LOGINTiga hari berlalu, dan ketua Lu Ba sendiri yang datang ke sekte matahari, dan mendatangi ketua sekte itu, ketua Su Yu.Ketua Su Yu sungguh pucat karena kedatangan ketua sekte gunung iblis itu, dan rasa takut kini menyelimuti seluruh tubuhnya. Bukkk!Ketua Su Yu berlutut pada ketua Lu Ba. Dan ia semakin menunjukkan rasa takut yang sangat dalam."Maafkan aku ketua Lu Ba! Aku sudah menangkap orang itu, namun ia melarikan diri!" kata ketua Su Yu."Jadi kau akui kalau anggota sekte ini yang membunuh sahabatku, Son An?" kata ketua Lu Ba dengan tekanan yang sangat kuat.Ketua Su Yu mencoba menahan kuatnya tekanan dari tetua Lu Ba, namun ia tak mampu bertahan, dan hanya bisa menundukkan kepalanya."Bukan anggota sekte ini yang membunuh ia ketua, dia hanya orang lain yang secara tak langsung ikut dengan salah satu anggota sekte ini, ketua!" kata ketua Su Yu."Aku tak perduli siapa yang membunuh Son An, aku hanya ingin tahu dimana dia?" bentak ketua Lu Ba. "Saat ini ia ada sedang menuju ke ko
Ketua Su Yu dan Bao Yu meninggalkan Panji Sanjaya yang sudah berada di bawah penjara bawah tanah sekte matahari. Ia akan dijadikan korban untuk selamatkan sekte Matahari, dan Panji jelas tak akan diam saja. Di bawah tanah, di belakang sekte matahari, Panji Sanjaya masih mencoba untuk lepas dari ikatan totokan ketua Su Yu yang memang sangat kuat. "Kekuatan orang-orang di negeri ini memang sangat tinggi. Aku bahkan tak sebanding dengan mereka!" kata Panji Sanjaya.Panji berusaha keras untuk lepas dari totokan itu, dengan cara alirkan tenaga dalam ke seluruh tubuhnya. Namun nyatanya, totokan itu sangat kuat hingga Panji tak mampu lepaskan totokan itu. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Panji Sanjaya dalam keadaan bingung. "Apa kau butuh bantuan?" teriak satu suara dari cincin ruang yang ada di tangan kiri Panji."Lisara, kau tahu apa yang terjadi padaku?" tanya Panji Sanjaya."Jelas aku tahu! Aku tak akan terkurung di dalam cincin ruang seperti ini. Aku bisa bebas sesukaku!" kata L
Wajah ketua Su Yu, pucat bukan main karena perkataan putrinya, Bao Yu. Dan ia hanya bisa melihat ke arah Panji yang hanya menundukkan kepalanya."Tapi ia melalukan itu karena membela Bao Yu, ayah!" kata gadis itu."Membela dirimu?" "Iya, ayah!" kata Bao Yu.Setelah itu Bao Yu menceritakan semua yang terjadi selama di perjalanan, bagaimana mereka dihadang selama di perjalanan, hingga mereka bertemu dengan Son An."Jadi dia inginkan dirimu?""Iya ayah! Bahkan ia sempat melukai Bao!" kata Bao Yu."Hhmmm! Masalah ini akan besar, dan mungkin saja akan memberikan kekacauan di sekte ini!" kata ketua Su Yu. "Jadi apa yang harus kita lakukan ayah?" tanya Bao Yu."Untuk saat ini kita lihat dulu apa yang terjadi selanjutnya. Kau bawa dia istirahat, Bao Yu! Kalian pasti sudah sangat lelah!" kata ketua Su Yu."Iya, ayah!" kata Bao Yu. Setelah itu, Bao Yu dan Panji masuk ke dalam sebuah rumah yang tak menyatu dengan bangunan sekte matahari."Kau bisa istirahat di dalam kamar itu, Panji! Kau bisa
Son An mundur saat mendengar ucapan Panji yang akan membunuhnya, karena ia bisa saja jadi masalah bagi Panji Sanjaya. "Kau tidak mungkin melakukan itu padaku!" katanya sambil mundur ke belakang."Kenapa tidak? Memangnya apa yang aku takuti?" kata Panji Sanjaya."Aku Son An, pendekar yang memiliki nama di dunia persilatan! Kau tidak bisa lakukan itu padaku!" teriak Son An."Kau salah. Aku terpaksa lakukan itu karena kau bisa jadi masalah bagiku!" kata Panji Sanjaya. Whusssssssss!!Panji Sanjaya maju ke arah Son An, dan menyerang Pendekar di negeri Tiongkok itu dengan serangan yang ganas dan mematikan. Son An mencoba untuk mundur dan menghindar dari tiap serangan Panji. Dia gunakan ilmu meringankan tubuh yang ia miliki. Namun, kemampuan Panji ada di atasnya, hingga ia tak mampu bertahan terlalu lama. Plakkk!Satu tapak petir Panji Sanjaya masuk ke bagian dada Son An, dan itu mendorong pendekar negeri Tiongkok itu hingga dua tombak jauhnya. Namun, Son An masih mampu bangkit, dan in
Cukup lama Panji berada di dalam perjalanan menuju ke kota Lihan, hingga Panji kini berada di sebuah sungai yang cukup luas. Sungai yang memiliki air sungai yang cukup deras, sungai Huangho, namanya.Saat ini Panji berada di wilayah tengah negeri Tiongkok, dan masih berada di wilayah kekaisaran Han."Kau mau kemana anak muda?" tanya seorang pemilik perahu. "Aku ingin ke seberang, paman!" jawab Panji."Naiklah, kau akan aku antarkan ke seberang!" kata Panji Sanjaya.Panji naik ke atas perahu, dan pemilik perahu itu akan mengayuh dayung yang ada di tangannya."Tunggu aku ikut!" teriak satu suara.Hupppp!Satu tubuh dengan pakaian kuning melayang di udara, dan mendarat di atas perahu, ia mendarat tanpa memperdengarkan sedikitpun suara. Sungguh satu kemampuan yang sangat tinggi."Ilmu meringankan tubuh yang sangat baik!" puji Panji dalam hatinya. Pemilik tubuh itu berdiri di atas perahu, dan sedikit pun ia tak oleng meskipun perahu digoyang oleh ombak sungai yang kuat. "Nona, perahu in
"Pembunuh? Siapa yang ia bunuh?" tanya Panji ingin tahu."Dia membunuh gubernur kota Lihan, dan saat ini ia berada di dalam penjara kota itu!" kata tetua Gu."Apa alasannya?" tanya Panji Sanjaya."Hingga saat ini tidak ada yang tahu apa alasan tetua Jun menyerang gubernur kota Lihan!" "Apakah mati?" "Tidak, namun puluhan prajurit tewas di tangan tetua Jun, dan karena itulah ia saat ini berada di dalam penjara. Dia dihukum berat, dan kemungkinan besar ia akan dihukum mati!" kata tetua Gu. "Tidak bisa, aku harus bertemu dengan tetua Jun sebelum dia dihukum mati!" kata Panji Sanjaya."Terserah padamu, Panji! Namun boleh aku bertanya?""Apa itu tetua?" tanya Panji."Satu tahun yang lalu aku bertemu dengan orang yang berasal dari negeri mu, dan ia seorang pandai besi. Apa kau kenal dia?" tanya tetua Gu. "Siapa namanya?" tanya Panji langsung bertanya. "Har ... Har ... Aku lupa!""Harlah!" kata Panji dengan cepat. "Iya, namanya Harlah!" kata tetua Gu."Tidak mungkin, ayah ternyata bena







