Beranda / Pendekar / Bangkitnya Pendekar Terbuang / Bab 107. Orang yang Membawa Kitab

Share

Bab 107. Orang yang Membawa Kitab

Penulis: RKamila
last update Tanggal publikasi: 2026-09-28 15:20:49

Pada sampulnya terukir lambang tiga cakar, yaitu kitab pusaka. Jaya menatap kitab itu, lalu menatap lelaki yang membawanya.

Wajah Jaya langsung pucat, bukan karena ia mengenali lelaki itu sebagai musuh. Melainkan karena lelaki tersebut adalah orang yang selama ini berdiri di sisi mereka, membantu mereka untuk mencari kebenaran.

Orang yang mengetahui hampir semua rahasia keluarga Wulung, orang yang bahkan telah mereka lindungi ketika Persekutuan memburu mereka.

Lelaki itu berhenti beberapa langk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 155. Anak yang Terbelah

    Ia melangkah mendekati Ardhan. “Aku tidak akan membiarkan satu orang lagi terluka hanya karena kalian menganggap aku belum siap.”Ardhan menatap anaknya, ada kasih sayang yang begitu dalam di matanya hingga Jaya justru semakin terluka.“Dua puluh tujuh tahun lalu,” Ardhan berkata perlahan, “gerbang hampir terbuka.”Semua orang langsung diam.“Untuk menutupnya, seseorang harus memberikan bagian dari kehendaknya.” kata Ardhan. Jaya menelan ludah. “Siapa?”Ardhan menatap Kirana.Kirana menangis tanpa suara. “Aku,” katanya.Jaya membeku.“Kirana yang memberikan bagian kehendaknya,” lanjut Ardhan. “Tetapi gerbang tidak menerima satu kehendak manusia.”Ia menatap Jaya. “Gerbang membutuhkan kehendak yang belum dibentuk.”Jaya perlahan memahami. “Anak?”Ardhan mengangguk. “Seorang anak yang belum menentukan siapa dirinya.”Ratri menggenggam tangan Jaya semakin kuat. “Tidak...”

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 154. Anak yang Sedang Menunggu

    Sekar berusaha untuk duduk. “Dia sedang menjalankan tugas.”Jaya membeku. “Tugas?”Sekar menatap Ki Jagat dengan mata berkaca-kaca. “Jagat bukan pengkhianat.”Ki Jagat terdiam.Sekar melanjutkan dengan suara bergetar. “Dia hanya penjaga terakhir.”Jaya menggenggam pedangnya semakin kuat.“Penjaga apa?”Sekar menatap gerbang. “Penjaga agar kebenaran tentang dirimu tidak pernah keluar.”Hening! Bahkan angin seolah berhenti.Ratri memandang Jaya. Ada ketakutan di matanya, tetapi tangannya tetap menggenggam tangan Jaya.Jaya tidak menarik diri. “Aku tidak peduli siapa aku.” ia menatap gerbang dengan mata tajam.“Aku hanya ingin tahu kenapa semua orang rela mati demi menyembunyikannya.”Ki Jagat menurunkan pedangnya. “Karena ketika kamu mengetahuinya, Jaya... kamu akan mulai memahami mengapa ayahmu rela dikurung selama puluhan tahun.”Jaya menatap Ardhan.Lelaki itu menutup

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 152. Ayah yang Pulang Membawa Kegelapan

    “Ayah…?” panggil Jaya. Ardhan tidak menjawab.Ia mengangkat pedangnya perlahan.Cahaya bening yang dahulu menjadi tanda kehendak bebas kini berubah kelam, berdenyut mengikuti sesuatu yang hidup di balik gerbang.Ratri berdiri semakin dekat dengan Jaya, sementara Arya mengangkat pedangnya untuk berjaga-jaga. Tidak seorang pun berani mengambil langkah lebih dahulu.“Ayah, dengarkan aku,” ujar Jaya. “Aku tahu kamu masih di sana.”Bibir Ardhan bergerak dan untuk sesaat, wajahnya tampak bergetar.“Jaya…” suara itu benar-benar suara ayahnya.Jaya hampir melangkah maju, tetapi Wiraga segera mengangkat tangan. “Jangan!”Mata Ardhan kembali memutih.“Pergilah,” katanya lirih. “Sebelum aku tidak bisa menghentikan tanganku sendiri.”Jaya menggigit bibir. “Aku tidak akan meninggalkanmu.”“Ini bukan waktunya menjadi anak yang keras kepala.” kata Ardhan. “Dan ini bukan waktunya menjad

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 153. Rahasia yang dibunuh

    Cahaya bening mulai memenuhi bilahnya. “Dan aku tidak peduli berapa ribu tahun kalian merencanakan semua ini.”Jaya melangkah maju. “Aku memilih menjadi Jaya Wiratama.”Makhluk putih itu untuk pertama kalinya kehilangan senyumnya. “Pilihanmu tidak mengubah darahmu.”“Tidak.” Jaya tersenyum tipis. “Tapi darahku juga tidak berhak menentukan pilihanku.”Cahaya Pedang Hening meledak.Ratri ikut mengangkat tangannya, mengalirkan cahaya bunga dari tanda di tubuhnya dan Arya berdiri di sisi Jaya. Surya Raksa menyiapkan pedangnya.Jatmika berubah kembali menjadi Naga Langit, tetapi kali ini tidak untuk menghancurkan mereka. Ia membentangkan sayapnya di atas seluruh kelompok.Untuk pertama kalinya, mereka berdiri sebagai satu barisan. Makhluk putih itu mengangkat tangan dan langit seakan pecah, ribuan rantai jatuh dari awan menuju mereka.“Kalau begitu,” katanya dingin, “aku akan menghancurkan semua orang yang membu

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 151. Pintu yang Dibangun Sendiri

    Kabut hitam di sekeliling tubuhnya berputar semakin cepat, seolah ketakutan Sekar justru menjadi makanan baginya.“Bagus,” katanya. “Akhirnya kalian mengerti bahwa rahasia tidak pernah benar-benar mati.”Jaya mengangkat Pedang Hening. “Berhenti bermain dengan keluargaku.”“Bukan aku yang bermain,” jawab Sang Asal. “Aku hanya membuka pintu yang kalian sendiri bangun.”Tiba-tiba gerbang bergetar keras.Retakan putih muncul di permukaan hitamnya.Dari dalam retakan itu keluar cahaya pucat yang menyapu seluruh lembah, membuat semua orang terpaksa menutup mata.Ketika cahaya mereda, sosok seorang perempuan berdiri di ambang pintu. Jaya kehilangan napas.Perempuan itu memiliki wajah yang sangat dikenalnya.“...Ibu?”Sosok tersebut menatap Jaya dengan mata penuh air mata.Rambutnya panjang, wajahnya pucat, dan pakaian putihnya dipenuhi bercak darah yang telah mengering.Namun, Kirana just

  • Bangkitnya Pendekar Terbuang   Bab 150.Tangisan dari Balik Gerbang

    Jaya segera menggeleng. “Aku tidak ingin kamu kembali mempertaruhkan nyawamu,”Arya tersenyum tipis. “Dulu… kamu selalu mengatakan hal yang sama. Sekarang giliran aku mengatakan sesuatu yang sama kepadamu. Jangan selalu memutuskan sendiri siapa yang harus berkorban.”Kalimat itu membuat Jaya terdiam.Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kebiasaan melindungi orang lain dengan cara berdiri sendirian justru telah menjadi kelemahannya. Ia selalu takut kehilangan, hingga lupa bahwa orang-orang yang dicintainya juga memiliki hak menentukan bagaimana mereka ingin berjuang.Di kejauhan, Naga Langit perlahan berubah.Tubuh raksasanya menyusut, sisik-sisik hitam menghilang satu demi satu, digantikan kulit manusia yang pucat. Dalam beberapa saat, seorang pemuda terbaring di tanah.Jatmika.Sekar menangis ketika melihatnya.“Ibu…?” Jatmika membuka mata. “Apakah kali ini kamu akan membiarkanku pergi?”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status