengawas turnamen tak lagi katakan apa-apa, dia berdiri ke depan semua penonton.Tapi sebelum ia bicara, Askan sudah berteriak keras."Panji Sanjaya keluarkan, jangan sembunyi seperti seekor kecoa, apa kau takut hadapi aku?" teriak Askan dengan amarah yang besar."Askan cukup! Aku yang akan bicara kali ini!" kata pengawas turnamen itu.Pengawas itu menarik napas. Dan mulai menggunakan suara yang keras."Dengan berat hati, dan karena alasan yang jelas, dengan ini peserta atas nama Panji Sanjaya kami eliminasi!" teriaknya dengan sua

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 43

    Setelah berjalan bersama dengan Ki Sutopo, dan cucunya, Intan Agni, Panji tak lagi mengejar rombongan guru Sahdan, tapi Panji memilih untuk ikuti Ki Sutopo dan cucunya.Tapi ada satu hal yang membuat Panji heran, mereka tak memburu waktu, seolah-olah turnamen itu tak penting bagi mereka."Sepuh, apa kalian tidak takut terlambat?" tanya Panji."Hahah, tidak! Karena cucuku sudah mendapatkan nomor urut!" kata Ki Sutopo."Nomor urut?" tanya Panji."Iya, nomor untuk kapan bertanding!""Jadi dia sudah tahu kapan untuk bertanding?" tanya Panji."Iya, memangnya kau belum memiliki nomor urut, Panji?" tanya ki Sutopo."Belum, sepuh!""Kenapa tidak kau katakan dari awal! Dasar bocah bodoh!" bentak Ki Sutopo."Aku sungguh tak tahu soal itu, sepuh!""Dasar bodoh! Nomor urut itu penentuan kapan kau bertarung, dan jika kau bertarung di nomor yang kecil maka kau akan bertarung lebih dahulu!""Bagaimana ini?" tanya Panji."Besok turnamen itu akan dimulai dan jarak kita menuju kota Malengka masih ada t

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 42

    Panji membuka matanya saat pagi datang, dan dia merasakan ada perubahan yang nyata pada tubuhnya.Tubuhnya kini jauh lebih kokoh, dan otot tubuhnya semakin terlihat nyata, itu karena peningkatan kualitas tulang Panji yang tak Panji sangka.Awalnya Panji kecewa karena dia tak berhasil menerobos naik ke tulang serigala perak, tapi nyata ia mampu.Bammmmmmm!!Panji memukul sebatang pohon untuk mencoba kualitas tulang serigala perak yang kini ia miliki.Brakkk!Pohon itu langsung remuk padahal Panji hanya gunakan kekuatan fisik saja."Luar biasa!" ucap Panji.Kualitas tulang Panji meskipun berada di tahap tulang serigala perak, tapi itu sudah setingkat dengan tulang harimau muda.Itu dikarenakan Panji melatih tulangnya dengan latihan yang keras. Dan latihan keras itu juga berpengaruh pada kekuatan fisik panji.Banyak pendekar yang mengejar kualitas tulang tanpa memperdulikan kualitas fisik, dia memang berhasil, tapi hanya tulang yang meningkat, tidak dengan kekuatan fisik.Kebanyakan oran

  • Bangkitnya Pendekar Petir    Bab 41

    "Kenapa? Apa putriku kurang cantik?" tanya Ki Ireng yang membuat kepala Panji terasa sakit.Panji merasa bingung, dia masih berusia dua belas tahun, tapi sudah dijodohkan dengan seorang anak gadis yang akan dewasa. Ranti dengan usia lima belas tahun."Hahaha, kau tak usah pikirkan soal itu Panji, aku hanya berharap kau yang akan jadi pendamping putriku di masa depan!" kata Ki Ireng tertawa keras.Ki Ireng tak ingin membuat Panji lebih bingung, hingga dia memutuskan untuk tak lanjutkan pembicaraan itu."Aku masih dua belas tahun paman, dan paman sudah katakan tentang menantu padaku, apakah aku pantas?" kata Panji."Kau yang pantas, dan memang hanya dirimu!" kata Ki Ireng.Panji tak lagi menjawab, tapi memilih untuk diam karena jika diladeni maka pembicaraan itu akan semakin panjang.Bertepatan pula Ranti datang dan masuk ke dalam kamar itu. Hingga Panji selamat dari pembicaraan itu."Ranti, Panji mungkin akan ada di perguruan ini satu minggu ke depan, jadi ada baiknya kau siapkan kamar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status